12. Axel

1866 Kata
Nasha sudah berganti baju dan duduk di tepi tempat tidur. Meski begitu, jilbab masih menghiasi mahkotanya. Dia berkali-kali mengecek handphone-nya yang sepi sedari tadi. Aku mendengkus, lalu melangkah menuju kamar mandi. Butuh air dingin untuk menenangkan pikiranku saat ini. Clara. Dia adalah teman Sean. Sejujurnya, aku nyaris melupakan wanita itu, jika saja malam ini dia tidak muncul. Bukan apa-apa. Aku memang bukan tipe orang yang suka mengingat hal-hal berbau perempuan. Tapi, kata-kata Clara di pesta membuatku merasa kacau. Aku takut Nasha akan salah paham. Clara memang beberapa kali mengatakan 'I love you' padaku. Tapi, aku tidak pernah menganggapnya serius. Aku pikir dia menyangyangiku sebagai seorang kakak. Dia itu tipe wanita lemah yang sok kuat. Maksudku, dia selalu tampil seolah bisa menyelesaikan masalah seorang diri. Padahal dia punya banyak kelemahan. Terlahir sebagai yatim piatu yang terlunta-lunta, Clara tumbuh sedikit 'nakal'. Bukan nakal dalam artian bebas, ya. Mungkin karena hidupnya penuh dengan tekanan sejak di panti asuhan. Dia memiliki kesulitan untuk mengontrol emosi dan mudah sekali terpancing amarah. Pertemuan pertamaku dengan Clara terjadi saat aku berusaha menyelamatkannya. Dia dianiaya oleh beberapa orang anak yang ternyata adalah teman satu sekolahnya. Anak-anak itu mengatai Clara anak haram yang tidak diinginkan, sehingga dia dibuang ke panti asuhan. Clara yang dikuasai kekesalan langsung memukul mereka. Nahasnya, lawannya bukan anak biasa. Mereka terkenal sebagai geng pembuat onar. Jadilah Clara menjadi bulan-bulanan mereka. Sejak saat itu, Clara selalu mengikutiku. Apalagi saat tahu aku adalah kakak Sean, teman sekelasnya di SMP. Aku yang kasihan hanya membiarkannya. Selama dia tidak merepotkan, aku tidak masalah. Kira-kira lima tahun lalu, dia memutuskan untuk pergi ke Singapura dengan Adrian, sahabatku sejak kecil. Aku pikir mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia tanpa mengabariku. Tapi, apa yang terjadi tadi sangat mengejutkan. Clara jelas-jelas tidak terlihat menganggap Adrian sebagai suami atau kekasih. Apa ada hal penting yang terlewat dariku? Mau tidak mau aku jadi berpikiran buruk. Jangan-jangan Clara memang mencintaiku dan hanya menjadikan Adrian sebagai pelarian. Entahlah, aku tidak mengerti jalan pikiran mereka. Adrian juga menutupi berita pernikahanku dari Clara. Ada apa ini sebenarnya? Rasanya aku ingin mengejar Clara setelah dia mengatakan kalimat yang membuatku hampir pingsan. Aku sempat melihat wajah syok Nasha saat Clara menangis di hadapan kami. Tadi aku juga menyempatkan diri untuk mencari Clara. Sayangnya, wanita itu pergi sebelum pesta berakhir. Aku menghubungi handphone-nya dan Adrian, tapi mereka tidak menjawab. Serius! Ini tidak lucu sama sekali. Kalau sampai Clara dan Adrian sengaja melakukan hal itu demi melukai Nasha, aku tidak segan-segan untuk menghapus mereka dari daftar sahabatku. Hari ini adalah hari pernikahanku. Mengapa harus ada kejadian seperti ini? Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa pada Nasha. Istriku itu ... Ya, Allah. Nasha Farikha sudah sah menjadi makmumku, tapi Clara mengacaukan momen bahagia kami. Apa yang sebaiknya aku katakan kepada Nasha? Berpikir, Xel! Berpikir! Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Mencoba mencari jalan keluar terbaik untuk masalahku malam ini. Sadar jika sikapku sangat konyol, aku berhenti dan memejamkan mata. Menarik napas berulang kali, agar aku kembali tenang. Good, Axel. That's how you are. Think slowly. Kamu butuh kepala dingin untuk berpikir jernih. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Setelah cukup tenang, aku mulai membersihkan diri. Semua harus segera diselesaikan. Aku tidak ingin memberi kenangan buruk di hari pernikahanku dengan Nasha. Kami harus mengenang hari ini, jadi tidak boleh ada kesalahpahaman di antara kami. ??? Aku memperhatikan Nasha yang sekarang sibuk membuat sketsa baju di bukunya. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan bunyi pintu kamar mandi yang dengan sengaja aku tutup sedikit keras. Aku bahkan berjalan dengan mengentak lantai agar mendapat perhatiannya. Well. Sepertinya Nasha benar-benar marah padaku. Tentu saja. Dia berhak untuk mendiamkanku. Aku bahkan cemburu melihat dia menatap Alfa tadi. Apalagi dia yang melihat suaminya ditangisi oleh seorang wanita. Mari kita hentikan permainan ini. Aku yakin Nasha hanya butuh penjelasan. Masalahnya, aku tidak berbakat menjelaskan hal seperti ini. Aku terlalu takut untuk membuka percakapan. Bagaimana jika kata-kataku malah memperkeruh suasana? "Mas sudah selesai?" tanya Nasha tanpa menoleh. Pensilnya masih menari-nari di atas kertas. Aku menghela napas sebelum akhirnya mendekat. "Kamu marah?" Aku langsung menyesali pertanyaan itu. Nasha berhenti menggerakkan penanya dan menatapku sekilas. Kemudian, dia menatap kosong pada kertas di atas meja dan terdiam sangat lama, sampai kupikir dia mendadak memutuskan untuk mogok bicara. Tapi, dia malah tersenyum padaku. Oh, My God! Itu bukan jenis senyum biasa. Nasha seakan ingin mempertegas kalau dia sedang kesal. Bagaimana ini? What should I do? Seharusnya aku belajar dari Sean cara untuk meluluhkan hati wanita yang sedang marah. "Sorry," bisikku. "Aku benar-benar tidak menyangka Cla akan mengatakan omong kosong. Pasti ada alasan mengapa dia mengatakan hal konyol seperti itu." "Ya. Tentu saja. Mas tidak melihat betapa sedihnya dia? Sepertinya dia sangat menyayangi suamiku ini," ujar Nasha sinis. Dia mengembuskan napas sangat panjang. Nice. Kata-kataku malah membuat Nasha semakin curiga. Aku memijat kening pelan, berharap kepalaku mempunyai cara bagus untuk menenangkan istri cantikku itu. Senyumku mengembang begitu satu ide terlintas. "Mas mau apa?" tanya Nasha panik ketika aku mendekat padanya. Tawaku hampir meledak melihat wajah pucat dan matanya yang melebar. Tahan, Xel. Don't rush. Aku meraih pundak Nasha dan mulai berbisik pelan, "Assalamualaikum, Istriku. Kamu terlihat sangat cantik malam ini." Nasha mendongak. Dia terlihat bingung melihat perubahan sikapku. Aku cepat-cepat menahannya saat melihat gelagat dia akan berdiri. Mata Nasha menatapku tajam, tapi aku menyukai tatapannya. Jadi, aku meletakkan tanganku di atas kepalanya dan meneruskan rencana awal. "Allahuma innii as-aluka min khairihaa wa khairi maa jabaltahaa alaihi Wa ‘audzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi." Aku tahu jika Nasha menegang di tempatnya. Dia menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Aku tersenyum puas. Sepertinya rencanaku akan berhasil. "Waalaikumsalam, Suamiku," lirih Nasha. "Maaf, sudah mengabaikan Mas. Tapi aku memang membutuhkan penjelasan." "Oke. Apa yang ingin kamu tahu? Aku bingung bagaimana harus memulai." Nasha mengangguk setuju dan aku berdebar menantikan pertanyaan darinya. "Siapa Cla bagi Mas?" "Aku menganggapnya seperti seorang adik. Dia itu teman Sean kalau kamu penasaran." "Apa dia pernah mengatakan kalau dia cinta sama Mas?" "Ya, beberapa kali. Tapi aku tidak pernah menganggapnya serius. Aku pikir itu ungkapan sayang seorang adik pada kakaknya." "Benarkah?" Aku mengangguk mantap. "Berapa tahun kalian saling mengenal?" "Sejak dia SMP, kurasa." "Dia pernah pacaran?" "I'm not sure. Aku tidak terlalu memperhatikan." Aku meraih tangan Nasha. "Listen! Aku tidak pernah menganggap Cla lebih dari adik," kataku meyakinkan Nasha. "Tapi sepertinya dia memang menyayangi Mas sebagai seorang wanita," ucap Nasha lemah. "I don't care. Itu urusannya. Yang perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Only you." Nasha menarik tangannya. "Mas tidak pernah tahu bagaimana rasanya menyayangi orang lain selama itu." Keningku berkerut. Apa maksud Nasha. Dia tidak sedang membicarakan masa lalunya dengan Alfa, bukan? Tidak. Jangan. Please. Dia tidak boleh mengingat pria lain malam ini. "Maksudmu ... seperti perasaanmu pada Alfa?" Jelas sekali tebakanku benar. Nasha terkejut mendengar pertanyaanku. "Maksudku bukan itu, Mas. Aku hanya merasa kalau posisi Clara sama seperti posisiku dulu. Dia butuh ketegasan dari Mas." "Kamu tidak sedang berusaha mengatakan kalau kamu masih menyukai Alfa, bukan?" "Kalau aku masih menginginkan Alfa, tidak mungkin sekarang aku merasa marah pada Mas. Aku tidak suka ada wanita lain yang lebih mengenal Mas. Padahal aku ini istri Mas," protes Nasha dengan mimik lucu. Aku jadi tidak bernafsu untuk marah lagi. "Jadi, aku hanya perlu menceritakan mengenai diriku, bukan?" tanyaku sambil memosisikan diri duduk di dekat Nasha. Dia mengangguk. "Okay. Kita masih memiliki banyak waktu. Let's start the story." Jadi, begitulah. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagiku dan Nasha. ??? "Selamat pagi, Kak Axel." Aku melotot melihat kehadiran Clara pagi-pagi begini. Mataku mencari sosok Nasha. Istriku itu jadi lebih sulit ditemukan. Apa dia masih merasa kesal? Tapi semalam kami sudah berbaikan. "Baguslah kamu ada di sini, Cla. Sebaiknya kamu jelaskan semua sekarang," tuntutku. Aku menyilangkan tangan di d**a. Kalian tahu apa yang dilakukan Clara setelah itu? Dia tertawa. Benar-benar tertawa. "Malam pertama Kakak tidak terganggu karena ulahku, bukan?" Aku menyipitkan mata, lalu menyadari sesuatu. "Itu sama sekali tidak lucu, Cla. Aku tidak suka cara bercandamu yang berlebihan seperti itu," kataku tajam. "I know. Aku minta maaf karena itu. Apa Nasha sangat marah?" "Menurutmu?" Clara meringis. Serious! Clara benar-benar tidak terduga. Aku memikirkan tentang rasa bersalahku semalaman karena perasaannya. Aku merasa sangat berdosa telah membuatnya salah mengerti mengenai kedekatan kami. Tapi, ternyata dia hanya main-main. Luar biasa! "Wow! You really something, Cla. Aku memikirkan masalah ini semalaman dan mengkhawatirkan sesuatu yang salah. Aku kecewa padamu." "I'm so sorry. I will explain to Nasha." "Of course. That's what you have to do. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut." "Okay. Kakak memang tidak pernah berubah. Selalu ingin menyelesaikan sesuatu dengan cepat. Karena itu, aku datang pagi-pagi. Aku ingin meminta maaf secara langsung pada Nasha." "Good. Nasha ...." "Mas." Aku menoleh dan mendapati Nasha yang sudah berdiri tak jauh dari tempatku. Senyumku mengembang saat mendekati Nasha. Tanpa memedulikan Clara yang masih berada di dekat kami, aku mengecup keningnya. Dia sedikit mendorongku ketika aku tak juga melepaskannya. "Apaan sih, Mas. Ada orang lain di sini," ujar Nasha sambil melirik Clara. "Itu hanya Clara, Sha. Tidak masalah." Clara tersenyum. "Hai, Sha. Aku membuatmu terkejut ya tadi malam?" Nasha melirikku penuh selidik. Aku tahu dia sedang mencari sesuatu di wajahku. Dia selalu begitu. Berusaha memahamiku dari gerakanku. Tidak banyak membantu sebenarnya. Aku orang yang pandai menyembunyikan ekspresi. Kalau kamu berkecimpung di dunia bisnis, penting bagimu untuk tetap tenang. Meski saat itu hatimu sedang diliputi kegelisahan. Sebaliknya, aku sangat pandai membaca pikiran orang lain. Aku tidak tahu ini memang keahlianku atau karena terlalu sering memperhatikan banyak orang. Biasanya aku cukup mudah menebak jalan pikiran mereka. "Sepertinya kamu memang kesal padaku," celetuk Clara saat Nasha tak kunjung menanggapi perkataannya. "Semua istri pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku," ujar Nasha. Sekarang dia sudah menatap Clara. Mereka tidak akan berdebat, bukan? "I think so too. Maaf sudah membuat sedikit masalah semalam." "Sedikit?" ulang Nasha. Dia mendengkus. "Apa menurutmu itu hanya sedikit masalah?" "Oke. Aku memang bersalah. Selera humorku sangat aneh, bukan?" Nasha tidak menjawab. Dia hanya mengamati Clara dalam diam. "Cla memang sedikit keterlaluan tadi malam. Kamu keberatan memaafkannya?" Nasha menoleh cepat padaku. Aku mengerjap mendapat tatapan sinisnya. "Nasha, aku hanya ...." "It's okay. Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Terima kasih sudah memberi kejutan padaku, Cla. Aku harap kita bisa berteman baik," ucap Nasha dengan senyum lebar. "Apa kamu keberatan aku hanya memanggilmu nama? Kamu sebaya dengan Sean, kan?" "Ya. Tentu saja tidak. Aku lebih suka kamu memanggilku tanpa embel-embel kakak. Kalau begitu ... ," Clara mendekat dan mengulurkan tangannya. "kita berteman sekarang?" "Teman." Nasha menyambut tangan Clara. "Baiklah. Aku akan menyapa yang lain. Silakan bermesraan." Clara mengedipkan sebelah matanya, lalu pergi meninggalkanku dan Nasha. "Mas percaya padanya?" tanya Nasha begitu Clara menghilang. "Kamu pikir dia berpura-pura?" Nasha mengangkat bahu. "Mas benar-benar tidak memiliki perasaan khusus padanya, kan?" "Apa aku harus bersumpah atas nama Allah agar kamu percaya?" "Itu ide bagus," kata Nasha serius. Aku menatapnya heran. Jadi, dia tidak memercayaiku? "Demi Allah, aku hanya mencintai istriku," ucapku sungguh-sungguh. Giliran Nasha yang memandangku tak percaya. Dia sedikit berjinjit, mengecup pipiku, lalu pergi begitu saja. Tindakan yang bagus, Nyonya Axel Dirgantara Walzer. I like it.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN