Malam Minggunya Para Gadis

1797 Kata
"Nih tadi kakak sekalian beliin makanan lain juga," ucap Vano menyerahkan satu kantong belanjaan yang cukup besar. "Ice cre-" "Ice cream kamu ada di dalem kantong belanjaan sweety, apa-apa tuh dicari dulu sendiri," potong Vano sambil melangkah menuju ruang tengah. "Bener kata kakak kamu tuh," timpal Rima santai. "Iya ma, iyaaa..." jawab Vio pasrah. Kemudian ia mengambil ice cream yang ada di dalamnya dan meletakkan di meja. "Sya, ambil sendok gih, trus bawa ini ke ruang tengah ya. Gue mau nyimpen ini dulu ke atas." ucap Vio. Hesya pun menuruti perkataan Vio. Ia membawa sendok dan juga ice cream ke ruang tengah. Disana Vano terlihat tengah bersantai sembari menonton televisi. Kemudian ia kembali ke dapur dan membantu Rima membereskan kembali meja makan dan mencuci piring. "Udah Sya, kamu ke depan aja sana, masa kamu jadi ikut repot bantuin tante sih," ucap Rima tidak enak. "Eh gakpapa kok tante, aku seneng bisa bantuin tante," jawab Hesya. Setelah semuanya beres, mereka pergi ke ruang tengah. Di waktu yang bersamaan, Vio turun membawa sebuah snack dalam kemasan yang cukup besar. Mereka berempat berkumpul sembari memakan ice cream milik Vio. Kemudian raut wajah Vio berubah masam melihat kakaknya menghabiskan ice cream miliknya. "Ish kakak katanya beliin aku, tapi kakak sendiri yang ngabisin, gimana sih!" ucapnya sembari melipat tangan di d**a. "Haha! Abis ini enak banget sih! Yaudah besok kakak beliin lagi yaa, jangan marah dong!" bujuk Vano. "Tau ah! Pokoknya beliin dua!" ucapnya kesal. "Iya sweety, iyaa. Besok kakak beliin dua deh," balasnya. Vano mengacak rambut adiknya, membuat sang empunya bertambah kesal. "Van, besok kamu ada acara?" Rima membuka suara. "Gak ada ma, kenapa emang?" tanya Vano sembari memakan snack yang tadi dibawa Vio. "Besok mama mau ke rumah tante Fira, kamu anterin mama ya?" Vano mengiyakan permintaan Rima. "Aku gak di ajak ma?" rengutnya. "Kan kamu ada Hesya disini, lagian mama yakin kamu gak bakal betah disana," ucap Rima penuh keyakinan. "Emang kenapa?" tanyanya lagi. "Soalnya disana lagi ada kak Devan." "Yaudah, aku gajadi ikut!" Mama dan kakaknya tertawa melihat ekspresi Vio yang langsung kesal. Bagaimana tidak, Devan adalah kakak sepupunya yang selalu memeluk Vio hingga menangis. Hingga sekarang pun jika bertemu pasti saja ia dibuat menangis. Devan adalah anak tunggal, dan sejak dulu ia selalu menginginkan seorang adik perempuan. Dia sangat senang, bahkan terkesan berlebihan saat tahu Vano memiliki adik perempuan yang otomatis akan menjadi adik sepupunya juga. Jadi pantas saja Devan melakukan hal itu. Karena itu juga Vio tidak ingin bertemu Devan. Sekitar pukul delapan malam, Vio dan Hesya pamit untuk ke kamar tidur. Seperti biasa Vio merebahkan badannya di atas kasur kesayangannya. Sedangkan Hesya sibuk mencari sesuatu di dalam kantong belanjaan tadi siang. "Ayo maskeran!" ajaknya sembari memberikan satu sachet masker pada Vio. Vio langsung bangkit dari posisi tidurnya. Selama beberapa menit, mereka mengoleskan masker ke wajah, tentunya sesudah mereka mencuci muka. Seperti gadis pada umumnya, sesudah memakai masker itu, mereka mengambil foto untuk di bagikan di media sosial. "Aaa lucu banget! Post ah!" ucap Vio. "Ih lo doang yang bagus, guenya jelek gitu masa. Ulang, ulang!" protes Hesya. "Ish ribet lo ah!" Mereka pun mengulangi mengambil foto lagi, dan banyak sekali foto yang mereka abadikan. Dari puluhan foto, hanya satu yang mereka unggah ke media sosial mereka. Kemudian, Vio mengambil laptopnya dan segera menyalakannya. Ia langsung mencari file film yang belum pernah ia tonton. "Nih! Lo mau yang mana?" tanyanya pada Hesya. "Yang menurut lo seru yang mana?" Hesya balik bertanya. "Yee malah nanya balik, gue aja belom pernah nonton judul-judul ini, makanya sekarang kita nonton bareng." "Jangan horor ah," ucap Hesya. "Yaudah maunya yang mana?" "Jangan yang bikin nangis juga, ntar masker gue luntur lagi," ucap Hesya lagi sembari terus memilih-milih judul film. "Lama banget sih ah! Itu aja tuh, action," protes Vio. Akhirnya Hesya pun membuka file film yang dipilih. Sebelum dimulai, mereka mematikan lampu dengan alasan supaya lebih seru saat menonton. Tidak lupa mereka mengambil semua makanan yang mereka beli tadi siang, ditambah makanan yang dibelikan Vano juga. Kini semuanya telah siap, Vio menekan tombol play dan film itu pun dimulai. Suara dari film itu berbaur dengan suara makanan yang mereka kunyah. Namun tidak lama kemudian, Hesya memberhentikan film itu. "Kok dimatiin sih?" tanya Vio tak setuju. "Lu denger gak? Ada suara gitar," jawabnya. Keduanya pun diam dan mencoba menajamkan indera pendengaran. Dan benar, semakin lama suara gitar itu semakin keras. "Pasti cowok sialan itu!" ucap Vio sembari bangkit dari duduknya. Ia menghampiri balkon dan segera membuka pintunya dengan kasar. Di seberang sana, Iyan yang sedang asyik memetik gitar kesayangannya merasa terganggu dengan suara dentuman keras. Ia pun menoleh ke arah sumber suara. "Aaaaaaa! Setan!" teriaknya. "Heh! Setan-setan mata lo! Gue Vio!" bentak Vio kesal. Setelah debaran jantungnya mulai tenang, Iyan menormalkan kembali napasnya. Bagaimana tidak, Vio muncul dengan wajah yang seluruhnya putih dengan rambut panjang terurai, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira hantu juga. Tanpa disadari, ada gadis lain di sebelah Vio, namun Iyan tak memedulikannya. "Gue kira lo setan," ucap Iyan kemudian dengan datar. "Enak aja lo ngomong! Cewek secantik gue lo bilang setan? Kurang ajar emang!" sergah Vio. Namun Iyan hanya diam tak menanggapi ucapan Vio, membuat Vio semakin bertanduk. "Ish! Lo b***k apa? Denger gue gak sih?" tanya Vio lagi. Namun lagi-lagi Vio hanya mendapat tatapan datar dari Iyan. "Itu siapa Vi?" Hesya kini bersuara. "Itu cowok sialan yang gue ceritain!" jawabnya kesal. Hesya ber-oh ria. Kemudian ia sedikit maju. "Hey, kenalin gue Hesya, temennya Vio," ucap Hesya pada Iyan. "Hesyaaaaa! Lo ngapain sih?!" Vio semakin kesal karena tingkah Hesya. Tiba-tiba mamanya Iyan muncul. Hal itu membuat mata Vio membulat. "Ini ada apa ribut-ribut?" tanyanya. "Eh Vio ya?" tanyanya lagi setelah melihat Vio dari seberang kamar anaknya. "E-eh tante, i-iya ini Vio. Maaf ya kalo tante ngerasa keganggu," ucapnya terbata-bata. "Emang ini ada apa? Iyan? Ada apa? Tadi mama denger suara teriakan kamu kenceng banget," Iyan yang ditatap pun mengarahkan pandangannya pada Vio. "Tanya orang itu aja," ucapnya datar. "E-eh?" Vio merasa kikuk. Ditambah lagi dengan kemunculan kakak dan mamanya, Vio malah merasa semakin tersudutkan. "Eh mbak Yuli? Ini ada apa ya?" tanya Rima pada Yuli. "Eh mbak Rima, saya juga gatau ini ada apa. Tadi saya denger Iyan teriak kenceng banget, makanya saya samperin, eh taunya ada Vio juga." jelasnya. "Vio? Bisa jelasin ke mama sayang?" tanyanya lembut. "I-itu ma, ta-" "Jadi gini tante..." ucap Hesya memotong perkataan Vio. "Tadi tuh aku sama Vio lagi nonton film, tiba-tiba kita denger suara gitar, kita sedikit keganggu. Eh Vio malah langsung ke balkon, trus orang itu teriak tan, karena nyangkanya Vio itu setan. Eh jadinya mereka berantem. Tapi cuma Vio sih yang daritadi marah-marah karena dibilang setan." Vio langsung melotot pada Hesya, yang ditatap hanya nyengir kuda. "Oh gitu, kirain ada apa. Kamu juga gak usah marah-marah dong sayang, apalagi sampe ganggu tante Yuli tuh, minta maaf sama mereka." ucap Rima. "Abis dia berisik ma!" bela Vio. Mamanya melipat tangan di d**a. Vio menghembuskan napas kasar. "Tante, maaf ya udah buat keributan malem-malem." ucap Vio. Yuli pun ikut meminta maaf pada Vio dan keluarganya. Ia pun sadar betul jika anaknya ikut andil dalam masalah ini. Setelah itu, Yuli pun menasihati Iyan supaya tidak mengganggu orang lain, apalagi malam-malam. Begitu juga Vio, ia dinasihati kakak dan mamanya supaya tidak mengganggu orang lain. Dan juga dinasihati supaya lebih mengontrol emosinya. Vio pun hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membalas. "Tuhkan, apa gue bilang, cowok itu nyebelin! Gara-gara dia gue jadi di ceramahin malem-malem. Lo juga! Kenapa bilang gue marah-marah!" kesalnya dilampiaskan pada Hesya setelah mama dan kakaknya keluar dari kamar. Jika sudah seperti ini Hesya harus menguatkan telinganya. "Tapi dia cakep Vi. Lagian gue juga jujur soal lo yang marah-marah," jawabnya santai. "Ah lo malesin!" ucapnya kemudian bangkit dari ranjangnya. Ia memasuki kamar mandi untuk mencuci muka. Hesya pun mengekorinya dan melakukan hal yang sama. Ia tertawa saat melihat pantulan wajahnya. Vio yang akan menyentuh air pun segera menoleh. "Lu kenapa sih?" tanyanya heran. "Anjir muka gue! Haha! Udah kek sawah kekeringan," ucapnya sembari terus tertawa. Vio pun menatap pantulan wajahnya dan terkejut. "Anjir, anjir! Muka lo lebih parah dari gue! Hahaha!" tawa Hesya semakin kencang. Ia terduduk sembari memegangi perutnya. Vio pun semakin kesal karena ditertawakan. "Ketawa teruss!" sindirnya kesal. Setelah puas tertawa akhirnya Hesya pun bangkit dan segera mencuci mukanya. Mereka melanjutkan kembali acara menontonnya yang sempat terpotong. Satu-persatu cemilan yang mereka beli pun habis tak bersisa. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, tapi sepertinya mereka belum mengantuk sama sekali. "Nonton apalagi ya?" tanya Vio. "Lo belom ngantuk apa?" tanya Hesya sembari terus mengunyah makanannya. "Belom lah! Lemah banget tidur jam segini!" "Awas aja lo kalo besok susah dibangunin," balas Hesya. "Nah lo sendiri, gak takut gendut apa daritadi gak berhenti makan?" tanya Vio. "Sebanyak apapun gue makan, gak bakal bikin gue gendut. Lo juga ngomong gitu kek lo makan sedikit aja, padahal kalo makan porsi kuli," jawab Hesya santai. "Enak aja lo! Seenggaknya gue sadar jam segini tuh perut harus istirahat," "Yayayayaya..." "Gue laper lagi nih. Masak mie kuy!" ajak Hesya. "Yok!" respon Vio cepat. Sebuah bantal melayang tepat ke kepala Vio. Dengan cepat Vio menoleh dan melemparkan tatapan tajam. "Seenggaknya gue sadar jam segini tuh perut harus istirahat," ucap Hesya menirukan gaya bicara Vio. "Katanya gitu, gue ajak masak mie mau! Wkwk!" tambahnya. "Ish ngeselin! Yaudah gue tarik kata-kata gue! Ayo buruan masak mie!" ucap Vio sembari menarik lengan Hesya. Akhirnya mereka pun turun ke dapur dan segera menyiapkan bahan-bahan untuk memasak mie. Vio mengambil telur, sosis, juga sayuran di dalam kulkas, tidak lupa dua bungkus mie instant. Saat sedang asyik memotong sayuran sembari bersenda gurau, mereka berdua dikejutkan dengan suara Vano. "Kalian lagi apa?" tanyanya. Sontak Vio dan Hesya berbalik. "E-eh kita mau masak mie kak," jawab Hesya terbata. "Kirain kakak tadi ada maling, ternyata kalian yang ribut-ribut di dapur jam segini." "Hehe abis kita laper kak, kakak mau? Ntar aku bikinin juga," tawar Vio pada kakaknya. "Boleh tuh," jawab Vano. Setelah menyuruh Vano untuk menunggu di ruang tengah, Vio mengambil satu bungkus mie instant lagi. Sembari menunggu air mendidih, ia kembali melanjutkan memotong sayuran, sedangkan Hesya memotong sosis. Tidak lama, mereka selesai dengan acara memasaknya. Kemudian, Vio membawa dua mangkuk mie ke ruang tengah, satu untuknya dan satu lagi untuk kakaknya. Mereka bertiga makan dengan tenang sembari menikmati film action di salah satu channel televisi. Selang beberapa waktu, aktivitas makan mereka selesai. Kedua gadis itu membawa alat makan yang kotor ke dapur dan langsung mencucinya. Karena jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, Vano menyuruh mereka untuk segera tidur, mereka pun menurut. Sebelum tidur, tidak lupa mereka menggosok gigi terlebih dahulu. Dan yang paling penting untuk Hesya, tidak lupa memakai skincare yang rutin ia pakai. Vio pun melakukan hal yang sama, lebih tepatnya mencoba milik Hesya. Setelah rutinitas malam mereka terlaksana, akhirnya mereka terlelap dan menuju alam bawah sadar. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN