Dalam pemaksaan yang masih berlanjut di kamar hotel kacau itu, diiringi tangis Mawar dan Anjani, Dimas masih terdiam tanpa kata. Bujuk rayu masih terdengar dari paruh baya yang kini memegang kakinya. Bahkan juga dari Djaya yang nampaknya mulai terpengaruh oleh perkataan sang istri.
"Nak Dimas, benar, kami mungkin tidak tahu diri dengan meminta hal ini, tapi Nak Dimas, Ayah mohon dengan sangat, bantu kami sekali ini saja. Kami janji akan membayar dengan apapun termasuk harta kalau kamu mau."
Dimas berjongkok di depan Anjani, memegang kedua bahu rapuh yang terguncang hebat itu menggunakan jari-jarinya yang besar dan sedikit kasar. Embusan dan tarikan napas membuat d**a Dimas naik-turun untuk sesaat. Sekali lagi, Dimas menatap Lily yang kini mematung di depan pintu kamar hotel. Menyaksikan adegan ini dalam diam, mata mereka kembali berserobot, saling menatap, Dimas melihat gelengan kepala dari sang mantan.
Sesaat, rahang Dimas mengetat, seolah menahan kemarahan dari dalam diri.
"Baik." Pada pikiran yang kendalinya kurang rasional karena dendam masalalu, Dimas pun mengiyakan ucapan Anjani dan Djaya. "Dimas akan menikahi Mawar."
"Mas!" Mawar kaget mendengar hal tersebut. Wanita itu buru-buru mengintrupsi. "Kamu enggak gila kan?"
"Ada baiknya, kita laksanakan pernikahannya secepat mungkin." Dimas membantu Anjani untuk berdiri. Menulikan sesaat pendengarannya dari Mawar. "Karena bagaimana pun, Dimas masih punya urusan."
"Untuk sekarang, pernikahan hanya bisa diadakan secara agama." Djaya menepuk dan mempertahankan tangannya di bahu Dimas. "Ayah akan urus semuanya dan turun dulu ke bawah."
"Ayah!" Mawar menahan tangan sang paruh baya supaya tidak beranjak. Sungguh ia tidak setuju dengan usulan dan jalan keluar dari masalah ini.
Tapi Djaya menggelengkan kepala. "Hanya ini Mawar, hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan harkat dan martabat keluarga kita. Kamu tidak bisa mundur sekarang. Maafkan Ayah dan Ibu, mungkin kamu tidak menyukai keputusan kami, tapi Mayang, sungguh, tidak ada jalan keluar yang lebih baik sekarang."
Dilepaskanlah tangan sang anak yang menahannya, Djaya pamit keluar buru-buru, melewati Lily, sang anak sulung yang tengah mematung tidak jauh dari pintu masuk dengan suaminya.
"Makasih banyak ya, Dimas."
"Sama-sama Bu." Sekali lagi, Dimas berbalik ke belakang, menaikan alis mata kepada mantan istri dan suami barunya.
Seolah memberikan sebuah kode dan isyarat yang entah apa.
^^^^^^^^^
"Saya terima nikah dan kawinnya Mawar Tasya binti Djaya Kusuma dengan mahar uang senilai satu juta rupiah, dibayar tunai."
Mawar memejamkan mata mendengar ikrar ijab kabul itu terucap dari bibir Dimas, bukan Reksa.
Hari ini, dia resmi menikah dengan sosok yang tak pernah disangkanya sama sekali. Menikahi mantan ipar. Diberi mahar seadanya di dompet dan berstatus sebagai siri. Rasanya sangat amat menyesakan, apalagi kala kata sah saling bersahutan di beberapa penjuru. Kata yang menjadi pertanda jika hubungannya dengan Dimas sudah disetujui dari sisi agama.
Doa-doa dipanjatkan, Mawar mengangkat tangan dalam raut sedihnya dan mengamini dengan hati yang kosong. Cincin yang harusnya tersemat di jari manis Reksa kini berpindah kepemilikan, pas dipakai pada Dimas. Entah ini pertanda baik atau buruk.
Sesaat, Mawar mengecup punggung tangan Dimas, sebagai tanda bakti sebagai seorang istri. Pun begitu sebaliknya, Dimas mengecup kening Mayang, di sela-sela kegiatan tersebut, Dimas berbisik tepat di samping telinga Mawar, "Mungkin ini bukan pernikahan impian kamu, Mawar. Mas pun begitu, tapi setidaknya, berikan senyummu. Paksakan."
Rasanya sesak dan pedih.
Dada Mawar panas kala akhirnya, ia harus menerbitkan senyuman di hari pernikahan kacau balaunya. Senyuman palsu penuh kepedihan.
^^^^^^^^^^
Pengantin tidak dipajang di pelaminan. Itu adalah keputusan yang Dimas inginkan, usai akad di hari itu, ia serta Mawar kembali ke kamar yang sudah dipersiapkan.
"Bu, Yah, maaf, Dimas ada urusan di rumah sakit." Untuk yang kedua kali, Djaya dan Anjani kembali menjadi mertuanya. "Sejak tadi sebenarnya."
"Mawar ... ikut dengan kamu?"
Dimas melirik Mawar sesaat. Wanita itu duduk membelakangi mereka dan hanya menatap kosong pada jendela di depannya. Masih merenungi kesedihan dan plotwist yang terjadi dalam hidup yang tidak bisa diprediksi.
"Kalau Mawar memang ingin ikut, boleh Bu." Dimas mengambil dompet yang sesaat lalu tersimpan di atas nakas. Ia telah kembali berganti mengenakan batik yang sebelumnya melekat di tubuh.
Baju batik ini menjadi saksi jika tadi pagi, Dimas ke sini memang hanya untuk menghadiri acara, bukan untuk menikah yang kedua kali, menikahi adik iparnya sendiri pula.
"Mawar ingin istirahat di sini, sendiri." Tanpa berbalik, Mawar pun berkata. "Mas Dimas boleh menyusul kembali setelah bertugas nanti."
"Baik kalau begitu." Dimas sungguhan tak mempunyai waktu untuk membujuk wanitanya. "Saya permisi pamit Ayah, Ibu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumssalam."
Dengan langkah cepat setengah berlari, Dimas keluar dari dalam kamar hotel saat akhirnya, ia harus berpapasan dengan Lily yang ternyata, menunggui Dimas sejak tadi untuk bisa bicara berdua.
"Mas, apa sebenarnya tujuan kamu dengan menikahi Mawar begini?"