11. Nasha

1866 Kata
Aku mengembuskan napas untuk ke sekian kalinya. Kedua tanganku yang basah saling remas. Aku bisa merasakan jantungku yang berdetak keras di dalam sana. Kakiku bergerak tak teratur. Kenapa tidak ada seorang pun yang menemaniku? Melihat bayanganku di cermin malah membuat pikiran semakin kacau. Aku tidak menyangka akan mengalami perasaan berdebar seperti saat ini. Ternyata betul kata orang, menikah itu membuat hati kebat-kebit. Mataku menjelajahi kamar yang telah dihias dengan sangat indah. Sebenarnya ini terlalu luas jika disebut sebagai kamar. Axel bilang, dia sengaja menyiapkan ruangan besar agar Ares bisa bebas bermain. Memangnya Ares akan menghabiskan banyak waktu di kamar? Di samping kamar ini bahkan ada tempat bermain khusus untuk Ares. Disiapkan secara mendadak, tapi tetap menarik. Aku tidak percaya jika rumah yang tampak sederhana, bisa memiliki banyak ruangan. Aku sempat terpana melihat seluruh bagian bangunan yang akan kutinggali dengan Axel. Pandanganku berhenti pada permukaan tempat tidur yang dihiasi kelopak mawar merah berbentuk hati. Di tengah-tengahnya ada sepasang angsa putih. Aku bergidik melihat penampakan kasur itu. Bayanganku mulai mengembara ke mana-mana. "Mbak Nasha." Aku memutar badan dan melihat Almira memasuki kamar. Dia cantik seperti biasa. Dengan gamis biru berbunga-bunga dan pashmina instan biru, dia terlihat berkali lipat memesona sejak terakhir kami bertemu. Senyum wanita itu melebar saat menghampiriku. "Selamat ya, Mbak," ujar Almira tulus seraya memelukku. Aku membalas pelukan itu dengan segenap hati. "Makasih ya, Al. Aku senang kamu mau datang ke pernikahanku." Almira melepas pelukannya. "Tentu saja kami harus datang. Setelah pengintaian Mas Alfa selama ini, kami tidak mungkin melewatkan momen ini. Ares tambah sehat dan cakep. Aku suka waktu dia tertawa," katanya bersemangat. Aku bahagia Almira tidak berubah. Seolah kami memang tidak pernah mengalami masalah pelik. Terkadang sikapnya yang terlalu mudah memaafkan itu, membuatku malu. Aku terlihat seperti penjahat berhati batu yang mencoba merebut milik orang lain. Untungnya, Almira memiliki hati bak malaikat. "Kamu bilang ... Alfa mengintaiku?" tanyaku ragu. "Lebih tepatnya mengintai Axel. Karena Axel nyaris setiap saat ada di dekat Mbak Nasha, jadi kami juga sekalian memperhatikan Mbak." Almira berhenti untuk memandang wajahku. Aku mengangkat alis melihat ekspresi takjubnya. "Mbak memang luar biasa cantik. Pantas saja Axel cinta mati. Eh, apa aku harus memanggilnya mas juga? Dia lebih tua dari kita, kan?" Aku tertawa kecil mendengar ocehan Almira yang sangat kurindukan. Bagaimana bisa aku dulu menyakiti wanita itu? Dia memang sudah memaafkanku, tapi rasa bersalah itu tetap menghantui. Aku tidak bisa melupakan bagaimana Almira menderita kala aku mengacaukan pernikahannya dengan Alfa. Itu masa-masa yang ingin aku hapus dalam hidup. "Terserah kamu, Al. Yang penting kamu nyaman." "Mbak Nasha masih memanggilnya nama saja?" Almira membuatku berpikir. Selama ini aku hanya memanggil Axel dengan nama. Aku jadi teringat pertanyaan Axel, jika kami menikah, apa dia akan kupanggil mas. Mungkin seharusnya aku mulai membiasakan diri dengan panggilan itu. "Apa aku juga harus memanggilnya mas?" "Aku rasa sebaiknya begitu, Mbak. Sebagai rasa hormat kita kepada suami," ujar Almira dengan senyum mengembang. "Mas Axel pasti suka dengan panggilan itu. Apa sebaiknya aku memanggil kakak saja, supaya hanya Mbak yang memanggil dia mas?" "Tidak perlu begitu, Al. Aku tidak masalah. Toh, itu hanya panggilan." Almira menggelengkan kepala tidak setuju. "Sebaiknya tidak, Mbak. Baiklah, aku akan memanggil Axel dengan embel-embel kakak saja," putusnya. Aku mengangguk. "Sudah siap, Kak Nasha?" Vanny dan Jenny muncul. "Kita ke ruangan tengah sekarang, ya. Ijab kabulnya akan segera dimulai." Aku menghela napas, lalu mengangguk. Bismillah. Semoga segalanya berjalan lancar. Amin. ??? Axel semakin memesona dengan setelan jas abu-abunya. Aku melirik gamis yang kukenakan, senada dengan warna jas Axel. Tiba-tiba hatiku kembali dipenuhi beban yang membuat sesak. Aku menoleh saat merasa ada yang meremas lembut tanganku. Almira mengedipkan sebelah mata seraya tersenyum. "Tenang saja, Mbak. Semua wanita akan merasa gugup pada saat-saat seperti ini," bisik Almira pelan. Aku tersenyum menanggapi perkataannya. Dia membimbingku duduk di sudut ruangan. Dari sini, aku tidak bisa melihat Axel dengan jelas. Dia duduk membelakangiku, menghadap seorang pria berpeci yang sepertinya adalah penghulu. Di sampingnya ada Mama dan Sean. Mama terlihat membisikkan sesuatu pada Axel, yang ditanggapi dengan anggukan. Suara pembawa acara yang mengatakan bahwa proses ijab kabul akan dimulai, mengejutkanku. Aku kembali mengembuskan napas. Kulirik Vanny dan Jenny yang duduk di dekatku. Kedua gadis itu terlalu fokus menatap Axel. Aku menyentuh pelan dadaku yang bergemuruh. Mencoba menenangkan diri dan menatap Axel. "Sah!” Seruan semua orang di dalam ruangan lagi-lagi mengejutkanku. Axel menoleh ke arahku, seolah tahu kalau aku memang memperhatikannya dari tadi. Aku membalas senyum suamiku itu. Vanny dan Jenny memelukku dan memberi selamat. "Kami senang, akhirnya Kak Nasha menikah dengan Kak Axel," ucap Jenny setelah kami melepas pelukan. Vanny mengangguk penuh penekanan. Matanya sudah berkaca-kaca. "Selamat ya, Mbak. Aku selalu mendoakan kebahagiaan Mbak." Aku mendapat satu pelukan lagi dari Almira. Setelah adegan peluk memeluk, Vanny dan Jenny menggamitku di sisi kanan kiri. Menuntunku untuk mendekat pada Axel. Debar jantungku benar-benar tidak terkendali. Dalam hati aku terus berdoa, semoga tidak ada yang menyadari hal itu. Mama menyambutku dengan pelukan hangat. Setelah itu, Mama menatapku dan menyeka matanya yang sudah berair, kemudian tersenyum. Mama menggenggam tanganku erat. "Terima kasih, Sayang. Karena sudah mau menjadi menantu Mama. Selalu bahagia, ya." Mama mencium keningku dan memintaku duduk di samping Axel. "Selamat datang dalam pernikahan kita, Istriku," bisik Axel sejenak setelah aku duduk. Aku meraih tangan Axel dan menciumnya penuh rasa hormat. Axel menarikku untuk mendekat dan mengecup keningku lama. "Assalamualaikum, Mama Ares." Axel kembali berbisik. Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Itu terdengar sangat manis di telingaku. "Waalaikumsalam, Papa Ares," balasku pelan. Wajahku langsung memanas. Tidak lagi! Aku pasti tampak memalukan. Saat itulah aku melihat Alfa yang tersenyum lebar ke arahku. Aku lega karena tidak lagi merasa sedih bila menatapnya. Sepertinya, aku memang sudah berhasil menghapus nama Fauzan Alfarizi dari hatiku. "Enak sekali ya bernostalgia dengan mantan." Aku ingin tertawa mendengar nada suara Axel yang tajam. "Aku orang yang sangat posesif. Aku tidak suka jika wanitaku melirik pria lain," tambahnya penuh penekanan. Uh oh. Aku harus berhati-hati mulai sekarang. Axel terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. Lebih baik aku tidak membuat masalah. Paling tidak untuk saat ini. ??? "Mau istirahat saja?" tanya Axel begitu kami tiba di kamar. Aku hanya mengangguk pelan. Rasanya sedikit aneh karena Ares tidak bersamaku. Anakku itu diungsikan begitu aku selesai memberi ASI. Katanya supaya acaraku dan Axel tidak terganggu. Memangnya apa yang akan kami lakukan? "Sebenarnya aku lebih suka kalau ada Ares bersama kita di sini," ucapku lirih. "Aku juga suka ide itu, Sha. Tapi, sepertinya hari ini Mama tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Axel tersenyum. "Kamu tidak usah khawatir, Mama sudah memastikan kalau Ares akan baik-baik saja. Ares sudah merasa nyaman dengan Mama." "Aku tahu," kataku mengalah. Ares memang sudah merasa cocok dengan ibu mertuaku. Mungkin karena sudah terlalu sering berjumpa atau karena dia sudah tahu jika Mama adalah neneknya. "Istirahatlah. Nanti malam kita masih harus mengikuti pesta yang direncanakan oleh Mama," kata Axel sambil membelai jilbabku. "Mas juga harus istirahat," ujarku malu-malu. Axel tampak terkejut dengan kata-kataku. Ah, pasti karena aku memanggilnya mas. "Kamu memanggilku apa, Sha?" Aku menelan ludah, tidak berani menatap Axel yang berada sangat dekat. Tangan Axel menyentuh daguku pelan. Aku terpaksa mendongak. Axel tersenyum menggoda. Ya, Allah. Aku serasa lemas melihat betapa indahnya ciptaan-Mu ini. Axel mendekatkan wajah. Membuat mataku melebar. "Aku suka panggilan itu," bisiknya. Badanku membeku begitu Axel memeluk erat. Dia mencium kepalaku berulang kali. Aku membalas pelukannya dan merasa sangat nyaman. Rasa gelisahku hilang begitu saja. Tergantikan dengan rasa bahagia yang membuncah. ??? "Capek sekali, ya?" Aku merasakan sentuhan lembut Axel di pipi kiriku. Aku mengangguk lemah. Meski begitu, aku tetap berusaha tersenyum. Awalnya, kupikir tamu yang akan datang tidak sebanyak ini. Kalau ini disebut pesta sederhana oleh Mama. Lalu, bagaimana pesta sesungguhnya. Aku bergidik. Beruntung, Axel berhasil membujuk Mama untuk tidak mengadakan perayaan besar-besaran. Nyatanya, ini masih terasa wah bagiku. "Sabar ya, Sayang," bisik Axel. Aku mengerjap mendengar panggilan baru Axel. Kuedarkan mata ke seluruh tamu. Dia itu sengaja atau bagaimana. Aku kan malu kalau ada yang memperhatikan kami. "Mas jangan macam-macam," protesku dengan suara rendah. Senyum Axel langsung terbit. Dia menarik pinggangku mendekat. Mataku hampir saja meninggalkan rongganya mendapat perlakuan seperti itu. Sekuat tenaga, aku menyingkirkan tangan Axel. Suamiku itu terkekeh setelah puas menggoda dan melepas tangannya. Kenapa sikap Axel berubah, sih? "Jangan terlalu tegang, Sha. Kita bahkan belum melakukan apa-apa," kata Axel. Dia menaik-turunkan alis. Aku ingin sekali memukul lengannya. Boleh tidak memukul suami beberapa kali? Aku mendengkus sebagai ganti keinginanku untuk memukul Axel. Aku tahu kalau seorang istri tidak boleh bertindak kasar pada suaminya. Kita, sebagai istri, harus menghormatinya. Baru saja mulutku membuka, dua orang asing menghampiri kami. Pria dan wanita. Tampak seperti pasangan yang sempurna. "Kenapa tiba-tiba Kakak menikah?" tanya Si Wanita tanpa basa-basi. Dia melirikku dari atas ke bawah. Seakan menilaiku. Terus terang saja, tatapannya membuatku tidak nyaman. Siapa sih wanita ini? "What do you mean, Cla?" Axel balik bertanya dengan bingung. Dia melirikku berkali-kali. Apa itu? Apa dia sedang mencemaskan sesuatu? "Kenapa aku baru mendapatkan berita tentang pernikahan Kakak? Forget me?" tuntut wanita yang dipanggil Cla itu. "Calm down, Cla. Kita sedang berada di pesta pernikahan. Apa kamu ingin mencari perhatian semua orang?" "This is your fault, Yan. Why don't you tell me earlier? Kamu sengaja?" Pria bernama Yan itu menghela napas berat. Dia menatap Axel yang terlihat tidak mengerti maksud Cla. Lalu, matanya mengarah padaku. Dia tersenyum dan mengangguk sopan. Aku membalasnya dengan perlakuan yang sama. "Aku sudah memberi tahu Adrian sejak sebulan lalu. Dia tidak bilang?" Cla mengalihkan matanya pada Adrian. Keningku berkerut. Sebenarnya ada apa ini? Siapa Adrian dan Cla? Axel melihat tamu-tamu yang masih ramai. Aku bisa mendengarnya menghela napas dengan kasar. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Dia tidak pernah menceritakan tentang kedua orang yang masih berdebat di depan kami. Salah. Dia memang tidak memberi tahuku tentang apa pun. Seketika aku sadar, kalau Axel sangat asing di mataku. "Mas," panggilku seraya menarik lengan Axel pelan. Dia tersenyum dan membelai pipiku sekilas. "It's okay, Sweety. Sepertinya Cla hanya salah paham," jelasnya menenangkanku. Aku melihat Cla yang masih terus menatapku tak suka. Apanya yang salah paham? Wanita itu seperti ingin mengulitiku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. "Kamu sudah berapa lama mengenal Kak Axel?" tanya Cla dengan tajam. Dia mendekatiku. "Cla, please," bisik Adrian. Dia menyentuh pundak Cla dan mencoba mengajaknya pergi. Tapi Cla tidak berniat mundur sedikit pun. "Pergilah, Cla. What exactly are you doing now?" Axel ganti bertanya dengan wajah yang sulit kuartikan. "Cla, kamu siapa?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutku. Cla tersenyum sinis. Dia sama sekali tidak memedulikan siapa pun. "Kalau kamu cukup dekat dengan Kak Axel, seharusnya kamu mengenalku," kata Cla tidak sabar. Aku menatap Axel untuk mendapat penjelasan. Tapi Axel hanya tersenyum. Memangnya senyuman itu bisa menjelaskan sesuatu padaku? Demi, Allah! Aku sungguh butuh kejujurannya. Hatiku terasa ngilu mendapat perlakuan dari Cla yang seolah sudah sangat mengenal Axel. "Cla, sebaiknya kamu pergi sebelum aku kehilangan kesabaran," ujar Axel tegas. Dia menatap tajam Cla. "Jadi, begitu? Bagaimana bisa Kakak menikahi wanita lain, padahal ada aku?" Cla menatap Axel dengan wajah basah. Mata Axel membesar mendengar kata-kata Cla. Sementara jantungku serasa berhenti berdetak. Apa kali ini aku salah melangkah? Ya, Allah. Sebenarnya ujian macam apa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN