Chapter 6 ; “What’s wrong with Me?”

1085 Kata
Bel istirahat pertama sudah berbunyi, dengan langkah malas, Jin Ah menyeret kakinya menuju ruangan Hoseok. Namun langkah Jin Ah terhenti saat seseorang menariknya ke dalam gudang yang minim pencahayaan. Dengan jantung yang berdebar karena terkejut, Jin Ah reflek berteriak, namun bibirnya sudah di sumpal dengan benda kenyal dan lembut. Benda kenyal dan lembut itu mulai bergerak melumat bibir Jin Ah. s**t! Ini adalah sebuah bibir! Siapa yang melakukan hal b***t seperti ini padanya?! Dengan kasar, Jin Ah mendorong seseorang di hadapannya yang dengan tiba-tiba menciumnya kasar.   "Apa mau mu Jeon Jungkook?" Jin Ah berdesis tajam, ia menghapus bibirnya yang baru saja tersentuh oleh Jungkook. Ya, lelaki yang menariknya kedalam gudang adalah Jeon jungkook. Kekasihnya. Ups, ralat. Maksudku mantan kekasihnya.   "Aku merindukanmu" Jin Ah berdecih lalu menatap tajam manik mata Jungkook.   "Apa aku tak salah dengar? Rindu katamu? Kau sendiri yang bilang bahwa kau sudah bosan denganku, b******k!"   "Tidak Jin Ah, itu semua bohong, aku masih mencintaimu, sungguh" Jungkook menatap kedua mata Jin Ah yang terlihat berkaca-kaca, raut wajah Jin Ah terlihat kesal namun juga sedih, hal itu membuat d**a Jungkook terasa nyeri.   "Omong kosong macam apa lagi yang kau ucapkan Jeon Jungkook?! Kau yang memutuskan hubungan ini dan dengan kejamnya kau mencaciku dengan kata-kata pedasmu dan sekarang kau bilang kau masih mencintaiku? Cih! Apa kau fikir aku akan mempercayai ucapan dari mulut biadabmu itu?" Jungkook memejamkan matanya mendengar ucapan Jin Ah, merasa cukup tertohok dengan kalimat keras Jin Ah, ia lalu meraih bahu Jin Ah dan menatapnya nanar.   "Jangan dekati Guru Jung" Jin Ah mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Jungkook yang terdengar seperti sebuah perintah untuknya. Jin Ah menepis tangan Jungkook yang berada di bahunya   "Bukan urusanmu" Jin Ah berucap dengan nada yang dingin, ia lalu membalikan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang menatapnya sendu. Sebuah penyesalan terpancar dari sorot matanya.   "Seharusnya aku tak melepaskanmu Jin Ah"   ***   Jin Ah berlari di koridor sekolah dengan wajah menunduk, air matanya bercucuran Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan fikiran Jungkook, bagaimana bisa lelaki itu mempermainkan hatinya seperti ini? Jujur, Jin Ah sangat senang saat Jungkook mengatakan bahwa pria itu masih mencintainya. Namun, di sisi lain. Jin Ah teringat dengan kata-kata pedas lelaki itu yang mencacinya dan merendahkannya. Tentu saja ia merasa takut, ia takut jika ucapan manis Jungkook hanyalah omong kosong belaka, ia takut mengulang kesalahan pada orang yang sama.   Tangan Jin Ah meraih knop pintu ruangan Hoseok, dengan segera ia memutar knop pintu tersebut dan mendorong pintunya agar terbuka Shit! Blam Jin Ah menutup pintu ruangan Hoseok dengan keras saat matanya melihat adegan tak senonoh di hadapannya. Guru tarinya, Jung Hoseok tengah meraba-raba tubuh Guru Matematikanya, Bae Irene dan jangan lupakan juga bibir mereka yang tengah berpagut dengan panas.   Jin Ah sudah akan melangkah pergi dari sana, namun tangannya ditarik masuk kedalam ruangan Hoseok. Ditatapnya pria yang tadi menariknya masuk ke dalam ruangan tersebut, Hoseok   "Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggu" Jin Ah membungkukan tubuhnya, meminta maaf karena telah mengganggu aktivitas intim kedua gurunya.   "Ck! Kau itu memang pengganggu!" Irene bersuara dengan dingin, tiga kancing kemeja teratas miliknya sudah terbuka dan menampakan dua gundukan kembar yang indah dan masih terbalut oleh bra berwarna hitam.   "Irene, kau keluarlah" Hoseok berbicara dengan nada dingin, ia bahkan tak menengok ke belakang saat menyuruh Irene untuk keluar dari ruangannya, kedua matanya sibuk menatap wajah muridnya yang menunduk dan tampak basah. Dia menangis lagi?   "Tapi Hoseok, kegiatan kita be-"   "Keluar, sebelum aku menyeretmu dengan keadaan seperti itu" Irene berdecih kesal, ia lalu turun dari meja milik Hoseok kemudian mengancingkan kembali pakaiannya dan merapihkan penampilannya. Sebelum keluar dari ruangan Hoseok, kedua mata Irene menatap tajam Jin Ah yang sedang melirik ke arahnya.   "Kau, tunggu saja pembalasanku, dasar pengganggu"   Blam   Irene menutup pintu ruangan Hoseok keras karena kesal. Hoseok berjalan ke arah pintu untuk mengunci ruangannya lalu kembali berdiri di hadapan Jin Ah yang masih menunduk. Tangan milik Hoseok terulur, menyentuh kedua pipi Jin Ah dan menuntunnya untuk mendongak. Kedua ibu jari milik Hoseok bergerak mengusap pipi Jin Ah yang basah dengan lembut.   "Kenapa menangis hum?"   Suara indah nan lembut milik Hoseok menusuk indra pendengaran Jin Ah. Jin Ah menatap kedua manik mata Hoseok yang terlihat menenangkan untuknya.   "Tidak apa- apa" Hoseok tersenyum mendengar jawaban Jin Ah.   "Mau ku hibur?" Jin Ah mengangguk mendengar penawaran Hoseok. Hoseok tersenyum miring lalu sedetik kemudian bibir miliknya sudah menyentuh bibir milik Jin Ah, Jin Ah membelalakan matanya saat merasakan bibirnya tersentuh bibir milik Hoseok, tubuhnya menegang karena terkejut.   Bibir milik Hoseok bergerak mengecup dan menyesap bibir bawah dan atas milik Jin Ah, lidah nakal milik Hoseok menyapu dan menggelitik bagian luar bibir Jin Ah. Ibu jari Hoseok mengusap pipi Jin Ah lembut, memberikan ketenangan bagi Jin Ah.   Jin Ah memejamkan kedua matanya, ia mulai menikmati perlakuan Hoseok pada bibirnya, Hoseok tersenyum di balik ciumannya saat menyadari lawan mainnya telah takhluk karena permainannya yang memabukkan, lidah Hoseok mengetuk bibir Jin Ah agar membukakan bibirnya dan dengan segera Hoseok melesakan lidahnya memasuki rongga mulut milik Jin Ah saat Jin Ah membuka bibirnya, Hoseok menyesap lidah Jin Ah dengan bibirnya, menarik lidah Jin Ah agar lidahnya itu memasuki mulutnya, Jin Ah mengerang saat tangan kanan Hoseok turun dan meremas bokongnya.   "Nghmmmm"   Jin Ah merasa kewalahan menyeimbangkan permainan bibir Hoseok, pria ini sangat pro. Kaki Jin Ah terasa lemas dan terasa seperti jelly saat Hoseok mengigit lidahnya pelan dan menggoda, Hoseok mengangkat tubuh Jin Ah dan membuat Jin Ah mengalungkan kedua tangannya pada leher Hoseok, Hoseok membawa Jin Ah ke atas mejanya tanpa melepaskan pagutan mereka, saliva keduanya telah bercampur dan menetes membasahi rok seragam Jin Ah.         Satu kancing teratas terbuka Dua kancing teratas terbuka Tiga kancing teratas ter- Tetttt Tettttttttttttt Baik Jin Ah maupun Hoseok berhenti dari aktivitasnya saat indra pendengarannya merekam bunyi bel masuk yang menggema memekakan kuping.   "Sial" Hoseok mengumpat karena aktivitasnya harus berhenti, Jin Ah mengancingkan dua kancing seragam miliknya yang sudah terbuka karena ulah Hoseok. dengan gugup ia turun dari meja Hoseok lalu membungkuk.   "G-Guru, s-saya permisi dulu" Jin Ah membungkukan kembali tubuhnya lalu melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Hoseok menariknya   Cup   Hoseok mengecup bibir Jin Ah singkat, ia lalu mengusap rambut Jin Ah dengan lembut dan tersenyum manis.   "Jangan lupa setelah pulang sekolah langsung ke ruang tari, kita ada jadwal latihan dan..."   "...jangan menangis lagi, aku tak suka melihatmu menangis"   Jin Ah mengangguk dengan canggung, dengan segera ia melangkah keluar dari ruangan Hoseok, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding saat dirasa dirinya sudah berjalan jauh dari ruangan Hoseok, Ia menyentuh dadanya yang berdetak keras dan meraba pipinya yang terasa panas.     "Kenapa aku seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN