Berada Di Ujung Tanduk

1495 Kata
Alunan gema takbir terdengar di setiap masjid serta mushollah, lebaran yang fitri kini telah tiba. Ketika ummat muslim yang lain sedang berbahagia dengan kedatangannya, beda dengan seorang wanita yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya meratapi kesedihannya. Ramadhan serta lebaran kali ini rasanya sungguh sangat berbeda. Hatinya terasa ngilu ketika melihat keluarga lain sedang berbahagia dengan pasangannya menyambut hari raya yang fitri. Karena rumah tangganya sendiri kini sedang berada di ujung tanduk. "Ma, kita gak pulang ke rumah?" tanya Kiara dengan polosnya, membuat Ayna yang semula melamun jadi terkejut. Ayna menghadap ke arah Kiara, dia mengelus lembut puncak kepala sang anak. "Kita lebaran di sini saja sama mbah uti dan kong abah ya, Nak," ucap Ayna kemudian. "Papa di mana, Ma?" "Papa di rumah nenek, Nak." "Besok kita ke sana?" Rasa pias menjalar di tubuh Ayna, rasanya tubuh Ayna panas dingin. Dia bingung untuk menjawab pertanyaan anak gadisnya. "Kita lihat besok saja," jawab Ayna tanpa kepastian. "Adek kangen papa," aku Kiara. Hati Ayna sakit mendengar pengakuan itu, antara anak dan ego. "Iya Nak, Mama ngerti. Sekarang Adek tidur saja ya, besok sholat ied nya biar gak kesiangan." Kiara pun menurut dan langsung masuk kamar. Ayna sendiri pergi ke ruang laundry, dia menyetrika seluruh baju muslim yang akan ia dan keluarganya kenakan besok. Biasanya setiap lebaran dia selalu mengenakan baju couple bersama Shaka serta anak anaknya. Tapi kali ini mereka mengenakan baju tidak couple. Dua bulan pisah ranjang membuat hati Ayna kosong. Dia memang merasa sedikit berkurang bebannya. Akan tetapi dia seperti tak lagi memiliki rumah. Karena rumahnya telah direbut paksa oleh orang lain. Keesokan harinya, setelah selesai melaksanakan sholat ied, mereka saling memaaf maafan. Ayna menangis ketika sungkem pada kedua orang tuanya, dia meminta maaf karena telah mengecewakan mereka atas retaknya rumah tangganya. Setelah acara sungkeman maaf maafan keluarganya selesai, mereka berniat untuk sanjang ke rumah tetangga dan sanak keluarga. "Mbak, kita silaturrahmi ke rumah saudara saudara yuk!" ajak Anggun, adik perempuan Ayna. "Mbak gak ikut ya, Dek. Kalian kalau mau pergi, pergi saja. Mbak lagi pengen di rumah. Lagian Mbak males kalau ada yang tanya ke mana mas Shaka, Mbak bingung harus jawab apa ke saudara saudara. Kamu pergi saja ya, Mbak titip Kiano dan Kiara, ajak mereka. Kalau ada yang tanya Mbak, bilang saja Mbak lagi kurang enak badan." "Mbak nanti sendirian loh di rumah." "Gak apa apa, Dek. Mbak ini sudah emak emak lagi, jadi kamu gak perlu khawatir," ucap Ayna menggoda adeknya. "Ya kan aku ngomong gitu biar Mbak ikutan, eh tahunya gak mempan," ucap Anggun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Udah sana pergi gih! Mbak jaga rumah saja." "Mbak," panggil abah tiba tiba. "Ah iya, Bah." "Mbak gak mau bawa anak anak ke rumah neneknya?" tanya abah. "Emmm ... Mbak belum tau, Bah." "Kok belum tahu?" "Mbak bingung mau ke sana apa ndak, Bah." "Ini lebaran, kalau Mbak masih kesal sama nak Shaka, gak apa apa abah ngerti. Tapi, Mbak tetap harus silaturrahmi sama mertua Mbak. Bagaimana pun beliau juga orang tua, Mbak. Walau pun, amit amit amit naudzubillah, Mbak sama nak Shaka pisahan, beliau masih tetap orang tua Mbak. Karena tidak ada yang namanya mantan mertua. Apalagi ada anak anak yang masih menghubungkan Mbak dengan beliau. Kalau saran Abah, sebaiknya Mbak ke sana bawa anak anak. Kelihatannya anak anak juga merindukan papa dan neneknya." Kalau di pikir pikir omongan sang abah ada benarnya juga. "Ya sudah kalau gitu Mbak siap siap dulu, Bah." "Iya, Abah sama umy itu ikut baiknya saja. Kalau yang buruk buruk mah kami gak ikut ikut." Ayna mengangguk paham. Lantas ia memanggil kedua anak anaknya untuk bersiap siap. Kedua anaknya bersorak riang ketika diberitahu bahwa akan pergi ke rumah neneknya. Sebelum berangkat, Ayna menyempatkan berkirim pesan pada Shaka memberi tahu bahwa ia akan ke sana. "Assalamu'alaikum," sapa Ayna ketika sampai di rumah sang mertua. "Wa'alaikum salam, Mbak." Sang mertua menyambut dengan hangat. "Ayo masuk masuk," ajaknya pada Ayna serta kedua cucunya. "Ibuk seneng pas Shaka bilang Mbak sama anak anak mau ke sini. Ibuk kangen kalian semua," imbuhnya seraya mencium serta memeluk kedua cucunya. Ayna mencium punggung tangan milik sang ibu mertua. "Buk, Mbak minta maaf kalau ada salah, baik disengaja mau pun tidak. Maaf Mbak belum bisa jadi mantu dan istri yang baik buat Ibuk dan mas Shaka, malah Mbak selalu buat kecewa. Di idul fitri ini, Mbak minta kita tulus saling memaafkan geh Buk. Mbak takut lebaran ini menjadi lebaran terakhir kita merayakan bersama dalam keluarga." Air mata Ayna luruh tanpa pamit. "Podo podo, Mbak. Ibuk ya minta maaf kalau ada salah, baik sengaja mau pun tidak." Keduanya pun berpelukan. Sesaat kemudian, Shaka muncul dari arah belakang. "Mas," sapa Ayna lebih dulu. "Ay, sudah lama nyampeknya? Maaf barusan aku di rumah budhe sebelah, anaknya baru datang," jelas Shaka dan diangguki oleh Ayna. "Aku minta maaf kalau ada salah, baik sengaja atau tidak, Mas. Maaf juga, selama jadi istri ternyata aku belum bisa jadi yang terbaik. Intinya, aku ingin kita benar benar kembali ke fitri, Mas." "Aku yang harusnya minta maaf, Ay. Aku yang banyak salah, aku yang sudah banyak nyakitin kamu. Maafkan aku ya, Ay!" Shaka mengambil tangan kanan Ayna lalu diciumnya, di situ air mata Shaka pun tumpah. Rasanya tidak adil jika perselingkuhan hanya dibayar dengan kata maaf saja. Tapi sayang, Ayna memiliki hati seputih dan selembut kapas yang bisa memaafkan siapa pun hanya karena orang tersebut menampilkan wajah melasnya. "Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Tapi untuk kecewanya, mohon maaf aku belum bisa melupakannya, mungkin selamanya akan tetap membekas di hatiku." "Apakah sulit menerimaku kembali?" tanya Shaka seraya mengunci tatapan Ayna, Tatapan yang selalu membuat Ayna luluh. "Aku gak tahu, aku bingung, Mas." "Apakah kecewamu mengalahkan rasa cintamu padaku?" "Aku juga gak tahu, Mas." "Apakah setelah ini kamu akan membuangku?" "Kamu yang lebih dulu membuangku, Mas." "Kalian selesaikan masalah kalian di kamar saja, gak enak di dengar anak anak sama yang lain," sahut ibu Shaka. Namun, alih alih masuk kamar, Ayna