Gadis itu terpejam merasakan belaian lembut angin sore. Tubuhnya disandarkan pada sandaran bangku di belakangnya. Kepalanya terasa berat, pikirannya sedang berantakan. Lagi-lagi muncul pertanyaan tentang orang yang mengancamnya lewat pesan. Siapa sebenarnya orang itu? Dan siapa orang yang menguncinya di dalam toilet? Apakah mereka orang yang sama? "Nih, keburu cair!" Hesya menyodorkan satu buah ice cream padanya. Vio menerimanya dan langsung membuka ice cream itu. Hesya langsung duduk di dekat Vio, begitupun dengan Iyan. Mereka sedang berada di taman sembari menikmati ice cream yang Iyan dan Hesya beli dari penjual ice cream keliling. Vio sengaja mengajak mereka ke taman kota, alasannya karena matanya yang masih terlihat sedikit merah gara-gara menangis tadi. Jadi ia ingin meng

