“Ngapunten, Bah. Shaka ngaku salah telah mengkhianati dek Ayna sebelumnya. Tapi in syaa Allah Shaka akan perbaiki semua dan gak akan ngulangi lagi,” jelas Shaka pada abah.
“Abah percaya, Allah Maha membolak balikkan hati hamba-Nya. Semoga Nak Shaka memang mau berubah dan gak ngulangi nyakiti hati anak Abah lagi.”
“In syaa Allah, Bah.”
“Abah ikut sakit jika anak anak Abah disakiti, Le. Abah memang bukan ayah yang sempurna untuk anak anak Abah. Akan tetapi, Abah tidak pernah membuat anak anak Abah menderita. Bahkan Abah selalu berusaha untuk membahagiakan mereka dengan sepenuh jiwa raga Abah. Jadi Abah mohon, jangan sakiti anak Abah. Kalau memang menurut Nak Shaka putri Abah sudah tak layak, sekali lagi Abah tekankan, tolong pulangkan kembali pada Abah!” Pipi Shaka seolah ditampar tangan besar tak kasat mata. Sungguh dalam perkataan ayah mertuanya barusan.
“In Syaa Allah setelah ini Shaka tidak akan mengkhianati dan menyakiti dek Ayna lagi, Shaka janji, Bah.” Air mata bersalah Shaka mengalir bersamaan dengan janjinya pada ayah mertuanya.
“Sakit hati dan traumanya wanita yang dikhianati oleh orang tercintanya iku sangat dalam, Le. Syukur syukur dia bisa memaafkan. Tapi dia hanya sekedar memaafkan, bukan berarti dia bisa melupakan. Karena bekasnya akan selalu ada dalam ingatannya. Kata maaf yang Nak Shaka ucapkan mungkin bisa menghapus rasa bersalah, tapi tidak untuk menghapus rasa sakitnya, Le. Jadi jangan merasa setelah meminta maaf dan bertaubat akan membuat semua hilang begitu saja, tidak semudah itu, Le,” tutur abah yang semakin membuat rasa bersalah Shaka menjadi jadi.
“Enggeh, Bah. Shaka paham akan hal tersebut.”
“Dan pesan Abah lagi, setelah ini, jangan paksa anak Abah untuk langsung melayani nak Shaka sepenuhnya seperti dulu. Ibarat orang yang terkena goresan pisau, meski sudah sembuh, tapi masih ada bekas lukanya. Bekas itu yang akan mengingatkan kejadian di mana goresan pisau itu terjadi. Kalau dia tidak mau melayani Nak Shaka, bukan dia bermaksud untuk jadi istri durhaka, tidak. Tapi kadang kala ketika melihat wajah Nak Shaka dia akan mengingat kembali traumanya.”
“Enggeh, Bah.”
“Rumah anak perempuan setelah menikah adalah pasangannya. Jadi Abah titip anak Abah, tolong setelah ini perlakukan anak Abah dengan sebaik baiknya. Wanita itu punya sifat kekanak kanakan, Mau wanita manapun Abah yakin pasti sama saja. Gak akeh o gak titik o pasti ndue sifat ngunu kui. Kudune sebagai seorang lelaki ya kita yang harusnya peka. Semakin dia cinta karo pasangane, maka dia akan semakin cerewet, semakin marah marah, semakin cemburuan, dan yang lainnya. Karena banyak kekhawatiran atas hubungannya. Hal itu wajar, apalagi setelah kejadian ini. Dia pasti mati matian untuk menyembuhkan luka batinnya. Terutama dia pasti mati matian melawan ketidak percayaannya. Meski dia terlihat baik baik saja, tapi kita tidak tahu bahwa mentalnya sudah hancur sehancur hancurnya.”
“Enggeh, Bah.” Shaka semakin menundukkan kepalanya, untuk menyembunyikan tangisnya. Penuturan sang ayah mertua membuat Shaka dipenjara oleh kesalahannya sendiri. Rasa bersalah itu lebih menyiksa dari berbuat salah.
“Hanya itu yang ingin Abah sampaikan, Nak. Mari kita kembali ke ruang keluarga!” ajak abah kemudian.
Ketika Shaka dan abah kembali ke ruang keluarga, ternyata mereka semua sudah tidak ada di sana, sepertinya mereka sedang bersiap siap untuk menghadiri acara halal bihalal keluarga. Shaka pun pamit pada abah untuk menyusul Ayna ke kamarnya.
“Ma,” panggil Shaka ketika tak menemukan Ayna di dalam kamar. Sesaat kemudian Ayna pun keluar dari kamar mandi.
“Iya, Mas?”
“Jadi ikut acara hala bihalal?”
“Aku terserah kamu saja. Kalau kamu gak pergi aku juga gak pergi, biar anak anak ikut sama abah dan umy saja.”
“Ya pasti ikut lah, biasanya tiap tahun kan gitu.”
“Oh ya wes lek gitu. Kamu mau pakai baju yang mana?”
“Terserah kamu saja, Ma. Pokoknya nanti senada dengan baju yang kamu dan anak anak pakai.” Shaka cukup sadar diri bahwa lebaran kali ini dia tidak punya baju couple dengan anak istrinya.
“Kamu bawa baju warna sage green, Mas?” tanya Ayna, mengingat kini mereka berada di rumah orang tuanya dan tidak ada baju Shaka satupun kecuali yang Shaka bawa dalam kopernya saja.
“Sepertinya aku bawa, kamu cari saja di koper yang aku bawa tadi.” Ayna pun langsung mengecek koper milik Shaka.
“Ini ya, Mas.” Ayna memberikan baju tersebut pada Shaka.
“Iya, makasih. Aku mandi dulu.” Ayna pun mengiyakan.
Ayna juga bersiap, dia mengenakan gamis warna senada dengan warna baju Shaka yang memang sudah dia rencanakan sebelumnya. Ayna juga memoleskan make up tipis tipis di wajahnya, natural. Ketika Ayna ingin mengenakan hijab, tiba tiba gawai Ayna berbunyi. Kening Ayna langsung berkerut ketika melihat siapa yang menelfonnya.
“Asslamua’alaikum,” ucap Ayna mengawali.
“Mas Shaka sekarang sedang sama kamu?” tanya Alinka dari seberang telfon. Ya, yang telfon adalah Alinka.
“Dia suamiku, jelas dia sama aku sekarang. Kenapa?”
“Kamu apakan mas Shaka?” tuduh Alinka.
“Maksud kamu?” tanya balik Ayna karena memang tidak paham akan maksud Alinka.
“Sudah jelas jelas mas Shaka itu tidak mencintai kamu lagi. Tapi, kenapa sekarang dia bisa sama kamu?”
“Orangnya sendiri yang mau kembali denganku,” jawab Ayna apa adanya.
“Aku yakin pasti sudah kamu dukunkan mas Shaka, iya kan?” tuduh Alinka.
“Astagfirullah, jaga omongan kamu. Aku tidak selicik itu untuk mendapatkan hati mas Shaka kembali.”
“Halah, alasan saja kamu, mana ada orang yang berbuat busuk mau ngaku.”
“Terserah kamu saja lah, aku tak peduli. Kalau tujuan kamu hanya ngobrol yang tidak berfaedah seperti ini, mending tutup saja telfonnya!”
“Eh tunggu!” tahan Alinka.
“Apa lagi?” tanya Ayna geram.
“Gimana keadaan mas Shaka sekarang? Aku lihat di SW nya kapan hari lalu dia sepertinya sedang tidak enak badan. Aku telfon dan chat tidak dia respon.”
“Dia baik kok.”
“Apa kamu juga yang melarang mas Shaka untuk tidak merespon telfon dan chat aku?”
“Aku tidak pernah melarangnya melakukan apa pun, termasuk yang kamu bilang barusan. Aku gak mau buang buang waktu dan tenaga untuk melarangnya ini dan itu lagi, percuma. Karena dia tetap akan kekeh pada pendiriannya. Jadi, kalau memang mas Shaka sudah tidak merespon kamu lagi, itu berarti kode bahwa kamu harus PAMIT dari kehidupan mas Shaka,” tekan Ayna.
“Aku bisa saja pergi dari kehidupan mas Shaka, tapi asal kamu tahu saja, kalau hubunganku dan mas Shaka sudah sangat jauh dan bahkan lebih dari apa yang kamu pikirkan,” jelas Alinka tanpa rasa malu.
“Oh ya? Emang kamu tahu apa yang aku pikirkan?” tanya Ayna sinis.
“Mungkin kamu hanya mengira aku dan mas Shaka hanya b******u di chat saja. Asal kamu tahu saja, aku dan mas Shaka sudah melakukan layaknya suami istri yang saling menghangatkan satu sama lain. Bahkan aku lebih bisa melayani mas Shaka dengan baik dibanding kamu yang sudah membosankan baginya. Kami pun sudah merencanakan sebuah masa depan yang indah,” tutur Alinka tak tahu malu.
“Masih masa depan, kan? Aku gak peduli kalian sudah merencanakan masa depan atau masa akhirat, yang terpenting masa sekarang mas Shaka adalah aku dan anak anaknya. Jadi, jauh jauh deh dari mas Shaka!”
“Aku yakin, mas Shaka tidak benar benar kembali sepenuhnya padamu. Lihat saja nanti, suatu saat aku yang akan memenangkan mas Shaka,” ucap Alinka dan langsung mematikan terlfonnya.
Ayna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sungguh dirinya benar benar capek menghadapi Alinka.
“Ma, kenapa?” tanya Shaka yang baru keluar dari kamar mandi.
Ayna menatap tubuh Shaka yang bertelanjang d**a, ada rasa jijik ketika mengingat ucapan Alinka bahwa keduanya sudah melakukan hubungan suami istri.
“Wanitamu baru saja menelfonku, katanya kamu tak lagi meresponnya. Dan dia menuduh aku yang mempengaruhimu untuk melakukan hal itu,” jelas Ayna tanpa mau menatap ke arah Shaka lagi.
“Aku memang sudah dua minggu tidak menghiraukannya,” jelas Shaka.
“Dari pada dia terus mengganggu, sebaiknya kamu selesaikan dulu urusan kalian!”
“Aku tidak mau bertemu dengannya lagi.”
“Menyelesaikan masalah tidak harus ketemu, Mas. Kan bisa lewat chat toh.”
“Aku sudah gak mau berurusan lagi dengan dia,” tegas Shaka.
“Kalau kamu belum menyelesaikan hubungan kamu dengan wanita itu, dia akan terus menghantui rumah tangga kita, Mas. Bagaimana kita bisa hidup dengan tenang, kalau dia terus terusan mengganggu kita?”
“Aku akan ganti no hp saja,” putus Shaka kemudian.
“Kamu harus tegas sama dia, Mas. Karena kalau kamu gak mengakhirinya, selamanya dia akan menganggap semuanya masih jalan. Jadi tolong perjelas sama dia bahwa hubungan kalian sudah berakhir!” pinta Ayna pada Shaka.