Lamaran
“Kalau begitu bawa orang tuamu ke sini. Itu sudah cukup membuktikan keseriusan niatmu menghalalkan Zalfa,” ucap Angga saat seorang pemuda bernama Eijaz Hilman Al Hafidz yang kerap dipanggil Hilman datang ke rumahnya.
“Baik, Yah. Insyaallah malam ini juga saya bawa mereka ke sini,” putus Hilman dengan penuh keyakinan karena sebelum pergi ke rumah Zalfa, dia sudah menceritakan semua niatnya untuk menghalalkan Zalfa pada kedua orang tuanya.
“Malam ini?’ tanya Anah, Ibunda Zalfa yang kaget mendengar jawaban dari Hilman.
“Inggih, Bu. Malam ini,” tegas Hilman tanpa ada keraguan Sedikitpun dari ucapannya.
“Baik, pulanglah. Kami akan mempersiapkan sedikit penyambutan untuk kedatangan kamu dan orang tuamu. Kamu juga pasti butuh mempersiapkan sesuatu,” kata Angga.
Hilman langsung pamit dan beranjak pulang tanpa bertemu dengan gadisnya. Almira Zalfa Ghaida, anak tunggal dari Kholid Anggara dan Uswatun Khasanah. Anah sang Bunda selalu memuji kalau anaknya cantik meskipun bertubuh minimalis. Tinggi 150 cm dengan berat hanya 42kg, membuat Zalfa terlihat begitu mungil dan cantik. Matanya sipit dengan hidung panjang dan manjung, bibirnya tipis dengan kulit seputih s**u mewarisi kulit sang bunda. Zalfa juga termasuk gadis yang aktif, ceriwis dan mudah bergaul dengan siapapun.
Hilman mengenal Zalfa saat mereka sama-sama menjadi santri di pondok pesantren Al-Hikmah. Mereka memang jarang bertemu karena area pondok putra dan pondok putri terpisah jauh. Namun, Hilman dan zalfa yang sama-sama menjabat sebagai pengurus pondok membuat keduanya sesekali bertemu dalam acara musyawarah yang dilakukan rutin sebulan sekali.
Pagi ini, Hilman pun langsung meluncur ke rumah Zalfa saat tiba-tiba gadisnya memberitahu rencana sang bunda yang akan menjodohkan dirinya dengan Zumi, anak sahabat Anah. Hilman tak rela kalau gadisnya dikhitbah orang lain. Dia menceritakan semua pada kedua orang tuanya dan langsung berangkat ke rumah Zalfa dengan restu dari mereka.
Ponsel Hilman berdering, Bundanya yang menelepon. Hilman menepikan mobil untuk segera menjawab panggilan sang bunda.
“Mas … suda sampai?”
“Sudah, Bun. Ini lagi on the way pulang.”
“Loh, kok pulang? Kenapa Mas?”
“Sudah ketemu, Bun. Masa iya aku nginep di rumah Zalfa.”
Kata Oh dan kekehan sang Bunda pun terdengar dari seberang. Hilman juga langsung menyampaikan kalau dia berjanji pada kedua orang tua Zalfa akan kembali mala mini buat melamar sang gadis bersama keluarganya.
“Malam ini, Mas?” kaget Hanin. Hilman membayangkan pasti mata sang bunda yang sudah bulat dan besar bertambah melebar saat mengungkapkan rasa kagetnya.
“Iya, Bun. Malam ini.”
“Kamu itu asal ambil keputusan loh, Mas. Masa iya secepat itu.”
“Aku, nggak mau keduluan si Zumi, Bunda,” potong Hilman yang membuat hembusan napas sang Bunda terdengar di telinganya.
“Ya sudah, hati-hati di jalan. Biar Bunda telepon kakakmu,” tutup Hanin.
Eijaz Hilman Al Hafidz, 25 tahun, anak kedua dari Muhammad Lutfi dan Hanin Agustina. Dia memiliki seorang kakak bernama Early Hilyatul Aulia. Tinggi 180 cm, berat 60kg, matanya tajam dan panjang bak elang dengan bulu mata lentik dan alis tebal meskipun hidungnya termasuk minimalis, tidak mancung seperti sang kakak. Namun, bibir berbentuk hati dengan cupid’s bow menonjol dan ukuran bibir bawahnya sedikit lebih tebal membuat Hilman terlihat tampan.
Hilman tipikal pria ramah yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan pandai menjalin komunikasi dengan orang lain. Kemampuannya berbicara ini membuat usaha rumahan yang dirintis kedua orang tuanya semakin berkembang pesat. Di usia mudanya Hilman sudah menjadi CEO The Early’s Home. Industri rumahan yang bergerak di bidang pangan.
Seperti yang dia sampaikan pada Hilman, Hanin segera menelepon kakak Hilman untuk membantu menyiapkan lamaran nanti malam. Begitu panggilan dengan Hilman terputus, Hanin langsung menghubungi Hilya yang kini tinggal di rumah suaminya. Dua tahun lalu Hilya sudah menikah dengan seorang dokter dan kini mereka sudah dikarunia seorang anak laki-laki yang baru berusia sebelas bulan bernama Arjuna.
“Assalamualaikum, Bun,” sapa Hilya menjawab panggilan Hanin.
“Waalaikumsalam. Kamu bisa ke sini sekarang?” tanya Hanin. Tentu saja Hilya langsung kaget menerima permintaan dari sang Bunda yang begitu tiba-tiba.
“Ada apa, Bun?”
“Kamu ke sini saja lah, izin dulu sama suamimu. Soalnya bisa sampai malam. Bunda tunggu secepatnya.”
Klik. Sambungan mati tanpa ada penjelasan lebih dari sang bunda. Hilya langsung mencari suaminya yang terakhir dia lihat sehat bermain dengan Juna.
__
Hilman sudah tiba di rumah, di sana ada Hilya beserta anak dan suaminya, Fajar. Hanin, Hilya, Fajar dan Lutfi, sang ayah memang sedang menunggu kedatangan Hilman di ruang keluarga. Hari Minggu membuat mereka bisa duduk bersama bercengkrama sembari membahas rencana Hilman.
“Tuh, si kucrut datang!” tunjuk Hilya pada sang adik yang berjalan dengan gagahnya.
“Ganteng-ganteng dipanggil kucrut, nggak keren banget sih, Kak,” protes Hilman.
Protes yang sudah sering dia lontarkan. Namun, tidak pernah membuat Hilya mengubah panggilan pada adik kesayangannya meskipun mereka bak Tom and Jery, tapi mereka sudah tentu saling menyayangi satu sama lainnya.
“Kamu kebelet nikah atau bagaimana sih, Mas? Subuh-subuh minta izin ke Gempol, sekarang pulang buat ngrengek minta lamar tuh gadis nanti malam, iya kan?” tebak Hanin yang membuat Hilman langsung meringis.
“Bun, si Zumi mau lamar Zalfa lusa. Aku nggak mau dong keduluan dia.”
“Besok, kan bisa mas,” sahut Lutfi.
“Nggak bisa dong, Yah. Kalau tiba-tiba nanti malam Zumi datang, kan berabe.”
“Halah, emang dia sudah kebelet nikah tuh, Bun. Kemarin saja ngomongnya belum pengen nikah lah, masih pengen berkarir lah, eh tahunya emang sudah punya calon sendiri,” sindir Hilya pada sang adik.
Hanin dan Hilya memang beberapa kali mengenalkan beberapa gadis yang masuk dalam kategori high quality calon istri Hilman. Namun, tak satupun dari para gadis yang dikenalkan padanya membuat Hilman tergoda untuk berpaling dari Zalfa. Hilman tetap sabar menanti kepulangan Zalfa yang setelah selesai mondok langsung melanjutkan pendidikannya ke Lirboyo sembari kembali mondok. Sementara Hilman, usai mondok langsung mengambil strata satu ekonomi di salah satu universitas di Yogyakarta.
“Aku janji, akan menjaga cinta ini untukmu hingga aku sudah pantas menghalalkanmu,” janji Hilman sebelum mereka berdua sama-sama fokus dengan pendidikannya masing-masing.
Lima tahun mereka terpisah jarak dan hanya mampu berkomunikasi sesekali saat Zalfa pulang ke rumahnya, tidak membuat cinta mereka hilang dan surut. Hal itu justru membuat keduanya semakin semangat untuk segera menuntaskan pendidikan mereka masing-masing.
Empat tahun Hilman di Jogja dan pulang dengan membawa gelar strata satu ekonomi. Dia memilih untuk membantu usaha kedua orang tuanya yang membuka rumah produksi The Early’s Home yang membuat aneka keripik yang dijual bukan hanya di lingkungan sekitar mereka. Namun, hingga ke luar kota hingga ke mancanegara dengan pemasaran online dan offline.
Semua persiapan untuk dibawa ke rumah Zalfa sudah rampung, bada magrib mereka langsung berangkat. Fajar yang mengemudikan mobil dengan Hilman yang duduk di sampingnya. Sedangkan Hanin dan Lutfi duduk di belakang mereka. Hilya tidak ikut serta karena menemani sang putra yang tidak diizinkan Hanin untuk ikut bersama mereka karena perjalanan malam tidak baik untuk sang bayi.
“Duh, kok aku deg-degan ya, Bang,” ungkap Hilman pada Fajar.
“Kalau nggak deg-degan mati, Mas,” sela Lutfi yang sedari tadi tersenyum melihat kegugupan Hilman.
“Ya ampun, nggak gitu juga kali, Yah.”
“Si kucrut emang gitu, Yah. Pengen cepet-cepet lamar, tapi masih di jalan sudah grogi,” sahut Hanin.
“Aduh, Bunda tuh nggak ada simpati sama sekali sih, masa iya anaknya grogi malah diledek.”
Mereka saling sahut menyahut melempar ledekan pada Hilman yang memang tidak bisa menyembunyikan kegrogiannya. Saat waktu isya tiba, Fajar langsung membelokan mobil mereka ke salah satu masjid.
“Kita salat dulu, biar tenang dan nggak grogi sampai pipis di celana,” ledek Fajar yang langsung mendapat hadiah pukulan di lengannya.
“Masyaallah ini nggak tahu terima kasih banget, sudah dijadikan sopir ... dianiaya lagi,” protes Fajar sambil mengusap lengannya sebelum keluar dari mobil.
Mereka meninggalkan Hanin sendirian di mobil karena Hanin memang sedang mendapatkan jatah libur bulanan. Hanin mengingat sejenak nama tempat yang akan mereka kunjungi, Gempol, Palimanan. Bayangnya menerawang mengingat beberapa puluh tahun silam saat usia remaja.
“Kholid Anggara,” gumam Hanin menyebut satu nama yang dulu begitu berarti untuknya. Seorang pria yang sempat berdiam menjadi raja hatinya selama beberapa tahun sebelum dia bertemu dengan Lutfi.
Kilas balik kenangan bersama Angga kembali terlintas, bukan karena dia masih menyimpan rasa untuk sang mantan. Namun, dia merasa bersalah karena mengakhiri hubungan mereka tanpa kata perpisahan sama sekali.
“Ye, Bunda malah ngelamun,” tegur Hilman saat masuk kembali ke dalam mobil.
“Yuk, Bang. Biar nggak kemalaman,” sahut Hanin menyuruh Fajar segera menjalankan mobil saat semuanya sudah kembali masuk ke dalam mobil.
“Kenapa, Sayang?” bisik Lutfi.
“Aku ikut deg-degan,” jawab Hanin dengan berbisik juga, dia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
Perjalanan menuju rumah Zalfa dilanjutkan, mobil tampak sunyi senyap. Tak ada obrolan apapun, semua seolah sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Toyota Rush warna hitam yang dikemudikan Fajar berhenti tepat di depan rumah bercat hijau dengan pintu yang terbuka lebar. Mobil yang membawa keluarga Hilman yang berasal dari kota mangga, membuat detak jantung Zalfa tak lagi berirama. Zalfa dan kedua orang tuanya keluar rumah untuk menyambut kedatangan tamu yang sudah mereka tunggu.
Hidangan sudah tertata, hiasan cantik untuk pertunangan tampak Indah di ruang tamu keluarga Zalfa. Suasana bahagia begitu merebak di hati kedua sejoli yang akan mengikat tali kasih mereka menuju satu langkah mendekati kata halal.
Jantung Zalfa semakin berdetak kencang saat satu persatu keluarga Hilman turun dari mobil. Senyum sudah terpasang di wajah kedua orang tuanya menyambut kedatangan Hilman sekeluarga. Namun, aura muka Anah seketika memucat melihat satu wajah yang membuatnya selalu terbakar rasa cemburu karena curiga serta prasangka yang tak kunjung hilang dan mereda.
"Pertunangan batal!" seru Anah dengan lantang.
Seruan yang membuat kaget semua orang yang ada di sana, hingga Angga dan Hanin tanpa sengaja saling bertatap muka. Kening keduanya seketika mengkerut, Hanin memicingkan mata mencoba mengenali pria yang berdiri di ambang pintu rumah Zalfa.
"Teteh ... dia anakmu?"