Delay

1496 Kata
Li Xian berjalan menyusuri jalan setapak di antara padang rumput sembari mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Chyou semalam, di bawah matahari yang cukup menyengat peluh tak hentinya menetes dari keningnya. Hatinya semakin tak tenang memikirkan bahwa transaksi akan segera dilakukan, sekali gadis-gadis ini di jual ke negara tetangga maka akan semakin sulit untuk menyelamatkan mereka dan membongkar sindikat ini. Saat ini ia benar-benar berharap agar pasukan bantuan dari perbatasan timur bisa segera tiba, Li Xian terus memutar otak mencari rencana cadangan kalau-kalau pasukan bantuan terlambat datang, namun pikirannya sulit untuk diajak bekerja sama saat ini ditambah lagi semalaman ia tak tidur sama sekali. Perkataan pria botak itu kembali terngiang di kepalanya. ‘Dalang dari kejahatan ini adalah seorang pejabat berpengaruh di Kota Yizhou’. Pejabat berpengaruh, Yizhou, semakin kuat keyakinanya kalau pejabat Hou yang menjadi tujuannya datang ke kota ini mungkin saja terlibat, atau bisa saja dialah otak di balik semuanya, namun sayangnya jawaban yang diberikan si botak tidak menyeluruh, setelah berbagai ancaman dan intimidasi si botak itu tetap tak bisa memberikan jawaban mengenai identitas sebenarnya dari dalang yang ada di belakang layar, nampaknya selama ini mereka memang benar-benar tak pernah berinteraksi secara langsung. Karenanya ia tak punya pilihan lain selain membuat pria botak itu pingsan mengikatnya di ruangan jerami dan membungkam mulutnya, memastikan bahwa dia tak akan kabur dan berkoar-koar mengenai identitasnya. Sejauh ini bahkan tak ada satupun dari komplotan itu yang sadar mengenai apa yang terjadi dengan rekan mereka atau bahkan mungkin tak peduli sama sekali, yang jelas di bayangan mereka hanyalah si botak sedang bersenang - senang dengan si gadis bisu. Setelah menyusuri jalan setapak yang berkelok kelok langkahnya mendadak terhenti, sebuah danau membentang tepat di depan matanya, namun tak hanya itu danau itu berukuran sangat besar hingga ujung-ujung di seberangnya nyaris tak kelihatan sama sekali, selain danau itu ada hal lain yang jauh lebih menyita perhatiannya dan membuatnya semakin was-was. Sebuah kapal layar tengah berlayar di tengah danau, semakin lama kapal itu semakin mendekati tepian, tepi dimana Li Xian berada saat ini. Mereka datang. Li Xian sudah bisa menebak tujuan kapal itu kemari, perlahan kapal itu semakin mendekat. Ia menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Chyou pasti butuh waktu untuk kembali kesini bersama pasukan, bagaimana kalau gadis-gadis itu terlanjur dibawa pergi? semuanya akan menjadi semakin sulit. Komplotan itu berjumlah sekitar tiga puluhan orang, itu masih jumlah kasar yang ia hitung dan ia belum tahu ada berapa orang lagi di dalam kapal yang mendekat itu. menyelamatkan gadis-gadis itu seorang diri nampaknya konyol dan malah akan membahayakan mereka, sekarang satu-satunya cara adalah menunda keberangkatan kapal itu, setidaknya hingga Chyou dan pasukan bantuan datang, entah bagaimanapun caranya. **** Benar dugaannya, perahu itu perlahan mendekat dan kemudian bersandar tak jauh dari tempat Li Xian menyembunyikan diri, lima orang keluar dan berjalan meninggalkan perahu menyusuri jalan-jalan berumput menuju ke tempat bangunan kayu itu berada dan hanya meninggalkan seseorang pria muda yang menunggu dengan santainya di tepi danau, nampaknya pemuda itu ditugaskan untuk menjaga perahu atau jangan-jangan dia adalah nahkoda kapal. Dalam keadaan terdesak kelebatan ide muncul satu persatu di kepalanya, jika pemuda itu benar-benar nahkodanya, maka melumpuhkannya akan sangat berguna, tapi bagaimana jika bukan? Bagaimana jika anggota yang lain ternyata juga bisa mengendalikan kapal...selain melumpuhkan nahkodanya hal apa lagi yang bisa ku lakukan untuk mencegah keberangkatan mereka... Mereka tak akan bisa membawa gadis gadis itu pergi tanpa perahu ini. Lubang! ya lubang! jika aku bisa melubangi perahu ini setidaknya ini akan bisa menunda kepergian mereka. Li Xian seketika menjadi bersemangat lagi, rasa lelah dan kantuk yang sedari tadi menggelayut rasanya hilang seketika, ia buru-buru menyusun rencana di dalam pikirannya. Dengan langkah senyap tanpa suara Li Xian mengendap-ngendap mendekati lelaki yang berdiri di tepian danau itu, tak peduli ia nahkoda kapal atau bukan, melumpuhkannya adalah hal yang harus Li Xian lakukan. Lelaki itu terlambat menyadari keberadaan Li Xian, ia baru saja akan melawan saat tau-tau Li Xian memukul titik vitalnya dari belakang hingga ia pingsan seketika. Li Xian bergegas masuk ke dalam perahu. Ia mencari-cari alat-alat palu, kapak, atau apapun yang bisa ia gunakan untuk melubangi perahu, namun nihil ia tak menemukan apapun. Namun sepertinya kali ini keberuntungan sedang berpihak padanya, matanya berbinar saat ia melihat sebuah tungku api, tungku itu nampaknya digunakan sebagai penghangat di dalam perahu. Ide lain muncul. ia seakan baru saja menemukan sebuah harta karun. Li Xian tersenyum penuh penuh kemenangan, cara ini akan lebih cepat apalagi mengingat waktunya tak banyak. Ia bergegas keluar mencari benda-benda yang bisa digunakan untuk menyulut api, Kain, dedaunan kering, ranting kay, setelah semuanya terkumpul Ia segera menyulut benda-benda itu dengan api yang berasal dari tungku. Mesin perahu dan layar kapal yang terkembang adalah sasaran utamanya, tanpa itu kapal ini tak akan bisa pergi kemana-mana, yang jelas tidak sampai tentara bantuan tiba. ***** Tan Wei dan gadis-gadis lain dibawa keluar dari rumah tahanan itu, mereka digiring menuju ke arah danau tempat di mana perahu berada. Sepanjang jalan dari bangunan hingga ke danau Tan Wei terus menyapu pandangan ke sekelilingnya berharap bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Huanran, sedari tadi malam ia tak mengetahui keberadaan pemuda itu sama sekali selain perkataan aneh barusan yang mengatakan kalau ‘gadis itu’ sedang bersenang-senang dengan si botak. sedari tadi ia tak melihat bayangan Li Xian barang setitikpun. “Asap! Lihat disana ada asap!!!” Tiba-tiba salah seorang dari komplotan itu berteriak nyaring, menunjuk ke arah kapal layar yang sudah kelihatan dari jarak jauh, mereka spontan berlari ke arah sumber datangnya asap. Benar saja si jago merah sudah ikut berkobar-kobar melalap sedikit-demi sedikit layar kapal yang terkembang dan mesin kapal layar, asap hitam nampak keluar dari kapal layar itu, angin yang bertiup kencang membuat api semakin cepat merambat. ”Ada apa ini!? cepat padamkan apinya!” teriak sang ketua komplotan sambil menggertakkan giginya dengan marah apalagi saat melihat nahkoda kapal sudah jatuh tersungkur di tanah, semakin menunjukkan kalau kebakaran ini memang disengaja oleh seseorang. “Siapa yang berani-beraninya melakukan ini?!” Sialnya saat komplotan itu datang Li Xian belum sempat meninggalkan kapal, tak mudah untuk membuat api itu membesar dan terus menyala, ia tak bisa segera pergi karena harus memastikan api itu membakar mesin dan layar kapal ini memastikannya tak bisa difungsikan lagi tentunya karena jika api itu padam sebelum membakar mesin dan layar kapal maka usahanya akan sia-sia, dan kini saat ia keluar dari dalam kapal komplotan itu sudah menghadangnya di luar dengan tatapan penuh amarah, seperti sudah siap untuk mencincang dan membakarnya hidup-hidup bersama dengan api yang baru saja ia sulut. Li Xian tahu tak punya pilihan lain selain bertarung menghadapi mereka semua, Li Xian mengepalkan tangannya, mengambil posisi ancang-ancang bersiap untuk bertarung. Tan Wei membeku sesaat, ia benar-benar mengkhawatirkan pria itu, satu melawan orang sebanyak ini? Ini sama saja dengan bunuh diri! Tiga orang maju sekaligus menyerang Li Xian, bukan hal yang sulit bagi Li Xian, ia menghindar, mengelak mengikuti arah serangan pedang ketiga lawannya kesana kemari dengan gerakan yang sangat ringan, jelas hal ini membuat ketiga orangnya itu semakin emosi dan menyerang membabi buta tak karuan, dan kemudian secepat kilat Li Xian memberikan tendangan akhir tepat di ulu hati membuat tiga orang itu seketika terlempar dan jatuh tak berdaya, ia lalu melompat ke arah salah satu pria yang sudah terkapar tadi dan mengambil pedangnya. Lima orang lainnya kembali merangsak ke depan, kemampuan bertarung mereka jauh lebih baik dari kelompok sebelumnya. Nampaknya mereka sudah tidak lagi meremehkan lawan di depannya, suara pedang berdentingan bertubi-tubi, menimbulkan keramaian di sekeliling danau. “Prang” Pedang yang ada di tangan Li Xian patah menimbulkan bunyi berdentang, membuat lawannya semakin bersemangat. Sial, kenapa pedang ini ringkih sekali. Li Xian tak berhenti meskipun dengan pedang yang hanya tinggal sebagian ia terus berduel dengan lima orang itu, saat ia sedang fokus melawan lima orang itu, tanpa disadari seorang pria mencoba menembakkan sebuah anak panah sembunyi-sembunyi dari belakang. “Li Xian! Awas panah belakangmu!” Teriak Tan Wei, mendengarnya peringatan itu Li Xian refleks melompat menghindari anak panah yang nyaris saja menancap di tubuhnya. “Oh, jadi kau mau diam-diam menyerang dari belakang ya?” Li Xian berkata dengan santainya kembali menghindar dan memukul penyerang itu dan dengan segera menjatuhkan lawan selanjutnya satu per satu. Sang ketua komplotan menatap tajam kearah Tan Wei. Teriakan peringatan dari Tan Wei barusan membuat Li Xian tersadar dan berhasil menghindar, namun di sisi lain membuat sang ketua komplotan memiliki ide lain untuk menundukkan pria didepannya. “Jatuhkan pedangmu dan menyerahlah!” teriak pria itu, dalam sekejap Tan Wei merasakan sebilah tepian pedang sedingin es sudah menempel di lehernya, siap untuk menebas kapan saja, “Kau mengenal gadis ini bukan? menyerah atau kubunuh dia!” Melihat Tan Wei sudah ada di tangan mereka Li Xian seketika membeku, Kali ini Li Xian benar-benar tak berani bertindak ceroboh ataupun memainkan trik apapun karena salah satu langkah saja nyawa Tan Wei yang sudah di ujung tanduk yang akan menjadi taruhannya. Tan Wei menggeleng perlahan dan menatap Huanran lekat-lekat, atn Wei berusaha kuat menyembunyikan ketakutannya, mengisyaratkan sesuatu pada pemuda itu. Huanran, jangan pedulikan aku, jangan percaya pada mereka. ====================
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN