Tanganku meraba sisi ranjang yang lain. Nasha tidak ada di sana. Aku membuka mata dengan berat dan mencari keberadaannya di sekitar kamar. Nihil. Masih jam empat pagi. Ke mana Nasha pergi sepagi ini? Dengan malas, aku beranjak dari tempat tidur dan menyeret langkah keluar kamar. Mataku menyipit begitu melihat sosok Nasha di dapur. Aku mengucek-ngucek mata untuk memastikan. Itu memang istriku. Dia sedang sibuk memakan kue ulang tahun dengan lahap. "Nasha!" Nasha mendongak dan menatapku sekilas, lalu kembali menyendokkan kue ke mulutnya. Aku menghela napas, mengamati wajah Nasha yang tampak mendung. Apa yang membuatnya sedih kali ini? Ibunya? Dia tadi juga menangis karena mengingat ibunya, bukan? Aku mendekat dan duduk di samping Nasha. Wanitaku sama sekali tidak menghentikan gerakanny

