Chapter 4 ; “You Hurt Me”

1043 Kata
Jin Ah bersandar pada dinding ruangan musik, ia mengayunkan kakinya dan sesekali menghembuskan nafasnya kasar, matanya sesekali melirik kearah pintu yang tertutup rapat yang terletak disampingnya. Waktu istirahat sebentar lagi akan selesai, namun ia belum menemukan tanda-tanda bahwa Jungkook akan keluar dari ruangan musik, selain anak dance, Jungkook juga termasuk anak musik, Jungkook bisa memainkan segala jenis alat musik, lelaki itu memang multitalent, suaranya jika sedang bernyanyi juga terdengar sangat manis dan romantis, maka tidak heran jika banyak para gadis yang mengejar-ngejar seorang Jeon Jungkook.   Jin Ah mendongakan wajahnya dan memejamkan matanya. Tiba-tiba otak Jin Ah berputar pada kejadian tadi pagi, kejadian dimana dia menerima tawaran dari guru tarinya, lebih tepatnya ia dipaksa untuk menerima tawaran b***t itu.   "Hahhh, kenapa hidupku dikelilingi oleh pria berotak m***m" Jin Ah menatap langit-langit koridor dan menghembuskan nafasnya kasar, rasanya ia ingin menangis saat itu juga namun tangisnya tertahan karena pintu ruang musik terbuka dan menampakan sosok Jungkook yang keluar bersama dua kawannya, Mingyu dan Yugyeom. Jin Ah tersenyum canggung saat Jungkook menatapnya dengan datar.   "K-kookie, aku ingin bicara padamu". Jungkook tetap diam dan menatap datar Jin Ah, seolah-olah ia tak berminat dengan gadis dihadapannya ini. Jin Ah menarik nafasnya dan mengeluarkannya dengan kasar untuk menghilangkan kegugupannya, ia lalu menatap Jungkook lagi.   “Hmmm, kita duluan” Seolah mengerti dengan situasi Jungkook dan Jin Ah, Mingyu dan Yugyeom memilih untuk pergi darisana, memberika kesempatan pada pasangan yang hubungannya sudah berada diujung tanduk itu.   "Kenapa?" Hanya satu kata yang keluar dari bibir Jin Ah namun mewakili semua pertanyaan yang ada dipikiran dan hati Park Jin Ah, Jungkook memasukan kedua tangan kedalam saku celanannya dan tersenyum sinis, seolah mengerti dengan apa yang Jin Ah katakan.   "Tidak apa-apa, aku hanya merasa bosan"   Bam   Bagaikan dihantam oleh mobil truk gandeng, jantung Jin Ah benar-benar terasa nyeri dan hancur secara berkeping-keping saat mendengar ucapan Jungkook. Jin Ah tersenyum, berusaha untuk menutupi kesedihan yang menyelimuti dirinya saat ini.   "Kau pasti bohong kan? Aku tahu kau bukan orang seperti ini Jeon Jungkook, kau bilang padaku bahwa kau sangat menyayangi dan mencintaiku dan kau bilang kau tak bisa hidup tanpaku, ingatlah saat kau mati-matian mengejarku Jeon Jungkook" Jungkook menaikan satu alisnya mendengar ucapan Jin Ah, sedetik kemudian ia tertawa, ia mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya kini sejajar dengan wajah Jin Ah yang terlihat tegar namun sorot matanya memancarkan kesenduan yang dalam disana.   "You don't know more about me, Park Jin Ah-ssi"   "...aku benar-benar merasa bosan denganmu, memang benar awalnya aku merasa tertantang karena kau sulit untuk ku raih, tapi..."   "...saat kau sudah memiliki sebuah 'status' denganku, kau sama saja dengan gadis lain, kau bodoh karena percaya dengan ucapanku dan merelakan tubuhmu itu, dan saat pertama kali kita bercinta aku sadar ternyata kau sudah tak perawan lagi, awalnya aku merasa biasa saja karena memang aku hanya membutuhkan tubuhmu, tapi semakin kesini aku semakin bosan dengan tubuhmu itu, bahkan banyak wanita lain diluar sana yang lebih darimu. Lebih bisa membuatku merasa puas dengan permainan dan tubuh mereka, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka..."   Jin Ah meremas ujung roknya keras, ia mengigit bibir bawahnya, menahan agar suara isakannya tak keluar, kedua matanya sudah mengeluarkan bulir-bulir krystal bening namun ia tetap mendongakan kepalanya, menatap kedua mata Jungkook yang terlihat kejam, dia akan bersikap tegar dihadapan Jeon Jungkook.   "...Oiya, siapa yang sudah memperawanimu itu? Apakah dia seorang Ahjussi berdompet tebal?, wahhh ternyata kau sama saja dengan jalang di luar sana, M-U-R-A-H-A-N" Jungkook terkekeh lalu menegakan tubuhnya. Jin Ah tersenyum miris mendengar ucapan Jungkook, ia ingin sekali menampar wajah b******k Jungkook, namun ia urungkan niatnya, ia mengehembuskan nafasnya lalu menatap kedua mata Jungkook dengan tatapan dingin dan tersenyum sinis.   "Kau benar, aku memang murahan"   Setelah mengatakan itu, Jin Ah pergi dari hadapan Jungkook, meninggalkan Jungkook yang masih berdiri mematung di belakangnya.   *** Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, namun Jin Ah masih terduduk di bangkunya dan menatap keluar jendela, sekolahnya sudah sepi, hanya tertinggal beberapa murid pintar saja yang kelewat rajin. 'Aku mencintaimu Park Jin Ah' 'Jadilah kekasihku' 'Hah, aku sangat menyayangi dan mencintaimu' 'Aku tak bisa hidup tanpamu Jin Ah' 'Aku hanya merasa bosan' 'Kau sudah tak perawan lagi' 'Aku hanya membutuhkan tubuhmu' 'Aku semakin bosan dengan tubuhmu'         ‘Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka’         'Kau sama saja dengan jalang diluar sana, M-U-R-A-H-A-N' Air mata Jin Ah kembali mengalir saat otaknya memutar kembali memori tentang Jungkook dan ucapan lelaki itu yang membuat dadanya terasa sesak, tubuhnya bergetar, suara isak tangis yang pilu terdengar menggema di dalam kelas.   Langkah Hoseok terhenti saat indra pendengarannya menangkap suara isakan tangis, ia berjalan pelan mendekati sumber suara dengan perasaan was-was. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok gadis tengah menenggelamkan wajahnya dibalik lengannya yang terlihat ringkih, tubuhnya nampak bergetar, sepertinya gadis itu yang menangis dan menimbulkan suara menyeramkan tadi. Hoseok melirik kearah kaki gadis itu.   'Syukurlah kakinya menyentuh lantai'  Dengan langkah ringan, Hoseok mendekati gadis itu, semakin dekat dan Hoseok nampak mengenal sosok itu.   "Park Jin Ah?" Jin Ah mendongakan wajahnya menatap orang yang memanggilnya, ia Jung Hoseok.   "Kau menangis?" Jin Ah diam, ia memutus kontak mata dengan Hoseok dan menyeka air matanya. Hoseok tersenyum, ia lalu mengusap kepala Jin Ah dengan lembut.   "Jika kau belum puas menangis, maka menangislah sampai kau merasa lega. Kau tahu? Menangis adalah salah satu cara ketika hatimu terasa sakit dan kau tidak bisa mengutaraknnya" Setelah mendengar kalimat bijak dari Hoseok, tubuh Jin Ah kembali bergetar, gadis itu kembali menangis untuk meluapkan segala kekesalannya. Hoseok mengusap punggung Jin Ah yang bergetar, memberikan sedikit ketenangan pada gadis itu.   "Guru Jung"   "Hmm?" Jin Ah menatap Hoseok dengan tatapan sendu.   "Mereka hanya berjuang di awal, ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dengan cepat juga mereka akan merasa bosan, apa lelaki selalu seperti itu?" Hoseok hanya tersenyum mendengar ucapan Jin Ah, tangannya sudah berhenti mengusap punggung Jin Ah karena Jin Ah sudah menghentikan tangisnya.   "Kau mau ikut denganku?" tanya Hoseok mengubah topik pembicaraan.   "Kemana?"   "Jalan-jalan, aku tahu kau butuh hiburan" Jin Ah tersenyum lalu mengangguk, ia bangkit dari duduknya dan mengenakan tasnya. Jin Ah berjalan mengekori Hoseok menuju tempat parker khusus guru. Jin Ah masuk kedalam mobil Hoseok, lalu mobil Hoseok berjalan meninggalkan area sekolah.   Seorang lelaki menatap kepergian mobil Hoseok dengan tatapan dingin, sedetik kemudian ia tersenyum sinis.       ‘Kau benar-benar seorang iblis Jung Hoseok’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN