Kabar mengenai penyanderaan ratusan pekerja tambang di Lembah Anrui telah sampai ke Ibu kota. Suku Guan menuntut untuk di hentikannya segala kegiatan penambangan dan menginginkan untuk melepaskan dari wilayah Kerajaan Daxiang dan menjadi sebuah wilayanh yang berdiri sendiri.
Bruakk!!
“Jelaskan bagaimana ini bisa terjadi?” Kaisar Zhonghui menggebrak singgasananya dengan marah, semua yang ada di aula istana langsung serempak menundukkan kepala, tak berani memulai berbicara.
“Yang Mulia,” Jendral Liu Shen yang membawa berita penyanderaan ini segera berlutut menempelkan keningnya ke lantai dan ber-kowtow sembari berkata, “Mereka adalah orang-orang dari Suku Guan yang menempati Lembah Anrui, mereka sudah menyandera ratusan penambang. Mereka menuntut untuk penambangan-penambangan itu dihentikan dan ingin melepaskan diri dari Kerajaan Daxiang, kalau tidak…kalau tidak…” Jenderal Liu ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.
“Kalau tidak apa?” Nada bicara kaisar meninggi, wajahnya merah padam, giginya gemeretak, “Katakan dengan jelas!”
“Kalau tidak mereka mengancam akan membunuh para penambang-penambang itu yang mulia.”
“Apa katamu?” mendengarnya, membuat Kaisar Zhonghui semakin murka, membuat semua yang ada di aula terdiam seketika. Memisahkan diri tentu saja bukanlah sebuah permintaan yang jelas-jelas tak bisa diterima oleh kaisar Zhonghui, Masalah pemisahan diri dari sebuah kerajaan bukanlah sebuah masalah sepele, pemisahan diri selalu diikuti dengan pertumpahan darah dan pertentangan satu sama lain. sama seperti ketika sebuah kerajaan hendak mencaplok wilayah negara lain nyaris tak ada yang terjadi dengan jalan damai ,,apalagi mengingat Lembah Anrui telah menjadi bagian dari kedaulatan Kerajaan Daxiang selama bertahun-tahun lamanya, kehilangan sebuah wilayah bisa dibilang adalah sebuah kegagalan bagi seorang kaisar yang bertahta. “Angkuh sekali mereka, Ini jelas-jelas sebuah tindakan pemberontakan, Berani-beraninya mereka mengancam kerajaan.”
Mendengar kata pemberontakan, Zhou Yanjun, Menteri Militer Daxiang segera melangkah maju, “Yang Mulia, hamba mengusulkan agar kerajaan mengirimkan pasukan penuh untuk memberantas mereka, hamba yakin mereka tak akan bisa berkuti, para pasukan sudah siap kapanpun.” Kata Menteri Militer dengan semangat berapi-api, tidak mau melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kesetiaannya.
“Yang mulia, para pemberontak ini terlalu licik dan tak tahu diri, kita tak boleh membiarkan begitu saja.” Sahut menteri yang lain
“Ada nyawa ratusan pekerja di tambang itu, kita tak boleh gegabah.” Menteri yang lain menyampaikan pendapatnya, pendapat terbelah menjadi dua kubu, mereka saling bersahut-sahutan mengemukakan pendapatnya, beberapa jelas sebatas hanya ingin menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan kaisar, tanpa benar-benar peduli, sehingga kalimat yang keluar hanyalah kalimat-kalimat kosong yang membuat Kaisar semakin pusing saja.
Kaisar terdiam beberapa saat, ia menatap ke arah putra mahkota, ”Zixuan, bagaimana pendapatmu.” Putra mahkota Zixuan adalah sosok yang dikenal bijak dan tenang dalam menyikapi permasalahan, karenanya tak heran jika dalam setiap diskusi kerajaan Kaisar Zhonghui tak pernah melewatkan pendapat dari Putra Mahkota Li Zixuan.
Putra mahkota yang sedari tadi diam mendengarkan dari sisi singgasana kaisar berjalan maju ke tengah aula “Fu Huang, ratusan warga suku Guan adalah seorang petarung, menyerang mereka pasti akan menimbulkan pertumpahan darah dan bukan tidak mungkin akan semakin membahayakan para sandera . Suku Guan telah menjadi bagian Daxiang selama bertahun-tahun, hamba yakin tindakan mereka kali ini bukan tanpa alasan dan bukan tanpa ruang untuk perundingan, hamba pikir alangkah baiknya jika kita bisa mencoba untuk menempuh jalan damai terlebih dahulu.”
“Tak peduli mau sekuat apapun petarung-petarung itu mereka tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pasukan kerajaan ini.” Menteri Militer, Zhou Yanjun masih dengan pendapatnya untuk menyerang Suku Guan.
Perdana Menteri Zhang Chao maju untuk berbicara, “ Yang Mulia, hamba setuju dengan yang dikatakan oleh putra mahkota, Suku Guan sudah menjadi bagian dari Daxiang selama bertahun-tahun, kita tak boleh bertindak gegabah.”
“Hmmmm kalau begitu, menurutmu siapakah yang paling sesuai untuk menjadi utusan untuk bernegosiasi dengan mereka?” Tanya Kaisar Zhonghui kepada Perdana Menteri Zhang Chao.
Merespon pertanyaan tersebut Zhang Chao kemudian melihat sekeliling aula, kemudian matanya tertuju pada putra mahkota, “Yang Mulia, untuk memperlihatkan keseriusan istana, hamba berpendapat bahwa mengirimkan putra mahkota sebagai utusan adalah pilihan terbaik, Mereka akan semakin melihat keseriusan istana, selain itu perundingan ini akan menjadi pengalaman diplomasi yang berharga bagi putra mahkota di masa depan.” Perdana Menteri Zhang Chao adalah salah satu pejabat cukup berpengaruh di istana, selain posisinya sebagai perdana menteri, Zhang Chao juga adalah kakak dari mendiang Selir Agung Yunnan, diantara para pejabat-pejabat lain bisa dikatakan bahwa Perdana Menteri Zhang Chao adalah pejabat senior yang paling di dengar oleh Kaisar Zhonghui. Meskipun seringkali memiliki pendapat berseberangan dengan putra mahkota namun kali ini ia memiliki pendapat Sejalan dengan putra mahkota, Sang Kaisar menjadi lebih mudah dalam mengambil keputusan.
Putra mahkota segera melangkah maju, kali ini ia setuju dengan pendapat Perdana Menteri “Fu huang, Ijinkanlah hamba menjadi utusan kerajaan untuk bernegosiasi dengan Suku Guan.”
Kaisar terdiam sesaat memikirkan usulan tersebut “Zixuan, Kau yakin bisa melakukannya?”
“Hamba akan berusaha yang terbaik yang mulia.”
“Baiklah, Zixuan, besok pagi berangkatlah ke Lembah Anrui bersama pasukan kerajaan,. Jendral Liu, bawalah prajurit-prajurit terbaikmu untuk berjaga-jaga, kita harus tetap berjaga-jaga, pasukan bantuan juga akan siaga di luar kota, kau bisa memanggil sewaktu-waktu.”
“Baik Yang mulia”, Putra Mahkota Zixuan dan Jendral Liu Shen berlutut menerima titah dari kaisar Zhonghui.
****
Dalam perjalanan kembali ke Ibu kota Anming, Pangeran Li Xian mendengar mengenai apa yang terjadi di Lembah Anrui, secara otomatis ia menghubungan segalanya dengan kasus mesiu itu.
“Pangeran, hamba mendapatkan berita bahwa putra mahkota dikirim untuk menjadi utusan untuk bernegosiasi dengan Suku Guan untuk membebaskan sandera.”
“Apakah mereka sudah mengetahui mengenai mesiu-mesiu itu?”
Chyou menggeleng, “kupikir hingga saat ini putra mahkota maupun yang lain masih belum mengetahui keberadaan mesiu-mesiu itu.”
"Chyou cepat kita harus menyusul rombongan putra mahkota dan memberitahu mereka, carilah informasi mengenai jalur yang mereka tempuh kita harus bisa tiba di sana sebelum putra mahkota sampai di Lembah Anrui”
“Baik pangeran.”
****
Li Xian dan Chyou dengan segera memacu kuda mereka mengikuti rute yang dilewati oleh putra mahkota dan rombongannya. Sepanjang perjalanan Li Xian tak henti-hentinya untuk memikirkan mengenai segala kemungkinan dan bagaimana cara untuk menghentikan Suku Guan. Setelah, beberapa jam memacu kudanya tanpa beristirahat sama sekali, menjelang gelap Li Xian dan Chyou mampu mengejar rombongan putra mahkota yang sedang beristirahat, tenda-tenda sudah dipasang, ia segera turun dan langsung menuju ke tenda putra putra mahkota Li Zixuan.
“Li Xian, bagaimana kau bisa ada disini, bukankah kau sedang berada di Kota Yizhou?” Tanya Putra mahkota Zixuan yang terkejut saat tahu-tahu Pangeran Li Xian sudah berada di depan tendanya.
“Taizi kau mau pergi ke lembah Anrui bukan? kita tidak bisa meremehkan mereka mereka memiliki senjata peledak dalam jumlah yang besar.” Li Xian berjalan masuk ke dalam tenda Zixuan masih dengan terengah-engah.
“Li Xian, jelaskan perkataanmu.” Perintah Putra Mahkota.
“Saat melakukan penyelidikan mengenai Penjabat Hou aku tak sengaja menemukan bahwa pejabat itu juga melakukan transaksi gelap dengan mendatangkan mesiu dalam jumlah besar, aku coba menyelidiki kemana perginya serbuk mesiu dalam jumlah besar itu, dan kau tahu siapa yang membelinya? dan ternyata mesiu-mesiu itu ditukar dengan emas-emas yang berasal dari Lembah Anrui, jadi dengan kata lain saat ini mereka memiliki mesiu dalam jumlah besar, bila terdesak bukan tidak mungkin meledakkan tambang-tambang.”
Zixuan mendengarkan setiap perkataan Lixian dengan seksama dan mencerna segalanya, ia terdiam sesaat, Informasi yang dibawa oleh Pangeran Li Xian benar-benar tak terduga, mereka memiliki mesiu dalam jumlah yang sangat besar dan telah dikumpulkan dengan cara yang sangat terorganisir, bukan tidak mungkin mereka akan benar-benar menggunakannya, dan jika itu terjadi maka akan banyak korban yang jatuh.
Dengan segera putra mahkota segera mengumpulkan bawahannya untuk membahas strategi lebih lanjut, hampir semalaman mereka mendiskusikan strategi yang akan diambil tentunya untuk membebaskan sandera untuk mencegah pertumpahan darah.
Sebuah peta besar berwarna putih sudah membentang di dalam tenda, peta pegunungan Qishan.
“Goa tambang yang berada di Lembah Anrui jumlahnya cukup banyak, dan kita tak tahu di mana lokasi mereka menyandera para pekerja tambang.” jendral Liu berjongkok sembari tangannya menunjukkan letak letak goa tambang yang ada di dalam peta. “Dengan pasukan penyusup yang dimiliki kerajaan, kita akan mencoba mencari dimana letak goa tambang tempat para pekerja itu disandera.” Jendral Liu mendongakkan kepalanya dan berkata, “Yang Mulia, ijinkan aku dan pasukanku maju dan menelusuri goa-goa itu satu persatu.”
“Memang tak mustahil untuk menemukan posisi para sandera jika kita mengerahkan langsung seluruh prajurit untuk mencari satu persatu, tapi….” Putra Mahkota menoleh ke arah Pangeran Li Xian.
“Tapi mereka sudah menanam peledak-peledak di lokasi dan jika gegabah, bukan tidak mungkin mereka akan nekat dan meledakkan peledak itu bersama dengan ratusan pekerja yang ada di dalamnya, dan lebih parahnya bersama dengan prajurit-prajurit kerajaan.
Peledak itu benar-benar memberikan masalah baru untuk upaya negosiasi ini, karena dengan mereka memiliki senjata seperti ini, maka mereka tak akan begitu saja menyerah. Semalaman mereka berusaha menyusun rencana, Sebuah rencana yang sebisa mungkin mencegah pertumpahan darah baik dari pihak kerajaan, sandera maupun suku Guan. Pembicaraan mengenai strategi baru itu berlangsung selama semalaman di dalam tenda putra mahkota, strategi apapun yang dipertimbangkan tak ada satupun yang tanpa resiko apapun, hari sudah sangat larut bahkan matahari sudah bersiap-siap untuk menjalankan tugasnya ketika akhirnya mereka kembali ke tenda masing-masing sebelum besok melanjutkan perjalanan kembali ke Lembah Anrui.