Jangan Menawarkan Kesembuhan

1504 Kata
"Selama kamu pergi dari rumah, Shaka gak pernah hubungi kamu lagi?" Ayna menggeleng. "Padahal aku butuh kejelasan atas statusku, masihkah aku ia inginkan atau tidak?" "Dia juga tidak pernah komunikasi dengan anak anak?" Ayna kembali menggeleng. "Ku rasa dunianya sudah dipenuhi oleh wanita ular itu, hingga aku dan anak anak tak lagi terlihat dalam dunianya." "Sekarang kamu jalani saja hidup kamu dengan anak anak tanpa harus memikirkan lelaki b***t seperti Shaka. Hidupmu tak akan berakhir hanya karena harus berpisah dengan Shaka, Ay," ucap Dinda membuat Ayna menatap intens mata Dinda. "Andaikan aku bisa melakukan seperti apa yang kamu ucapkan, aku tak akan sampai menunggu orang lain mengatakannya pasti sudah kulakukan lebih dulu, Din. Tapi nyatanya hatiku seperti terkurung dalam belenggu cintanya yang sulit untukku melarikan diri." Dinda dan Lia spechless, entah bagaimana lagi caranya menyadarkan Ayna. Semua orang meminta Ayna untuk hidup tanpa bayang bayang Shaka, mungkin bagi mereka yang tidak pernah berada di posisinya itu teramat gampang. Tapi bagi Ayna, itu hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tak ada yang bisa mengerti tentang keadaan hatinya kecuali Kekasih Yang Maha Kasih. "Ya Allah, bukankah Engkau memberiku cobaan karena Engkau sangat mencintaiku? Jika boleh aku meminta, kelak jika aku telah sampai pada titik terendah lelahku, di mana aku sudah benar benar pasrah atas segalanya, tolong bawa aku menghadap-Mu saja. Agar aku bisa bertemu dengan cinta yang sesungguhnya, cinta yang tulus dari-Mu, Ya Allah." *** Bulan ini adalah bulan puasa, bahkan seminggu lagi lebaran akan tiba. Buka dan sahur yang seharusnya Shaka ditemani oleh Ayna serta anak anaknya, kali ini dia hanya sahur berdua saja dengan sang ibu. Shaka sangat merindukan kehangatan keluarga kecilnya. Hampir dua bulan sudah Shaka dan Ayna berpisah tanpa ada kepastian. Sungguh Shaka kelimpungan ditinggal oleh Ayna, dunianya terasa kosong. Bayang bayang memori kebersamaan mereka seolah berputar mengelilingi kepalanya bak dvd yang diputar ulang. Hubungan Shaka dan Alinka sampai saat ini masih terjalin. Namun, akhir akhir ini sosok Ayna seakan mengetuk dirinya untuk sadar akan sebuah rindu. Shaka memperhatikan foto berukuran kecil yang berada di dompetnya, melihat wajah cantik seorang wanita yang telah melahirkan kedua anaknya, wanita yang dulu pernah membuatnya tergila gila hingga dia lebih memilih untuk berjauhan dengan orang tuanya demi bersamai perempuan itu. Pertahanan Shaka akhirnya melemah, dia pun mengambil gawainya, lantas menelfon Ayna. Di nada dering ketiga akhirnya telfonnya diangkat. “Assalamu’alaikum, Ay,” sapa Shaka lebih dulu. “Wa’alaikum salam,” jawab Ayna singkat. “Ay, bisakah kita bertemu?” ajak Shaka to the poin. “Untuk apa, Mas? Jika kamu hanya ingin melebarkan lukaku, sebaiknya jangan pernah lagi ada pertemuan di antara kita. Saat ini aku sedang berusaha menyembuhkan lukaku sendiri. Ku harap kamu tidak akan membuatnya menganga kembali.” “Maafkan aku, Ay. Aku telah memberimu luka dan belum sempat menyembuhkannya." "Jangan menawarkan kesembuhan untukku jika ujung ujungnya kembali kau buat luka lagi." "Sekali lagi aku minta maaf, Ay! Aku ingin bertemu karena seminggu lagi lebaran, aku ingin memberikan jatah lebaran untukmu dan anak anak. Kalian masih tanggung jawabku.” “Kan bisa ditransfer, Mas.” “Aku ingin kita bertemu, ada hal lain juga yang ingin kubicarakan, Ay. Nanti sore kita buka bersama yuk!” Ayna masih menimang nimang ajakan Shaka, sebenarnya dia malas untuk bertemu dengan Shaka. Hatinya perlahan sudah ia tata, Ayna tak ingin jika pertemuannya dengan Shaka akan membuat hatinya kembali berantkan. Namun, Ayna juga butuh menegaskan status rumah tangganya, agar semuanya jelas, akhirnya Ayna pun menyetujui. “Okey, Mas. Di mana?” “Nanti aku share lokasinya, Ay.” “Ya.” Setelahnya mereka pun langsung mengakhiri percakapan telfon mereka. Ayna termenung di depan balkon kamarnya. Apa pun yang akan terjadi nanti, dia harus bisa menerima dengan lapang d**a. Jika memang takdirnya harus berpisah, in syaa Allah Ayna akan terima, walau ikhlas itu sulit. “Umy, Abah,” Usai sholat ashar Ayna menemui kedua orang tuanya. “Ada apa, Mbak?” tanya abah Rasyid. “Mas Shaka minta bertemu untuk memberikan jatah lebaran pada anak anak katanya,” jelas Ayna. “Mbak bersedia menemuinya?” Ayna mengangguk. “Mbak ingin memperjelas status Mbak, Bah. Mbak juga punya hak untuk melanjutkan hidup Mbak ke depannya. Mbak tidak mau digantung seperti ini. Apa pun nanti keputusan mas Shaka, in syaa Allah Mbak akan terima dengan lapang d**a,” titah Ayna mantab. “Jika nak Shaka mengajak Mbak untuk memintal kembali benang yang terurai, apakah Mbak bersedia?” “Setelah Mas Shaka mengatakan bahwa tak lagi mencintai Mbak, apakah masih boleh berkhayal mas Shaka akan mengajak Mbak untuk bersama?” Kedua orang tua Ayna memangdang Ayna dengan sendu. *** Shaka sudah menunggu di resto tempat mereka akan buka puasa. Semua menu makanan sudah tersedia, dia hanya menunggu Ayna dan adzan magrib tiba. “Assalamu’alaikum,” sapa Ayna. “Wa’alaikum salam, Ay.” Shaka mempersilahkan Ayna untuk duduk. “Gimana kabarmu, Ay?” tanya Shaka. “Setelah apa yang telah kamu lakukan kepadaku masihkah kamu bertanya tentang keadaanku, Mas? Perlu aku jelaskan yang bagaimana tentang keadaanku?” Shaka menunduk, tersirat di wajahnya rasa bersalah yang amat mendalam. “Kabar anak anak baik, Ay?” “Kamu juga orang tuanya, Mas. Seharusnya kamu tahu dong keadaan anak kamu bagaimana. Hanya karena wanita yang kini kamu anggap sebagai semesta, kamu jadi melupakan planet asalmu, Mas.” “Bukan begitu, Ay. Aku bertanya karena aku lama tidak bersama mereka.” “Karena kamu memang tidak pernah memperioritaskan anak anak, Mas.” “Bukan aku tidak memperioritaskan anak anak, tapi aku sibuk.” “Sibuk? Sibuk itu tidak ada kalau sudah kamu jadikan prioritas. Sorry, aku hampir lupa kalau prioritasmu kini sudah pindah haluan, Mas.” “Ay, jangan seperti ini!” “Lantas kamu mau aku bagaimana, Mas?” “Ay, aku ngajak kamu bertemu bukan untuk berdebat. Aku ingin kita bicara baik baik. Jadi aku mohon kamu yang tenang!” “Kalau gitu, to the poin saja, Mas. Apa yang mau kamu bicarakan, Mas?” Shaka menatap manik mata milik Ayna, lantas mengehela napas panjang. “Aku ingin kita memperbaiki rumah tangga kita, Ay.” “Wow … kesambet setan mana kamu bicara seperti itu, Mas? Kamu lagi ngigau kah?” “Aku serius, Ay.” “Setelah kamu mengatakan sudah tak ada feel, terus kamu mau kita memperbaiki rumah tangga ini? Di mana sebenarnya pikiran kamu, Mas?” geram Ayna. “Aku serius ingin membenahi rumah tangga kita, Ay. Aku benar benar sudah menyadari kalau semua yang aku lakukan itu salah. Ayo kita mulai dari awal lagi, kita perbaiki semua yang rusak.” “Lalu, bagaimana dengan wanitamu?” “Wanitaku adalah kamu, Ay.” “Selingkuhanmu?” “Aku akan mengakhiri semuanya, aku akan tinggalkan dia, Ay. Aku hanya ingin kamu yang ada dalam hidupku.” “Terlambat, Mas. Di hatimu sudah ada wanita lain selain aku. Aku tidak bisa hidup bersamamu lagi jika hidupmu masih ada bayang bayang tentangnya. Aku mendengar semua percakapanmu kapan lalu, kamu tidak benar benar mengharapkanku. Namun, kamu hanya membutuhkan pelayananku, Mas. Jika kamu mempertahankan aku hanya untuk hal itu, aku minta maaf aku benar benar tidak bisa, Mas. Sudah terlalu dalam luka yang kamu beri, sakit banget, Mas.” “Kali ini aku bersungguh sungguh, Ay. Aku ingin rumah tangga kita utuh kembali.” “Aku sulit untuk mempercayaimu lagi, Mas.” “Aku mohon, Ay, beri aku kesempatan lagi! Jika memang suatu saat aku menyakiti kamu lagi, kamu boleh tidak memaafkan aku, kamu boleh tidak memberikan aku kesempatan lagi bagaimana pun alasan aku memohon. Tapi untuk kali ini, aku mohon beri aku kesempatan, Ay!” Ayna menatap intens mata Shaka, dia mencari kebenaran atas permohonan Shaka. Ayna memang tidak melihat kebohongan di mata Shaka, tapi traumanya tidak bisa dia abaikan begitu saja. “Ay, aku harus bagaimana untuk meyakinkan kamu kalau saat ini aku sangat bersungguh sungguh?” “Aku juga gak tahu, Mas. Untuk saat ini apa pun usahamu, tidak akan mempan untuk membujukku. Aku memang masih mencintaimu, Mas, tapi untuk memutuskan kembali padamu rasanya aku perlu memikirkan ribuan kali.” Shaka menghela napas panjang sambil menundukkan kepalanya. “Aku tahu, memang tak mudah untuk kamu kembali membuka hati untukku, tak apa, aku bisa ngerti. Seiring berjalannya waktu aku akan terus mencoba untuk meyakinkan kamu kalau permohonanku kali ini benar benar tulus.” “Silakan saja, Mas. Jujur aku lelah, aku selalu memaafkan kamu dan memberi kesempatan untukmu, tapi lagi lagi kamu melakukan kesalahan, minta maaf, minta kesempatan, dan berujung melakukan kesalahan lagi. Jangan mempertahankan aku jika posisiku hanya untuk pelengkap saja. Aku sadar kok kalau aku bukan lagi prioritas, tapi hanya formalitas saja,” ungkap isi hati Ayna. Ketika Shaka ingin melanjutkan kembali pembicaraan dengan Ayna, sesaat kemudian adzan magrib pun berkumandang membuat Shaka mengurungkan diri. “Selamat berbuka, Ay.” “selamat berbuka juga, mas.” Sepanjang berbuka, Ayna hanya fokus pada makanannya saja. sedangkan Shaka sedari tadi tidak pernah lepas dari memandangi wajah Ayna. “Maaf Ay,” ucap Shaka sambil membersihkan ujung bibir milik Ayna dengan tisu. “Maaf, ada saos blepotan barusan di ujung bibir kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN