Tujuan?
Dimas melipat kedua tangan di d**a. Memberikan kesan tak peduli namun tetap menjawab, "Apakah pernikahan aku dengan Mawar mengusik kamu, Lily? Kenapa kamu bertanya demikian?"
"Mengusik." Lily menatap Dimas yang lebih jangkung darinya. "Karena ini enggak wajar."
"Loh?" Dimas mengusap-usap dagu. Sebelum menunduk mensejajarkan wajah dengan Lily, sang mantan istri, bisa dengan jelas Dimas lihat kobaran api di matanya. "Bukannya yang enggak wajar itu ... selingkuh sama teman suami ya?"
"Dimas?!" Lily menyentak keras, tersengat oleh perkataan Dimas barusan.
"Saya buru-buru dan enggak punya waktu untuk meladeni kamu terlalu lama." Dimas menatap jam tangan yang kini melingkar di pergelangan kiri. Sebelum kembali fokus pada Lily sesaat dan memamerkan smirk sebelum kemudian, benar-benar meninggalkan wanita itu sendiri di lorong.
^^^^^^^^^^^
Seharian itu, orang-orang sibuk mengurusi acara pesta. Menjelaskan kenapa pengantin tidak ada di pelaminan karena masalah yang ternyata begini juga begitu.
Sedang Mawar ditinggal sendiri sampai sore. Dalam hatinya, masih ada harap jika Reksa akan kembali. Mungkin Mawar kecewa dengan apa yang telah Reksa lakukan pagi ini, menghilang tanpa kabar. Memberikan kekalutan di benak banyak orang. Tapi sungguhan, Mawar akan memaafkan kalau Reksa datang penuh dengan rasa sesal. Ia akan memberikan lelaki itu sebuah kesempatan.
Hingga akhirnya, dering ponsel membuat Mayang mengalihkan pikiran dan pandangan dari jendela kamar hotel yang sejak tadi seolah menariknya untuk keluar dari dalam lingkaran kesedihan, melambai-lambai dan memberikan saran sesat, jika Mawar menubruk jendela tersebut dan jatuh ke bawah, dari ketinggian lantai enam maka, semua beban di pundak Mawar sungguh akan berakhir.
Begitu sekiranya.
Malas, Mawar pun mengambil ponsel, ada nomor Dimas di sana. Mawar menelan ludah, tangannya tiba-tiba lemas dan gemetar.
Panggilan pertama dari Dimas berakhir.
Mawar masih diam bagaikan manusia es batu yang kini beku.
Di sisi lain, Dimas tak menyerah untuk kembali menghubungi Mawar.
Dengan kecamuk di d**a karena bimbang apa harus mengangkat panggilan ini atau tidak, Mawar pun memberanikan diri menggeser tombol hijau sembari mendudukan diri di atas pembaringan.
"Ada apa Mas?"
"Siap-siap."
Mawar mengerutkan kening bingung, suara dingin Dimas menusuk gendang telinganya.
"Siap-siap untuk apa?"
"Pindah ke rumah saya. Kita akan tinggal bersama sekarang."
Mana bisa! Mawar sama sekali belum sanggup dengan perintah tersebut. Tinggal bersama Dimas tak pernah ada di bayangannya selama ini. "Tapi Mas, Mawar ...."
"Kalau kamu nolak keinginan suami, maka kamu durhaka, Mawar."
Kenapa harus begitu sih, ancamannya? Mawar memejamkan mata. Dimas membuat Mawar semakin kusut. Dan kekusutan ini tidak akan bisa ia uraikan sama sekali.
"Mas udah ada di dalam lift, sebentar lagi sampai ke kamar kita."
"Tapi Mas—"
"Mas akan tunggu kamu selama sepuluh menit untuk siap-siap."
Mawar berdiri dengan cepat, ucapan Dimas terdengar tidak bisa dibantah sama sekali, apalagi kalau sudah bawa-bawa waktu begitu.
Gelagapan, Mawar pun segera mengemasi barang-barangnya kala telepon ditutup begitu saja secara sepihak.
Untung saja, barang Mayang tidak banyak yang dikeluarkan, semuanya masih dikemas di dalam tas. Jadi saat Dimas datang, lelaki itu tak perlu sampai menunggu lama. Kurang dari lima menit, Dimas langsung memboyong Mawar keluar dari dalam kamar hotel. Keduanya sempat berpamitan kepada Djaya dan Anjani. Ada pula Lily serta Galan, suami barunya di sana.
Omong-omong tentang Lily, Mawar sungguh merasa tidak enak hati kepada sang kakak. Sejak tadi mereka berdua tak saling bicara, Lily juga seolah menjauh darinya, Mawar berpikir jika Lily marah karena pernikahan ini.
"Dimas, tolong jaga Mawar. Ayah tahu kalau pernikahan ini tidak sama sekali kamu harapkan, tapi ... sungguh, Ayah berharap begitu besar kepada kamu."
Dimas menganggukan kepala, balas memegang tangan tua keriput Djaya yang tengah memohon kepadanya. "Tanpa perlu Ayah minta, Dimas akan menjaga Mawar. Dimas bersumpah untuk tidak menyakiti Mawar. Mungkin pernikahan ini bukan pernikahan yang Dimas dan Mawar rencanakan, tapi Ayah enggak perlu khawatir, sebagai laki-laki, Dimas tahu cara bertanggung jawab."
"Ayah percaya kepada Dimas."
"Dimas berjanji," ujar Dimas sembari melirik ke arah Lily, lagi, entah untuk yang ke berapa kali mereka berdua bertemu hari ini. "Akan mempertahankan pernikahan kami dengan baik, Dimas tak akan melepaskan Mawar, Dimas akan bahagiakan Mawar sebisa yang Dimas usahakan."
"Terimakasih banyak, Dimas." Djaya kemudian memeluk Dimas dengan penuh rasa haru. Mungkin pernikahan Dimas dengan anak pertamanya sudah gagal entah karena alasan apa, bisa jadi karena tidak cocok, bisa jadi karena sudah tidak saling cinta, hanya saja yang jelas, Djaya yakin kalau saat ini, Dimas akan mempertahan rumah tangannya dengan Mawar dengan baik.
Di sisi lain, melihat adegan tersebut, wajah Lily langsung memerah, nampak marah dengan alasan yang tidak orang lain ketahui, sesaat, Lily berbalik dan pergi begitu saja dari ruangan itu. Tak memberikan kesempatan bagi Mawar dan Dimas untuk pamit kepadanya.