"Aku lapar akan sentuhanmu dan ingin memakanmu..."
"...malam ini kau harus melayaniku" Tubuh Jin Ah menegang mendengar ucapan Jimin. Melayaninya? Maksudnya melayani Kakak kandungnya sendiri? Hell.
"Tidak akkhh" Jin Ah mengerang saat tangan nakal milik Jimin sedang meremas-remas gundukan miliknya yang masih terbalut seragam.
"Oppa! Berhenti!" Jin Ah mendorong tubuh Jimin dengan kedua tangannya, namun, tangan Jimin menahan tangan Jin Ah, ia menggenggam tangan Jin Ah dan menariknya keatas kepala Jin Ah, mengunci tubuh Jin Ah di bawah tubuhnya.
'saat pertama kali kita bercinta aku sadar ternyata kau sudah tak perawan lagi'
'siapa yang sudah memperawanimu itu? Apakah dia seorang Ahjussi berdompet tebal?'
'ternyata kau sama saja dengan jalang di luar sana, M-U-R-A-H-A-N'
'Pergi dari apartemen-ku, aku ada urusan' Dia mengusirku dari apartemennya, dia melempar tas dan sepatu milikku, setelah itu dia menutup pintu apartemennya tanpa mengucapkan maaf.
'wahh, aku diperlakukan seperti jalang'
Kepala Jin Ah berdenyut nyeri, tiba-tiba saja ucapan Jungkook dan perlakuan Hoseok tadi kembali merasuki otaknnya.
'jalang'
'Jalang'
'JALANG'
'JALANG!'
Jimin menghentikan aktivitasnya yang sedang menciumi ceruk leher Jin Ah saat di rasakan tubuh adiknya itu bergetar.
"Honey, kau menangis?" Jimin menangkup wajah Jin Ah yang sudah basah karena air mata dan peluhnya.
"Oppa, aku jalang. AKU JALANG!" d**a Jimin berdenyut nyeri melihat adiknya yang menangis dan berteriak histeris mengatai dirinya sendiri 'jalang'.
Ini kesalahannya.
Dia tak bisa menjaga adik perempuannya
Dia malah merusak adiknya sendiri.
Dia merusak adik perempuannya karena nafsu bejatnya.
Dia gagal.
Dia telah gagal menjadi seorang kakak.
"M-maafkan aku honey, maaf" Jimin memeluk adik perempuannya erat, mengusap rambut Jin Ah lembut, ia ikut menangis, menangisi kebodohannya sebagai seorang kakak yang merusak adiknya sendiri.
"Maafkan Kakakmu ini honey, aku memang bodoh, tak seharusnya aku memperlakukanmu seperti ini, Maaf"
***
Musik dari DJ bertentum keras menusuk telinga, puluhan manusia baik itu lelaki maupun wanita melenggok-lenggokan tubuhnya mengikuti musik pengiring. Tak jauh dari dance floor, seorang pria meminum whiskey-nya dengan sekali tenggak di meja bar. Matanya terlihat sembab, gurat penyesalan tercetak di wajah tampannya.
"Oi Jim! Ada apa kau memanggilku jam segini? Lihatlah, ini sudah jam dua pagi, kau mengganggu tidurku, hoam" Pria yang baru saja datang dan memanggil nama Jimin itu duduk di kursi sebelah Jimin, ia menguap lebar. Wajah kantuknya terlihat jelas.
"Aku memang pria b******k, Tae" Pria tadi yang bernama Taehyung mengernyitkan dahinya.
"Kau baru sadar?" Jimin menghela nafasnya kasar.
"Kau tahu? Aku sering melampiaskan nafsu bejatku pada Jin Ah, kufikir selama ini dia juga menikmatinya. Tapi aku salah, dia sama sekali tak menikmati s*x denganku, tadi dia menangis dan berteriak histeris memanggil dirinya sendiri jalang" Taehyung terperangah mendengar curahan hati Jimin, dia tahu sahabatnya ini emang b******k, tapi ia tak habis pikir ternyata brengseknya itu melebihi kadar keberengsekan manusia normal.
"Kau benar-benar gila! Sinting! dan b******k! Jin Ah itu adikmu, kenapa kau tega sekali melakukan itu padanya?! Jika kau ingin melampiaskan nafsumu, kau bisa menyewa wanita di luar sana. Toh mereka dengan senang hati akan membuka lebar selangkangannya untuk kau masuki. Kenapa kau harus melakukannya pada adikmu sendiri? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu, Jim"
"Ini semua karenamu bodoh! Kau yang memberikan Jin Ah bir berisi obat perangsang saat liburan di pulau Jeju! Setelah kejadian itu aku benar-benar tak bisa menahan hasratku untuk tak meniduri Jin Ah, tubuhnya adalah sebuah candu untukku"
"Hei! Itu bukan salahku! Sudahku bilang itu kecelakaan, adikmu tak sengaja mengambil kaleng bir berisi obat perangsang yang seharusnya ku berikan kepada Sena. Itu sih memang kau saja yang bejad!" Taehyung menaikan nada bicaranya karena merasa disalahkan, ia bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Jimin dengan kesal. Jimin mengacak rambutnya frustasi.
"Kau sama sekali tak membantu, Tae" Taehyung mengangkat kedua bahunya lalu meraih segelas wine yang ada di hadapannya dan meminumnya.
"Dikasus ini kau yang b******k, jadi aku tak bisa membantumu karena aku tak suka membantu orang b******k" Taehyung mengamgkat kedua tangannya, memberi isyarat menyerah.
"Cih! Padahal kau sendiri juga b******k" Jimin berdecih lalu kembali menenggak gelas berisi whiskey, entah ia sudah minum berapa gelas yang jelas kepalanya mulai merasa berputar. Taehyung tak mempedulikan decihan Jimin, toh ucapan Jimin memang benar bahwa dia brengsek
Mereka berdua itu memang sama-sama b******k. Mata Taehyung menyusuri seisi bar, sudah dua hari ia tak menginjakan kakinya dibar karena pekerjaannya dan itu terasa sangat lama bagi Taehyung. Taehyung tersenyum menggoda dan mengusap bibir bawahnya dengan ibu jarinya, ia menggoda wanita-wanita yang sedang menatapnya minat. Ahhh, dia rindu dunia malam yang bebas dan liar ini.
Saat sedang asyik menggoda para wanita, mata Taehyung menangkap sosok pria yang tubuhnya lebih pendek darinya. Taehyung memicingkan matanya.
"Eiy, tidak mungkin itu dia" Taehyung tertawa sendiri, tapi matanya masih fokus menatap punggung pria itu dan saat pria itu menolehkan wajahnya dan menampakan wajah dan tatapan matanya yang tajam. Taehyung membeku di tempat.
's**t!'
"Jim! Bangun! Kita harus pergi dari sini!" Taehyung menepuk bahu Jimin, ia sudah tergeletak di meja bar, bukannya segera bangkit, Jimin malah menggumam tak jelas.
"Sial! Kenapa kau tepar di saat yang tak tepat?!" Taehyung menarik tubuh Jimin agar terduduk tegak.
"Sadarlah bantet!" Taehyung menepuk-nepuk pipi Jimin, mencoba untuk menyadarkan Jimin, namun Jimin memang tak tahu diri, ia malah menepis tangan Taehyung dan menggumam tak jelas membuat Taehyung semakin berang.
"Tak ada cara lain lagi" Taehyung berdiri dari duduknya, ia lalu menggeret tubuh Jimin dengan paksa, meninggalkan bar tersebut. Baru dua langkah, tubuh Jimin dan Taehyung sudah ambruk ke lantai.
"Sial! Tubuhmu ini kecil tapi kau sangat berat, maaf Jim aku harus melakukan ini" Taehyung berdiri, ia menatap Jimin yang sedang bergumam tak jelas dan terlentang di lantai bar, dengan segera. Taehyung menarik kaki Jimin dan menyeretnya keluar bar, Taehyung memasukan Jimin kedalam mobilnya dengan susah payah, ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, yang terpenting sekarang adalah dirinya dan Jimin menjauh dari bar itu. Persetan dengan mobil Jimin yang tertinggal disana.
"Jim, dia kembali Jim. Dia sudah kembali!"
"Hummm"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Dia sudah kembali!"
"Berisik!" Jimin menabok wajah tampan Taehyung karena tidurnya terasa terganggu.
"Aduh!" Taehyung mengusap wajahnya yang tadi terkena telapak tangan Jimin. Ia menghela nafasnya kesal, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuknya membahas perihal Yoongi yang telah kembali dengan Jimin yang keadaannya sudah mabuk berat. Taehyung memutuskan membawa Jimin ke apartemennya mengingat sahabatnya ini sedang mabuk berat dan bisa saja ia menerkam adiknya lagi.