Masih Sah Sebagai Suamimu

1465 Kata
“Ah iya makasih, Mas,” ucap Ayna malu malu. Keduanya seperti anak ABG yang baru PDKT saja. Ayna pun salting dibuatnya. "Alhamdulillah, kenyang atas nikmat-Nya," ucap syukur Shaka setelah menghabiskan makannya. "Terima kasih, Mas," ucap Ayna pada Shaka. "Aku masih sah sebagai suami kamu, ini adalah sebagian dari tanggung jawabku. Jadi tidak usah berkata terima kasih seolah kita hanya berstatus teman." Ayna tak menjawab, dia menundukkan kepalanya. "Ay, ini sengaja aku ambil cash agar aku bisa bertemu denganmu. Ini THR ku, kamu gunakan saja untuk keperluan lebaran kamu dan anak anak." Shaka memberikan amplop coklat berisikan uang pada Ayna. "Terima kasih, Mas." "Iya. Kamu mau langsung pulang atau mau teraweh di masjid sekitaran sini dulu?" "Pulang saja, Mas. Anak anak pasti sudah nunggu." "Oh okey. Tunggu sebentar ya, aku ambil makanan dulu buat anak anak dan keluarga di rumah." "Tidak perlu repot repot, Mas. Di rumah juga pasti sudah masak." "Udah gak apa apa." Shaka pun berlalu. "Andai saja perhatianmu dari dulu seperti ini, tiap hari aku bakal meleleh, Mas. Tapi sayangnya, kamu tidak benar benar tulus melakukannya. Hanya di saat kamu merasa bersalah dan berharap sesuatu saja. Sebelum dan setelahnya perhatian itu tak ada lagi. Jujur, aku merindukan saat saat pertama kali kamu meminta cintaku untuk membalas cintamu, Mas. Begitu tulus dan agung, sampai aku merasa dicintai seperti Rahwana mencintai Dewi Sinta. Rahwana sangat gigih berjuang agar cintanya terbalaskan oleh Dewi Sinta, sama sepertimu. Di situ aku terharu dan aku merasa kau begitu sangat mencintaiku hingga akhirnya aku pun membalas cintamu. Nasibmu lebih beruntung dari pada Rahwana, Mas. Namun, kini aku harus sadar serta menerima kenyataan bahwa kamu bukan Rahwana yang akan terus mengagungkan cintanya kepada satu sosok wanita saja. Bahkan saat ini aku adalah salah satunya di duniamu, Mas, bukan satu satu seperti Dewi Sinta yang abadi di hati Rahwana. Seperti ucapmu tempo hari, bahwa kau sudah bosan padaku. Kamu bukan Rahwana yang tak pernah bosan berucap cinta pada Dewi Shinta, Mas." Ayna bermonolog, tak terasa air matanya pun menetes tanpa bisa ditahan. "Ay, ini makanannya." Tiba tiba Shaka datang memberikan dua kresek berisi makanan untuk Ayna bawa pulang. Sejenak Ayna memalingkan wajahnya dari Shaka agar air mata itu tidak ketahuan jatuh di hadapan Shaka. "Sekali lagi makasih, Mas," ucap Ayna seraya mengambil kresek dari tangan Shaka. "Aku langsung pamit ya, Mas. Assalamu'alaikum," pamit Ayna kemudian. "Wa'alaikumussalam warahmah," jawab Shaka sambil memperhatikan punggung milik Ayna yang semakin menjauh. Shaka kembali duduk di kursinya, dia memikirkan sikap dingin Ayna padanya. Shaka bingung dengan apa yang ada dalam pikirannya sendiri. Berkali kali Shaka menghela napas panjang. Namun, tetap saja tak merubah apa pun. Shaka akhirnya memilih beranjak pergi, karena waktu sudah hampir masuk sholat isyak dan sholat teraweh. Lantas Shaka berjalan menuju basement dan tak sengaja netranya masih melihat mobil milik sang istri terparkir dengan Ayna berada di bangku kemudi. Shaka pun menghampiri mobil Ayna, takut ada sesuatu yang membuat Ayna terhalang untuk pulang. Pasalnya sudah lebih dari lima belas menit Ayna meninggalkannya. "Ay, kok belum pulang?" tanya Shaka setelah mengetuk pintu jendela kemudi mobil. Perlahan Ayna membuka kaca pintu mobilnya. "Ini mau pulang, Mas," jawab Ayna dengan suara serak. Dia tak lagi bisa menyembunyikan air matanya, mata serta hidungnya merah dan bengkak. "Apa kamu gak enak badan? Mau aku antar?" tawar Shaka. "Gak usah, Mas. Aku baik baik aja kok, gak perlu khawatir." Setelahnya Ayna menutup kaca pintu mobilnya, lantas menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas, meninggalkan Shaka yang masih berdiri seperti patung di tempatnya. Dalam perjalanan Ayna kembali menumpahkan air matanya. Ayna masih berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan Ayna ingin segera bangun agar semua bisa baik baik saja. Ayna masih berharap rumah tangganya akan terjalin selamanya, bukan hanya sementara. Namun, semua adalah takdir-Nya. Ayna hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Yang dia percaya saat ini, apa pun takdir dirinya nanti, pasti adalah yang terbaik untuknya. Semua kini dia serahkan pada yang Esa. "Assalamu'alaikum," ucap Ayna ketika sudah masuk rumah. "Wa'alaikum salam warahmah," jawab kedua orang tua Ayna. "Ini titipan makanan dari mas Shaka." Ayna meletakkan dua kresek makanan di atas meja. "Apa ini, Mbak?" "Kurang tahu Ayna, My. Pokoknya tadi Mbak terima saja dari mas Shaka, Umy buka saja!" "Gimana tadi pertemuannya, Mbak?" tanya abah Rasyid langsunv pada topiknya. Ayna menoleh ke arah sang abah. Lalu Ayna pun ikut duduk dengan kedua orang tuanya. "Anak anak di mana, Bah?" tanya Ayna sebelum bercerita. "Lagi di atas tadi." "Mas Shaka meminta Mbak untuk memperbaiki yang telah rusak," jelas Ayna. "Lalu keputusan Mbak?" Ayna menggeleng geleng pelan. "Mbak benar benar bingung, Bah." "Sholat istikhoroh, Mbak. Minta petunjuk pada Kekasih Yang Maha Kasih, minta jalan terbaik ke depannya," saran abah Rasyid. "Tapi namanya selingkuh itu gak ada obatnya, bakalan terus terulang lagi dan lagi. Apalagi sudah ketahuan bukan hanya sekali saja. Dia sudah berkhianat untuk saling setia dan saling menjaga. Bukan tidak mungkin jika suatu saat dia akan kembali melukai hati Mbak lebih parah lagi," sahut umy Laila yang semakin membuat Ayna bingung. "Jangan berkata seperti itu, My. Kita mana tahu hati seseorang yang mau bertaubat dengan sungguh sungguh," tegur abah Rasyid. "Cinta itu mahal, tapi masih lebih mahal kesetiaan. Ketika kesetiaan sudah ternoda, lalu apalagi yang bisa diharapkan?" seru umy Laila. "Yang bisa memutuskan hubungan lanjut atau stop hanya diri Mbak sendiri. Apa pun keputusannya, tolong pikirkan dengan baik dan sangat matang. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari," imbuh umy Laila. "Ikuti kata hati Mbak saja. Jangan terpengaruh dengan siapa pun, Mbak yang tau harus melangkah ke mana. Coba sholat istikhoroh dulu, Mbak. Allah melihat semua usaha, Mbak. Allah melihat semua doa doa, Mbak. Dan Allah paham apa yang diinginkan ,Mbak. In syaa Allah Kekasih Yang Maha Kasih akan memberikan petunjuk yang sebaik baiknya," ucap abah Rasyid sambil mengelus punggung si anak sulung. Di tempat lain, Alinka uring uringan karena seharian Shaka tidak bisa ditelfon. Sedari tadi Alinka berulang kali menelfon Shaka. Namun, telfonnya tidak di angkat. "Ma, bantuin Zoya mewarnai yuk, Ma!" pinta anak Alinka. "Zoya Sayang, Mama masih ada kerjaan. Zoya mewarna sama uty saja ya," rayunya pada sang anak yang terus merengek. "Ini kan sudah jam pulang kerja, Ma. Jangan kerja terus, Zoya juga mau main dan belajar sama Mama," air mata sudah mengalir dari mata Zoya. Alinka memijat pelipis kepalanya dan detik kemudian dia pun mengiyakan kemauan sang anak dan itu membuat Zoya bersorak gembira. Zoya antusias sekali menggambarnya. "Ma, bajunya bagus diwarnai apa?" Zoya menunjukkan warna ungu dan pink. "Terserah Zoya saja, semua warnanya bagus kok," jawab Alinka tanpa menghiraukan sang anak. Dia masih terus mengecek gawainya, berharap ada notif dari Shaka. "Kamu ini niat gak sih nemenin Zoya belajar?" sahut Dimas, suami Alinka yang baru saja pulang teraweh. Alinka hanya menatap malah ke arah Dimas. "Ayo Sayang, belajar mewarna dengan Papa saja," ucap Dimas sambil membawa tubuh Zoya ke dalam gendongannya. Setelah kepergian suami serta anaknya, Alinka mengumpat tidak jelas. "Kamu ke mana sih, Mas? Seharian gak ada kabar." Entah sudah berapa banyak panggilan serta pesan yang dia kirimkan pada Shaka. Namun, satu pun belum mendapat respon dari Shaka. Shaka sendiri malas untuk merespon Alinka, semua pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh Ayna. Gawainya sengaja dia silent sedari tadi agar dia bisa tenang dari ganngguan Alinka. "Usia seorang laki laki yang sudah menginjak angka tiga puluh sampai empat puluh tahun, maka nafsunya akan bergejolak. Kalau kata bahasa biologinya mah "Puber Kedua" begitu bapak bapak. Ada sebagian para suami yang berkhianat hanya karena nafsu sesaat ketika memasuki usia segitu. Stumma naudzubillah, semoga kita dijauhkan dari hal tersebut. Rubah istrimu ke dalam versimu, agar nafsumu tidak lari ke perempuan lain. Jangan merubah pola pikir kita untuk lari ke pelukan wanita lain. Dengar baik baik, ketika mata kita ingin berkhianat di belakang istri, ingatlah istri di rumah. Ingatlah perjuanganmu untuk mendapatkannya, ingat lagi ketika pertama kali kamu mengatakan cinta padanya, ingat lagi semua kenangan manismu dengannya. Dia yang menemanimu dari minus hingga kamu bisa berdiri tegak dengan angka yang plus plus, bukan wanita yang baru saja kamu temui. Kalau ada dari kalian para suami, melihat wanita di luar sana lebih menarik dari istri di rumah, yang salah itu adalah kalian sendiri. Karena apa? Ketika seorang perempuan telah dinikahi, baik buruknya, cantik jeleknya, itu semua karena perawatan dan didikan sang suami. Suami dikatakan berhasil merawat istri ketika istrinya selalu terlihat cantik. Sama halnya dengan istri orang di luar sana yang bagi kalian cantik itu ya karena dirawat oleh suaminya, begitupun sebaliknya." Kuran lebih begitulah tausiyah dari ustadzah kondang yang baru saja Shaka dengar dari aplikasi toktok. Air mata penyesalan pun mengalir dari mata Shaka, pipinya seolah ditampar tangan tak kasat mata untuk menyadarkan perbuatannya yang telah menyakiti hati Ayna. Mungkin beginilah cara Tuhan ingin menyadarkan Shaka dengan dilewatkannya tausiyah tersebut. "Maafkan aku, Ay. Aku khilaf, aku sadar aku yang salah," batin Shaka penuh penyesalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN