Li Xian baru berjalan satu langkah di dalam gelap saat sebuah tangan tahu-tahu menarik kakinya dengan kencang, membuat Li Xian nyaris melompat karena terkejut.
“Tan Wei! Kau hampir membuatku jantungan,” bisiknya saat melihat sosok yang menarik tangannya adalah Tan Wei.
“Hei, Apa yang mau kau lakukan?” tanya gadis itu juga dengan setengah berbisik.
“Kau dengar apa yang dikatakan Yihua tadi kan, besok mereka akan melakukan transaksi, aku akan mencari cara agar kita semua bisa keluar dari sini sebelum transaksi itu terjadi, sebelum terlambat,” Kata Li Xian.
“Lalu sekarang apa yang bisa kita lakukan? jangan mengendap-ngendap sendirian seperti hantu, berbahaya kalau sampai kau tertangkap.”
“Coba dengar, sudah tak ada suara ramai lagi di luar, dan di penjaga yang berjaga juga belum kembali, sepertinya mereka semua sudah mabuk. Aku akan mencari tahu tentang para komplotan ini siapa tahu ada petunjuk.”
“Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”
“Jangan, kita tak tahu kondisi diluar, malah akan berbahaya, kau tunggulah di sini bersama yang lain, lihatlah Yihua sedang tertidur lelap, dia bisa panik kalau kau tiba-tiba menghilang. Aku yakin saat ini Chyou sudah menunggu di luar, aku akan menemuinya dulu baru aku bisa menyusun rencana.”
Tan Wei berpikir sejenak setelah dipikir-pikir apa yang di katakan Huanran memang ada benarnya, kalau mereka keluar bersama tak akan ada untungnya ia malah akan menjadi beban “Baiklah kalau begitu aku tetap berada di sini ,ingat kau harus berhati-hati.”
“Mmh” Li Xian mengangguk, lantas ia berjalan ke arah pintu keluar, seperti keadaan tadi siang tak ada gembok yang mengunci ruangan itu dan kali ini penjaga yang berjaga pun juga tak ada di tempatnya.
Ia berjalan keluar perlahan menuju ke ruangan lain, melangkah senyap tanpa suara, di dalam ruangan depan bangunan itu terdapat sebuah jendela yang mengarah ke halaman depan, Li Xian mengintip keluar untuk memastikan dugaanya dan memang benar penjaga-penjaga itu memang sedang berpesta arak, beberapa asik bermain judi kartu sambil sempoyongan, yang lainnya sudah roboh tak berdaya, sama sekali tak ada yang menyadari bahwa di dalam ada seseorang yang sedang berkeliaran menjelajahi setiap ruangan membuat Li Xian semakin laluasa untuk menelusuri ruangan itu, mencari-cari jika mesiu-mesiu tempo hari juga dipindahkan ke tempat ini.
Tiba-tiba Matanya tertuju pada sebuah ruangan di sayap kiri bangunan, di dalamnya terdapat sebuah meja berukuran besar, sejumlah gulungan dokumen tersusun rapi di atasnya, ia lantas membuka dokumen itu satu persatu, sadar tak ada banyak waktu untuk menghayati satu persatu isi dokumen itu ia hanya membolak-balik isi dokumen itu dengan cepat, menangkap garis besar apa yang ada di sana, membaca beberapa baris dalam sekali tatap. Sebagian besar berisi mengenai data-data transaksi, namun dokumen itu tak cukup menjelaskan mengenai siapa dalang dibalik kasus ini. Mata Li Xian tertuju pada cap dokumen yang ada di bagian paling bawah dokumen-dokumen itu ,cap berbentuk Bunga Aprikot merah.
Cap ini…apa jangan-jangan ini adalah lambang dari komplotan ini.
Selesai membaca kilat dokumen-dokumen itu Li Xian kemudian pergi menyelinap ke bagian belakang bangunan, sama seperti di bagian depan bangunan bagian belakang bangunan ini juga kosong yang ada hanya semak-semak belukar yang tumbuh tinggi. Li Xian memasukkan dua jarinya kedalam mulutnya lalu meniupnya hingga mengeluarkan suara siulan yang khas.
“Yang Mulia…Yang Mulia apakah itu kau?” Tak butuh waktu lama suara seorang pria memanggil-manggil lirih dari balik semak belukar kemudian diikuti oleh suara langkah kaki berjalan keluar dari rerimbunan.
Mendengar suara Chyou, Li Xian berjalan mendekati rerimbunan semak belukar, “Tentu saja ini aku, baru sebentar kau sudah lupa wajahku?” benar saja, tak lama kemudian yang dipanggil mendadak muncul dari balik semak-semak, seperti memang sudah menunggu di sana sedari tadi.
“Pangeran, anda baik-baik saja? aku melihat mereka terus mencambukimu sepanjang jalan” Tanya Chyou dengan ekspresi khawatir.
“Tentu saja itu hanya luka kecil bagiku.”
“Pangeran... anda terus-terusan terluka, bagaimana mungkin anda menyebutnya luka kecil, Kaisar bisa murka kalau nanti anda kembali dengan tubuh penuh luka, anda harus lebih berhati-hati pangeran.”
“Hmmm baiklah..baiklah aku mengerti,” jawab Li Xian sambil memutar bola matanya mendengarkan Chyou yang sudah mulai dengan kebiasaan lamanya, “Chyou, apa kau tau di mana tempat ini berada, aku benar-benar buta arah dan tak tau ini dimana.”
“Tempat ini berpuluh-puluh li jaraknya dari kota, kita harus melewati hutan-hutan dengan medan terjal seperti anda lewati kemarin, tadi aku sempat berkeliling tak ada bangunan lain di sekitar sini, tempat ini benar-benar terpencil.”
“Untuk apa mereka susah payah membawa gadis-gadis itu ke tempat terpencil ini seperti ini.”
Chyou berhenti sejenak dan melanjutkan, “tapi anda tahu pangeran…tidak jauh dari sini ada sebuah danau luas, dan ternyata danau itu berbatasan langsung dengan bagian barat kerajaan Bai Li.”
“Kerajaan Bai Li?” Li Xian mengerutkan dahinya sembari memikirkan sesuatu, sesuatu mengganjal yang sedak tadi menjadi pertanyaan di benaknya, “ah, itu dia!” Seru Li Xian tiba-tiba, ia menepuk bahu Chyou dengan bersemangat. “Itu dia alasan mereka membawa gadis-gadis itu ke tempat ini.”
“Kenapa Pangeran….?” Tanya Chyou penasaran, Chyou baru mulai berpikir ketika Li Xian berkata, “Apa mungkin…Itu adalah alasan mereka membawa gadis-gadis ini ke tempat sejauh ini, yang letaknya jelas-jelas sangat jauh dari pemukiman. Mereka akan menjual para gadis-gadis ini, ke kerajaan tetangga,”
“Jadi…itulah kenapa gadis-gadis yang menghilang tak bisa di temukan di manapun.”
Li Xian terdiam sejenak,” Chyou, di mana pasukan militer terdekat dari sini? Kupikir kita butuh bantuan pasukan, dan kau tahu bukan polisi-polisi di kota Yinzhou tak bisa kita andalkan sepenuhnya.”
Chyou mengangguk setuju, “Yang terdekat dari sini…”Chyou mencoba mengingat-ingat, “ ah ya perbatasan timur pangeran.”
“Perbatasan Timur….Jendral Yan Huiyin! kalau tidak salah bukankah dia saat ini ini bertugas di perbatasan timur bukan?”
“Ya benar pangeran.” jawab Chyou dengan bersemangat.
“Chyou pergilah ke perbatasan Timur dengan segera, aku khawatir mereka akan melakukan transaksi untuk menjual gadis-gadis itu besok, jika mereka telah berada di negara tetangga akan semakin sulit bagi kita untuk menyelidikinya, temui Jenderal Yan untuk meminta bantuan pasukan untuk meringkus mereka kalau tidak kita akan kehilangan bukti-bukti untuk meringkus mereka, dari tempat ini menuju ke perbatasan mungkin butuh waktu yang lumayan kau harus segera berangkat.” Li Xian melepaskan kalung giok dari lehernya dan menyerahkan pada Chyou, giok berukirkan Fenghuang yang selalu ia kenakan kapanpun dan dimanapun itu adalah barang berharga pemberian kaisar terdahulu yang diwariskan turun temurun, benda berharga yang tak ada duanya bahkan tak dimiliki oleh sputra mahkota sekalipun. Kaisar memberikan kalung giok Fenghuang itu sebagai hadiah kelahiran Pangeran Li Xian, giok itu sangat indah, di atas ukiran berbentuk burung Fenghuang terdapat bentuk stempel yang di cap langsung dengan menggunakan segel kaisar. “Tunjukkan pada Jendral Yan, ia akan mengerti, aku akan coba mengulur waktu disini.”
“Baik pangeran, aku mengerti aku akan segera kembali.” Jawab Chyou dengan patuh, Chyou membungkuk memberi hormat kemudian berbalik pergi melesat seperti panah dan dalam sekejap menghilang melalui semak-semak, sirna tanpa jejak.
Li Xian hendak berbalik ke dalam ruangan, namun tepat sebelum sampai di pintu tiba-tiba sebuh suara berteriak memanggilnya, tanpa aba-aba sebuah pecutan mendarat tepat di punggungnya.
“Hei kau apa yang kau lakukan disini!”
… … …
aish sial ketahuan
“Jawab!” Teriakan memekakkan telinga itu membuat para gadis yang ada di tempat itu terbangun dan menjadi was-was.
… … …
“Cepat katakan!” Lagi-lagi sebuah cambuk melayang ke arahnya, kali ini mengenai lengan kanannya yang kemarin terluka.
Bre*ngs*ek! Li Xian mengepalkan tangannya sambil menarik napas panjang-panjang.
“Wah lihat, dia mengabaikanku.” kata pria itu.
Mengabaikanmu? yang ada aku ingin mencabik-cabik mu sekarang juga.
Semakin Emosi, pria botak itu mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan ke leher Li Xian, berkata dengan tatapan tajam, ”Nona, kalau kau tak menjawab pertanyaanku aku tak-akan segan-segan membuat kepalamu menggelinding ke lantai.”
“Tuan! gadis itu bisu, jadi… mau kau mencambuknya seribu kali atau membuat kepalanya menggelinding berkali-kali pun dia tak akan bisa menjawab.” Seru Tan Wei tiba-tiba, suaranya keras terdengar dari dalam ruangan, “mungkin dia sedang mencari toilet tuan, kebetulan tak ada penjaga, jadi—“
“Huh ternyata kau hanya gembel cacat, berani-beraninya kau bersikap angkuh.” Seru pria itu di ikuti dengan gelak tawa yang lainnya.
“Hong, Wang!” Serunya memanggil dua orang bawahannya, ”Seret dan ikat dia di depan, gadis bisu ini harus diberi pelajaran.”
Dengan kasar dua pria tadi membawa Li Xian ke halaman depan bangunan, Li Xian hanya bisa mengikuti orang-orang itu. Mereka mengikatnya di sebuah tiang kayu yang berada di sudut halaman, hanya berjarak beberapa meter dari meja-meja tempat pria-pria itu itu sibuk berjudi dan mabuk-mabukan
Tiba-tiba sang ketua bangkit dari tempat duduknya,tubuhnya sempoyongan tangan kanannya memegang sekendi arak. “Hei, ayo kita bermain sekali lagi…yang menang akan mendapatkan gadis ini Bagaimana?”katanya sambil menunjuk ke arah Li Xian yang terikat di tiang.
“Ha ha ha setuju! Setuju! Ide bagus!” Seru yang lain bersemangat.