Strategy

2121 Kata
Perjalanan ke lembah Guan kembali dilanjutkan keesokan harinya, Pangeran Li Xian dan Chyou juga ikut dalam rombongan tersebut. Matahari berada tepat di atas kepala saat akhirnya mereka tiba di Lembah Anrui. Li Xian terpana sesaat oleh keindahan lembah itu begitu juga dengan yang lain, Lembah yang dikelilingi pegunungan itu benar-benar nampak sangat memanjakan mata, sama sekali tak mengisyaratkan betapa konflik dan kepahitan yang terjadi di dalamnya. Pasukan suku Guan nampaknya sama sekali tak menduga bahwa penyanderaan yang mereka lakukan akan membuat putra mahkota datang ke tanah mereka, tak heran dengan seketika rombongan ini disambut dengan tatapan terkejut Suku Guan. Kendati dalam suasana konflik mereka tetap menyambut kedatangan putra mahkota dengan penuh rasa hormat, Wei Long kepala suku Guan telah berdiri di depan pintu masuk lembah Anrui untuk menyambut putra mahkota kerajaan ini, tanpa bisa dibohongi ada secercah harapan sekaligus rasa takut di hati mereka oleh kedatangan rombongan ini, kendati tak bisa dipungkiri bahwa ada rasa khawatir apalagi melihat pasukan yang datang bersama putra mahkota, namun sejak mereka mengambil pilihan tersebut semuanya sudah siap akan segala konsekuensinya, apapun konsekuensi yang akan menghadang di depan tampaknya mereka sudah tak terlampau mempedulikannya. Putra mahkota dipersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan untuk berbicara dengan kepala Suku Guan, Wei Long. Pangeran Li Xian, jendral Liu dan Chyou juga turut serta sembari mengikuti di belakang. Dilihat dari model dan tatanannya tempat yang disebut ruangan itu lebih pantas disebut dengan aula, kendati ukurannya tak sebesar aula istana Shilin namun tempat itu cukup untuk menampung hingga dua puluh orang, di bagian depan terdapat sebuah kursi, yang mungkin biasanya ditempati oleh Sang Kepala Suku, namun kali ini Wei Long mempersilahkan putra mahkota untuk duduk di kursi tersebut, sementara yang lain saling duduk di kursi-kursi yang disusun saling berhadapan. Selain Wei Long ada juga tiga orang lain yang merupakan tetua dari Suku Guan. Sejak sampai di Lembah Anrui Wajah Li Xian nampak lesu sama sekali tak bersemangat, langkahnya nampak sempoyongan, sejak mereka duduk di dalam aula ia terus menopang kepalanya dengan tangannya, siapapun yang melihatnya pasti akan tahu kalau pangeran itu sedang tak baik-baik saja. “Li Xian Kau baik-baik saja?” Tanya Putra mahkota. Setelah memperhatikan Li Xian beberapa saat. “Huang taizi, aku merasa tak enak badan….” jawab Pangeran Li Xian dengan nada lemah. “Apakah perlu kami memanggil tabib.” Timpal Wei Long “Ah tak perlu ketua Wei Sepertinya aku hanya kelelahan saja, aku hanya perlu beristirahat sebentar.” Putra mahkota yang nampak khawatir kemudian berbicara ke arah Wei Long, “Ketua Wei sepertinya aku harus merepotkanmu untuk meminjamkan tempat beristirahat untuk Pangeran Kelima.” pinta Putra Mahkota. “Pangeran kelima anda bisa menunggu di ruangan utara, kami akan menyiapkan ruangan untuk anda beristirahat.”. Tak lama kemudian seorang pemuda masuk untuk mengantarkan Pangeran Li Xian ke tempat beristirahat. “Terima kasih ketua Wei.” Li Xian berkata dengan sopan kemudian ia berdiri dan meninggalkan rombongan yang akan bernegosiasi itu dengan diikuti oleh Chyou. “Sungguh sebuah kehormatan putra mahkota dan pangeran kelima bersedia datang ke tempat kami yang rendah ini.” Sambil merendah Wei Long membungkuk memberi hormat diikuti yang lain. Ketua Wei…syarat yang kau berikan —menghentikan penambangan dan memisahkan diri dari Kerajaan Daxiang— jelas tak bisa diterima oleh Yang mulia Kaisar.” tanpa ingin berbasa-basi lebih lanjut lagi, Putra Mahkota langsung berbicara ke intinya. “Lalu? Apakah kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota Kali ini untuk memberitahukan kepada kami bahwa kerajaan akan merelakan ratusan nyawa pekerja demi tambang-tambang itu?” “Bagaimana mungkin Ketua Wei berpikiran seperti itu, yang Mulia Kaisar adalah seseorang yang sangat mencintai rakyatnya.” Putra Mahkota tersenyum menatap ke Wei Long menolak pernyataan Wei Long,” Kaisar akan melakukan apapun untuk menyelamatkan para penambang itu dengan cara damai maupun dengan cara keras sekalipun.” Suara Putra mahkota berubah menjadi tegas “Oh? Kau tak tahu dimana aku menyandera pekerja-pekerja itu bukan, aku yakin kau pasti tahu kalau di sini ada banyak goa tambang, dengan kedalaman yang bermacam-macam, kalu kerajaan berusaha macam macam aku tak akan segan- segan untuk melukai mereka…atau lebih daripada itu .” “Melakukan ini, apakah kau tak memikirkan nasib ribuan orang yang ada di suku mu, kau tau konsekuensi dari perbuatanmu ini bukan?” “Sejak kami memilih jalan ini, kami sudah siap apapun resikonya, kami Suku Guan, Selama ini rasanya kami terus dijajah di tanah kami sendiri, tergusur dan harus terusir lagi-dan lagi, konflik tak pernah berkesudahan, dan kalian tak akan puas sebelum seluruh lembah dan gunung ini hancur, hidup seperti ini selama bertahun-tahun rasanya tak lebih baik daripada mati, bukankah begitu putra mahkota?” Wei Long masih berusaha dengan tenang namun sorot matanya menunjukkan betapa dalamnya kemarahan dan kebencian yang telah ia pendam selama ini. ***** Para pengawal yang ditugaskan untuk menjaga ruangan tempat persinggahan Pangeran kelima negeri ini hanya berjaga di luar, Pengawal Pangeran itu —Chyou — dengan tegas mengatakan kalau tuannya yang sakit itu tak suka bila ada banyak orang di ruangannya, kendati ragu namun ia tak berani menolak permintaan Pangeran muda itu, karena bagaimanapun konflik yang sedang terjadi sekarang pemuda itu adalah putra sang kaisar, orang yang paling berkuasa di negeri ini. Jadilah pengawal-pengawal itu berjaga di depan pintu ruangan sambil sesekali melirik ke dalam untuk memastikan kalau sang pangeran yang sakit itu masih ada di dalam dan baik baik saja. Sebentar-sebentar ia menengok ke dalam, entah sudah yang keberapa kali, lama-lama ia merasa jenuh juga, yakin kalua Pangeran itu tak akan kemana-mana, namun saat ia punya keyakinan itu dan kembali mengecek….Pangeran dan pengawalnya sudah menghilang dari tempat itu, raib entah kemana. Pengawal-pengawal itu saling bertatapan, masih kebingungan, tak tau apa yang harus dilakukan. ***** Sementara di sisi lain Shen Rui wakil Kepala Suku Guan sejak tadi mengawasi para prajurit kerajaan yang datang bersama putra mahkota, Ia telah memastikan sedari tadi taka ada satupun penjaga yang keluar dari barisannya, jumlah mereka masih sama dengan jumlah orang yang memasuki gerbang Lembah Anrui, terkecuali Putra Mahkota, Pangeran Kelima dan Jendral dan seorang pengawal yang ikut masuk berada di dalam berdiskusi dengan Wei Long. Mengenai penyusup dari luar nampaknya ia tak perlu khawatir karena jalan masuk yang ada merupakan jalan masuk satu-satunya ke dalam lembah Anrui, Lembah itu dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan yang menjulang tinggi dan berdinding sangat terjal hingga mustahil bagi siapapun untuk masuk melalui tebing itu, tak terkecuali warga Suku Guan sendiri. Suasana aman terkendali tak ada tanda-tanda penyusup, setidaknya itu yang ia pikirkan sejauh ini sampai seorang penjaga yang ditugaskan untuk menjaga Pangeran Kelima datang sambil berlari ke arahnya dengan wajah cemas. “Shen Rui, pangeran itu… entah bagaimana dia bisa melarikan diri bersama dengan pengawalnya, aku sudah mengawasinya tapi mereka tahu-tahu hilang entah kemana, aneh.” “Bagaimana mungkin,kau pikir mereka hantu?” Tak mau berdebat lebih lama setelah mendengar laporan itu Shen Rui langsung bergegas menunggangi kudanya ke arah goa tambang di ujung selatan, tempat para pekerja tambang di sembunyikan, tempat yang susah payah ia rahasiakan dari rombongan kerajaan. Ia berhenti tepat di depan goa dan menemukan bahwa orang-orang yang bertugas menjaga tempat itu masih berdiri disana tanpa ada tanda-tanda penyerbuan atau penyusupan sama sekali, suasana sangat tenang di luar goa, Shen Rui menghela napas lega, namun rasa lega itu sayangnya tak bertahan lama, beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. “Terima kasih telah menunjukkan tempatnya.” Sebuah suara terdengar dari belakang, belum sempat ia berbalik, ia merasakan udara dingin melesat di belakangnya, refleks ia mencoba menghindar, namun sayangnya sosok yang bergerak seperti bayangan itu lebih cepat dari refleksnya, sebuah tangan memukul tengkuknya dalam sepersekian detik membuat Shen Rui jatuh tersungkur ke tanah. Begitu berhasil melumpuhkan Shen Rui dan penjaga lainnya, Li Xian dan Chyou segera melesat masuk ke dalam goa, menyusuri lorong-lorong sempit yang ada di dalamnya. **** Seorang pemuda buru-buru masuk ke dalam ruangan, napasnya terengah-engah rambutnya berantakan, pemuda itu lantas membisikan sesuatu ke telinga Wei Long, pemuda itu nampaknya membawa kabar penting, namun Wei Long tak menampilkan ekspresi apapun, wajahnya tetap nampak tenang dan dingin. ”Nampaknya pangeran kelima hanya menggunakan alasan sakit, untuk mencari kesempatan mencari lokasi tawanan para pekerja itu bukan? Katanya sambil menatap ke arah Putra mahkota sambil menunggu perubahan ekspresi di wajahnya. “Kau pikir kami senaif itu, kami sudah menduga dari awal kalau kalian akan memasukkan penyusup untuk membebaskan para sandera, hanya saja aku tak menyangka bahwa adikmu Pangeran kelima yang akan menjadi umpan.” “Umpan, Apa yang kau bicarakan Ketua Wei? Pangeran Kelima menyusup? bukankah ia sedang berada di ruanganmu?” putra mahkota bertanya, keningnya berkerut, wajahnya menampakkan ekspresi terkejut. “Kau pikir, dengan menemukan goa tempat sandera itu berada kau telah menang dan telah berhasil, namun aku takut jumlah korban malah akan bertambah, Oh, dan Pangeran Kelima, bukan aku yang menyuruhnya masuk kedalam sana bergabung bersama sandera-sandera itu, jadi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padanya.” jawab Weilong masih dengan wajah datarnya. “Dari perkataanmu…nampaknya kau menyimpan sesuatu yang mengerikan di dalam goa itu, ketua Wei.” Tak merespon tebakan Putra Mahkota, Weilong hanya tersenyum samar, merasa bahwa dirinya sudah memegang kendali. Apa yang kau maksud adalah peledak-peledak mesiu itu, Ketua Wei?” Ketua Wei menatap putra mahkota lekat lekat. Bubuk mesiu itu adalah kartu As nya dan ia tak menyangka bahwa pemuda yang saat ini berada di depannya ternyata telah mengetahui soal mesiu ini,ia menghela napas panjang kemudian berkata, “Saat ini prajurit Guan sudah berjaga di depan goa tambang dan memastikan tak ada satupun yang bisa keluar gua jika kau tak menyetujui apa yang menjadi tuntutan kami maka jangan salahkan kalau adikmu itu akan musnah bersama tambang tambang emas, tapi tak peduli meskipun kau sudah mengetahui tentang mesiu itu kau tetap mengirimkan pangeran kelima ke dalam goa, kau mungkin bahkan tak peduli pangeran itu hidup atau mati, perebutan tahta memang sangat kejam.” Wei Long tersenyum dengan angkuhnya. Dipancing oleh Wei Long putra mahkota pun tak menunjukkan perubahan ekspresi apapun, wajahnya tetap tenang. “Maafkan aku tapi sayangnya sebelum Pangeran kelima masuk ke dalam gua itu ia sudah mengetahui sejak awal mengenai keberadaan bubuk bubuk mesiu yang kau tanam di sepanjang gua dan tak peduli bagaimana kau berusaha untuk meledakkan sumbunya aku yakin saat ini ini Pangeran Li Xian dan yang lain telah berhasil mematikan sumbunya dan mencegah terjadinya ledakan." Perkataan Putra Mahkota kali ini membuat Wei Long benar-benar pucat pasi, spontan ia menoleh ke arah tetua suku guan lain yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, ia tak menyangka bahwa putra mahkota dan pangeran yang datang untuk melakukan negosiasi ini telah membaca semua strateginya. “Kupikir rencanaku sudah diatas awan, nyatanya sejak awal kau sudah membaca semuanya.” Kali ini Wei Long sudah mengakui kekalahanya. “Aku tak akan mengetahui rencanamu jika kau tak melakukan transaksi mesiu itu dengan si pejabat korup,” jelas putra mahkota, Wei Long mengangguk pelan mengetahui letak celah di dalam rencananya. Putra mahkota menatap Wei Long kemudian ia bertutur "Aku tahu kesulitan yang dirasakan oleh suku Guan dan sekali lagi ku tekankan kami bukan di sini untuk beradu strategi denganmu tetapi untuk perdamaian, hentikan semua tindakanmu ini aku akan berbicara kepada kaisar untuk untuk mengakomodir apa yang menjadi masalah bagi kalian. " "Huh, kau pikir kami akan percaya begitu saja kami sudah cukup dengan semua omong kosong ini selama bertahun-tahun. "Sekarang kalau kau tak bisa percaya padaku putra mahkota negeri Ini siapa lagi yang bisa kau percayai bukankah setidaknya akan lebih baik kau mempertaruhkan nasibmu dengan mempercayaiku, kau sudah berniat memberontak kerajaan dan para pejabat murka dan menghabisi sukumu karena keputusan bodohmu. Sekarang tak ada yang lebih baik daripada menerima tawaran perdamaian ku aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik kau harus percaya padaku dan menghentikan semua keributan ini. Aku tahu mengerti semua yang kau lakukan karena kau mencintai wargamu dan mencintai tanah mu sebagai putra mahkota bagaimana mungkin aku tidak mengerti dan aku tidak memahami perasaanmu percayalah padaku sebelum semuanya terlambat hentikan semua ini dengan baik-baik dan aku akan berusaha yang terbaik di istana.” “Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?” “Melihat situasi sekarang, kau sudah di ujung tanduk ketua Wei, kerajaan bisa saja menghabisi kalian karena upaya pemberontakan ini, kau tak punya pilihan selain mempercayaiku, kegiatan penambangan itu tak mungkin dihentikan total, namun hukum untuk membatasi penambangan itu bisa diciptakan, aku akan berusaha untuk melindungi apa yang menjadi hak-hak kalian, melindungi hutan dan tanah kalian.” Wei Long tertegun dalam pikirannya, semua yang dikatakan oleh Putra Mahkota adalah sebuah kenyataan, pilihan terakhir untuknya adalah untuk mempercayai putra mahkota yang saat ini berdiri di depannya, calon kaisar negeri ini di masa depan. Sumbu belum dinyalakan, ia masih memiliki kesempatan untuk mundur, setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya selama beberapa saat akhirnya Wei Long bersedia untuk menerima tawaran perdamaian yang diajukan oleh putra mahkota mereka sepakat untuk menghentikan konflik ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN