Chapter 8 ; “What you want?”

1157 Kata
"Y-yoongi Hyung?!" Pria berkulit pucat itu hanya diam dan menatap Hoseok dan Jin Ah secara bergantian. Jin Ah menggeser tubuhnya dan bersembunyi di balik tubuh Hoseok, ia meremas kemeja putih Hoseok, sesekali ia mengintip pria berkulit pucat yang bernama Yoongi itu.   'Tatapannya menakutkan sekali, tapi tampan'   "H-hyung, a-apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar jelas dari nada bicaranya jika Hoseok merasa gugup sekarang, mungkin dia merasa malu karena tertangkap sedang mencabuli muridnya sendiri di dalam apartemenya.   "Menumpang tidur" Pria bernama Yoongi itu menjawab pertanyaan Hoseok dengan wajah datar, ia tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Jin Ah sehingga membuat Jin Ah menunduk dan semakin mengeratkan cengkramannya pada kemeja Hoseok Hoseok menghembuskan nafasnya kasar, ia lalu membalikan tubuhnya menghadap Jin Ah, menyentuh kedua bahu Jin Ah dan membuat Jin Ah menatap kedua mata Hoseok yang terlihat marah, khawatir dan juga gugup? Entahlah.   "Kau bisa pulang sendiri kan? Pergilah dari sini" Jin Ah mengerutkan dahinya membuat kedua alisnya menyatu, ia tak mengerti dengan ucapan Hoseok.   "Pergi dari apartemen-ku, aku ada urusan" Sebelum Jin Ah membuka mulutnya untuk melayangkan protes, Hoseok sudah mendorong tubuh Jin Ah dan memaksa Jin Ah agar keluar dari apartemen miliknya.   Buk   Hoseok melempar tas ransel Jin Ah dan juga sepatu Jin Ah keluar apartemen-nya, Jin Ah hanya diam mematung diperlakukan seperti itu. Ia nampak terkejut.   Brak   Tanpa mengucapkan maaf, Hoseok menutup pintunya dengan keras, membuat Jin Ah terperanjat.   "Wahh, aku diperlakukan seperti jalang" Jin Ah terkekeh dan tersenyum sinis, namun sudut matanya mengeluarkan cairan berwarna bening. Gadis itu menangis.   ***   Yoongi melipat kedua tangannya di depan d**a, kakinya ia silangkan dan tatapan matanya tertuju pada Hoseok yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan gugup. Yoongi tersenyum sinis.   "Jadi, dia adalah gadis itu? Gadis yang kau bawa ke Mall?" Hoseok mendongak dan menatap manik mata Yoongi yang terlihat sadis.   "Kau memata-mataiku, Hyung?"   "Tidak, aku hanya mengawasimu"   "Jangan menyentuhnya, dia gadisku!" Yoongi terkekeh mendengar ucapan Hoseok. Gadisnya? Lucu sekali.   "Gadismu? Bukankah dia hanya mainanmu? Ah, dan apa kau mulai menyerah dengan wanitamu?" Rahang Hoseok mengeras mendengar ucapan Yoongi.   "Bukan urusanmu" Hoseok membalikan tubuhnya, ia sudah akan pergi dari sana, namun ucapan Yoongi membuat langkahnya terhenti.   "Tentu saja ini akan menjadi urusanku, jangan lupakan posisimu dan sepertinya ini akan menarik, Hoseok-ah" Hoseok membalikan tubuhnya dan menatap tajam Yoongi yang sedang memasang smirk-nya.   "Apa yang kau rencanakan, Hyung?"   "Tentu saja permainan yang menarik" Setelah mengucapkan itu, Yoongi berdiri dari duduknya, ia melangkah mendekati Hoseok dan menyentuh pundaknya.   "Bersiaplah" Nafas Hoseok terkecat saat mendengar sebuah bisikan dari Yoongi. Yoongi memasang senyum setannya lalu pergi meninggalkan Hoseok.   "b******k! Dasar psikopat sinting!"   ***   Jin Ah menyusuri jalan dengan pandangan kosong, otaknya terus memutar kejadian tadi Bagaimana mungkin Hoseok memperlakukannya seperti jalang? Ah, tapi bukankah ia memang jalang? Jin Ah menghapus cairan bening yang membasahi pipinya, ia tak tahu mengapa cairan itu tak mau berhenti keluar dari sudut matanya.   "Park Jin Ah" Jin Ah menghentikan langkahnya saat indra pendengarannya menangkap seseorang yang memanggil namanya dari balik tubuhnya. Suara ini terdengar tak asing. Alih-alih membalikan tubuhnya, gadis itu malah memilih melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.   "Park Jin Ah!" Suara itu semakin mendekatinya dan semakin membuat Jin Ah melangkahkan kakinya dengan cepat.   "Park Jin Ah!!" Jin Ah menghentikan langkahnya saat mendengar nada tinggi dari orang tersebut, kedua tangan Jin Ah saling bertautan di depan tubuhnya untuk menghilangkan kegugupan pada dirinya. Ia masih berdiri memunggungi orang tersebut.   "Kenapa kau memunggungiku, sayang?" Jin Ah menggigit bibir bawahnya, mendengar suara lembut ini yang hamper membuat pertahanannya goyah.   "Apa yang terjadi padamu, sayang?"   "Berhenti memanggilku dengan panggilan itu! Aku bukan kekasihmu!" Jin Ah membalikan tubuhnya dan menatap tajam seseorang yang kini berdiri tepat di hadapannya, Jeon Jungkook.   "Sayang, kau menangis?" Jungkook mendekati Jin Ah dan menangkup wajah Jin Ah, ia membelai pipi Jin Ah dengan ibu jarinya, mengusap air mata yang jatuh dari sudut matanya dengan lembut.   Plak   "Jangan menyentuhku" Jin Ah menepis tangan Jungkook kasar, ia menatap tajam manik mata Jungkook yang terlihat... Menghawatirkannya?   'Apa-apaan ini, kenapa ia menatapku begitu?. Jangan buat aku goyah, lelaki sialan!'   "Jin Ah-ya" Jungkook menatap Jin Ah dengan tatapan nanar. Jin Ah memalingkan wajahnya, memutuskan kontak mata dengan Jungkook.   "Aku pergi" Jin Ah membalikan tubuhnya, baru empat langkah ia berjalan, sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.   "Jangan pergi..." Jin Ah memejamkan matanya saat suara merdu Jungkook menyapa telinganya, bahkan ia bisa mendengar suara nafas Jungkook.   "...aku merindukanmu" Cairan bening kembali keluar dari sudut mata Jin Ah, ia merasa telah kalah.   "Kenapa kau lakukan ini padaku, Kookie?" Suara Jin Ah bergetar, ia meremas lengan jaket berwarna hitam milik Jungkook yang sedang memeluknya erat Jungkook hendak melepaskan pelukannya, ia ingin memeluk Jin Ah dari depan, menatap mata indah Jin Ah dan menenangkannya, namun Jin Ah menahannya dan menggelengkan kepalannya.   "Tidak, tetap seperti ini" Jungkook mengalah, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jin Ah.   "Aku masih mencintaimu Jin Ah-ya" Jin Ah diam mendengar ucapan Jungkook, ia tak mengerti dengan perasaannya saat ini.   Kecewa? Senang? Sedih? Kesal? Entahlah, sang pemilik hati pun tak tahu apa yang dirasakannya sekarang.   Drrt Drrt   Ponsel milik Jin Ah bergetar, Jungkook melepaskan pelukannya, kedua matanya tak beralih dari Jin Ah yang sedang sibuk dengan panggilan di ponselnya, ia tersenyum karena bisa melihat Jin Ah sedekat ini.   "Halo?"   "Kau dimana? Kenapa belum pulang?"   "Oh, sebentar lagi aku pulang Jimin Oppa"   "Cepat! Aku lapar!"   "Ck! Baiklah dasar cerewet!"   Tut tut   Sambungan telfon terputus, Jin Ah menghembuskan nafasnya kasar. Kakak bantetnya itu memang menyebalkan! Tidak bisakah dia memesan layanan pesan antar saja?   "Dari Jimin Hyung?"   "Hmm" Jin Ah mengangguk dan menatap Jungkook yang sedang menatapnya.   "Kalo begitu ku antar kau pulang"   "Tidak usah Kook, aku pulang naik bus saja" Jin Ah menarik ujung bibirnya menjadi sebuah lengkungan. Ini yang Jungkook rindukan, senyuman itu.   "Tap-"   "Oh busnya sudah datang! Aku duluan! Dah" Jin Ah berlari mendekati bus dan dengan segera memasuki bus itu, ia melambaikan tangannya pada Jungkook sebelum pintu bus tertutup. Jungkook menghembuskan nafasnya kasar melihat Jin Ah yang semakin jauh.   ***   "Aku pulang!" Jin Ah melempar tas ranselnya ke atas sofa yang berada di ruang tengah.   Buk   Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar.   "Dari mana saja kau ini? Kenapa baru pulang?!" Jimin berdiri di samping sofa dan menatap adiknya tajam, ia melipat kedua tangannya di depan d**a. Jin Ah mendudukan tubuhnya dan mendongak menatap Jimin.   "Aku jalan-jalan dulu tadi"   "Apa kau jalan-jalan sampai ke Korea Utara? Kau lihat sekarang sudah jam sebelas malam!"   "Maaf" Jin Ah menundukan wajahnya, sepertinya Jimin benar-benar marah kali ini.   "Ck! Kau tahu? Aku sangat lapar!"   "Oh, kalau begitu biar aku buatkan makanan untukmu" Jin Ah berdiri dari duduknya, namun Jimin menahannya.   "Kau mau kemana?"   "Dapur" Jimin mengeluarkan smirk-nya mendengar jawaban polos adiknya.     "Apa aku bilang bahwa aku lapar karena belum makan?" Jin Ah mengerutkan dahinya dalam mendengar ucapan aneh dari Kakaknya itu.   "Bukankah jika orang lapar itu artinya dia butuh makanan?" Jimin terkekeh, kenapa adiknya begitu polos?   "Tapi aku bukan lapar karena itu"   "Maksudmu?"   "Aku lapar akan sentuhanmu dan ingin memakanmu..."   "...malam ini kau harus melayaniku” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN