"One, two...."
Tap
"Three, four..."
Tap
"Five, six, seven, eight..."
Tap
"Sampai sini apa kalian masih kurang memahami gerakannya?"
"Tidak"
"Nah, kalau begitu, kalian cobalah gerakan yang sudah aku ajarkan tadi" Hoseok menyeka keringatnya yang membanjiri wajah dan lehernya dengan handuk yang terletak di sudut ruangan, ia lalu membuka botol air mineral dan menenggaknya, membuat adam applenya bergerak naik dan turun
Para siswi yang berada disanapun tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk melirik guru tari mereka yang terlihat sangat menggairahkan itu, ugh. Hoseok meletakan kembali botol air mineral tersebut dilantai, lalu matanya terus mengawasi gerakan anak didiknya, sedetik kemudian ia tersenyum melihat Jin Ah yang nampak sangat serius dengan latihannya.
"Guru Jung" Fokus Hoseok pada Jin Ah seketika buyar karna panggilan dari salah satu muridnya, ia lalu menatap murid lelaki yang ada di hadapannya.
"Ada apa, Jeon Jungkook?"
"Ada yang ingin saya bicarakan berdua dengan Anda, apa bisa kita keluar sebentar?" Hoseok mengangguk, ia lalu berjalan mengikuti Jungkook.
"Katakan" Hoseok bersandar pada dinding dan melipat kedua tangannya di depan d**a, ia juga menatap Jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan. Jungkook menarik nafasnya kasar dan membuang tatapannya, ia lalu tersenyum mengeluarkan smirk-nya dan kembali memandang Hoseok dengan tatapan kesal.
"Kenapa kau mendekati Jin Ah?" Hoseok terkekeh membuat Jungkook mengepalkan tangannya menahan amarahnya yang bisa meledak saat itu juga jika dia tidak mengingat ini masih diarea sekolah.
"Hyung, aku sudah menurutimu untuk memutuskan Jin Ah, tapi kenapa sekarang kau malah mendekatinya?!" Nafas Jungkook tersengal-sengal, ia meluapkan semua kekesalannya pada Jung Hoseok, temannya yang lebih tua tiga tahun darinya dan sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri, bahkan ia sangat menghormati sosok Jung Hoseok itu.
"Apa aku pernah mengatakan 'jika kau sudah memutuskan hubungan dengan Jin Ah, maka aku tak akan mendekatinya'?..." Hoseok terkekeh melihat wajah Jungkook yang terlihat sangat marah.
"...lebih baik kau fokus saja pada perlombaan menarimu itu, bukankah hal ini sudah menjadi keputusanmu?"
Hoseok menepuk bahu Jungkook dan tersenyum meremehkan, ia menatap kembali Jungkook sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan Jungkook.
"Aishhhhhh, b******k!"
Bak
Jungkook meninju dinding yang ada di hadapannya, nafasnya tersengal karena amarahnya yang sudah membuncah didadanya kini meluap.
#Flash back#
"Hoseok Hyung?! Kau benar Hoseok Hyung kan? Wah. Jadi kau adalah guru tari yang akan mengajar di sekolahku? Aku tidak bisa percaya dengan hal ini" Jungkook berseru dengan wajah terkejutnya saat seorang pria bernama Hoseok duduk di hadapannya, hari ini seharusnya Jungkook menemui guru tari baru, namun ia tak menyangka bahwa guru tari yang dimaksud adalah Jung Hoseok, temannya yang baru pulang dari Amerika karena belajar menari disana selama dua tahun. Dan selama dua tahun itu, Hoseok dan Jungkook kehilangan komunikasi karena kesibukan masing-masing.
"Yaahh" Hoseok mengangkat cangkir kopinya lalu menyesapnya
"Bagaimana kabarmu Hyung? Apakah belajar menari di Amerika itu menyenangkan? Aku benar-benar iri padamu, aku juga ingin sepertimu"
"Hum, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja..." Hoseok merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan secarik kertas dan meletakannya diatas meja cafe yang mereka tempati, Jungkook melirik dan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut namun Hoseok menutupinya dengan tangannya, menghalangi penglihatan Jungkook yang sedang melihat kertas tersebut.
"...minggu depan, kau akan mengikuti perlombaan tari modern yang mewakili sekolahmu kan?" Jungkook menatap Hoseok lalu mengangguk menjawab pertanyaan Hoseok
"Menangkanlah perlombaan itu, hadiah utamanya adalah beasiswa sekolah tari di Amerika, tempat di mana aku pernah belajar disana" Jungkook membulatkan matan dan bibirnya karena terkejut.
"Benarkah?! Tapi kenapa hal itu tidak tertulis di brosur?"
"Karena hadiah tersebut adalah hadiah tambahan dan bersifat rahasia, jadi apa kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja Hyung! Aku pasti akan memenangkan perlombaan itu dan terbang ke amerika" Hoseok tersenyum miring mendengar ucapan Jungkook.
"Jika kau ingin meraih mimpimu itu, kau harus mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu"
"A-apa maksudmu Hyung?" Jungkook nampak sangat terkejut dengan ucapan Hoseok, ia menatap manik mata Hoseok, Jungkook menelan liurnya kasar, entah kenapa ia merasa sosok Hoseok yang ada di hadapannya ini telah berubah menjadi Hoseok yang mengerikan dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, Hoseok yang Jungkook kenal adalah Hoseok yang ceria, berisik dan sangat baik tidak seperti Hoseok yang ada dihadapannya sekarang. Aura mereka sangat berbeda.
"Putuskan hubunganmu dengan Park Jin Ah dan aku tak akan mencoret namamu dari daftar perlombaan" Hoseok mengangkat tangannya dari kertas yang sedaritadi tulisannya ia coba tutupi. Jungkook mengambil kertas tersebut lalu membaca tulisan yang ada dikertas itu dan kedua matanya memicing saat membaca sebuah tulisan.
Juri Utama : Jung Hoseok
Jungkook berdecih, ia lalu meletakan kertas itu lagi ke atas meja.
"Apa kau sedang mengancamku, Hyung?" Hoseok mengedikan bahunya, ia lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku hanya sedang mengajukan sebuah penawaran.Juri pertama dalam perlombaan tersebut memiliki peran yang sangat besar. Aku bisa dengan mudah membuatmu menjadi pemenang atau mencoret namamu dalam daftar peserta. Kau harus memilih salah satunya, mimpi atau cinta. Pikirkan itu baik-baik Jeon Jungkook" Jungkook mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja, rasanya ia ingin sekali menonjok wajah Jung Hoseok sekarang. Firasatnya benar, Jung Hoseok yang ada dihadapannya ini bukanlah Jung Hoseok yang ia kenal. Jung Hoseok yang ada dihadapannya ini memiliki aura iblis yang begitu kuat.
"Akan aku pikirkan lagi, Hoseok Hyung"
***
Suasana di dalam mobil Hoseok terasa begitu canggung, baik Jin Ah maupun Hoseok tak ada yang membuka suara, hanya terdengar suara musik jazz yang menutupi kecanggungan mereka. Tadi, setelah selesai latihan. Hoseok menarik tangan Jin Ah dan menyeretnya menuju parkiran, ia lalu memaksa Jin Ah agar masuk kedalam mobilnya tanpa mengatakan apapun, hanya menggunakan bahasa tubuh dan tatapan matanya. Untungnya tak ada murid lain yang melihat hal itu, jika itu terjadi mereka berdua bisa masuk kedalam masalah. Tindakan Hoseok memang bisa dibilang cukup berani.
“Eung,G-guru Jung, sepertinya ini bukan jalan menuju rumahku" Jin Ah berbicara dengan gugup saat dirinya melihat jalanan diluar mobil yang terlihat asing baginya.
"Kita akan ke apartemenku" Hoseok menanggapi ucapan Jin Ah dengan nada yang begitu santai namun ada nada keharusan didalamnya, ia bahkan tak melirik sedikit pun kearah Jin Ah yang kini sedang menatapnya dengan pandangan terkejut.
"Ha? Untuk apa?" Hoseok hanya diam, ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Jin Ah hal itu membuat Jin Ah menelan ludahnya kasar, otaknya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
Apakah Hoseok akan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda tadi saat jam istirahat pertama?
Jin Ah menggelengkan kepalanya saat otaknya memikirkan hal-hal kotor, ia lebih memilih untuk melihat pemandangan di luar mobil untuk menghilangkan rasa gugup juga tentunya.
Hoseok memarkirkan mobil Audi R8 berwarna hitam miliknya di basemant parking aparteman-nya. Ia lalu keluar dari dalam mobilnya diikuti dengan Jin Ah yang mengekor dibelakangnya, mereka lalu pergi menuju ke lantai enam aparteman itu.
Hening
Tidak ada yang bersuara antara Hoseok dan Jin Ah, mereka sama-sama menutup rapat mulutnya. Didalam lift itu hanya ada mereka berdua. Suasana seperti ini sangat dibenci oleh Jin Ah, jantungnya berdekup dengan kencang entah mengapa.
Hoseok keluar dari lift diikuti dengan Jin Ah. Jin Ah benar-benar terlihat seperti anak anjing yang selalu mengikuti tuannya kemanapun ia pergi dengan sangat patuh. Hoseok membuka pintu apartemannya, ia lalu masuk kedalam dan diikuti dengan Jin Ah.
Buk
"Ammmhhh...."
Hoseok mendorong dan menghimpit tubuh Jin Ah, ia memagut bibir Jin Ah yang sudah menjadi candu untuknya, Hoseok mengunci pintu apartemannya tanpa melepaskan pagutan mereka, ia lalu menggiring Jin Ah untuk masuk kedalam apartemannya tanpa melepaskan pagutan mereka.
Hoseok dan Jin Ah terduduk di lantai, mereka melepas sepatu dan kaos kaki tanpa melepaskan pagutan brutal mereka, mereka berdua terlihat layakya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan melampiaskan rasa rindunya saat bertemu. Mereka berdua kembali berdiri, Hoseok kembali mengiring Jin Ah menuju ruangan lain yang ada diapartemannya.
Duk
Hoseok melepaskan tas ransel Jin Ah dan melemparnya ke lantai, bibirnya terus menyesap bibir milik Jin Ah, lidahnya menggelitik lidah Jin Ah, air liur keluar dari sudut bibir Jin Ah maupun Hoseok. Bisa kalian bayangkan betapa bergairahnya mereka berdua?
Patz
Jin Ah dan Hoseok sama-sama membuka matanya dan menghentikan ciuman panas mereka berdua saat lampu aparteman Hoseok menyala dengan sendirinya. Hoseok dan Jin Ah sama-sama terkejut saat melihat sosok pria berkulit pucat yang berdiri menyandar pada dinding, ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap Hoseok dan juga Jin Ah dengan wajah datarnya.
"Y-yoongi Hyung?!"