Bab 5

892 Kata
Sesampainya Dinda di dalam kelas, Dinda melangkah menuju kursinya untuk duduk. Teman sebangku Dinda merupakan Kirana. "Halo Din." Sapa Kirana ramah yang merupakan topeng. Dinda yang mendengarkan sapaan Kirana menjadi pengen muntah "Hmm." Balas Dinda cuek. "Kamu kenapa din?" Tanya Kirana dengan wajah disedih-sedihkan "kamu marah ya? Karena aku ngak bisa melihat kamu kerumah sakit?" Lanjut Kirana. Kirana merupakan gadis yang sok polos dan sering terlihat teraniaya. Dinda yang mendengar pertanyaan Kirana dan melihat wajah Kirana yang sedih, hampir aja membuat Dinda percaya kalau Kirana benar-benar perhatian sama Dinda, tapi pas Dinda perhatikan lagi dia melihat Kirana memutarkan matanya jijik melihat wajah Dinda. Kirana kelihatan sekali kalau dia muak terhadap Dinda kalau diperhatikan dengan detail. "Nggak." Balas Dinda. "Gue nggak butuh orang yang mengasihi ni gue." Lanjut Dinda dengan nada yang nggak bersahabat. Dinda nggak mau berteman orang munafik seperti Kirana. "Siapa yang mau perhatian sama Lo raksasa, yang ada gue pengen muntah lihat wajah Lo, kalau bukan Lo anak orang kaya dan menyukai Bara ogah gue sok baik ke Lo" pikir Kirana didalam hati. "Kalau begitu maaf ya Din? Kamu jangan marah sama aku." Bujuk Kirana. "Kemaren aku benar nggak bisa manjengguk kamu kerumah sakit, karena kemaren nenekku sakit terus aku disuruh jagain oleh orang tuaku dirumah. Makannya aku nggak bisa menjenguk kamu Din." Lanjut Kirana untuk memberikan alasan berharap Dinda memakluminya, padahal nenek Kirana sudah meninggal dan ada nada tersirat didalam alasannya tersebut. "Bukannya waktu itu Lo pernah bilang kalau nenek Lo udah meninggal?" Tanya Dinda dengan senyum yang meremehkan Kirana. Memang benar waktu itu Kirana pernah bilang ke Dinda bahwa nenenknya sudah meninggal. " Itu Din yang meninggal itu nenek aku yang dari orang tua ibukku dan yang sakit adalah nenek yang orang tua dari bapakku." Kirana yang menjelaskan dengan gelisah karena dia takut kalau Dinda tau kalau dia berbohong. "Ya udah." Balas Dinda dengan cuek karena dia malas ngomong dengan orang yang sok polos kayak Kirana yang bermuka dua dan Pengen buat dia jadi muntah. Mendengar jawaban dinda yang cuek "Awas Lo. gue pasti akan membuat Lo malu. Lo tunggu aja." pikir Kirana dalam hati sambil tersenyum misterius Nggak lama bel sekolah berbunyi tanda waktu belajar pertama dimulai. Guru yang masuk adalah guru pelajaran biologi yang bernama buk Desi. Buk Desi adalah guru muda yang centil dan caper kemurid yang cogan. " Ok mari kita mulai belajarnya dan materi kita tentang....." Belum sudah  buk Desi melanjutkan perkataannya terdengar ketukan dari pintu. " Permisi buk." Ucap Refan sambil masuk dan menyalami buk Desi. "Apa boleh saya duduk buk?" tanya Refan ke buk Desi. Refan memang murid yang sering terlambat datang ke sekolah, karena Refan pada malam hari melihat berkas tentang perusahaannya yang di berikan sekretarisnya. Nggak ada yang tau kalau Refan punya perusahaan termasuk orang tuanya karena Refan benar bisa menyembunyikannya. "Kamu jangan duduk dulu." Tegur buk desi. "Apa lagi alasan kamu terlambat Refan?" Tanya buk Desi dengan nada lembut. "Saya ketiduran buk." Jawab Refan dengan santai. Mendengar jawaban santai dari Refan mebuat buk Desi jadi marah, walaupun buk Desi sering centil ke muridnya yang cogan tapi mendengar alasan Refan wajahnya menjadi hitam karena marah. Melihat wajah buk Desi yang akan marah kepadanya, Refan langsung saja membujuk buk Desi dengan nada menggombal yang membuat buk Desi nggak jadi marah." Buk, saya semalam ketiduran karena saya semalam bertemu bidadari buk, yang wajahnya sangat cantik buk. Ibuk tau nggak seperti apa wajah bidadari tersebut?" Tanya Refan ke buk Desi. Mendengar Refan berkata seperti itu anak kelas 11 IPA A sudah tau akan jurus Refan ke buk Desi yang nggak akan membuat Refan jadi kena hukuman dari mantil. Mantil yaitu singkatan dari macan centil yang gelar diberikan oleh Refan ke buk Desi. "Emang seperti apa Refan?" Tanya buk Desi yang sudah masuk rayuan dari Refan dengan senyum-senyum sendiri. "Seperti ibuk, yang wajahnya cantik, kulit mulus, dan senyum manis" seperti nenek lampir lanjut Refan dalam hati. Mendengar jawaban Refan anak kelas Refan malah ketawa karena apa yang dikatakan Refan semuanya palsu tentang buk Desi. "Kalau begitu kamu silahkan duduk di kursi kamu Refan." Ujar buk Desi sambil memerintahkan Refan untuk menuju kursinya. Nggak lama bel istirahat berbunyi dan buk Desi keluar dari kelas. Mendengar bel istirahat ketua kelas kelas Dinda langsung menuju ke depan untuk memberitahukan Dinda dan Refan tentang lomba memasak yang nggak lama lagi diadakan. ketua kelas mereka juga memerintahkan mereka untuk berlatih dirumah, karena waktu lomba memasak tinggal seminggu lagi. Dan yang lain sudah bergegas keluar dari kelas kecuali Kirana yang sedang menunggu dinda untuk kekantin yang berharap Dinda akan mentraktir nya karena biasanya Dinda yang mentraktir Kirana. Mendengar perintah ketua kelas Dinda langsung menuju ke meja Refan dan mengabaikan Kirana yang duduk di kursi disampingnya melihat Refan yang sedang tidur di mejanya. "Refan." Panggil Dinda sambil menggoyangkan tubuh Refan yang tidur sampai membuat Refan bangun. "Apa." Balas Refan dengan wajah ngantuk. "Kita belajar memasaknya dirumah gue aja dan kita mulainya besok." Beritahu Dinda langsung ke Refan."Gue juga minta nomor hp Lo untuk menginformasikan alamat rumah gue" Lanjut Dinda. "Yaudah, Lo pergi sana. Gue mau tidur dulu. Dasar Lo gendut." Balas Refan yang diakhiri dengan ucapan pedasnya dan sebelum tidur lagi Refan menulis nomor telepon nya dikertas dan memberikan ke Dinda. Dinda yang sudah dapat nomor Refan langsung pergi dari sana yang menghiraukan ucapan Refan yang menghinanya tadi dan pergi menuju kantin tanpa mengajak Kirana yang menunggu nya dari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN