9. Nasha

1911 Kata
Pemandangan pagi yang sangat menakjubkan. Axel sedang jogging di sekeliling rumah besarnya. Aku tahu seharusnya ini tidak boleh dilakukan. Apalagi dengan diriku yang sekarang sudah memutuskan berhijab. Namun, bisikan setan itu sungguh membuatku terlena. Niat awalku hanya membawa Ares menikmati udara pagi yang sejuk. Semalam jagoanku itu tidur dengan sangat nyenyak. Dia tidak rewel sama sekali. Padahal biasanya dia akan sedikit berulah jika diajak mengunjungi tempat baru. Apakah dia merasa bahwa ini adalah rumahnya? Tadi aku sempat melihat ke dapur dan berniat membantu. Tapi para pelayan melarangku. Mereka bilang, Axel tidak akan membiarkanku sibuk di dapur. Jika aku berada di sana, mungkin itu akan menjadi musibah bagi mereka. Para penghuni rumah juga belum terlihat pada jam sepagi ini. Aku hanya melihat Sean dan Axel yang sedang berlari. Axel hanya mengitari rumah, sementara Sean jogging keluar. Langkahku mengikuti setiap gerakan Axel. Mulai dari dia melakukan pemanasan, sampai melakukan olah raga kecil. Dia juga sempat bermain di lapangan basket beberapa saat. Aku tidak pernah tahu dia sangat pandai memainkan bola itu. Untungnya, Ares yang aku dorong dengan kereta bayi tidak ribut, sehingga tidak ketahuan. Tidak lucu kan kalau aku kepergok sedang memperhatikan Axel di rumahnya sendiri? "Sedang melakukan pengintaian?" Sebuah suara mengejutkanku. Dengan cepat, aku memutar kepala dan melihat Sean sudah berdiri di jarak yang cukup dekat denganku. Peluh masih menetes dari pelipisnya. Dia pasti baru saja pulang dari aktivitas jogging-nya. Aku berdeham untuk menutupi kegugupanku dan berusaha tetap tenang. "Aku hanya sedang mengajak Ares jalan-jalan." "O ya? Sekaligus memperhatikan Kak Axel?" Aku yakin jika saat ini wajahku sudah memerah. Bisa kurasakan rasa panas menjalari muka. Ya, Allah, Nasha! Kamu malu-maluin banget. Kenapa malah ketahuan Sean? Apa dia akan mengatakan hal ini pada Axel? "Kakakku sangat tampan, kan?" tanya Sean sambil menyandarkan badan di tembok. Dia menyilangkan tangan di d**a sambil memperhatikan Axel. Meski mengakui betapa tampannya seorang Axel Dirgantara Walzer, aku tidak mungkin mengatakan itu di depan Sean. Pesona Axel sangat sempurna. Dia bisa membuat semua gadis menyukainya, kalau dia mau sedikit saja membuka hati. Sayangnya, dia malah terjebak denganku di sini. "Aku tidak menyangka Kak Axel akhirnya menemukan seorang wanita yang menarik," ucap Sean tanpa mengalihkan pandangan. Aku menatapnya sekilas, lalu menunduk pada Ares yang entah sejak kapan sudah tertidur. "Apa dia benar-benar tidak pernah dekat dengan seorang wanita?" tanyaku penasaran. "Setahuku tidak, tapi ... aku tidak tahu kalau dia menyembunyikannya. You know, kadang pria memiliki satu atau dua rahasia yang tidak bisa diceritakan. Sama seperti wanita. Kadang kita butuh privasi untuk melindungi diri." Sean berpaling padaku. "Kamu memang menginginkan pernikahan ini, kan?" Kepalaku mendongak mendapat pertanyaan itu, tapi tidak bermaksud menatap Sean. Aku menghela napas demi menguatkan hati. Sepertinya Sean tidak seratus persen memercayaiku. Jujur saja, ini memang sulit dijelaskan. Aku baru saja patah hati karena Alfa melepasku. Lalu, baru dalam hitungan bulan, aku berpindah haluan pada Axel. Apa aku memang hanya memanfaatkan Axel? Tidak! Aku yakin bahwa aku menginginkannya menjadi imamku. Orang yang akan memimpin jalanku menuju kebahagiaan bernama surga. Apa aku terlalu naif? "Of course. Pernikahan ini adalah keinginan kami berdua," ujarku sedikit bergetar. "Good. Kak Axel sangat mencintaimu. Akyiu tidak ingin dia kecewa. Dia sudah melalui banyak kejadian buruk. I hope this time he can be happy." "Aku tahu bagaimana tidak nyamannya ditinggalkan. So, don't worry. It won't be happen." "Aku percayakan hati Kak Axel padamu. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidup kakakku. Can I believe you?" Dengan ceroboh, aku menganggukkan kepala. Eh, tadi Sean menanyakan apa? "Kenapa kamu seyakin itu?" Sean mencondongkan tubuhnya padaku. Refleks, aku mundur untuk menghindar. "Kenapa kamu suka mencampuri urusan orang lain?" "Kak Axel bukan orang lain. Aku hanya tidak ingin kakakku terluka." Sean menghela napas dan berjalan menjauh. "Aku dan Kak Axel ada rapat penting pagi ini. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan mengatakan padanya kalau kamu diam-diam memperhatikannya," teriak Sean tanpa menoleh dan untuk kedua kalinya, wajahku memanas. ??? "Mau ikut Mama sebentar?" Mama muncul entah dari mana ketika aku baru saja menenangkan diri. Sean itu benar-benar berbahaya. Semoga saja dia bisa dipercaya. "Ikut ke mana, Ma?" "Melihat-lihat bunga mawar Mama," kata Mama dengan wajah berbinar. Aku langsung bersemangat ketika mendengar hal itu. Setelah melihat senyumanku, Mama mengajak mengelilingi hamparan mawar yang indah. Ares didorong oleh seorang pembantu yang sangat ramah, Dewi. Jadi, aku lebih leluasa melangkah di samping Mama. Kemudian, mataku jatuh pada sebuah bangunan yang tidak terlalu jauh dari rumah Axel. Aku yakin kalau itu masih berada di lokasi Axel. Kenapa semalam aku tidak memperhatikan? Penasaran, aku mendekatinya. Dilihat sekilas pun, jelas itu adalah rumah. Tapi, milik siapa? Siapa yang tinggal di sana? Aku suka pada cat dindingnya yang berwarna putih bersih. Dari jarak yang cukup dekat, aku bisa melihat gorden rumahnya yang berwarna krem. Tidak terlalu besar. Di halamannya ada taman kecil yang dipenuhi oleh bunga matahari. Lho, mengapa harus bunga kesukaanku? Aku jadi berharap rumah ini menjadi milikku. "Mau masuk?" tawar Mama. "Boleh?" "Tentu saja. Toh, ini akan menjadi tempat tinggalmu dan Axel nanti." Aku menatap Mama penuh selidik. Tempat tinggalku dan Axel? Mama tidak salah menyampaikan berita, kan? Mengapa Axel membangun rumah lain, sementara sudah ada istana megah keluarganya? Mama mendekat dan menggenggam tanganku. Senyumnya mengembang. Aku merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Mama. Ini pasti berita yang sangat penting, sampai Mama terlihat sulit mengatakannya. "Kamu mau menikah dengan Axel sebulan lagi?" tanya Mama hati-hati. Sejujurnya, aku syok mendengar pertanyaan Mama. Sebulan lagi? Kedua kata itu terus berulang di kepalaku. Bukan. Aku bukannya tidak mau menikah secepatnya. Hanya saja, aku tidak ingin mengecewakan Axel. Terlebih Mama yang tampak tulus dan berharap banyak dariku. Bisakah aku membahagiakan mereka? Nasha, bukankah kamu mencintai Axel? Akan lebih baik jika kamu menikah secepatnya. Itu akan lebih aman untukmu. Jadi, kamu tidak perlu mengintai Axel hanya karena penasaran. Kalau sudah halal, bukankah lebih indah? Kamu bisa leluasa mengaguminya. Aku menggelengkan kepala berulang kali mendengar suara yang muncul dalam pikiranku. Mengapa aku jadi ingin cepat-cepat menikah dengan Axel? Ya, Allah. Mengapa aku terkesan begitu mengharapkan Axel? Atau memang iya? "Jadi, kamu tidak setuju?" Aku tersentak, lalu memandang Mama yang terlihat murung. Apa karena tadi aku menggelengkan kepala? Tapi itu bukan jawaban dari pertanyaan Mama. "Bukan begitu, Ma. Nasha hanya tidak percaya kalau kami akan menikah secepat itu. Tapi ... ," Aku menunduk untuk menyembunyikan wajah. Rasa malu pasti akan membuatku merona. "Nasha mau menikah dengan Axel sebulan lagi," lanjutku dengan jantung berdebar. "Benarkah?" Mama mendongakkan kepalaku. Aku mencoba tersenyum, meski ini sangat memalukan. "Mama senang sekali, Sha. Mama berharap kalian bisa saling mencintai selamanya," ujar Mama, lalu menarikku ke dalam pelukannya yang hangat. ??? "Selamat pagi, Jagoan." Aku melirik Axel yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Hatiku berdesir. Seperti ada yang menggelitik dan membuatku resah. Anehnya, aku menikmati perasaan itu. "Sudah mau berangkat? Kata Sean, kalian ada rapat penting pagi ini," kataku mencoba membuka percakapan dengan Axel. Axel mendengkus mendengar perkataanku. Memangnya aku salah apa? Wajah Axel terlihat menahan kesal. "Kamu bertemu Sean?" tanya Axel tajam. "Eh, sebenarnya tidak sengaja," jawabku ragu. Aku melirik Mama sekilas. Mama menutup mulut rapat, seperti sedang menahan tawa dan membuatku semakin malu. "Tadi pagi waktu Sean jogging, kami tidak sengaja bertemu." "Benarkah?" tanya Axel, seolah tidak puas dengan jawabanku. Dia itu kenapa? "Pagi, Kak Nasha." Aku bersyukur Sean datang dan menyelamatkanku. Sikap Axel yang sedikit mengintimidasi, sedikit mendesakku. Aku takut akan lepas kendali di depan Mama dan mempermalukan diri sendiri. "Pagi, Sean," jawabku santai. Sean mengerling dan mengingatkanku pada kejadian beberapa saat lalu. Memalukan! "Bagaimana hasil penyelidikan tadi pagi?" tanya Sean dengan seringai khasnya. Aku percaya jika dia adalah penggoda ulung. Caranya bicara bisa membuat orang lain terhanyut. Seharusnya aku tidak memercayai adik Axel itu. "Penyelidikan apa?" Suara Axel menyadarkanku. Aku bergerak gelisah. "Tadi pagi, Kak Nasha sedang menyelidiki ...." "Aku harap kamu tidak lupa kata-katamu tadi pagi, Sean," potongku cepat. Apa dia berniat mempermalukanku sepagi ini? "Ya, ampun! Maaf, aku lupa." Sean menutup mulut dengan kedua tangan dan melirik Axel, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Bisa bicara sebentar, Sha?" Axel berjalan tanpa menunggu jawabanku, jadi aku mengikutinya. Setelah cukup jauh, dia berhenti. "Ada apa, Xel?" "Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa antara kamu dan Sean?" Aku terkejut dengan ucapannya. "Maksud kamu apa? Aku kan sudah bilang kalau kami tidak sengaja bertemu tadi pagi." "Lalu, apa maksud Sean dengan penyelidikan?" "Itu ...." Aku menghela napas. "Bisakah kita membicarakan hal ini lain waktu?" "Kenapa tidak sekarang?" desak Axel. Aku terdiam lama. Mana mungkin aku sanggup mengatakannya. "Axel, aku tidak melakukan hal yang salah, jadi bisakah kali ini saja kamu mengerti?" "Aku tidak menuduhmu melakukan kesalahan, atau jangan-jangan kamu memang melakukannya?" Mataku mengerjap. Aku menggerak-gerakkan kaki untuk membentuk pola bulat. Kebiasaanku kalau sedang terpojok dan gugup. "Kak Axel, jangan memojokkan Kak Nasha begitu!" teriak Sean dari jauh. Aku kembali bersyukur karena diselamatkan untuk kedua kalinya oleh Sean. "Kita harus pergi sekarang atau kita akan terlambat." Axel terlihat masih menunggu jawabanku. Matanya menatap Sean di kejauhan dengan tajam. Ya, ampun. Apa dia mencurigaiku dan Sean? "Kamu harus menjelaskannya nanti," tuntut Axel padaku. Aku mengangguk dengan kepala menunduk. Dia melangkah menjauh, tapi lalu bersuara lagi. "Aku hampir lupa." Aku mendongak dengan hati berdebar. "Apa?" tanyaku penasaran. "Kalau Mama terlalu memaksamu, katakan saja padaku. Mama hanya sangat bersemangat." "Maksudmu tentang sebulan lagi kita menikah?" tanyaku setelah menundukkan kepala lagi. Axel diam cukup lama. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. "Kita akan bicara nanti. Jangan pulang duluan. Aku yang akan mengantarmu." "Aku mengerti," kataku tanpa membantah. "Pergilah. Aku akan menunggumu pulang." Aku bernapas lega begitu Axel menjauh. Apa tadi aku sempat menahan napas? Ini berbahaya. Aura Axel semakin memengaruhiku. Dia hanya berdiri di hadapanku dan tidak mengatakan hal-hal romantis. Tapi mengapa aku justru terpesona. Aku berdoa, semoga saja dia tidak melihat kegugupanku. Atau lebih memalukan, dia mendengar debaran jantungku yang menggila. Jantung, aku mohon. Bekerja samalah denganku. Mengapa terus menyiksaku dengan detak kerasmu saat ada Axel. Tidak tahukah kamu kalau Axel mungkin akan mendengarnya. Aku menghela napas dengan kasar. Ini tidak adil. Seperti sebelum-sebelumnya. Aku terlalu mudah dibaca oleh Axel. Sementara Axel sangat misterius. Apa dia sungguh mencintaiku dan menginginkan pernikahan kami? Ekspresi wajahnya memang tidak sekaku dulu, tapi tetap saja, aku tidak bisa mengetahui keinginan pria itu. Akan tetapi, melihat bagaimana Axel membujukku untuk waktu yang lama. Aku harus mengakui kalau dia sangat sabar. Bukan sekali dua kali aku menangis di hadapannya karena mengingat Alfa. Bahkan juga sering terang-terangan mengatakan, aku merindukan sahabat baikku itu. Aku tersenyum lebar saat Alfa menelepon, lalu kembali murung ketika panggilan berakhir. Semua itu tentu tidak luput dari perhatian Axel. Aku tidak bisa membayangkan sedalam apa dia menahan sakit hatinya. Ya ... itu kalau dia memang benar mencintaiku. Aku jahat sekali. Membuat Axel yang baik hati menderita selama ini. Baiklah. Itu semua tidak penting sekarang. Apa pun yang terjadi di masa laluku dan Axel adalah sebuah pembelajaran. Mungkin saja Allah memang ingin memberikan ujian ini kepada kami. Mengantarku menuju hijrah dan memperbaiki segalanya dengan pernikahan. Pernikahan? Sebulan lagi aku akan menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Memiliki ikatan halal dengan Axel. Aku menangkup kedua pipi begitu merasakan kehangatan menjalar. Aih, mengapa hanya dengan mengingatnya, membuatku tersipu begini. Axel, aku berharap hubungan kita tidak hanya sementara. Aku ingin Ares bahagia karena bisa terus bersama ayahnya. Kuharap, aku juga bisa membahagiakanmu. Selamat datang di gerbang hatiku. Aku menanti waktu di mana kamu akan memenuhi kalbu. Hari saat kita disatukan dalam hubungan bernama pernikahan. Semoga saja bahagia itu memang suatu pilihan. Aku mungkin tidak memiliki hak untuk merasakan kebahagiaan secepat ini, tapi aku memilih untuk menggenggamnya. Dengan Axel yang menjadi tali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN