Dua minggu kemudian, Roma, Italia Lamaran menyeramkan disertai ancaman frontal yang diutarakan The Black Rose di hari pembunuhan berdarah itu terasa seperti fatamorgana belaka bagi Abigail. Mencoba mengingat kembali, benarkah semua kalimat itu diucapkan oleh Lucca Alonzo. Bukan tanpa alasan Abigail mengira semua itu hanya mimpi. Sosoknya tidak pernah sekalipun berkunjung ke kamar inapnya selama dia menjalani pengobatan. Nanti sore rencananya Abigail akan mencari tahu di mana Lucca. Laki-laki itu pasti berada di rumah sakit yang sama dengannya. Entah bagaimana ceritanya, Abigail yang tahu kalau mereka ada di Maroko tiba-tiba sudah berada di rumah sakit besar di Roma. Tanpa benar-benar Abigail sadari kapan mereka kembali. Saat terbangun dari pingsannya, dia sudah berada di kamar VVIP den

