Reinforcement

1668 Kata
Li Xian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mundur beberapa langkah dan menjatuhkan pedang yang ada di genggamannya lalu meletakkan kedua tangannya ke atas sebagai isyarat bahwa ia telah menyerah, tak mempedulikan ekspresi ketidak setujuan Tan Wei, namun bagaimanapun ia tak mau ambil resiko dengan keselamatan gadis itu. Gerombolan itu langsung merasa menang, karena mereka mengetahui akhirnya mengetahui kelemahan lawannya. Tak mau membuang-buang kesempatan empat orang pria lantas mendekat memelintir lalu mengikat tangannya ke belakang kuat-kuat, sebuah tendangan di kaki dari arah belakang lututnya membuat Li Xian jatuh seketika jatuh dalam posisi berlutut. “Bagaimana bisa dia ada di sini?” Tanya sang ketua itu penasaran, karena bagaimanapun tempat ini sangat terpencil dan sangat sulit untuk dijangkau. “Hei hei hei, tunggu dulu…sepertinya wajahnya tidak asing.” Kata salah seorang anggota komplotan itu sambil memicingkan matanya ke arah Li Xian mencoba mengingat-ingat wajah yang nampak familiar. “Dia— dia—hei bukankah dia adalah si gadis bisu itu!” serunya sambil menunjuk ke arah Li Xian. Semuanya spontan mengarahkan tatapannya ke arah Li Xian. “Ooh Pantas saja si Botak menghilang entah kemana setelah pergi bersamanya, jadi ternyata kau…” “Cuih berani-beraninya kau menyusup dan membodohi kami, setelah masuk ke kandang singa jangan harap kau bisa lolos begitu saja, hajar dia! Jangan beri ampun!” perintah si ketua diikuti dengan antusiasme para anak buahnya. Tan Wei merasakan kedua lututnya mendadak lemas, hatinya seketika diselubungi perasaan bersalah, ia berteriak memohon agar-orang-orang itu berhenti memukulnya, namun sia-sia, orang-orang itu malah semakin bersemangat, tendangan demi tendangan bertubi tubi menghujani sekujur badan Li Xian sekalipun ia telah jatuh tersungkur, mendadak sebuah tendangan mendarat mengenai bagian samping kepalanya, membuat seketika dunianya berputar, suara-suara lebah berdengung kencang di telinganya tak mau pergi, darah segar mengalir dari sudut bibirnya, kali ini ia benar-benar dibuat tak berdaya. Ditengah keputusasaan itu tiba-tiba sebuah panah melesat dari kejauhan menancap tepat di punggung salah satu anggota komplotan itu, di ikuti dengan derap langkah kuda yang semakin mendekat. Semua orang langsung mengalihkan perhatiannya ke arah datangnya suara, menebak-nebak siapa lagi yang datang. Akhirnya mereka datang juga.” Dalam keadaan babak belur sebuah senyum tersirat di bibirnya sembari mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. **** Bak pahlawan yang datang di saat genting, Chyou dan Jendral Yan Huiyin datang bersama dengan satu kompi pasukan bersenjata lengkap, kedatangan mereka benar-benar di waktu yang pas, terlalu pas, jika mereka datang lebih lama lagi Li Xian mungkin sudah habis di hajar oleh preman-preman barbar itu. Kedatangan pasukan dalam jumlah besar mendadak membuat komplotan itu kocar-kacir berlarian ke segala penjuru mencoba melarikan diri seperti debu yang ditiup angin, mereka tampaknya benar-benar tak menduga dan tak memiliki persiapan kalau tempat ini akan ketahuan, musuh yang tadinya hanya satu orang bertambah menjadi berkali-kali lipat melebihi jumlah mereka, belum lagi mereka adalah prajurit bersenjata lengkap. Dalam sekejap komplotan itu sudah ditangkap, termasuk mereka yang berpikir telah berhasil meloloskan diri, dikepung oleh prajurit yang sudah siap dengan busur panahnya, di bawah instruksi Jendral Yan Huiyin mereka semua di paksa untuk menyerah. Tak ikut dalam huru-hara itu, Tan Wei dan Chyou seketika berlari ke arah Li Xian yang masih terduduk lemas sembari bersandar di batang pohon yang ada di belakangnya, menikmati pertunjukan dengan tangan masih terikat ke belakang. “Huanran….kau baik baik saja?” matanya nampak berair suaranya terdengar tercekat. “Hei Xu Xiaojie kenapa kau menangis?” Tanya Li Xian. “Siapa yang menangis? aku tidak menangis,” Gadis itu mencoba mengelak meski sudah jelas-jelas bulir-bulir air mata membasahi pipinya hingga matanya memerah, “Maafkan aku…maafkan aku...karena aku, kau jadi seperti ini….” pada akhirnya ia tak bisa lagi menahan air matanya dan menangis sesenggukan, untuk pertama kalinya Li Xian melihat gadis itu menangis, dan tangisan yang disebabkan karena dirinya “Tenang aku tak apa-apa, lihatlah aku masih sehat dan bisa berbicara padamu, apa kau lupa kalau kulitku ini tebal seperti kulit kuda.” kata Li Xian mencoba menenangkan gadis didepannya, tapi ternyata malah membuat gadis itu semakin merasa sedih, karena tak peduli meski laki-laki ini tersenyum dan berkata dirinya tak apa-apa tapi nyatanya wajahnya nampak babak belur, dan tubuhnya lebam karena bekas tendangan yang tanpa ampun. “Gongzi apakah anda sungguh baik-baik saja?” tanya Chyou dengan ekspresi tak kalah khawatirnya, sambil melepaskan tali yang mengikat tangan tuannya kemudian membantunya berdiri. “Kalau kau datang sedikit lebih lambat mungkin aku akan pulang tinggal nama Chyou.” Li Xian berkata dengan santainya. “Pei pei pei Gongzi… tolong jangan berkata hal-hal sial seperti itu, maafkan aku karena datang terlalu lama.” “Hei sudah sudah, sampai kapan kalian berdua mau memasang wajah mendung seperti itu, tenang saja tulangku ini sangat tebal tak akan mudah dipatahkan, aku baik-baik saja, lihat aku juga bisa berdiri tegak.” Sambil berkata demikian Li Xian mencoba berdiri tapi mendadak tubuhnya terhuyung karena salah satu kakinya nampaknya terkilir tapi dengan segera ia memperbaiki posisi tubuhnya dan berdiri tegak, “ha ha ha itu bukan apa apa, lihat kalian sudah percaya kan? **** Di bawah instruksi Jendral Yan segala huru-hara itu segera teratasi, setelah itu sang Jendral berjalan mendekat ke arah Li Xian. “Pange—” Jendral Yan hendak membungkuk memberi hormat kepada Li Xian ketik pemuda itu menariknya tangannya dan menjauh dari tempatnya berada. “Pangeran ada apa?” tanya Jendral Yan keheranan. “Jendral, aku sedang dalam misi penyamaran, kau hampir saja membongkarnya, jangan menyebutkan namaku, oke.” “Oh, maaf aku tak tahu pangeran” Jendral Yan buru-buru membungkam mulutnya.” “Berhenti memanggilku seperti itu, panggil saja aku Huanran.”, kata Li Xian lirih yang diikuti oleh anggukan Jendral Yan. Tak lama kemudian Tan Wei datang mendekat dan di ikuti oleh Chyou. “Ah Jendral, kenalkan ini adalah temanku Tan Wei. Tan Wei ini adalah Jendral Yan yang bertugas di perbatasan timur.” Tan Wei memberikan hormat kepada Jenderal Yan. “Kalian…kalian sudah saling mengenal.” Tanya Tan Wei penasaran. Pertanyaan Tan Wei seketika membuat ketiga pemuda itu terdiam dan tertawa canggung. “Ah ha ha ha iya, aku mengenal Jendral Yan saat melakukan perjalanan ke perbatasan dan tak sengaja bertemu dan mengenalnya, benarkan jenderal?” kata Li Xian sambil mengedipkan matanya ke arah Jendral Yan. “Ha ha ha Betul betul betul.” Sahut Jendral Yan dengan segera. Tan Wei nampak ragu sesaat sebelum akhirnya berkata“Huanran, Chyou sepertinya tak ada yang bisa kulakukan lagi disini, sepertinya aku harus segera kembali bersama Yihua, Ibunya…kami tak bisa meninggalkannya terlalu lama dan luka tusukan panahnya semakin parah, kami harus segera kembali ke kota untuk mengobatinya.” Li Xian terdiam sejenak entah mengapa ada perasaan berat untuk melepas gadis itu, jika memungkinkan ia ingin ikut mengantar gadis itu hingga ke Yizhou dengan begitu mereka bisa lebih lama lagi bersama, tapi ia memiliki tugas yang masih belum terselesaikan, jadi ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk, “baiklah aku mengerti Tan Wei, kau yakin tak apa-apa kembali ke kota bersama dengan Yihua?” Li Xian lalu menoleh ke arah jendral Yan, “Yan Dage bisakah kau meminta beberapa prajuritmu untuk mengantar dua nona ini ke kota Yizhou?” Tanpa berpikir panjang Jendral Yan segera menjawab,”Tentu saja pa..eh Huanran, aku akan memastikan nona ini sampai dengan selamat di Yizhou.” “Terima kasih Dage.” Huanran membungkuk dan menangkupkan tangannya, membuat Jendral Yan menjadi salah tingkah. “Senang bisa bekerja sama denganmu.” Tan Wei mengulurkan tangannya ke arah Li Xian. Li Xian buru-buru mengulurkan tangannya, berjabat dengan gadis itu “Aku juga.” Entah mengapa tiba-tiba pembicaraan mereka menjadi sedikit kaku. **** Sesuai permintaan, Jendral Yan mengutus beberapa orang prajuritnya untuk mengawal Tan Wei dan Yihua untuk keluar dari tempat terpencil ini, sementara yang lain masih berada di tempat ini membahas mengenai langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. “Tan Wei!” Seru Li Xian setelah gadis sudah bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Entah mengapa tiba-tiba Ia berlari mendekat ke arahnya. “Festival Lampion nanti aku akan menunggumu di sungai di pinggir kota tempo hari, kau masih ingat kan?...apakah kau bersedia untuk datang?” Tan Wei menatap pemuda itu tanpa sepatah katapun namun di barengi dengan senyum dan anggukan, dan kemudian membalikkan badannya, bayangan punggung gadis itu perlahan menjauh. ***** Beberapa saat kemudian seorang komandan pasukan datang menghadap melaporkan hasil penyelidikan sementaranya, “Lapor Jendral, komplotan itu tetap tak bisa memberikan jawaban mengenai otak mereka mereka.” “Bagaimana dengan si ketua itu?” Tanya Li Xian. Ia juga tak tahu, selama ini mereka hanya bertransaksi tanpa melihat satu sama lain. “Huh, sama seperti yang dikatakan si botak itu, entah karena mulut mereka terlalu rapat atau memang karena mereka benar-benar melakukan kejahatan ini tanpa mengetahui siapa otak mereka.” “Bagaimana kalau kasus ini kita serahkan kepada otoritas setempat?” Usul Jendral Yan. Li Xian terdiam, sedari awal ia sudah curiga pejabat di wilayah ini berkaitan dengan kasus ini, menyerahkan penjahat ini kepada otoritas setempat sama saja dengan menyerahkan barang bukti kepada tersangka. “Apalagi… Chyou kau ingat serbuk mesiu yang kita temukan tempo hari bukan, kita belum menemukan di mana barang itu dipindahkan.” “kemungkinan mereka menaruhnya di satu tempat di dalam kota.” “Ah aku ingat,” Li Xian seketika berlari masuk ke arah bangunan dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa sebuah dokumen. Li Xian kemudian membuka dokumen itu dan menunjukannya pada orang-orang didepannya yang sedari tadi meunggu dengan penasaran“Apa kalian mengenali lambang ini?” Jendral Yan dan Chyou mendekat lalu memperhatikan cap yang di tunjukkan oleh Li Xian, kemudian menggeleng. “Aku tak pernah melihatnya.”Kata Chyou, Jadi maksudmu cap itu bisa menjadi petunjuk untuk kita bukan? selama kita bisa menelusuri cap bunga aprikot ini kita akan bisa melacak dalang di balik kasus ini.” “Tepat.” Seru Li Xian. “Jadi….” “Jadi sekarang kita harus ke ibu kota bersama para gadis-gadis ini ini, dan memberikan kejutan untuk pejabat itu.” “Kita buat tikus itu menggigit umpannya sendiri. Ketiganya setuju dengan ide dari Li Xian dan mulai untuk menyusun strategi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN