Enemy Encounter

1401 Kata
Matahari baru saja kembali meringkuk turun memberikan kesempatan malam untuk mengambil alih. Li Xian, Chyou dan Xu Tan Wei sudah bersiap di tempat yang sama dengan tampilan yang sama pula dengan kemarin. “Kuharap hari ini mereka beraksi, aku sudah cukup dengan dandanan ini,” Kata Li Xian sambil sesekali mengacak-acak rambut panjangnya yang tergerai agar semakin semakin berantakan, tapi tak peduli berapa lama ia masih belum terbiasa dengan penampilan barunya. **** Hari ini dewa keberuntungan nampaknya sedang berpihak pada mereka, menjelang tengah malam terdengar suara derap kuda dari kejauhan. “Mereka datang,” bisik Li Xian yang dijawab dengan anggukan gadis di sampingnya. Li Xian dan Xu Tan Wei segera mengambil posisi masing-masing, Li Xian bersandar di pojokan toko sementara Tan Wei di sisi satunya lagi, meringkuk di balik selimut kumal, menunggu ikan menggigit umpan yang telah dipasang. Suasana lengang pasar berubah menjadi kacau dalam sekejap ketika serombongan pria yang menggunakan pakaian hitam beserta penutup wajah itu datang dengan menunggangi kuda-kuda mereka bersama dengan tiga buah kereta kuda, gelandangan-gelandangan yang beberapa sudah berpetualang di alam mimpinya mendadak terbangun terpaksa pulang dari alam mimpinya karena suara ramai itu dan seketika meringkuk dalam suasana teror. “Cari!! Kau cari di sebelah sana! Kau di sana!” “Cepat cari!! Jangan lewatkan seorangpun!” Teriakan laki-laki itu menggema. Orang-orang itu dengan sigap menjajaki setiap sudut teras toko, membuka paksa selimut-selimut kumal yang menutupi para gelandangan itu, begitu melihat ada gadis mata mereka langsung terbelalak, satu persatu gadis-gadis ditarik dan dipaksa untuk naik ke dalam kereta kuda beroda dua yang ditarik seekor kuda di depannya. Gadis-gadis itu kebingungan dan ketakutan tak mengerti dengan apa yang terjadi, beberapa dari mereka meronta dan mencoba melepaskan diri namun sia-sia karena tenaga mereka tak seberapa bila dibandingkan dengan para pria bertubuh kekar itu, Seorang gadis berhasil kabur namun akhirnya berhasil terkejar dan pada akhirnya ia harus menaiki kereta dengan tubuh penuh luka lebam. Orang-orang itu benar-benar tak pandang bulu, menggunakan kekuatan tangannya dengan semena-mena, jika ada yang memberontak sebuah pukulan akan melayang, membuat mereka hanya bisa pasrah dan memasuki kereta-kereta kuda itu. Seakan sedang menunggu antrian bantuan Li Xian merasa sangat girang saat akhirnya seorang pria berjalan mendekat ke arah di mana dirinya dan Tan Wei berada, matanya awas melirik kesana kemari. “Di sana!” Teriaknya sambil menunjuk ke arah Tan Wei berada, dua orang pria lalu datang mendekat, menarik paksa Tan Wei, gadis itu berteriak-teriak meminta tolong dan meronta mencoba melepaskan diri, tapi sia-sia. Sebelum masuk ke dalam kereta kuda ia sempat melirik kearah Li Xian, seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Sungguh akting yang luar biasa Tan Xiaojie, Tan Wei sudah masuk ke dalam jaring namun Li Xian masih ada ditempatnya, sedari tadi ia sudah bersiap untuk menjadi ‘tangkapan’ selanjutnya, tapi… pria itu malah berlalu saja melewati Li Xian tanpa menoleh. Hei hei…Bo*doh! menolehlah, masih ada seorang gadis yang menanti ..di sebelah sini! Di sebelah sini! apa kalian buta?Seru Li Xian di dalam hati. Li Xian melihat penampilannya sendiri, Apa jangan-jangan penampilanku ini belum cukup untuk menipu mereka? Ah tak mungkin dandananku sudah sangat meyakinkan. Li Xian mencoba memutar otak, tak mungkin ia sukarela menyerahkan dirinya begitu saja karena pasti akan sangat aneh dan menimbulkan mencurigakan tapi Tan Wei sudah berada di dalam ia tak boleh ketinggalan kereta. Untungnya ia tak kehabisan akal mencari cara agar pria komplotan itu menyadari keberadaanya, ia terbatuk-batuk dengan suara kecil dan lirih namun cukup untuk membuat pria yang tadi sudah berjalan melewatinya menghentikan langkahnya. Usahanya untuk menarik perhatian nampaknya berhasil, seorang pria menoleh ke arahnya, mata mereka saling bertatapan.. “Disini! ada satu lagi!” teriak pria itu dengan senyum seringainya seakan baru saja menemukan harta karun lain, tak butuh waktu lama dua pria datang untuk membawa Li Xian, menarik lengan hanfu-nya dengan paksa. Li Xian mencoba meniru apa yang dilakukan Tan Wei barusan ,memberontak, meronta berusaha hendak meloloskan diri namun bedanya kali ini tanpa suara hanya gumaman yang terdengar., karena dirinya adalah seorang gadis bisu. ***** Kereta kayu dengan cat berwarna coklat itu ukurannya tak terlalu besar panjangnya kira-kira enam chi, di dalamnya terdapat dua bangku panjang yang saling berhadapan, di kanan kiri terdapat dua buah jendela berukuran kecil, namun semuanya di tutup dengan menggunakan kain hitam, praktis membuat suasana di dalam kereta menjadi gelap, dalam keadaan gelap itu Li Xian samar-samar masih bisa mengamati suasana di dalam kereta berkat sinar rembulan yang menyusup melalui celah-celah atap kereta. Li Xian dan Tan Wei berada di satu kereta yang sama, mereka duduk berhadapan satu sama lain, selain mereka berdua di dalam sana terdapat sepuluh orang gadis gelandangan , salah seorang gadis terus-terusan menangis ketakutan, seorang lainnya terus-terusan bertanya kemana mereka akan dibawa, tak ada yang tau jawaban pertanyaan itu. Brak! Diam!! Dinding kereta di gebrak dari luar membuat gadis-gadis itu melompat kaget, dan karenanya suasana seketika berubah menjadi sunyi, setakut dan sebingung apapun perasaan mereka saat ini mereka sama sekali tak berani bersuara lagi.. Kereta melaju perlahan meninggalkan kota, di belakangnya beberapa pria berkuda mengikuti. Li Xian maupun Tan Wei tak mengetahui ke arah mana kereta itu berjalan, yang terasa hanyalah medan-medan yang dilalui roda kereta itu, awalnya saat baru saja meninggalkan pasar jalan terasa mulus, kereta bergerak dengan cepat,lama kelamaan medan yang dilalui terasa bergelombang dan berbatu nampaknya saat itu kereta sudah meninggalkan kota Yizhou. Li XIan sama sekali tak bisa menebak arah kereta apalagi sedari awal ia memang tak paham rute di sekitar daerah ini, jadi kali ini ia benar-benar mengandalkan Chyou, berharap pemuda itu bisa terus mengikuti jejak demi jejak rombongan ini tanpa ketahuan. **** Li Xian tak tahu entah sudah berapa jauh dan berapa lama ia duduk di dalam kereta kuda yang terus melaju, yang jelas kini punggungnya sudah terasa benar-benar kaku karena sedari tadi duduk berhimpitan, ia terus-terusan menggerakkan badannya ke kanan ke kiri untuk melemaskan otot pinggangnya, tiba-tiba gadis yang duduk tepat di sampingnya jatuh tertidur di pundaknya membuatnya hampir melompat karena terkejut, ia hendak memindahkan kepala itu, tapi karena merasa kasihan akhirnya ia membiarkan pundaknya dijadikan bantal oleh gadis itu Tan Wei yang melihat itu hanya terkikik tanpa suara. Angin malam yang bertiup membuatnya benar-benar tak bisa menahan kantuk, entah sudah beberapa lama ia terlelap. Li Xian terbangun saat tahu-tahu seseorang menendang-nendang kakinya. “A Ran..A ran Jie…bangunlah keretanya berhenti.” Kata Tan Wei lirih. ***** Benar kereta itu berhenti, beberapa saat kemudian pintu kereta digedor dari luar, sebuah suara berteriak-teriak meminta semua orang untuk segera turun. Li Xian maupun Tan Wei sama-sama tak tahu dimana posisi mereka berada saat ini, awalnya ia berpikir kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan, namun ternyata namun ternyata salah, perjalanan masih panjang dan kali ini mereka harus melanjutkan perjalanan tidak dengan menggunakan kereta kuda namun berjalan kaki sama seperti yang Li Xian saksikan terakhir kali di dalam hutan tempo hari. Kanan kiri mereka adalah hutan lebat, jalan yang membentang di depan adalah jalan setapak, mungkin masih bisa dilewati seekor kuda namun mustahil untuk dilewati kereta. Seorang pria mendekat dengan segulung tali di tangannya, dengan cekatan ia mengikat tangan mereka satu persatu lantas saling mengaitkannya satu sama lain, kini gadis-gadis itu nampak seperti rangkaian kereta yang memanjang. Mereka dibawa menyusuri jalan-jalan setapak di dalam hutan, berjalan beriringan dengan tangan terikat, sementara pria-pria berwajah sangar itu mengikuti di belakang dengan menunggangi kuda bersamaan cambuk yang tak henti-hentinya mendarat di tubuh gadis-gadis ini, tak terkecuali Li Xian. Tan Wei berada di tengah sementara Li Xian berjalan di baris paling belakang, sebuah posisi sempurna untuk merasakan cambuk-cambuk itu mendarat di punggungnya, membuat pemuda itu berkali-kali mengumpat di dalam hati. ***** Entah sudah berapa jauh mereka terus berjalan, gadis-gadis itu sudah hampir mati kelelahan, pakaian mereka sudah nampak tak karuan, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat, sebuah bangunan kayu besar yang terletak di tengah-tengah tanah lapang yang ditumbuhi oleh padang rumput, angin berhembus meniup rerumputan yang berdiri tak teratur memenuhi padang rumput itu, memaksa rumput-rumput itu untuk menunduk seakan menyambut kehadiran mereka. Li Xian menyapu pandangannya ke sekeliling tempat itu, Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan padang rumput yang luas, sama sekali tak ada bangunan lain di sana, benar-benar kosong. Tiba-tiba seorang gadis berlari keluar dari dalam bangunan itu dan berlari di tengah padang rumput membelah lautan rerumputan, dalam sepersekian detik beberapa anak panah terbang ke arah gadis itu, salah satunya melesat mengenai kakinya membuatnya jatuh tersungkur seketika, membuat para gadis yang baru saja datang semakin gemetar ketakutan. Sebuah sambutan selamat datang yang sangat luar biasa bagi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN