Hanya dua puluh orang yang masuk ke Kota Yizhou bersama rombongan Jendral Yan. Tak banyak, namun cukup membuat kehebohan Kota Yizhou, tak terkecuali bagi Hou Linhe, pejabat tertinggi di kota itu. Ia sama sekali tak pernah menduga kalau Jendral Yan Huiyin yang biasanya bertugas di perbatasan timur bisa tiba-tiba muncul entah dari mana bersama dengan pasukan dan kasus itu di tangannya, panik, ia buru-buru meluncur ke gerbang ibu kota untuk menyambut sang jendral, tak peduli bagaimanapun Jendral Yan adalah seorang Jendral besar, terhormat dengan posisi yang yang tidak main-main, bahkan kontribusinya sudah diakui langsung oleh yang mulia kaisar. Sepanjang perjalanan keringat dingin terus mengucur dari kening pejabat Hou. Bagaimana bisa bisnis perdagangan wanita yang sudah berjalan mulus selama beberapa waktu itu sekarang mendadak terbongkar? Bagaimana kalau sang jenderal sudah tahu kalau ia dalang di balik semua ini? Bukti apa yang ada di tangan jenderal itu? Sedari tadi pikirannya dipenuhi pikiran bermacam-macam, namun kemudian setelah beberapa saat ia tersenyum culas, ia sudah menjalankan bisnis kegiatan ilegal ini selama bertahun-tahun dengan sangat rapi, kalaupun para komplotan itu tertangkap, mereka tak akan pernah membawa-bawa namanya, bukan perkara loyalitas namun karena selama ini tangannya tak pernah terhubung secara langsung dengan mereka, jadi cara apapun yang dilakukan untuk membuat mereka membuka mulut tak akan menghasilkan apapun selain sebongkah angin kosong.. Lagi pula nyaris semua pejabat-pejabat berpengaruh yang ada di kota ini semuanya ada di genggaman tangannya, sejak mereka sudah menerima suap darinya tak ada alasan bagi mereka untuk menghianatinya, bagaimanapun ia memikirkannya tak ada celah, hal seperti ini tak akan mampu menjatuhkannya.
Kereta kuda yang dikendarainya berhenti tepat di depan gerbang ibu kota tak lama setelah rombongan jenderal Yan datang, dengan segera pria tua itu turun dari kereta kuda dengan dibantu oleh pelayannya dan berjalan untuk menyambut rombongan jendral Yan. Angin yang bertiup mengibaskan rambutnya yang sebagian sudah memutih, ia mengenakan pakaian resmi pejabat pemerintahan, sebuah hanfu coklat dengan bordiran benang emas di bagian tepiannya, sekilas nampak sangat berwibawa.
Keduanya saling memberikan salam dan hormat, “Jendral Yan, aku sungguh berterima kasih karena anda telah membantu mengungkap sindikat ini, sebagai pejabat yang berwenang aku sudah berjuang menyelidiki kasus ini namun belum berhasil. aku sungguh merasa tak berguna.” Kata Hou Linhe sembari merendah begitu ia berada di depan Jendral Yan, merendah namun tetap membela diri.
Jendral Yan tersenyum ramah, ”ha ha ha kebetulan saja anak buahku mengendus mereka, sebagai bagian dari warga negara Daxiang bagaimana mungkin aku membiarkan kejahatan seperti ini, maafkan aku jika sudah ikut campur di wilayahmu Pejabat Hou.” Jendral Yan berkata sopan sembari menangkupkan tangannya.
“Tidak..tidak jendral justru aku yang merasa sangat berterima kasih kepadamu.”Jawab Pejabat Hou berbasa-basi.
Li Xian memutar bola matanya rasanya ia sudah cukup kenyang melihat basa basi si pejabat culas itu dari kejauhan. Pria tua dengan jenggot panjang itu nampak seperti seekor rubah culas di matanya, rasanya ia sudah gatal ingin buru-buru menjebloskan pria itu ke jeruji besi.
****
Malam harinya Pejabat Hou mengadakan jamuan besar untuk menyambut Jendral Yan dan seluruh prajuritnya sekaligus untuk merayakan keberhasilan dalam meringkus komplotan itu. Sebuah jamuan yang bisa dibilang cukup mewah. Berbagai makanan dihidangkan lengkap dengan tarian dan musik.
“Silahkan menikmati jamuan ini jendral,” ujar Hou Linhe mempersilahkan kepada tamunya
“Terima kasih jendral Hou kami sungguh merasa terhormat atas jamuan ini.” Jendral Yan menangkupkan tangannya ke arah Pejabat Hou.
“Anda tak perlu sungkan Jendral Hu lagipula ini bukanlah apa-apa, Jendral hu dan para pasukannya sudah berjuang menjaga perbatasan kita belum lagi harus menangani perkara ini, aku sungguh berhutang budi., jarak perbatasan dengan kota ini tidaklah terlalu jauh, aku akan mempersiapkan jamuan terbaik untuk para prajurit kapanpun mereka mau.”
“Jendral, mengenai para criminal itu…apakah kau sudah menginvestigasi mereka?” Setelah sedari tadi berbasa-basi akhirnya Hou Linhe mengucapkan apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi. Akhirnya
“Tentu saja….” kata Yan Huiyan, jawaban itu membuat Hou Linhe menelan ludah. “Tapi mereka hanya komplotan serakah yang melakukan apapun demi uang, mereka bahkan tak tahu siapa dalang dibalik semua ini.” Yan Huiyin berhenti sesaat sembari menatap tajam pejabat tua itu. “Pejabat Hou…”
“Ya?” Jantungnya kembali berdetak kencang, penasaran dengan apa yang akan dikatakan Jendral Yan selanjutnya.
“Komplotan ini, akan kuserahkan pada pengadilan dan penyidik di kota ini, karena ini bukan ranahku, lagipula ini adalah wilayah di bawah kepemimpinan Pejabat Hou, aku yakin kau akan memimpin penyelidikan kasus ini dengan seadil mungkin.”
Sial jendral muda ini benar-benar membuatku senam jantung! “Tenang saja jenderal Yan, kau bisa mempercayakan kasus ini kepadaku, kupastikan aku akan menyelidiki kasus ini hingga ke akarnya jendral, tak akan ku biarkan seekor semut pun lolos.” Wajah Hou Linhe kembali sumringah sekarang ia bernafas lega, kasus itu di serahkan padanya artinya posisinya saat ini sudah aman. Pejabat kehakiman dan kepala polisi di kota ini semuanya ada di bawah bayang-bayangnya, ia bisa menyetir mereka sesuka hati, jadi taka ada yang perlu ia khawatirkan lagi. “Jendral Yan, anda pasti sibuk mengurusi perbatasan tentunya aku tak akan membebanimu dengan kasus remeh temeh seperti ini.”
“Oh, ngomong-ngomong tentang perbatasan kau mengingatkanku satu hal, tempo hari di markas perbatasan aku pernah menerima kabar angin bahwa ada yang menyelundupkan serbuk mesiu di kota ini.”
Kalimat terakhir itu membuat Pejabat Hou nyaris tersedak, seketika keringat dingin membasahi keningnya, ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya bisa kembali mengontrol dirinya kembali, “Sejak itu kabar angin aku yakin itu semua hanya omong kosong jendral, kota ini sangat patuh terhadap hukum kaisar tak ada yang berani senekat itu ha ha ha, Tapi…agar lebih yakin anda besok bisa melakukan penyelidikan ke seluruh sudut kota ini Jendral.”Ucapan itu mengalir begitu saja, terlepas entah dari mana datangnya kabar angin itu, Hou Wenxi tahu betul kalo kabar itu adalah sebuah kenyataan, dan kini kalimat terakhir yang ia ucapkan sekarang ia benar-benar menyesalinya. Ketika tadi siang mendengar kabar mengenai terbongkarnya kasus itu ia buru-buru menuju ke gerbang ibu kota, lagipula di kota ini taka ada satupun jejak yang berkaitan dengannya. Tapi soal mesiu….ia sama sekali tak menduga Jendral muda itu akan membawa-bawa soal mesiu. Apa yang membuatnya saat ini berkeringat dingin adalah keberadaan mesiu-mesiu yang ia sembunyikan. Meskipun tak berada di tempat yang terlihat namun jika prajurit-prajurit ini melakukan pencarian bukan tak mungkin mereka akan menemukannya, dan bisa dengan segera menghubungkannya dengan diri nya, Kali ini Hou Linhe benar-benar dibuat memutar otak.
Selesai menyajikan hidangan makanan di aula kota, Hou Linhe keluar beberapa saat dan kemudian masuk kembali dengan sebaris pelayan wanita yang membawa cangkir-cangkir arak di tangannya, wanita wanita itu sangat cantik, dengan pakaian satin berwarna kuning yang berkilauan mereka menuangkan gelas-demi gelas arak kepada setiap tamu yang ada di aula itu.
Arak yang mereka sajikan memiliki pengaruh sangat kuat, beberapa teguk saja sudah membuat para prajurit itu sempoyongan.
Sementara itu di luar aula Li Xian diam-diam sedang duduk santai di atas atap bangunan tak jauh dari aula tempat jamuan diadakan, matanya awas menunggu mangsa masuk kedalam perangkap yang sudah disiapkan. Beberapa saat kemudian Jendral Hou, keluar dari dalam membisikan sesuatu kepada seorang pria bawahannya sebelum akhirnya masuk kembali kedalam aula bersama sebaris gadis yang membawa teko-teko arak. Begitu sang tuan kembali masuk, bawahan itu buru-buru berbalik dan menuju suatu tempat, Li Xian perlahan mengikutinya. Pria itu itu berjalan buru-buru bersama sekelompok orang, mereka menuju ke arah sebuah bangunan kosong yang terletak di bagian paling belakang kediaman Hou Linhe, kemudian dengan buru-buru memindahkan peti-peti kemas dalam jumlah yang banyak kedalam sebuah kereta yang sudah terparkir di tepi jalan. Tak lama kemudian Hou Linhe datang ke halaman itu, seluruh orang yang ada disana menunduk memberikan hormat.”
“Tuan mengapa anda kemari?” Tanya salah seorang bawahannya terkejut oleh kedatangan tuannya
“Tenang saja, prajurit-prajurit bodoh itu sekarang sedang bersenang-senang di alam mimpi,” kata Pejabat Hou sambil tersenyum puas, “Sekuat apapun toleransi alkoholnya, tak ada yang bisa melawan kuatnya arak Fuan milikku. Sekarang cepatlah pindahkan peti-peti ini ke tempat aman dan jangan sampai meninggalkan jejak.”
“Mau kau pindahkan kemana peti-peti itu tuan?” Sebuah suara menyaut dari kejauhan, membuat orang-orang yang ada di tempat itu serempak menoleh ke arah datangnya suara. Li Xian datang melenggang dengan santai, berjalan ke arah Pejabat Hou.
“Siapa Kau? Berani-beraninya masuk ke tempat ini?” Hou Linhe mengerutkan alisnya.
Li Xian mengabaikan pertanyaan Pejabat Hou dan berkata. “Wah berani sekali kau memindahkan peti-peti ini, apa kau lupa ada Jendral Yan Huiyin di kediamanmu saat ini?.”
“Huh Jendral Yan, aku khawatir saat dia bangun besok pagi, tak ada yang akan tersisa di tempat ini, cukup! hentikan basa-basimu, karena kau sudah melihat semua ini nyawamu juga sayangnya akan melayang detik ini juga.” Jawab Pejabat Hou dengan pongahnya
Sepasukan anak buah Pejabat Hou baru saja akan menyergap Li Xian saat tiba-tiba sekelompok prajurit muncul entah dari mana asalnya, Jendral Yan pun ada di antara mereka.
“Jen…Jen…Jendral bagaimana kau bisa ada disini?” Tanya Hou Linhe dengan terbata-bata, wajahnya mendadak pucat pasi.
Wah aku tak menyangka orang selicik kau bisa seceroboh ini Pejabat Hou, taktik arak murahanmu itu tentu saja tak akan mempan pada kami.” Jawab Jendral Yan. Yan Huiyin dan Li Xian sudah sedari awal menebak trik murahan ini, sehingga sebelum menghadiri jamuan Yan Huiyin dan para prajuritnya sudah terlebih dahulu meminum pil penangkal mabuk, dan Hou Linhe tentunya sama sekali tak pernah menduga hal ini.
“Taktik? Taktik apa maksudmu jendral?” Bahkan dengan semua bukti yang sudah terpampang di depan mata Hou Linhe masih tetap keras kepala dan mengelak dari kesalahan.
Seorang pria menghadap kepada Jenderal Yan sambil mengangkat dua buah peti yang tadi sudah sempat dinaikkan ke dalam kereta-kereta, setelah dibuka isinya adalah kepingan-kepingan emas dengan jumlah tak masuk akal, sementara peti yang lain berisi bubuk mesiu
“Aku tak menyangka kekayaanmu sangat melimpah Pejabat Hou, dan aku yakin emas-emas didalam peti ini tak terdaftar dalam laporan hartamu. Ah, dan juga bubuk mesiu ini…Kau bisa menjelaskannya?” Yan Huiyin menatap tajam ke arah pria yang mulai gemetaran itu. Semua pejabat dan bangsawan yang ada di Kerajaan Daxiang harus melaporkan kekayaannya kepada pemerintah, semua ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan pajak, penyelundupan, maupun korupsi, dan sekarang ketika pejabat seperti Hou Linhe memiliki emas-emas yang jumlahnya luar biasa tentunya hal ini akan menjadi sebuah kecurigaan.
“Itu...…aku…aku baru saja menyitanya dari seorang bandit dan baru saja berniat untuk melaporkannya padamu esok pagi jendral.” Kata Jendral Hu masih berusaha mengelak dengan suara terbata-bata.
“Oh ya? Tapi tadi kau mengatakan kalau kau tak tahu menahu tentang bubuk mesiu.”
“Ah itu karena aku lupa, dan sekarang aku baru saja teringat.”
Li Xian memutar bola matanya mendengar jawaban tak masuk akal ini, ia sudah cukup kenyang melihat semua omong kosong ini. Ia menatap tajam ke arah Hou Linhe dan kembali teringat laporan-laporan yang diberikan oleh putra mahkota tempo hari. pria ini adalah peran utama dari kejahatan-kejahatan itu, Li Xian sudah bertekad tak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Chyou datang setengah berlari dengan napas terengah-engah, terdapat beberapa gulungan dokumen dan menyerahkannya kepada Li Xian.
Li Xian membaca sekilas dokumen itu, dan tersenyum puas.
Ia melempar gulungan dokumen itu tanah, dan berkata dengan tajam, “Bagaimana dengan semua bukti-bukti ini? kau bisa menjelaskannya?
“Itu…Itu….” Hou Linhe sudah mulai gelagapan ketika satu persatu bukti di tumpahkan padanya.
“Cukup, jelaskan alasanmu itu di pengadilan nanti.”
Hou Linhe jatuh berlutut kali ini ia sudah benar-benar mati kutu, berikutnya dua orang prajurit meringkus Jendral Hu bersama anak buahnya.
*****
“Sampah!” Li Xian terus-terusan mengumpat saat membaca dokumen-dokumen transaksi yang ditemukan ruangan tersembunyi di dalam kediaman Hou Linhe.
“Pangeran, anda belum tidur?” Chyou bertanya saat melihat tuannya masih sibuk membolak-balik setumpuk dokumen padahal waktu sudah hampir tengah malam.
“Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penggelapan pajak, transaksi gelap, sepertinya tak ada kejahatan yang belum dilakukan oleh si b******k ini dia benar-benar serakah, dia menyalahgunakan kekuasaanya selama bertahun-tahun. Tapi sepintar apapun bangkai disembunyikan lama kelamaan akan tercium juga baunya.”Li Xian menggerutu sambil terus membolak-balik dokumen yang ada di tangannya..ia kemudian terdiam sesaat, matanya terpaku pada sebuah dokumen. ”Chyou lihatlah!” serunya sambil menunjukkan angka-angka yang ada di dalam dokumen itu. “Jumlah mesiu yang pernah didatangkan dari luar, ini jumlah yang sangat besar, bahkan kalau di total bisa mengisi penuh sebuah ruangan.”
Chyou mencoba mengingat-ingat mesiu yang berhasil disita dari gudang milik Pejabat Hou.” Kupikir yang kita sita jumlahnya tak sebanyak ini. Lalu pergi kemana mesiu-mesiu itu.
“Itu yang harus kita cari tahu, aku khawatir barang itu akan berada di tangan yang salah.”
Kita harus melaporkan informasi ini kepada penyelidik.”
Benar, tapi bukan kepada penyelidik kota ini, entah kenapa aku merasa kalau Pejabat Hu juga bersekongkol dengan pejabat-pejabat di departemen lain, kau ingat kan Tan Wei sebelumnya pernah melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian di kota ini tapi mereka malah tak menggubrisnya sama sekali, dan membuat kejahatan ini semakin berlarut-larut. Aku sudah mengirimkan pesan kepada putra mahkota agar mereka mengutus penyelidik yang berintegritas untuk mengusut kasus ini.” Li Xian terdiam sesaat saat ia tiba-tiba mengingat sesuatu, “Chyou apakah kau menemukan stempel cap bunga aprikot di antara barang bukti?”
Chyou menggeleng.” kami sudah mengobrak-abrik tempat ini dan tak menemukan benda itu pangeran.” Awalnya Li Xian berpikir bahwa cap itu adalah milik Hou Linhe, namun kini cap itu tak ditemukan di manapun ada kemungkinan kalau cap bunga aprikot itu milik orang lain, seseorang yang saat ini masih sebuah misteri.