Lantern Festival

1207 Kata
Tak butuh waktu lama setelah surat yang dikirim oleh pangeran Li Xian tiba di ibu kota, datanglah empat penyelidik dari kementerian kehakiman pusat yang dipimpin oleh Penyidik Han. Penyidik Han adalah seorang penyidik dengan reputasi dan kemampuan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Dalam sekejap semua pejabat yang diduga terkait dengan suap dan kejahatan Hou Linhe di bawa ke pengadilan kota Yizhou untuk penyelidikan lebih lanjut. Hari ini untuk pertama kalinya Li Xian dapat sedikit bersantai setelah beberapa hari ini berjibaku dengan kasus yang melibatkan Pejabat Hou. Li Xian telah memberikan semua bukti-bukti mengenai kejahatan Hou Linhe kepada Penyelidik Han, meskipun tugasnya sudah usai namun entah mengapa masih ada pertanyaan yang mengganjal di hatinya, keping-keping emas dalam jumlah besar itu… dan mesiu-mesiu yang hingga kini tak jelas keberadaannya dimana keberadaanya?. Hou Linhe, tak peduli di paksa dengan cara apapun terus menutup rapat-rapat mulutnya, meskipun semua bukti sudah jelas-jelas mengarah padanya ia tetap bersikeras bahwa dirinya tak bersalah dan hanya di jebak, sementara pejabat-pejabat departemen lain yang terbukti menerima suap dari pejabat Hou pun tak tahu menahu mengenai bisnis kotor yang dilakukan oleh Hou Linhe. Entah apakah ia sangat pandai menyembunyikan semuanya atau ia benar-benar tak tahu dan di adalah boneka lain dari dalang yang lebih besar dibelakangnya Dengan bisnis kotor yang menghasilkan pundi-pundi uang, korupsi, manipulasi laporan pajak, lengkap dengan pejabat-pejabat korup di sekelilingnya membuatnya bisa bergerak bebas selicin belut, memadukan semua kolaborasi ini sungguh tak mengherankan jika kota ini berada di bawah kesengsaraan selama bertahun-tahun. Hari masih sore namun jalanan kota Yizhou sudah dipenuhi oleh kerumunan, mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Semuanya membanjiri jalanan dengan pakaian yang serba bagus bersiap untuk merayakan festival lampion, semua orang saling mengobrol dan tertawa menambah keriuhan suasana. Semuanya diliputi dengan atmosfer keceriaan tak terkecuali dengan Li Xian, Chyou, dan Jendral Yan yang sedari tadi asyik berjalan menyusuri sepanjang jalanan kota melihat-lihat keramaian. Beberapa pedagang lampion sudah mulai membuka tenda-tendanya di kanan kiri jalan, menggantungkan lampion warna-warni di depan kios masing-masing untuk menarik pembeli, bentuk-bentuk lampion kertas yang mereka jajakan juga beragam, mulai dari bentuk lingkaran seperti biasa hingga bentuk-bentuk unik seperti ikan, burung, kelinci, bunga dan masih banyak lagi. “Chyou menurutmu model lampion seperti apa yang paling menarik?” Tanya Li Xian setelah sedari tadi bersemangat menyusuri jalanan memilih-milih lampion dari satu kios ke kios yang lain, ia tak henti-hentinya mengagumi keriuhan suasana menjelang festival lampion, apalagi ini kali pertama ia merayakan festival lampion di luar istana, biasanya ia akan menghabiskan malam festival lampion dengan jamuan bersama kaisar dan seluruh anggota keluarga kerajaan di Istana Liaoning, malamnya biasanya akan diadakan pertunjukan tarian naga, opera dan juga pertunjukan kembang api, berada di luar istana pada saat perayaan seperti ini merupakan kesempatan langka yang tak boleh di lewatkan. “Yang Mulia tumben anda tertarik membeli lampion, biasanya anda sama sekali tak peduli dengan lampion-lampion itu.” Tanya Chyou penasaran. “Bukan apa-apa aku hanya iseng saja, lihatlah lampion-lampion di sini sangat berbeda dengan yang biasa kita temui di Anming.” Chyou memperhatikan lampion-lampion yang di pajang di setiap kios, matanya menyapu dengan cepat ke setiap lampion yang di pajang di depan toko, ia menggaruk-garuk kepalanya Beda? kelihatannya ini sama saja? “Bukan lampionnya yang berbeda, tapi suasana hatimu?” Kata Jendral Yan menyeletuk dari belakang. Li Xian menoleh ke arah Jendral Yan sambil mengerutkan keningnya, ”Suasana hati? Apa maksudmu?” “Yang Mulia anda ingin membeli lampion untuk nona Tan Wei bukan?” tanya Jendral Yan yang membuat pemuda di sampinya gelagapan. “Tan Wei…..” Jendral Yan menyela, “Semuanya sudah tertulis jelas di wajah anda pangeran, dengan sekali lihat aku bisa dengan mudah tahu kalau pangeran kelima kita sedang kasmaran.” Li Xian menjadi salah tingkah “He he he bagaimana kau tahu kau punya kemampuan meramal ya?” “Huh meramal? Teriakan anda saat itu ‘Tan Wei Festival Lampion nanti aku akan menunggumu di sungai di pinggir kota tempo hari’, bisa didengar oleh siapapun yang memiliki telinga,” Jendral Yan meniru perkataan Li Xian saat itu, yang seketika membuat wajah Li Xian merah padam. “Jadi tak perlu kemampuan meramal, akhirnya ada gadis yang bisa mengambil hati pangeran kecil kita, benar kan Chyou?” Kata Jendral Yan sambil menyikut lengan Chou. Chyou mengangguk-angguk tanda setuju sambil berusaha menahan tawa. “Oh ya, karena kasus ini sudah diserahkan ke pihak yang berwenang kurasa tugasku disini sudah usai pangeran, nampaknya hari ini aku harus undur diri dan kembali ke perbatasan.” Kata Jendral Yan dengan hormat. “Terima kasih atas bantuanmu Yan Dage.” Jawab Li Xian sambil membungkukkan badanya. “Hei jangan begitu yang mulia, aku tak pantas menerimanya, ini sudah menjadi tugas dan kewajibanku.” “Kau dan nona muda itu…aku berdoa yang terbaik untuk kalian.” Jendral Yan mengedipkan sebelah matanya. “ha ha ha xie xie Yan Dage, kau memang yang terbaik.” **** Angin berhembus dengan semilir malam itu, bulan purnama bersinar sangat terang. Li Xian sudah berada di danau sejak matahari baru tenggelam lengkap dengan dua buah lampion di tangannya, satu lampion berbentuk bunga teratai dan lampion berbentuk lingkaran. Kontras dengan suasana tempo hari saat merek mengintai komplotan itu, malam ini danau yang terletak di pinggir kota itu nampak ramai di datangi orang-orang, air danau yang tenang sudah dipenuhi dengan lampion-lampion berbentuk bunga teratai, langit malam yang cerah sudah penuhi oleh lampion-lampion merah yang bertebaran dan menyala dengan indahnya di langit . Seulas senyum tipis terukir di wajahnya sebentar-sebentar ia menoleh ke sekeliling, khawatir Tan Wei tak akan menemukannya di antara keramaian orang, ia sangat berharap bahwa gadis itu akan datang, sedari tadi ia terus menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan? apakah ia akan memberitahukan jati dirinya? Apakah gadis itu mau menerimanya? sedari tadi Li Xian itu disibukkan dengan berbagai pikiran. Cinta? Li Xian terlalu polos akan satu kata itu, bahkan Ia tak mengerti perasaan khusus apa yang dimilikinya kepada gadis yang baru beberapa hari ditemuinya itu, namun yang jelas menghabiskan waktu beberapa hari bersama Tan Wei membuatnya merasa nyaman dan mengagumi sosok Tan Wei. Hari itu Saat ia meminta Tan Wei untuk datang ia tak memikirkan apapun, ia hanya mencari kesempatan agar masih bisa bertemu dengan gadis itu kembali, perasaan gadis itu terhadapnya? Ia juga tak tahu sama sekali, seulas senyum kala itu…sebuah persetujuan atau bisa saja ia salah mengartikannya. Tak jarang ekspektasi yang terlalu tinggi akan berbalik dengan kekecewaan, malam sudah semakin larut. Li Xian masih tetap bertahan di tempat itu, tak bergeming, masih berharap bahwa gadis itu akan muncul. Lampion-lampion yang tadi bertebaran di langit semakin lama semakin tak terlihat, mungkin tertutup awan atau sudah padam dan turun kembali ke daratan, dua lampion yang ada di sisi kanannya juga sudah padam, kehabisan bahan bakar. Li Xian terbenam dalam lamunanya sendiri sedari tadi Tengah malam sudah lewat seiring dengan meredupnya lampion-lampion itu perlahan redup juga keyakinannya berubah menjadi kekecewaan. “Pangeran!” Sebuah suara memanggil dengan kencang dari kejauhan, saat itu suasana danau sudah sangat sepi. Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap muncul dari kegelapan, wajahnya menyiratkan ekspresi kepanikan. “Ada apa Chyou? kau seperti baru saja di kejar hantu...” “Pangeran, ada masalah, pejabat Hou….Pejabat Hou Linhe…”Chyou berkata sambil terengah-engah. “Ada apa dengan Pejabat Hou.” “Dia ditemukan tewas di dalam sel penjara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN