Bisa dibilang tempat ini tak jauh menyedihkannya dengan kondisi sel-sel besi yang mereka lihat di penginapan tempo hari, kali ini ruangan tempat mereka berada adalah sebuah ruang berdinding kayu dan beralas tanah dengan satu pintu di depan tak ada alas maupun perabot apapun di ruangan itu selain para gadis yang duduk di lantai dengan kondisi lusuh dan muka sanyu, sudah mirip tempat penampungan atau malah lebih parah. Ruangan ini ukurannya lebih luas namun jumlah gadis yang ada di dalamnya juga jauh lebih banyak.
Selang beberapa saat setelah mereka masuk kedalam ruangan itu tiba-tiba terdengar suara tangisan histeris seorang wanita, tak lama kemudian dua orang penjaga datang sambil menyeret kasar seorang gadis yang nampak sudah tak berdaya, sebuah anak panah masih menancap di kakinya dibiarkan begitu saja, rambutnya berantakan tak karuan dan sekujur tubuhnya di penuhi lebam, dia adalah gadis yang berusaha kabur tadi, gadis yang berhasil memberikan teror dan sambutan mencekam untuk gadis-gadis lain yang baru saja tiba ke tempat ini, karenanya, gadis-gadis lain menghapus jauh-jauh niatan untuk melarikan diri dan memilih untuk benar-benar pasrah.
“Dengar! Kuperingatkan sekali lagi jangan pernah berpikir untuk kabur seperti jalang ini! kalau tidak siap-siap nyawa kalian yang akan jadi taruhannya!” seru salah seorang anggota komplotan berkepala botak sambil mencengkram kerah baju gadis itu dengan kasar lantas menghempaskannya begitu saja ke dalam ruangan.
“Kuberi tahu ya, tempat ini sangat terpencil, percuma kalian kabur, paling-paling kalian hanya akan menjadi santapan binatang buas, lebih baik kalian baik-baik di sini dan jangan bertingkah.” seru pria bertubuh pendek di sampingnya menimpali dengan senyum sinisnya.
Napas Tan Wei mendadak tercekat melihat siapa gadis yang baru saja diseret masuk ke dalam ruangan, matanya terbelalak, ia coba memastikan kembali gadis itu “Yihua….” Tanpa sadar ia menggumam, untungnya hanya Li Xian yang mendengarnya. Li Xian segera menyikut gadis itu, Tan Wei lantas buru-buru menutup mulutnya, Tan Wei nyaris saja berlari ke arah gadis itu kalau Li Xian tidak mencegahnya. Li Xian perlahan menggeleng ke arah Tan Wei begitu menyadari perubahan ekspresi di raut muka gadis itu, mengisyaratkan pada Tan Wei untuk tidak melakukan hal gegabah apapun yang ada di pikirannya saat ini, untungnya Tan Wei segera paham dan dengan segera mengontrol emosinya, ia melangkah mundur ke posisi semula.
Di sisi lain Li Xian sendiri pun sebenarnya sedang berusaha mengendalikan dirinya, kemarahan jelas terlihat dari sosok matanya, namun ia sadar saat ini belum waktunya baginya untuk bertindak, gegabah sedikit saja maka semu penyamarannya akan sia-sia, beberapa hari ini sungguh kesabarannya benar-benar diuji.
Begitu dua pria komplotan itu enyah dari tempat itu, Tan Wei dengan segera merangkak mendekati gadis itu, Li Xian mengikuti di belakang.
“Yihua? Ini kau Yihua kan?” tanyanya lirih sambil menyibakkan rambut yang menutupi wajah gadis itu dan menyilangkannya ke belakang telinga.
“Jiejie? …Tan Wei Jie?” Gadis itu mendongak seakan tak percaya saat melihat sosok yang kini ada di depannya sekarang, “Jiejie ini benar-benar kau? kenapa kau ada di sini juga?” Ia berbicara sambil terisak, nada suaranya sangat lemah, ia benar-benar tak menyangka akan melihat Tan Wei di tempat ini.
“Iya Ini aku, Tan Wei.” Jawabnya sambil memeluk gadis itu, mengusap air mata yang membasahi pipi nya.
“Tan Wei jie. aku takut, aku ingin pulang, aku tak mau mati di sini.” Gadis itu mulai menangis sesenggukan.
“Tenang aku di sini untuk menolongmu, kita pasti bisa segera keluar dari tempat ini,” Tan Wei memperhatikan sekujur badan gadis itu dengan seksama, lebam di sekujur badan, bekas noda darah di ujung bibirnya, dan panah itu…, ”Yihua, kita obati lukamu itu dulu, kalau tidak nanti akan semakin parah dan infeksi.” kata Tan Wei dengan nada lembut yang dibalas anggukan oleh gadis yang masih menangis sesenggukan itu. Tan Wei menoleh kearah Li Xian dan pemuda itu mengangguk. Li Xian kemudian mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi serbuk obat yang biasanya dibawa oleh Chyou kemanapun mereka pergi.
Li Xian maju membantu untuk mencabut panah itu, awalnya dengan perlahan ia mematahkan bagian tangkai panah dan sirip yang ada di bagian belakang anak panah yang menancap, lalu dengan pelan namun pasti ia mencabut anak panah yang menancap di betis kaki gadis tersebut, beruntung panah itu tak menancap terlalu dalam, Gadis itu meringis kesakitan ia menggigit bibirnya dan menahan diri untuk tak berteriak, Tan Wei lalu buru buru menekan darah yang keluar dengan tangannya lalu menaburkan serbuk obat untuk mencegah agar luka itu tak infeksi, Ia kemudian melepas pita panjang yang mengikat rambutnya, membuat rambut panjangnya tergerai ke bawah, dan kemudian mengikat luka itu kuat-kuat.
Setidaknya ini bisa menghentikan pendarahannya untuk sementara, “Yihua…kau jangan banyak bergerak dulu apalagi sampai bertindak gegabah seperti tadi, kau mengerti, nanti kalau kita sudah bebas aku akan mencari obat untuk mengobati lukamu ini?”. Gadis itu mengangguk, kali ini ia nampak sudah lebih tenang, meski nampak masih sangat muda gadis itu cukup kuat, luka panah bukanlah luka sembarang, rasanya sesungguhnya sangat menyakitkan, prajurit yang biasa turun ke medan perang dan berkali-kali terkena panah pun masih akan meronta-ronta saat panah yang menusuk tubuhnya di cabut, tapi ia bisa menahan dirinya agar tak berteriak. Gadis bernama Yihua itu usianya masih sangat muda sekitar empat belas tahun,, ia nampak lebih dewasa dari usianya. Gadis muda itu sudah kehilangan ayah sejak kecil membuatnya harus menanggung kehidupannya sendiri dan ibunya yang sudah lumpuh sakit-sakitan, beruntung ia mengenal Tan Wei, perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu saat Tan Wei mengikuti Wei Long ke Kota Daxiang untuk menjual obat. kalau tidak ia yakin bahkan tak ada yang tahu dan peduli jika ia menghilang dari muka bumi sekalipun.
“Yihua, bagaimana kau bisa ada ditangan mereka.”
“Mereka menjebakku jie, kau ingat saat itu aku sedang akan membeli obat untuk ibuku kan? mereka bilang mereka bisa memberikanku obat mujarab dengan harga murah tapi mereka malah menculikku.Ibuku…apa kau tahu keadaanya?” matanya nampak berkaca-kaca saat ia membicarakan mengenai ibunya.
“Tenang saja, ibumu saat ini kondisinya sudah stabil, aku sudah meminta seorang tabib untuk merawatnya.”
“Terima kasih jie…maafkan aku selalu merepotkanmu, ”kata gadis itu yang dijawab oleh senyuman tulus Tan Wei.
Gadis itu mengangguk, sambil terus meringis menahan sakit. “Jie…kau tahu, kudengar besok orang-orang jahat itu akan menjual kita yang ada di sini, aku tak sengaja mendengar saat penjaga-penjaga itu mengobrol, kita harus segera pergi dari sini jie..kalau tidak…,”Yihua terdiam sesaat, “Kalau tidak, aku takut tak akan bisa bertemu dengan ibuku lagi, siapa yang akan merawatnya kalau aku tak ada di sana.” kali ini air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya menetes juga, turun membasahi kedua pipi gadis muda itu, bayangan tak bisa bertemu dengan ibunya lagi adalah satu hal yang paling membuatnya takut.
Tan Wei meletakkan tangannya di pundak gadis itu. “Kita pasti bisa keluar dari tempat ini. Percayalah.” Kata Tan Wei dengan nada penuh keyakinan.
Li Xian masih ingat betul bagaimana gadis-gadis itu dikurung di penginapan itu, tak ada sel-sel besi di ruangan ini hanya sebuah pintu yang dijaga oleh beberapa orang penjaga. Kontras, Tempat ini sangat terpencil dan nampaknya jauh dari pemukiman, mengingat saat mereka menuju kemari ia harus berjalan kaki berjam-jam menembus hutan lebat, dan sesampainya di sini yang ada hanyalah padang rumput yang membentang. Apalagi dengan kejadian tadi siang , sebuah pemandangan yang pastinya membuat mereka berpikir seribu kali untuk kabur dari tempat ini, karenanya tak heran kalau penjagaan di ruangan ini tak seketat ruangan yang ada di penginapan tempo hari, di bagian depan ruangan hanya ada dua orang yang berjaga, dan saat malam tiba dua penjaga itu dengan santainya beranjak keluar bergabung dengan anggota komplotan yang lain.
****
Malam menjelang, para penjaga sibuk berpesta arak dan berjudi, suara tawa mereka menggema hingga ke ruangan tempat gadis-gadis itu dikurung, ruangan itu sangat gelap saat malam tanpa satupun sumber penerangan. Malam semakin larut suara mereka makin terdengar samar, mereka sudah mabuk setelah menghabiskan berkendi-kendi arak, para gadis pun sudah tertidur lelap. Sedari tadi Li Xian sama sekali tak bisa memejamkan mata sedikitpun, ini bukan waktu untuk tidur untuknya, Ia berada di sini bukan untuk menikmati nyamannya tidur di dalam ruangan gelap beralas tanah itu. Berkejaran dengan waktu ia terus memutar otak bagaimana caranya menyelamatkan gadis-gadis ini sekaligus meringkus komplotan itu.
Li Xian memasang telinganya dan meyakinkan diri kalau suara di luar sudah senyap, penjaga yang berjaga di depan ruangan pun belum kunjung kembali. Li Xian tak mau melewatkan kesempatan ini untuk menyelidiki lebih dalam mengenai komplotan ini dan mencari celah untuk bisa menyelamatkan gadis-gadis ini, Ia berdiri perlahan tanpa suara , namun saat ia baru berjalan satu Langkah untuk keluar dari ruangan itu tiba-tiba sebuah tangan mencengkram kakinya.