lebih memilih ke dapur menemui Silvi, kakak kandung Shaka. "Le, Ibuk iki perempuan, kakak karo adikmu yo perempuan, anakmu yo perempuan loh. Lek ancen tenanan te memperbaiki seng rusak, ya wes buktekno neng bojomu. Tapi lek sekirane bakal ngulangi kejadian wingi, angur ora usah. Atine wong wedok ojok digae loro terus, iku podo ae sampean ngelarani Ibuk, kakak lan adekmu, karo anake sampean dewe," pesan sang ibu pada Shaka. "Enggeh, Buk." Semakin sore semakin rame tamu di rumah mertua Ayna. Ayna sampai kewalahan menyiapkan makanan untuk para tamu. Ayna pun sampai lupa jika hari sudah mulai petang. "Mbak, aku pamit pulang ya," pamit Ayna pada Silvi. "Loh gak nginep tah?" "Ndak, Mbak. Kapan kapan tak main ke sini lagi lek senggang, sambang ibuk. Aku titip ibuk yo Mbak, aku gak bakalan bisa seminggu sekali kayak biasanya lagi nyambangi ibuk. Sampean lek ada waktu pulango, kasian ibuk sendirian." "Sudah gak bisa disambung lagi tah?" "Mas Shaka sudah gak cinta aku, sudah ngebuang aku, aku ya wes terlanjur sakit hati dan kecewa, Mbak." "Hem ... Mbak seh sek pengen kalian tetap jalan." "Sekarang aku sudah pasrah sama takdir, Mbak. Tak jalani ae manut alure." "Apa pun yang terjadi nanti, ojok pedot sak duluran. Silaturrahminya tetap jalan ya!" Silvi mengelus lengan milik Ayna. "Iya Mbak." Ayna pun meninggalkan Silvi. "Anak anak, ayo pulang!" Tak hanya kedua anaknya yang noleh, tapi Shaka serta mertuanya pun ikut menoleh ke arah Ayna. "Nak, sudah malam, kita pulang yuk!" ajak Ayna lagi. "Kiara gak mau pulang, Kiara masih mau sama papa di sini, Ma," sahut Kiara yang semakin menempel pada sang papa. "Kiano juga masih mau di sini, Ma. Masih mau main sama Dio dan Devan," sahut Kiano tak mau kalah. Ayna menghela napas berat mendengar jawaban kedua anaknya. Ayna menggaruk alisnya dengan perasaan bingung. "Okey, kalau gitu kalian nginep di sini gak apa apa. Kalau mau pulang minta antar papa ya!" putus Ayna kemudian. "Nginep sini aja loh," sahut Shaka menghampiri Ayna. "Iya Mas, anak anak nginep sini kok." "Maksud aku, kamu juga nginep di sini!" "Iya Mbak, nginep sini saja. Ibuk ya masih kangen loh sama Mbak," bujuk mertua Ayna. "Ma, Mama ikut bobok sini juga ya!" sahut Kiara. Semua orang membujuk Ayna untuk menginap, membuat kepala Ayna jadi pening saja. Shaka pun menarik Ayna menjauh dari orang orang. "Nginep sini ya, kasian anak anak pengen nginep." "Iya, anak anak memang nginep sini, Mas. Tapi aku mau pulang." "Nginepnya sama kamu, Ay. Kamu tidur di kamar depan seperti biasanya, aku tidur di kamar tamu. Nginep sini aja ya!" Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Ayna mau untuk menginap di rumah mertuanya. Ayna pun ikut berkumpul kembali dengan keluarga yang lain. Shaka lima bersaudara, jadi kalau lebaran pasti ramai di rumah mertuanya. "Ma, adek ngantuk," seru Kiara. "Ayo bobok ke kamar, Nak!" ajak Ayna. Kiara pun berdiri dan berjalan bersama Ayna menuju kamar. Namun ketika beberapa langkah, Kiara menoleh ke arah sang papa. "Papa kok gak ikut? Kiara mau bobok satu kasur sama Mama dan Papa," ucap Kiara yang membuat semua orang saling pandang satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN