Jogging

2101 Kata
Pagi sekali hujan sudah turun, gadis-gadis itu semakin menenggelamkan diri dalam selimut. Langit pun masih gelap dengan udara yang seakan menusuk setiap persendian. Vio menggeliat pelan dengan mata yang masih tertutup. Ia mengeratkan pelukannya pada guling. Waktu menunjukkan pukul enam pagi, dan mereka masih asyik berkelana di dalam mimpi. Vio berbalik dan tangannya menimpa wajah Hesya. Karena cukup keras, Hesya terbangun dari tidurnya dan segera menyingkirkan tangan sahabatnya itu. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang sembari mengucek matanya. Kemudian ia meraih ponselnya dan melihat jam. "Vi bangun," Hesya menggoyangkan lengan Vio. Vio tak bereaksi, ia malah menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Hesya kembali mencoba membangunkan Vio, namun tetap tak bangun juga. Hesya yang kesal pun akhirnya menarik paksa selimut itu dan menjauhkannya dari jangkauan Vio. Dan benar, dengan mata tertutup Vio meraba-raba sekitarnya mencari selimut. Kemudian terbersit sebuah ide dalam benak Hesya. Ia berjalan ke arah balkon dan segera membuka pintunya lebar-lebar. Seketika udara dingin selepas hujan langsung menyeruak masuk. Vio pun membuka paksa matanya karena udara dingin yang tiba-tiba mengenai tubuhnya. "Nah, akhirnya tuan puteri bangun juga," ucap Hesya santai. "Sialan lo Sya! Gue enak-enak tidur di ganggu!" marahnya masih dengan suara serak. "Udah siang Vi, lagian lo susah banget di bangunin. Ayo bangun ah, kita jogging! Enak loh cuacanya abis ujan, dingin-dingin gimana gitu," ucapnya. "Gak-gak! Masih ngantuk gue!" tolak Vio kemudian merebut kembali selimutnya dan kembali berbaring. Lagi-lagi Hesya menarik selimut Vio. Namun Vio menahannya. Alhasil mereka saling tarik-menarik selimut. "Banguuuuun!" teriak Hesya. "Gue ngant-" ucapan Vio terpotong saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Vano. "Kalian ngapain tarik-tarikan selimut?" tanyanya heran. "Ini nih kak, Vio susah dibangunin, aku mau ngajak dia jogging," jawab Hesya. "Ih aku masih ngantuk lho kak," ucap Vio sembari menatap kakaknya, ia mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu menunjukkan puppy eyes nya. "Kebetulan banget kakak juga mau ngajak kalian jogging. Ayo sweety kamu bangun!" Vano mendekati adiknya dan segera menarik lengannya agar bangun. Vio berusaha keras agar ia tidak dijauhkan dari kasur kesayangannya. Namun sia-sia, tenaga Vano lebih kuat darinya. Dan alhasil Vio pun terbangun dengan mata yang masih terpejam. "Ayo cepet ganti baju, kakak tunggu di bawah ya!" ucap Vano memudian melenggang keluar. Vio bangkit dengan malas dan menghampiri lemarinya. Ia mengambil dua buah celana training dan dua buah kaos tebal berlengan panjang. "Nih! Lo pake itu aja!" ucapnya kesal. "Tuan puteri kesel cieee..." ledek Hesya yang semakin membuat Vio kesal. "Berisik!" kesalnya. Sebelum berganti pakaian, mereka mencuci muka terlebih dahulu dan menggosok gigi. Setelah selesai mereka segera berganti pakaian. Keduanya turun bersamaan. Berbeda dengan Hesya yang terlihat lebih bersemangat, Vio justru sebaliknya. Sepertinya ia masih menahan kantuk akibat bergadang semalam. Dibawah, Vano juga sudah menunggu kedatangan keduanya. Vano terkekeh melihat wajah adiknya yang kusut. Merasa diperhatikan Vio pun menatap kakaknya kesal. "Semangat dong sweety! Masa pagi-pagi mukanya kusut gitu," ucap Vano. "Aku pengen tidur kak," rengeknya dengan memejamkan mata. "Pagi-pagi tuh enaknya gerakin badan, bukan tidur terus. Kalo udah kena udara pagi pasti langsung seger, ngantuknya bakal ilang, percaya deh!" ucap Vano kemudian menggiring para gadis itu untuk keluar rumah. Benar saja, udara pagi itu begitu segar, aroma hujan menyeruak seketika ke dalam indera penciuman mereka. Matahari pun masih malu-malu menampakkan dirinya, begitu juga langit masih diselimuti awan yang lumayan pekat. Vio yang tadinya terlihat cemberut pun langsung menarik kedua sudut bibirnya. Ia menarik napas dalam-dalam sembari memejamkan mata, merasakan aroma lembut yang dikeluarkan oleh tanah yang terkena hujan. Udara dingin pun menerpa tubuh ketiga orang itu. Untung saja mereka memakai pakaian yang cukup tebal. Mereka pun memulai aktivitas larinya mengelilingi komplek perumahan. "Udaranya seger banget!" ucap Vio. "Kakak bilang juga apa," timpal kakaknya. "Kakak sering jogging?" tanya Hesya pada Vano. "Seminggu sekali sih, lumayan lah daripada kek Vio tuh, susah banget kalo diajak jogging. Sekarang aja dia mau karena ada kamu," jawabnya panjang lebar. Merasa terpanggil, Vio pun angkat suara. "Mana ada! Aku terpaksa tau! Tadinya juga aku pengen tidur lagi," timpalnya. "Sekali-kali lah Vi, semalem kan udah nimbun lemak, jadi sekarang harus bakar lemaknya." ucap Hesya. Sudah sekitar satu jam lebih mereka berlari mengelilingi komplek. Mereka bertiga sudah mulai terengah-engah karena lelah. Tiba-tiba ponsel Vano berdering. Vano pun sedikit menjauh dari kedua gadis itu. "Kok makin mendung ya?" ucap Hesya pelan. "Hah? Ngomong apa lo barusan?" tanya Vio yang tidak mendengar perkataan Hesya. "Ini kok makin mendung," ulangnya. "Oh," jawab Vio datar. Andai saja tidak ada Vano mungkin sebuah jitakan dari Hesya sudah melayang di kepala Vio. Ia pun hanya bisa menghembuskan napas kasar karena kesal. Tak berapa lama Vano kembali. "Kalian masih mau disini?" tanya Vano pada kedua gadis itu. Ya, saat ini mereka sedang di taman komplek untuk beristirahat. "Iya kak, aku sama Hesya masih pengen disini," jawabnya. "Yaudah kalo gitu kakak pulang duluan ya," ucap Vano. "Kok buru-buru?" tanya Vio heran. "Kan kakak mau nganter mama ke rumah tante Fira, mama udah nunggu di rumah. Kalo berangkat siang takut pulangnya kesorean," jelasnya. "Oh iya, yaudah kakak sama mama hati-hati ya," "Iya, kalian juga hati-hati ya. Mama juga udah nyiapin sarapan katanya, nanti langsung makan ya kalo udah pulang," ucap Vano. Kemudian ia pergi dari tempat itu meninggalkan Vio dan Hesya. "Abis ini mau ngapain Vi?" tanya Hesya bingung. "Diem aja sampe agak siangan," balasnya. "Mending lari lagi yuk!" ajaknya. Akhirnya mereka berlari kembali mengelilingi komplek. Karena hari juga sudah semakin siang, banyak orang-orang yang sudah berlalu lalang. Di depan terlihat ada segerombolan ibu-ibu yang sepertinya sedang mengerubungi sesuatu, ternyata mereka sedang mengerubungi tukang sayur yang memang sudah langganan ibu-ibu komplek. Banyak juga ibu-ibu yang menyapa Vio dan Hesya. Mereka membalasnya dengan senyuman. Setelah beberapa lama, mereka mulai kelelahan. Kemudian Vio mengajak Hesya untuk mencari minum. "Tuh ada warung!" tunjuk Hesya. Mereka pun menghampiri warung itu untuk membeli sesuatu yang bisa meredakan haus mereka. "Permisi!" teriak Vio, namun tak ada jawaban dari sang pemilik warung. Hesya pun mencoba berteriak namun masih tak ada jawaban. Akhirnya Hesya menyerah dan duduk di depan warung itu sembari memainkan sepatunya. "Kok gak keluar-keluar ya?" "Coba aja lagi Vi, cape gue teriak-teriak," "Permisi!" teriaknya lagi lebih keras, namun ada yang aneh. Vio langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia membulatkan matanya saat menyadari ada orang lain di sebelahnya. Begitu juga Hesya langsung menoleh saat menyadarinya. "Elo?! Ngapain lo disini? Nguntit gue ya?!" sergah Vio. "Gue mau beli minum. Pede banget lo gue ngikutin elo," ucapnya santai. Vio kesal mendengar jawaban Iyan. Baru dia akan membalas perkataannya, si pemilik warung muncul. "Eh mau beli apa? Maaf ya ibu barusan lagi di kamar mandi," ucapnya. "Saya mau itu bu!" ucap Vio dan Iyan berbarengan. Mereka saling melemparkan tatapan tajam. "Ini?" ibu itu mengangkat sebotol minuman rasa jeruk. Mereka berdua mengangguk dan mengambil botol itu bersamaan. "Ih apaan sih orang punya gue! Minggir lo!" usir Vio. "Gak, ini punya gue," jawabnya masih datar. "Heh! Yang disini duluan it-" ucapan Vio terpotong. "Eh udah-udah, kok jadi pada berantem sih? Ini tinggal sisa satu, kalo gak ada yang mau ngalah gak akan ibu kasih buat kalian," ucap si pemilik warung menengahi. "Ini aku beli aja bu," tiba-tiba Hesya menyerobot dan mengambil botolnya. Ia membuka tutupnya dan langsung meminumnya saat itu juga. Mereka bertiga menatap Hesya tidak percaya. "Ini berapa bu?" tanyanya. Setelah si pemilik warung menyebutkan harga, ia langsung membayarnya. "Udah kan? Kalian beli minuman lain aja," ucap Hesya tanpa dosa. Akhirnya Vio dan Iyan membeli minuman lain. Setelah itu mereka bertiga duduk di depan warung itu sembari menikmati minuman mereka. "Eh, lo cowok yang semalem kan ya? Kenalin gue Hesya, temennya Vio. Semalem udah ngenalin diri sih gue, jaga-jaga kalo lo lupa," ucapnya panjang lebar. "Gue Rian, panggil aja Iyan," balasnya datar. "Ngapain sih kenalan sama cowok kek gitu?" sinis Vio. "Ya gakpapa dong Vi. Keknya lo kesel banget sama dia? Jangan kesel-kesel gitu Vi, ntar lo suka sama dia malah berabe," "Idih ogah gue!" Tiba-tiba hujan kembali turun cukup deras. Mereka bertiga terjebak di warung itu. Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Mereka mulai kedinginan, ditambah lagi dengan perut yang sudah mulai kelaparan. Tidak mungkin juga jika membeli jajanan, uang mereka tidak cukup. "Kalian masih mau disini?" Iyan bersuara membuat kedua gadis itu menoleh. "E-eh? Ya iyalah! Mana mungkin pulang pas ujan gede kek gini," ucap Vio. "Yaudah, gue mau pulang duluan, ujannya gak bakal reda cepet-cepet kayanya," "Gue ikut!" sambar Hesya membuat Iyan menghentikan langkahnya. "Eh? Terus gue sama siapa?" tanya Vio. "Ya makanya ayo! Percuma juga kita neduh terus disini, bener kata Iyan, ujannya gak mungkin reda cepet-cepet," jelas Hesya. Akhirnya Vio pun mengikuti apa kata sahabatnya. Mereka bertiga berlari di bawah guyuran hujan yang lebat. Jarak dari tempat tadi ke rumah mereka lumayan jauh, dan juga jalanan licin membuat mereka harus berhati-hati. "Aaaargh!" teriak Vio. Iyan dan Hesya berbalik, mereka membelalak kaget melihat Vio yang sudah terduduk di jalan. "Vio!" teriak Hesya reflek. Ia kemudian menghampiri sahabatnya itu. "Lo gakpapa Vi?" tanya Hesya penuh kekhawatiran. "Gakpapa Sya, bantu gue bangun," ucapnya sembari memberikan tangan untuk ditarik. "Masih bisa jalan kan?" tanya Hesya lagi. Vio mengiyakan, tetapi tidak dapat dipungkiri, cara berjalan Vio sedikit tertatih. Hesya membantu Vio berjalan dengan cara menggandengnya. Akhirnya mereka bertiga berjalan ditengah hujan, karena tidak mungkin juga Iyan meninggalkan mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di rumah masing-masing. Vio segera mencari kunci di tempat biasa Rima menaruhnya, namun tak ada. Hampir setengah jam Vio mencari kunci namun tak menemukannya. Mereka sudah kedinginan dan kelaparan. Vio sudah pasrah tidak bisa berpikir lagi. Kemudian ia teringat sesuatu. "Lo tunggu disini ya Sya," "Lo mau kemana?" "Ke rumah tante Yuli," jawabnya kemudian langsung menerobos hujan. Ia menghampiri rumah Yuli dengan berjalan sedikit tertatih. "Permisi tante!" teriaknya. Ia takut jika Yuli tidak bisa mendengarnya karena suara hujan. Tidak lama Yuli keluar, ia kaget melihat penampilan Vio yang basah kuyup. "Masuk dulu ayo," tawarnya, namun Vio menolak. "Yaudah duduk dulu. Kamu kok kesini ujan-ujanan?" "Tadi abis jogging tante, terus keujanan di jalan. Pas aku pulang, kunci rumah gak ada, aku gak tau mama naruh kuncinya dimana. Makanya aku kesini mau pinjem hp tante buat hubungin mama, boleh?" tanyanya penuh harap. "Aduh hp tante lagi mati. Bentar ya, pinjem punya Iyan aja." Kemudian Yuli masuk lagi ke dalam rumah. Tidak lama ia keluar bersama anaknya. Iyan pun sama kagetnya saat melihat Vio yang masih basah kuyup. Padahal sudah lama sejak ia kembali tadi, tapi Vio masih memakai baju yang sama dan dalam keadaan basah kuyup. Sedangkan ia sudah rapi dan bersih. "Ini," ucap Iyan sembari menyerahkan ponselnya. Vio mengetikkan beberapa angka dan langsung menekan tombol call. "Hallo Ma? Ini Vio," "..." "Kunci rumah dimana? Kok aku cari-cari gak ada?" "..." "Oh iya ma, yaudah aku tutup dulu ya, ini pinjem hp orang," "..." "Iya ma iyaa..." Sambungan pun terputus. Vio menyerahkan kembali ponselnya pada Iyan. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Iyan datar. "Tante makasih ya," ucapnya pada Yuli sembari tersenyum. "Iya sama-sama, kalo ada perlu lagi jangan sungkan buat kesini ya." "Iya tante, aku pulang dulu," Setelah pamit pada Yuli dan Iyan, Vio akhirnya kembali ke rumahnya. Ia segera mencari kunci di tempat yang disebutkan mamanya. Setelah berhasil masuk, mereka berdua segera membersihkan tubuh. Karena perut yang sudah protes minta diisi, kegiatan mandi mereka pun tidak terlalu lama. Setelah itu mereka langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan. ••• Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan Hesya sudah pulang beberapa jam yang lalu. Dan saat ini Vio merasa kesepian karena tidak ada siapapun di rumah. Mama dan kakaknya pun belum kembali dari rumah tante Fira. Vio sedang berada di balkon kamarnya, hujan juga sudah reda dari jam sebelas. Ia menatap lurus ke arah langit yang sudah cerah kembali, lalu memejamkan matanya. Kemudian ia mendengar suara pintu yang terbuka dari seberang. Ternyata itu Iyan. "Hey, makasih buat yang tadi pagi," ucap Vio sedikit keras. "Iya sama-sama," balas Iyan masih datar. 'Sumpah ya itu cowok dinginnya kebangetan, sabar Vi sabar,' batinnya. Kemudian Iyan mulai memetik gitarnya, memainkan sebuah lagu yang asing di telinga Vio. Tanpa sadar, Vio memerhatikannya. Ternyata Iyan pandai bermain gitar. "Ngapain lo liatin gue?" tanya Iyan to the point. Ia merasa diperhatikan, dan benar ternyata Vio yang sedang memerhatikannya. "E-eh? Terserah gue dong! Mata gue ini kok," ucap Vio kelabakan. Kemudian Vio masuk ke dalam dan segera menutup pintu. Vio salah tingkah dibuatnya. Ia merutuki perilakunya itu. Vio kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menatap langit-langit kamarnya. Bosan sekali rasanya di rumah sendirian. Saat akan memejamkan matanya, ia mendengar suara klakson mobil dari bawah. Dengan cepat ia berlari turun dan membukakan pintu. Disana mama dan kakaknya turun bersamaan. Beberapa saat, Vio baru menyadari jika ada orang lain lagi yang bersama mereka. Matanya membulat saat menatap pria itu. "Kak Devan?!" •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN