Pulang Bersama

1507 Kata
"Kiara, Mama lagi ndak enak badan. Jadi kalau tidur kruntelan bertiga gak enak, tambah sakit semua nanti badan Mama. Jadi, Kiara bobok sama papa aja ya!" bohong Ayna. "Gak bisa bobok satu kasur?" Ayna menggeleng. "Kalau gitu beber dua kasur depan tivi saja seperti waktu itu, Ma, nanti kita tidur bareng bareng lagi di sana kan lebih luas kalau dua kasus." Kiara masih berusaha mencari cara agar bisa tidur bareng sama papa dan mamanya. "Tidur di kamar tamu saja, Mbak. Kan di sana kasurnya king size," sahut ibu mertua Ayna. Lagi lagi ada saja yang membungkam mulut Ayna untuk menuruti kemauan mereka, seolang mereka berusaha menyatukan Ayna dan Shaka kembali. "Enggeh, Buk," jawab Ayna mau tidk mau dan langsung membuat senyum merekah di bibir Kiara. Ayna, Shaka, dan Kiara kini sudah berada di kamar tamu. Kiara sudah naik ke kasur di bagian tengah. Dengan canggung Ayna dan Shaka ikut naik di sebelah kanan dan kiri Kiara. Kiara juga membawa tangan kedua orang tuanya ke dadanya. "Kiara seneng banget bisa tidur bareng sama Papa dan Mama lagi. Besok kita kembali ke rumah ya, Kiara kangen rumah." Ayna dan Shaka saling pandang, mereka bingung mau jawab apa. "Kita tidur aja yuk, katanya Kiara ngantuk." Ayna mencoba mengalihkan pembicaraan. "Iya, Ma." Kiara pun memejamkan matanya dengan Ayna mengusap lembut puncak kepala Kiara. Tidak ingin ada percakapan lagi dengan Shaka, Ayna pun ikut memejamkan mata. Ayna sebenarnya masih belum ngantuk, apalagi elusan tangan Shaka pada punggung tangannya membuatnya tak nyaman. Namun, Ayna tak berani menghindar. Karena tangan mereka masih berada di atas perut Kiara. Ayna takut Kiara terbangun jika dia bergerak. Keesokan harinya, Shaka minta bicara berdua dengan Ayna di kamar. "Ay, apa kamu masih mau egois dengan keputusanmu? Anak anak masih butuh kita loh, Ay." Lagi lagi Ayna dibuat bingung oleh keadaan. Dia tidak tega dengan anak perempuannya, dia sadar bahwa Kiara sangat butuh sosok seorang ayah. Akan tetapi, Ayna masih trauma dan lukanya masih belum pulih. "Ay, apa yang kamu inginkan agar kamu percaya bahwa aku benar benar ingin memperbaiki semuanya?" "Aku gak tau, Mas. Aku masih trauma. Waktu itu kamu juga mengatakan telah memilih aku dan anak anak, tapi nyatanya belum dua puluh empat jam sudah kamu ingkari. Aku bingung bagaimana caranya aku bisa mempercayai kamu lagi. Sulit Mas, SULIT," tekan Ayna. "Ay, percaya padaku! Kali ini aku bersungguh sungguh." Ayna masih terdiam, dia masih bingung juga dengan hatinya. Ada cinta yang membuatnya ingin bertahan, tapi luka batinnya juga tidak bisa dia diabaikan. "Atau kamu mau aku pindah cabang? Atau bahkan kamu ingin aku berhenti kerja, akan aku turuti asal kita bisa kembali bersama, Ay." Ayna mendongak menatap Shaka, dia tak percaya bahwa kalimat itu keluar dari mulut Shaka. "Sungguh kamu ingin berhenti kerja, Mas?" "Iya Ay, apa pun akan aku lakukan asal kamu mau kembali denganku." "Okey, kalau gitu habis lebaran ajukan resign-mu!" "Tapi, aku juga mau kamu berhenti kerja, Ay." "Kenapa aku harus berhenti kerja juga?" "Aku tidak mau orang memandang sebelah mata terhadapku. Aku pengangguran sedangkan istriku pekerjaannya mapan. Ayo kita buat usaha sendiri, kita kerjakan bersama. Agar kita bisa dua puluh empat jam full bersama, agar kamu bisa pantau semua kegiatanku," ucap Shaka mantab untuk meyakinkan Ayna. "Okey, kalau memang itu mau kamu, aku turuti, Mas." "Jadi, kita bisa perbaiki semuanya dari sekarang kan, Ay?" Setelah menghela napas panjang, Ayna akhirnya mengangguk. Shaka mengambil kedua tangan Ayna dan menciumnya berkali kali. "Terima kasih banyak ya, Ay." Ayna kembali mengangguk. "Ini kesempatan terakhir ya, Mas. Kalau suatu saat kamu berkhianat lagi, jangan pernah meminta aku untuk memberi kesempatan lagi. Kali ini pun aku memberi kesempatan karena anak anak, terutama Kiara. Kalau tidak melihat anak anak yang masih butuh kasih sayang ayahnya, aku lebih baik jalan sendiri." "Iya, Ay. Aku janji setelah ini tidak akan berulah lagi, ini kali terakhir aku mengkhianati pernikahan kita. Aku juga janji tidak akan membuatmu kecewa dan sakit hati lagi." Shaka langsung memeluk tubuh Ayna. Kendati pelukan itu terasa hambar, tapi Ayna berusaha untuk membalasnya. "Setelah ini aku mau pulang, Mas. Kamu ikut aku atau gimana? Aku hanya mau mengingatkan, kamu belum lahir batin dengan keluargaku. Selebihnya terserah kamu." "Aku ikut kamu pulang, kita ke rumah abah sama umy. Nanti kita jalan beriringan saja, mengingat kita bawa mobil sendiri sendiri." Ayna mengangguk. "Kalau gitu aku ke anak anak dulu mau minta mereka untuk bersiap dulu." "Iya, aku juga mau kemasi barang barangku." Ayna kembali mengangguk. Ayna meminta anak anaknya untuk mandi dan bersiap. Hari ini ada acara halal bihalal di keluarga Ayna yang selalu rutin diagendakan tiap tahun. Tidak enak kalau tidak ikut. Andai kata Shaka tidak ikut pulang hari ini, mungkin hanya anak anaknya yang ikut. Sedangkan Ayna sendiri akan memilih untuk diam di rumah untuk menghindari pertanyaan dari keluarga besarnya. Sesampainya di rumah orang tua Ayna, Ayna tidak keburu masuk, dia masih menunggu sang suami. Karena sebelumnya mereka sempat berpisah ketika Shaka berbelok ke pertamina untuk mengisi bahan bakar. “Mas, parkir di pinggir jalan saja, garasi rumah penuh.” Shaka pun menurut. Lalu, setelahnya mereka pun masuk rumah bersama. “Assalamu’alaikum,” ucap Ayna dan Shaka bersamaan. “Wa’alaikum salam warahmah,” jawab semua penghuni rumah dengan ekspresi sedikit terkejut melihat kedatangan Ayna bersama Shaka. Ketika Kiara dan Kiano masuk pun mereka tidak ada mengatakan apa pun. Ayna dan Shaka pun langsung menyalami semuanya. “Nak Shaka sehat?” tanya Abah. “Alhamdulillah kulo sehat, Bah. Njenengan kale umy pripun, sehat?” “Alhamdulillah sehat, Le.” “Abah, Umy, Shaka minta maaf kalau banyak salah, baik yang Shaka sengaja mau pun tidak.” Shaka sungkem pada kedua mertuanya. “Iyo, podo podo, Le,” jawab abah. “Iya Le, podo podo.” Kini giliran umy yang jawab. “Le, melu Abah diluk ayo!” ajak abah pada Shaka. “Oh enggeh monggo, Bah.” Shaka pun mengikuti langkah ayah mertuanya. Ayna menatap kepergian dua lelaki yang sangat ia cintai. “Mbak, sudah baikan dengan nak Shaka?” tanya umy dan diangguki oleh Ayna. “Luka Mbak sudah sembuh?” tanya Anggun. “Sebenarnya belum.” “Lalu?” “Entahlah, Mbak sendiri tidak tahu apa maunya hati Mbak, Dek. Kalau ditanya Mbak sudah sembuh, jelas Mbak belum sembuh. Kalau Mbak ditanya kenapa membuka kembali hati Mbak pada mas Shaka, untuk saat ini jawabannya adalah anak anak. Mereka benar benar sangat membutuhkan sosok ayah untuk menemani tumbuh kembangnya. Apalagi Kiara, dia anak cewek yang sangat butuh peran seorang ayah.” “Kenapa Mbak begitu cepat mengatakan sembuh di hadapan mas Shaka jika sebenarnya Mbak belum sepenuhnya sembuh?” protes Anggun. Ayna tersenyum begitu manis. “Mbak masih mencintainya, Mbak masih ingin memperbaiki rumah tangga Mbak sama mas Shaka. Siapa tahu mas Shaka benar benar akan berubah dan kembali ke jalan yang benar,” jelas Ayna dengan tetap pada senyum manisnya. “Kalau misalnya mas Shaka kembali berkhianat pada Mbak gimana? Dan gimana kalau dia ngasih luka yang lebih dalam dan lebih lebar lagi pada Mbak?” “Allah menakdirkan Mbak untuk menerima mas Shaka kembali, berarti Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk Mbak. Kalau misalnya Mbak dipertemukan dengan pengkhianatan lagi, tandanya Allah tahu kalau Mbak itu kuat dan bisa menjalani semua.” “Selingkuh itu susah tobatnya, Mbak. Layaknya seperti orang makan cabe. Kepedesan berhenti, kalau udah ya balik lagi. Jangan pikirkan perasaan orang lain, Mbak harus menyayangi hati dan perasaan Mbak sediri. Mau sampai kapan Mbak memberi kesempatan yang ujung ujungnya dikhianati oleh mas Shaka?” “Sampai Mbak sudah benar benar ikhlas untuk melepaskan mas Shaka,” jawab Ayna mantab. Anggun berdecak, sungguh kakak kandungnya ini terlalu polos, atau mungkin sudah terlalu bucin. “Untuk apa sih Mbak masih ngasih hati ke orang yang sudah khianatin kita?” “Biar orang tau kalau cinta yang tulus itu ada, Dek. Kamu cukup doakan saja semoga ke depannya rumah tangga Mbak dan mas Shaka lebih baik lagi! Umy juga doakan untuk kebaikan Mbak dan rumah tangga Mbak ya, My!” pinta Ayna pada adek serta umy-nya. “Umy akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak anak Umy.” Mereka bertiga pun saling merangkul. Di ruang kerja sang abah, kini Shaka dan abah berada. Shaka menunggu apa yang akan dibicarakan oleh ayah mertuanya tersebut. “Nak Shaka, gimana ibuk di rumah, sehat?” Basa basi abah untuk mengawali pembicaraannya. “Alhamdulillah sehat, Bah. In syaa Allah besok ibuk akan sowan ke sini,” jelas Shaka. “Gini Nak, Abah memanggil kamu ke mari bukannya ingin ikut campur tentang rumah tangga kalian, sama sekali tidak. Tapi, Abah hanya ingin berpesan saja. Kalau memang Nak Shaka sudah tidak lagi menginginkan putri Abah, tidak apa apa. Abah tidak marah, karena tidak ada yang bisa menghendaki perasaan serta keinginan orang lain, bukan? Hati tidak ada yang bisa dipaksa. Jika hanya mempertahankan namun tidak dipehatikan, buat apa? Bukannya lebih baik dilepaskan?” Abah menjedah ucapannya sambil menatap Shaka yang terdiam dengan kepala menunduk. “Tapi Abah mohon, Nak. Jangan biarkan dia pulang ke rumah kami seorang diri. Kembalikan dia baik baik kepada kami layaknya dulu Nak Shaka memintanya baik baik kepada kami!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN