Aku cepat-cepat memasuki rumah setelah memarkir asal mobilku. Mataku mencari sosok yang membuatku kacau setengah hari ini. Aku harus segera menemukan Nasha atau rasa penasaran ini akan membunuhku.
Ya, ampun! Aku nyaris mengacaukan rapat penting karena tidak berkonsentrasi. Sean berkali-kali mengingatkan kalau kami sedang berada dalam situasi serius. Tapi, demi Tuhan! Bagaimana bisa aku tenang jika pikiranku penuh dengan Nasha. Aku tidak bisa melupakan wajah meronanya begitu Sean muncul.
Menggelikan. Aku tidak mau mengakui ini, tapi aku memang sedikit cemburu. Sean sudah terlalu sering menggoda wanita. Aku hanya takut kalau Nasha juga masuk dalam perangkapnya. Adik laki-lakiku itu berbakat membuat orang lain terpesona. Serius!
Ini benar-benar bukan diriku. Seperti kata Mama, aku orang yang sangat percaya diri. Mengapa aku tidak bisa meyakinkan diri kalau Nasha memang mencintaiku. Benarkah apa yang Mama katakan, bahwa aku hanya takut ditinggalkan?
Kurasa ketakutan itu tidak berlebihan. Nasha cinta mati pada Alfa dan sudah mengenalnya bertahun-tahun. Dia menangisi Alfa hampir setiap hari setelah mereka berpisah. Bayangkan bagaimana perasaanku? Kamu pasti juga tidak rela saat wanita yang kamu cintai malah menangisi pria lain di hadapanmu. Bukan sekali dua kali. Rasanya aku ingin memiliki keahlian menghapus ingatan seseorang, agar bisa membebaskan Nasha dari luka.
Sekarang, coba katakan kepadaku. Apa rasa takutku ini keterlaluan? Aku baru pertama kali jatuh cinta kepada wanita. Jadi, wajar saja kalau aku merasa khawatir. Apalagi usiaku sudah tidak muda lagi. Saat ini, aku tidak ingin mencari pacar atau kekasih. Aku membutuhkan pendamping untuk seumur hidup. Untuk itu, aku tidak boleh salah pilih, bukan?
Aku sangat bersyukur karena ada Ares. Setidaknya, aku dan Nasha memiliki pengikat untuk bersama. Aku yakin jika Ares bisa menyatukan kami lebih lama. Bukankah sebuah pernikahan akan lebih sempurna dengan kehadiran buah hati. Nah, kami bahkan sudah mempunyai anak yang melengkapi hidup kami sebelum menikah. Aku tidak salah, bukan?
Napasku serasa berhenti setelah menemukan Nasha tengah duduk di ruang keluarga. Aku memeriksa sekeliling yang sepi. Ke mana semua orang? Mengapa Nasha hanya seorang diri. Ares bahkan tidak tampak di mana-mana. Apa dia sedang tidur?
"Sudah pulang, Xel?" Aku sedikit terkejut saat Nasha bersuara. Dia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Apa dia merasakan kehadiranku?
Aku melangkah mendekat dan duduk cukup jauh. Pandanganku jatuh pada undangan yang berserakan di dekat Nasha. Dia sekarang sedang memperhatikan salah satunya. Membolak-balik kertas yang dipegangnya. Apa dia bermaksud diam begitu terus?
"Lihat-lihat saja, Xel. Menurutmu mana undangan yang cocok untuk pernikahan kita," ujar Nasha tenang. Dia meletakkan undangan yang tadi diperhatikannya, lalu melihatku sekilas. "Tidak mau melihat?"
"I trust you. Pilih saja dan aku akan menurutinya."
Nasha mengerucutkan bibir. "Ternyata menikah itu cukup merepotkan. Kenapa tidak ijab kabul saja, tanpa pesta?"
"Aku juga lebih suka seperti itu. Pesta itu melelahkan. Tapi kurasa, kita harus menghargai Mama. Mama ingin pernikahan kita dirayakan. Maaf, ya. Kamu jadi repot begini."
"Maksudku bukan begitu, Xel. Aku sangat menghargai Mama, sungguh. Hanya saja, ini terlalu berlebihan. Aku bahkan tidak memiliki siapa pun untuk diundang," kata Nasha murung.
Aku menghela napas. Kenapa aku tidak mempertimbangkan hal ini sebelumnya? Aku tahu jika Nasha tidak pernah benar-benar bersahabat. Dia ramah, tapi tidak terlalu suka memiliki teman dekat. Baginya, semua orang sama. Kecuali Alfa, tentunya.
Huhff ....
Lagi-lagi nama itu muncul. Seharusnya aku membuang jauh pikiran tentang Alfa. Mood-ku langsung meluncur turun saat mengingat kedekatannya dengan Alfa. Sesuatu yang membuatku cemburu setengah mati.
"Kamu bisa mengundang semua karyawan di butikmu," ucapku menenangkan. "Atau ...."
"Atau?"
"Kamu bisa mengundang Almira," sambungku lirih. Garis bawahi, aku menyuruh Nasha mengundang Almira, bukan Alfa. Rasanya mulutku sangat anti mengucapkan nama itu. Entah mengapa.
"Bolehkah?" tanya Nasha dengan wajah berbinar.
"Tentu saja. Bukankah kamu ingin menunjukkan kepada mantan suamimu, kalau sekarang kamu bahagia bersamaku."
Nasha terkikik. Aku mengernyit. Memangnya aku sedang bercanda? Aku sangat serius. Alfa memang mantan suami Nasha, bukan?
"Kamu cemburu, Xel?" tanya Nasha geli.
Aku mendengkus. Apa hal itu perlu diperjelas lagi. Tidak cukupkah hanya mengatakan dalam hati, agar aku tidak merasa terbebani dan malu.
"Menurutmu?" Aku balas bertanya. Nasha diam seketika. Aku tidak mengerti mengapa dia berpura-pura tidak tahu. Padahal jelas-jelas aku menyindirnya.
"Bisa tidak kalau kamu tidak bertanya lagi? Aku benar-benar lelah hari ini. Aku bahkan mengacaukan rapat karena terus memikirkanmu," kataku sambil menatap lurus Nasha. Wanita itu membeku di tempat, tapi dia tetap menunduk.
"Maaf," lirih Nasha. "Tapi kamu sedikit berlebihan, Xel. Aku sudah memilihmu. Tidakkah itu membuktikan kalau aku memang menginginkan hubungan kita?" dia menghela napas gusar. "Kamu tidak perlu curiga pada Sean dan Alfa. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu."
Hatiku bergetar mendengar pengakuan Nasha. Wajahnya terlihat sangat serius ketika mengatakan hal itu. Dia menggerak-gerakkan kakinya pelan dengan kepala yang masih menatap lantai.
"Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan hubungan kita. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," ujarku.
"Terus terang saja, aku juga khawatir," celetuk Nasha, sangat pelan.
Aku tersenyum melihat kedua pipinya yang merona. "Jadi, kita bisa memulai hubungan dengan baik, bukan?" tanyaku.
Nasha mengangguk. Aku berdeham dan mulai memperhatikan berbagai undangan itu. Tanganku lalu meraih salah satunya dan menyodorkan pada Nasha. Mata wanita itu melihat pilihanku.
"Kamu menyukai yang itu juga?" Mata Nasha sedikit melebar. Aku senang kami bisa sepakat kali ini.
Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir. Nasha menginginkan pernikahan kami juga. Dia tidak terlihat terpaksa melakukan semua ini. Seharusnya aku tidak berlebihan. Nasha hanya butuh kepercayaan dariku dan aku akan memberikannya.
Nasha menggilai Alfa karena pria itu adalah satu-satunya sahabat yang dia miliki. Jadi, saat ada orang yang menginginkan Alfa, dia merasa tidak rela. Dia ingin Alfa hanya bersamanya. Karena dia tidak memiliki siapa pun lagi selain Alfa.
Ya. Pasti begitu. Aku yakin sekali. Mulai sekarang, aku hanya akan memikirkan masa depanku dengan Nasha. Tidak peduli bagaimana cara kami bertemu dan saling mengenal.
???
"Kenapa lagi, Ma?" tanyaku dengan malas.
Akhir-akhir ini Mama menjadi sedikit cerewet. Dia terus menanyakan ini itu padaku. Maksudku, tentang persiapan pernikahanku dan Nasha. Padahal Mamalah yang menyiapkan segalanya. Nasha semakin sering terlihat di rumahku karena menuruti keinginan Mama. Aku berharap dia tidak terlalu lelah dengan sikap wanita yang melahirkanku itu.
"Kamu seperti tidak bersemangat begitu. Mama sama Nasha itu sudah capek-capek mempersiapkan pernikahan ini, Xel. Masa kamu tidak mau membantu?"
Aku mendengkus. Tidak membantu bagaimana, aku sudah memberikan simpananku pada Mama untuk acara ini. Lagi pula, Mama hanya berbasa-basi padaku. Bertanya banyak hal dan meminta saran dariku, tapi pada akhirnya tidak ada yang digunakan. Mama tetap menggunakan semua idenya. Jadi, apa gunakan aku menjawab semua pertanyaan Mama?
"Bukan begitu, Ma. Axel sangat bersemangat, tentu saja. Tapi Axel rasa, Mama dan Nasha lebih cocok bekerja sama. Kalau ada Axel, nanti malah kacau. Jadi, akan lebih baik kalau dua wanita cantik yang mengurusnya."
Mama memicingkan mata. "Kamu sekarang lebih mirip Sean," celetuk Mama tiba-tiba. "Jadi pintar merayu. Tapi Mama lebih suka kamu yang sekarang. Sepertinya Nasha memang membawa pengaruh besar untuk anak Mama ini." Mama menepuk pundakku pelan.
Senyumku melebar. Mama benar sekali. Aku memang merasakan perubahan emosi dalam diriku. Tidak lagi terkesan serius sepanjang waktu. Apa ini tidak apa-apa?
"Tidak apa-apa, Xel. Bukankah ini adalah pribadimu yang sebenarnya?" Mama mengusap sisi wajahku penuh sayang. "Kamu hanya kembali menjadi dirimu sendiri dan Mama sangat bersyukur. Mama harap, kamu tidak lagi terbebani oleh sesuatu yang bukan kesalahanmu. Oke?"
Mata Mama mulai berkaca-kaca. Kalau sudah begini, sebentar lagi Mama pasti akan sulit ditenangkan. Jadi, aku mengangguk cepat dan menggenggam tangan Mama. Berharap Mama bisa merasakan perubahanku.
"Mama, Axel."
Di sanalah Sang Bidadari itu. Berdiri dengan pesona yang sulit untuk aku kalahkan. Nasha tampak cantik seperti biasa. Menggunakan dress lengan panjang biru tua. Ikat pinggang krem sebagai aksesoris. Juga jilbab segi empat krem. Aku merasa jika wanita itu bertambah menawan dari hari ke hari.
"Sini, Sayang," kata Mama sambil menepuk sofa di sampingnya. Dia melirikku sebentar sebelum menuruti ucapan Mama. "Kebetulan kamu sudah datang. Tadi Mama dan Axel juga sedang membicarakan kamu. Iya kan, Xel?"
Aku mengaduh saat merasakan sebuah cubitan di pinggang. "Kenapa Mama cubit Axel?"
"Soalnya kamu kebanyakan bengong. Sebegitu terpesonanya pada Nasha, sampai kamu hanya melihat calon istrimu saja dari tadi. Mama kamu anggap apa? Patung?"
"Ma," panggil Nasha pelan. Dia tersenyum pada Mama untuk mengalihkan perhatian. "Jadi, kita tetap mengadakan pesta di rumah, kan?"
"Tentu saja. Kita sudah sepakat dan itu lebih menarik. Kita memiliki halaman yang luas, jadi tidak perlu cemas. Lagi pula tamu undangannya tidak sebanyak itu. Kita hanya mengundang beberapa kolega dan teman. Bukankah kamu tidak terlalu menyukai keramaian?"
"Iya. Pesta itu sedikit menyesakkan."
Mama tertawa mendengar suara Nasha yang tampak tertekan. "Kamu itu. Sama saja seperti Axel. Tidak suka berada di tengah keramaian. Sukanya hanya berduaan saja, ya?"
"Ma!" tegurku saat melihat wajah memerah Nasha. Kenapa harus menggoda seperti itu. Benar-benar membuat salah tingkah. Kasihan Nasha yang semakin menunduk itu.
Sekali lagi Mama tertawa, tidak merasa bersalah sedikit pun karena membuatku dan Nasha malu. Tidak perlu berkata sejelas itu, bukan? Aku memang lebih suka jika hanya berdua dengan Nasha. Salah? Ya, ampun. Dasar setan tukang hasut. Seharusnya aku tidak merasa begitu.
"Maaf. Kalian itu pasangan yang lucu. Jadi, Mama suka jail. Jangan masukan dalam hati ya, Nasha," ujar Mama sambil membelai jilbab Nasha.
"Iya, Ma. Bukan salah Mama, kok. Nasha saja yang terlalu sensitif."
"Ya, Allah. Menantu Mama ini memang yang terbaik." Mama memeluk Nasha lama. Aku memutar bola mata. Menantu? Aku dan Nasha kan belum menikah. Mama terlalu bersemangat.
Aku membatu ketika merasakan mata Nasha yang memperhatikanku. Bibirnya memperlihatkan senyum yang manis. Mataku sampai tidak berkedip menyadari betapa memesonanya seorang Nasha Farikha.
Bisakah waktu dua minggu dipercepat saja. Aku tidak sabar menjadikan Nasha sebagai istriku. Milikku seutuhnya. Aku juga ingin dipeluk dengan erat seperti itu. Melihat Nasha tersenyum bahagia bersamaku.
Ya, Allah. Berapa setan yang telah menggodaku saat ini? Mengapa ujian ini terasa berat bagiku. Seandainya khilaf itu diperbolehkan, aku pasti sudah ....
"Kamu kenapa lagi, Xel?"
"Hah?"
"Axel Dirgantara Walzer!" seru Mama keras sambil memukul lenganku.
"Kenapa teriak-teriak begitu, Ma? Axel tidak tuli," protesku seraya menutup kedua telinga.
"Iya. Tidak tuli, tapi tidak bisa mendengar. Sudahlah. Mama mau ke kamar sebentar." Mama beranjak. "Jangan macam-macam, Axel," kata Mama sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajahku.
"Memangnya Axel mau melakukan apa?"
"Mana Mama tahu." Mama berpaling sebentar pada Nasha. "Sebentar ya, Sha. Setelah ini kita akan ke butik untuk fitting baju pengantin kalian. Jangan dekat-dekat dengan Axel. Dia sangat berbahaya." Aku bisa melihat Mama mengedipkan sebelah mata sebelum pergi.
Keadaan menjadi sedikit canggung setelah Mama menghilang. Nasha menggeser duduknya agar lebih jauh dariku. Aku ingin tertawa saat dia melakukan hal itu. Apa dia benar-benar menganggapku berbahaya? Tapi ... aku memang berbahaya. Sangat berbahaya.
"Ares di mana?"
"Dia bersama dengan Dewi, seperti biasa," jawabnya pelan.
"On the way," ucapku cukup keras. Membuat Nasha melihat ke arahku sejenak. Keningnya berkerut. "Kita OTW."
"Maksud kamu?"
"Kita memang sedang berjalan menuju kebahagiaan, bukan?" Nasha tampak ragu sebelum mengangguk kecil. "Nasha," panggilku dengan tegas.
"Ya?"
"Kamu benar-benar mengizinkanku mengisi hatimu sebagai suami, bukan?"
Mata Nasha membesar, tapi dia tidak berani mengangkat kepalanya. Kalau dia bersikap seperti itu terus, aku benar-benar bisa menjadi ancaman. Tidak tahukah dia kalau sikapnya membuatku gemas?
"Nasha." Aku kembali memanggil wanita yang terlihat masih menerawang itu.
"Eh, itu ...." Nasha berdeham berkali-kali. "Kenapa harus mengatakan hal seperti itu? Kamu jadi aneh, Xel," katanya dengan muka memberengut.
"Karena sekarang aku punya hobi baru." Aku sengaja menjeda ucapan. Nasha tampak sangat penasaran, tapi dia berusaha menahannya. "Menggodamu," tambahku.
Nasha mendengkus dan beranjak pergi. Dia tidak menoleh ataupun berbalik saat aku memanggil. Bukannya merasa kecewa, aku malah tergelak melihat tingkah Nasha. Dia benar-benar membuat mood-ku naik drastis.
Terima kasih, Nasha. Sudah mengembalikan diriku yang hilang selama bertahun-tahun. I love you.