Jin Ah menyapu pandangannya dengan mata yang terbelalak karena terkagum-kagum melihat isi dari mall yang sedang mereka kunjungi sekarang. Hope's Mall, adalah salah satu dari tiga mall terbesar di Seoul, jujur saja. Jin Ah tak pernah pergi mengunjungi Hope's Mall karena harga barangnya yang mahal, Jimin selalu melarangnya membeli barang-barang mahal, padahal mereka termasuk keluarga kaya, namun Jin Ah dan Jimin dididik dengan hidup yang sederhana.
"Kau pilih barang yang kau mau, aku akan membelikannya untukmu" Jin Ah menatap Hoseok dengan pandangan tak percaya.
"Eiy, Guru Jung, jangan bercanda! Barang-barang di Mall ini kan terkenal dengan harganya yang mahal" Hoseok terkekeh mendengar ucapan Jin Ah, ia menarik hidung Jin Ah karena merasa gemas sedangkan yang diperlakukan seperti itu merasakan panas dikedua pipinya. Ah, bahkan pipinjya sudah terlihat memerah sekarang.
"Barang mahal tidak akan jadi masalah selama Mall ini adalah milikku" Jin Ah mengerjapkan matanya mendengar ucapan mustahil dari Hoseok.
"Haha, Guru Jung, kau pasti bercanda kan?" Jin Ah tertawa renyah mendengar ucapan Hoseok yang terdengar seperti lelucon.
"Tidak, Mall ini memang milikku. Selain menjadi guru tari di sekolahmu, aku juga bekerja untuk mengelola Mall ini" Jin Ah terbelalak mendengar ucapan Hoseok, bibirnya membulat lucu, ia tak menyangka sosok di hadapannya ini ternyata seorang chaebol.
"Wahhh, kau pasti sangat kaya sekali kan, Guru Jung?" Hoseok hanya tersenyum, ia lalu menarik lengan Jin Ah, membawanya ke salah satu stand ternama dimana baju-baju dengan harga selangit berjajar rapih. Pegawai-pegawai yang ada di sana membungkuk hormat saat matanya menangkap sosok Hoseok yang mendekat dengan senyuman lebar.
"Nah, kau pilih pakaian yang kau mau" Jin Ah mengangguk, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini, dia bukanlah wanita munafik yang berkata ‘tidak’ padahal didalam hatinya meraung-raung mengatakan ‘ya’. Lagipula perempuan mana yang akan menolak jika diberikan kesempatan emas seperti ini?
Jin Ah memilih pakaian-pakaian yang tergantung rapih disana dengan serius, Hoseok menatap Jin Ah dengan senyuman manisnya, sepertinya gadis itu sudah merasa baik. Mengajak belanja seorang perempuan yang sedang bersedih memang adalah salah satu cara terbaik, terlebih jika kau bersedia untuk membayar semua belanjaannya.
Jin Ah mengambil salah satu baju sabrina berwarna biru laut dan rok mini berwarna putih, ia menempelkan pada tubuhnya dan bercermin, Hoseok berjalan mendekatinya dan berdiri di belakang Jin Ah ikut memperhatikan penampilan gadis itu dari pantulan cermin didepannya.
"Guru Jung, bagaimana menurutmu?" Jin Ah menatap Hoseok dari pantulan cermin, Hoseok menaruh telunjuknya didagu, ia memperhatikan tubuh Jin Ah dari atas sampai bawah melalui pantulan cermin, mengamati penampilan gadis itu.
"Hmm, kurasa pakaian apapun cocok denganmu" Jin Ah tersenyum malu mendengar ucapan Hoseok. Lihatkan? Gadis ini sudah merasa baikan. Jin Ah lalu berbalik dan menatap Hoseok.
"Kalau begitu, aku mau ini saja" Hoseok mengangguk lalu mengambil pakaian yang Jin Ah pilih dan memberikannya kepada pegawai yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Mau yang lain lagi?" Jin Ah menggeleng.
"Itu saja cukup, lagipula pakaian itu harganya juga sudah melebihi satu juta won, aku tidak ingin membuatmu bangkrut, Guru Jung" Hoseok terkekeh mendengar lelucon Jin Ah, ia mengacak rambut Jin Ah dengan gemas.
"Jangan panggil aku Guru Jung saat kita sedang berdua dan berada di luar sekolah" Jin Ah mengernyitkan alisnya mendengar protesan dari mulut seorang Jung Hoseok.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Eummm, Ahjussi?" Hoseok mendengus
"Bukankah itu lebih parah dari Guru Jung?"
"Lalu?"
"Hmm, panggil saja Oppa"
"Tidak mau, itu terdengar menggelikan"
"Oh ayolah, lagipula aku memang lebih tua darimu"
"Huft, baiklah. Aku akan menurutimu karena kau sudah mau menghiburku"
"Anak pintar" Hoseok menggelitik dagu Jin Ah dan mereka berdua tertawa bersama tanpa menyadari sosok lelaki yang menatap mereka dengan pandangan tajam
***
Jin Ah memasuki kamarnya dengan senyuman yang mengembang, seharian berjalan-jalan dengan Hoseok membuatnya merasa senang, bagaimana tidak? Hoseok sangat memanjakannya, memperlakukan dirinya layaknya seorang putri kerajaan. Perempuan mana yang tak senang jika di manjakan? Yah, walaupun tadi pagi pria itu sempat membuatnya emosi, namun ia rasa itu bukanlah hal buruk. Mungkin saja memang pria itu memiliki maksud yang baik padanya kan?
Jin Ah membuka paper bag yang tadi dibawanya, ia mengambil pakaian yang baru saja dibelikan Hoseok untuknya, ia kemudian menaruh pakaian itu kedalam lemari beserta paper bag-nya. Untung saja saat dia pulang, rumah dalam keadaan kosong, jadi ia tak perlu susah-susah menyembunyikan paper bag yang dibawanya karena takut Jimin akan mengetahuinya.
"AKU PULANG!"
Jin Ah buru-buru menutup lemari pakaiannya dan segera menguncinya, ia lalu turun kelantai bawah untuk menemui Kakaknya yang baru saja pulang kerja.
"Ah, Oppa. Kau sudah makan malam?"
"Sudah tadi di kantor"
Jimin menggerakan tangannya, memberi isyarat agar Jin Ah mendekatinya. Mengerti dengan kode yang Jimin berikan, Jin Ah berjalan mendekatinya.
"Lepaskan ini" Dengan segara Jin Ah melepaskan dasi yang terikat di leher Jimin, setelah dasi itu terlepas Jimin mengecup singkat bibir Jin Ah.
"Terima kasih" Jin Ah mengangguk. Itu adalah hal yang sudah biasa dilakukan Jimin padanya. Bukankah mereka lebih terlihat seperti pasangan suami istri daripada saudara kandung? Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi.
***
Jin Ah berjalan di koridor sekolah dengan riang, bibirnya terus mengulas senyuman manis yang membuat para kaum adam terpesona. Bukan bermaksud menebar pesona, hanya saja Jin Ah tak bisa menahan senyumannya itu.
Namun, senyumannya luntur saat melihat sosok pria di hadapannya tengah berpagut mesra dengan seorang wanita yang menggunakan pakaian layaknya seorang guru, Jin Ah tampak asing dengan wanitautersebut. Ia yakin betul, wanita itu bukanlah guru disekolahnya.
Pagutan panas mereka terhenti karena menyadari sosok Jin Ah yang tengah menatapnya
"Oh, Park Jin Ah" Pria bernama Jung Hoseok itu tersenyum manis ke arah Jin Ah, seolah sebelumnya tak terjadi apapun. Jin Ah hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, setelah itu ia membungkuk, memberi hormat kepada Hoseok dan wanita itu tanpa mengatakan apapun kemudian ia kembali berjalan menuju kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat Hoseok menahan lengannya. Ah, pria itu mengejarnya ternyata, untung saja koridor ini cukup sepi sehingga tak ada yang melihatnya.
"Temui aku di ruanganku saat istirahat jam pertama" Setelah membisikan sebuah perintah kepada Jin Ah, Hoseok menarik wanita yang tadi sedang berpagut mesra dengannya pergi meninggalkan Jin Ah begitu saja. Jin Ah mengepalkan tangannya, entah mengapa ia merasa kesal melihat hal seperti itu. Tunggu dulu, dia tidak mungkin kesal karena melihat Hoseok yang berpagut mesra dengan wanita asing itu kan? Tidak! Dia hanya kesal karena Hoseok memerintahnya dengan nada penuh penekanan seolah-olah perintahnya itu mutlak, tak bisa dibantah.
Jin Ah kembali berjalan ke dalam kelasnya dengan wajah datar. Suasana hatinya benar-benar rusak pagi ini Jin Ah mendaratkan bokongnya ke atas bangku dengan kasar, matanya tak sengaja melirik ke arah samping, dimana Jungkook sedang tersenyum manis ke arah gadis dihadapannya yang bernama Tzuyu, yang merupakan adik kelas mereka dan merupakan salah satu fans Jungkook. Jin Ah membuang wajahnya saat padangannya tak sengaja bertemu dengan Jungkook. Jin Ah meremas dadanya.
"Kenapa rasanya nyeri sekali?" Jin Ah berbicara dengan suara parau tanpa sadar air matanya menyelinap keluar dari sudut matanya, mood-nya memburuk pagi ini. Jin Ah menghapus air matanya saat seorang guru memasuki kelasnya, Jin Ah mengernyit melihat guru wanita yang sekarang berada di depan kelasnya.
"Hai, perkenalkan. Nama Saya Bae Irene, kalian bisa memanggil Saya Guru Irene. Saya guru Matematika baru kalian. Mohon kerjasamanya" Guru bernama Irene itu tersenyum yang membuat wajah cantiknya semakin terlihat cantik dan membuat heboh seisi kelas terutama dari para murid laki-laki. Pandangan Irene dan Jin Ah tak sengaja bertemu, tubuh Jin Ah mematung saat guru barunya itu menatapnya tajam dan mengeluarkan smirk-nya.
'Bukankah, dia wanita yang tadi sedang berpagut dengan Hoseok?’