Disguise

1963 Kata
Dengan terampil dan cekatan Xu Tan Wei menyulap penampilan Li Xian, gadis itu tampaknya cukup berbakat, hanfu warna salem yang sudah agak kumal dan kebesaran cukup untuk menutupi postur badan pemuda itu, rambut hitam panjang yang biasanya di ikat sengaja diurai dan dibuat agak acak-acakan, ia juga menambah sedikit polesan agar semakin meyakinkan. Tepat seperti yang dikatakan Tan Wei, dengan sedikit sentuhan, wajah tampan pemuda itu seketika berubah menjadi wajah seorang gadis, nampaknya akan sulit untuk menyadari kalau gadis di balik pakaian kumal itu sebenarnya adalah seorang laki-laki. Xu Tan Wei menatap pemuda itu, dan berpikir betapa miripnya sekarang pemuda di depannya seperti seorang wanita gelandangan sungguhan “ckckck, sepertinya aku memang berbakat, sebagai wanita aku benar-benar merasa minder berdiri disampingmu Huanran Jiejie.” kata Tan Wei sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah ‘gadis’ di depannya menjadi salah tingkah. Ia tak bosan-bosannya memuji kemampuannya sendiri Chyou juga tertegun beberapa saat, nyaris tak bisa mempercayai kalau perempuan di depannya itu adalah tuannya. “Benar…..kenapa aku baru sadar sekarang ya.” Timpal Chyou masih dengan tatapan hampir tak percaya. “Sadar apa??“ Li Xian memelototi Chyou. “Uhmmm sadar kalau anda sangat jago menyamar ha ha ha.” Jawabnya sembarang sambil salah tingkah. Li Xian mengamati penampilannya sendiri dari ujung kaki hingga keatas, Kalau sampai Fu huang melihatku berpenampilan seperti ini bisa-bisa dia mencincangku hidup-hidup. Li Xian mendengus kesal, seumur hidup ia tak pernah membayangkan kalau dirinya harus berdandan seperti ini dan harus berpura-pura menjadi seorang wanita, tapi apa boleh buat ini adalah rencana terbaik saat ini, demi memecahkan kasus ini apapun akan ia lakukan. “Oh ya satu lagi, suaramu…kalau gadis secantikmu tau-tau memiliki suara berat dan besar seperti itu bisa-bisa detik itu juga mereka akan lari ketakutan.” “Hmmm bagaimana cara mengubah suaraku? Ini bukan seperti penampilan yang bisa di poles sesuka hati...Ehem..ehem…uhuk..uhuk..aaaaa..uuuu..ooooo….” Li Xian langsung mencoba memodifikasi suaranya dengan berbagai trik, menekan kedua sisi cuping hidung dan menutup lubang hidung, namun yang keluar malah suara mirip curut, berbicara dengan menutup mulut, namun semakin ia mencoba malah suaranya terdengar semakin aneh, membuat dua orang di depannya benar-benar tak bisa menahan tawa lagi. Lelah mencoba berbagai cara, Li Xian terdiam cukup lama sebelum tiba-tiba sebuah ide muncul dari dalam pikirannya “Ah aku tahu! aku berpura-pura menjadi gadis bisu saja,” serunya tiba-tiba dengan wajah bersemangat. “Oh benar, Ide bagus! kenapa aku tidak kepikiran ya,” ujar Tan Wei menyetujui ide tersebut. **** Malam sudah semakin larut, pasar Tu yang terletak di ujung kota itu memiliki suasana malam yang benar-benar kontras dengan suasana ketika siang hari, suasana yang nyaris terjadi di semua pasar. Siang tadi tempat itu sangat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, keramaian nyaris terdengar dari setiap sudut toko yang berjajar rapi di sepanjang jalan, pembeli dan penjual saling bersahut-sahutan beradu keterampilan untuk menawar harga semurah mungkin menghadirkan irama tak beraturan namun menghidupkan suasana. Saat malam mulai datang suasana berubah, sudah tak ada lagi pembeli yang datang, satu persatu toko mulai tutup ditinggalkan pemiliknya dan jalanan perlahan berubah menjadi lengang. Malam dalam sekejap menyulap tempat itu menjadi tempat gelap dan sunyi, yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan menciptakan nyanyian malam yang menenangkan. Semakin malam satu persatu orang datang, ya mereka adalah gelandangan-gelandangan yang tak punya tempat tinggal, yang sengaja datang ke pasar ini di malam hari untuk sekedar menumpang tidur di teras-teras toko sepanjang jalan, mengambil alih teras-teras toko itu untuk sesaat, angin malam saat ini sedang bertiup cukup kencang, dinding–dinding teras toko yang terbuat dari kayu bergerak-gerak oleh hembusan angin namun itu sangat berguna untuk menghalau angin malam yang menusuk agar tak langsung menghantam tubuh-tubuh yang sudah mulai menggigil kedinginan itu. Chyou berjaga sambil bersembunyi tak jauh dari sana, bersandar di antara dua lorong sempit diantara dua toko, mata dan telinganya awas sedari tadi. Sementara itu Li Xian dan Xu Tan Wei duduk bersandar di salah satu teras toko, di sekitar mereka ada gelandangan - gelandangan lain yang sudah membungkus tubuhnya dengan selimut kumal yang tak kalah usangnya dengan pakaian yang mereka kenakan. Seorang lelaki tua tidur melingkar seorang diri di pojokan sambil sesekali menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan, sepasang suami istri sedang berbagi sepotong bakpau yang baru saja mereka temukan di antara sisa-sisa makanan yang ditinggalkan pengunjung, seorang anak yang sedang menatap kosong jalanan seorang diri, seorang wanita di toko depan sudah tertidur pulas seorang diri. Li Xian benar-benar tak menduga akan ada begitu banyak gelandangan di tempat ini. “Kenapa banyak sekali gelandangan disini…”Li Xian menggumam lirih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tan Wei yang mendengarnya bertanya “jiejie ada apa?” Tanya Tan Wei, saat ia menoleh pemuda di sampingnya sedang sibuk mengamati gelandangan-gelandangan yang ada di sekelilingnya dengan tatapan mata terheran-heran. “Gelandangan-gelandangan ini…” “Kau seperti baru pertama melihat saja, bukankah ini pemandangan yang sudah biasa,” “Biasa??” Pemuda itu mengerutkan keningnya semakin tak mengerti, ia menoleh ke arah Tan Wei dengan tanda tanya. “Tentu saja biasa, Warga di kota ini sudah lama hidup seperti ini kemiskinan, Kekeringan, penyakit, belum lagi pajak tinggi yang dibebankan pemerintah, mereka sampai-sampai harus menjual harta benda mereka untuk bertahan hidup.” Pajak tinggi? Kekeringan? Li Xian mencoba mengingat-ingat laporan mengenai kota ini yang ia baca tempo hari sebelum meninggalkan kota ini. Dari laporan yang ia baca tak ada yang satupun yang menyebutkan hal itu dan sejauh yang ia tahu pemerintah —Selama masa pemerintahan ayahnya, Kaisar Zhonghui— tak pernah memerintahkan untuk menarik pajak tinggi dari rakyat kecil dan bencana kekeringan ini, kerajaan sudah mengirimkan bantuan ke wilayah ini. Lalu kenapa…Kali ini Li Xian benar-benar tak habis pikir, meskipun sudah berkali-kali ia berkelana menjelajah dunia Jianghu, menemui berbagai situasi, namun baru kali ini ia benar-benar merasakan berada di posisi mereka, kedinginan, tidur tanpa alas, kelaparan, kotor. Diam-diam ia teringat oleh perilakunya selama ini, bagaimana ia terus mengeluh tentang kehidupannya di istana, betapa ia tak pernah bersyukur, betapa dirinya tak pernah berkontribusi apapun untuk negaranya dan hanya sibuk bermain-main mencari cara untuk keluar dari istana, pikiran-pikiran itu terus menggelayut di pikirannya membuatnya semakin merasa bersalah. Malam semakin larut dan suasana semakin sunyi namun masih tak ada tanda-tanda kedatangan mereka, gelandangan-gelandangan di sekitar mereka satu persatu sudah tertidur, meringkuk di bawah selimut kumal yang membawa mereka berpindah ke dunia mimpi yang mungkin malah lebih indah dan lebih hangat daripada kerasnya dunia nyata yang harus mereka jalani tiap hari. “Menurutmu apakah malam ini mereka akan beraksi?” Tanya Li Xian. “Entahlah, kita tunggu saja.” Xu Tan Wei membalas dengan lirih, berkali-kali ia menguap mencoba menahan kantuk yang sudah mulai menyerang sejak beberapa saat yang lalu. ****** Ketiga orang itu sudah siaga sepanjang malam, membuka mata dan telinga lebar-lebar, menahan kantuk yang berkali-kali menyerang, namun hingga hampir fajar komplotan yang ditunggu tak datang, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menyudahi penantian malam ini dan berencana untuk melanjutkannya lagi besok malam. Mereka berjalan ke arah sebuah sungai yang berada di pinggiran kota, Li Xian sibuk menyalakan api unggun sementara Chyou bergegas pergi untuk mencari binatang buruan untuk disantap, sudah dini hari tak ada lagi penjual makanan yang buka untuk menjajakan makanan, sementara perut mereka sudah keroncongan sedari tadi. Suasana langit malam itu begitu cerah, nyaris tak ada awan sama sekali, sedangkan angin bertiup dengan semilir, sungguh suasana yang sangat menenangkan. Li Xian merebahkan punggungnya diantara rerumputan dengan api unggun yang menyala di tengahnya, Ia sungguh menyukai kebebasan seperti ini. “Ah, ini sangat menenangkan.” Kata Li Xian sambil tersenyum simpul. Tan Wei yang memperhatikan ekspresi Huanran menjadi penasaran. “ Ada apa? Kau senang sekali kelihatannya.” “Kau tahu, Sejak kecil aku sangat suka duduk berlama-lama melihat air bening entah di danau, pantai, sungai, maupun kolam melakukan itu sangat menenangkan pikiran, tidakkah kau merasa begitu?” “Hmmmmm…..” Tan Wei menggeleng,” sayangnya cara ampuh mu itu tidak mempan untukku.” “Ha ha ha kau sama saja seperti Chyou.” “Hei, Kau bukan dari kota ini bukan?” tanya Tan Wei sambil menoleh ke arah pemuda di sampingnya. “Ah...ehhh...iya benar.” pertanyaan Tan Wei yang tiba-tiba cukup membuat Li Xian gelagapan. “Dari mana kau berasal? “Tinggal? Hmmm aku berasal dari kota tetangga” Setiap kali berpetualang Li Xian selalu menggunakan identitas yang berbeda-beda, sesekali ia akan mengaku sebagai pedagang, pengelana, hingga petarung apapun jawaban yang terlintas di pikirannya, begitu pula dengan tempat asalnya sesekali ia akan menjawab dari kota A, lalu kemudian dari kota B, ia tak pernah benar-benar memikirkan identitasnya dan hanya asal menjawab “Kota tetangga? Dimana?” “Kota Gaoyao” Jawab Li Xian dengan asal, “aku tinggal di jalan Jiangjin” Li Xian menambahkan detail agar lebih meyakinkan, tempat yang baru saja ia sebutkan memang benar-benar adalah sebuah kota yang terletak berbatasan dengan kota Yizhou, sebelum sampai di kota Yizhou, dia dan Chyou sempat melewati tempat itu sehingga dia masih cukup hafal untuk menjadikan tempat itu sebagai alamatnya kali ini. “Jiangjin?” mata Tan Wei terbelalak, “aku tahu daerah itu, aku juga sering mengirimkan racikan obat di sekitar sana, jalan itu adalah jalan yang dipenuhi dengan kedai-kedai makanan di kanan kiri jalan bukan?” Tan Wei bercerita dengan semangat. “Ha ha ha iya benar ada kedai-kedai di sana.” Oh tidak, kali ini aku salah mengarang alamat, harusnya aku memilih tempat antah berantah saja. Bisik Li Xian dalam hati menyesali pilihannya. “Lalu bagaimana denganmu, kau juga bukan berasal dari kota ini bukan?” tanya Li Xian mengalihkan pembicaraan. “Iya benar.” “Lalu apa yang kau lakukan di sini dan bagaimana kau bisa berada di penginapan itu tempo hari. “Para wanita di suku ku banyak yang bekerja meracik tanaman obat, mereka biasa menanam sendiri dan meracik obat lalu menjualnya di klinik-klinik di berbagai penjuru kota ini, aku beberapa kali mengikuti mereka mengirimkan obat-obat dan suatu hari tak sengaja aku mengenal Yihua, dia gadis yang sangat baik. Mengetahui ibunya sakit keras aku kembali untuk membawakannya obat tapi beberapa hari lalu ketika aku datang aku baru tahu kalau segerombolan preman itu membawa pergi Yihua begitu saja, belakangan setelah mengikuti mereka aku baru tahu kalau mereka adalah sindikat yang seringkali menculik gadis-gadis gelandangan.” “Kau? Seorang diri? Orang tuamu mengijinkan gadis muda sepertimu berkeliaran seorang diri seperti ini?” Tanya Li Xian penasaran. “Tentu saja, Orang tuaku sudah meninggal sejak aku kecil, tak ada yang akan melarangku.” Jawab Tan Wei dengan santainya, sementara pemuda di sampingnya merasa tidak enak akan pertanyaanya sendiri. “Oh maaf aku tak bermaksud.” Li Xian kali ini merasa tak enak kepada gadis itu. “Ha ha ha santai saja, meski begitu orang-orang sukuku sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, jadi aku selalu merasa memiliki keluarga yang utuh. Hei, kau sesekali harus datang ke tempatku, para pria di sukuku adalah petarung yang hebat kemampuan kungfu mereka sangat bagus dan sudah diajarkan turun temurun“ Tan Wei bercerita sambil matanya berbinar-binar. “Kalau begitu pasti kemampuan kungfumu sangat bagus,”Li Xian menatap ke arah Tan Wei. “Hahaha tidak..tidak..tidak jangan jadikan aku patokan kemampuanku sangat buruk, aku selalu kabur setiap kali Wei Shu shu mau mengajariku kungfu, huft andaikan dulu aku berlatih dengan sungguh-sungguh pasti aku bisa menyelamatkan Yihua saat itu.” “Jangan khawatir kita pasti akan bisa menyelamatkan mereka.” Tan Wei mengangguk setuju.”Sesekali kau harus berkunjung ke lembah tempatku tinggal, tempatnya sangat indah, sebuah lembah yang dikelilingi oleh gunung dan tebing-tebing yang menjulang tinggi, jauh berbeda dengan kota ini tentunya.” “Benarkah? Dimana….” Li Xian belum sempat melanjutkan pertanyaanya saat Huanran datang dengan dua ekor burung kalkun di tangannya, pembicaraan itu tak berlanjut karena setelahnya mereka bertiga sibuk untuk menyulap burung kalkun itu menjadi makan malam yang lezat untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sedari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN