Shaka kembali membisu, sebelum beberapa menit kemudian dia berkata, “Aku tidak bisa memutuskan untuk memilih siapa di antara kalian. Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini. Aku butuh waktu untuk menjawabnya. Tolong beri aku waktu!” tutur Shaka dan langsung keluar kamar.
Seperginya Shaka, Ayna langsung menenggelamkan wajahnya pada bantal dan berteriak sekencang kencangnya di sana. Tak pernah Ayna sangka jika suaminya hari ini akan dengan gamblang menyatakan perasaannya pada perempuan itu di hadapannya. Selama ini Ayna selalu berharap bahwa semua kecurigaannya itu salah. Akan tetapi, hari ini semua terkuak sudah ketika Shaka mengatakan telah mencintai Alinka. Hati Ayna kini sungguh porak poranda dibuatnya.
Setelah kejadian malam itu, Ayna dan Shaka terlibat perang dingin. Mereka saling mendiamkan satu sama lain. Kendati begitu, Ayna tak pernah melalaikan kewajibannya sedikit pun untuk mengurus semua keperluan Shaka di rumah. Subuh ini, tepatnya seminggu dari kejadian tersebut, Shaka mendatangi kamar Ayna. Ayna sebenarnya menangkap dari ekor matanya jika ada sang suami. Namun, Ayna tak menghiraukan kedatangan Shaka, ia terus berdzikir sambil memutar tasbihnya.
“Kita sholat berjama’ah dulu, setelahnya aku akan memberikan keputusan,” cakap Shaka membuat Ayna terkejut.
Mereka sholat berjama’ah setelah seminggu lamanya mereka melewatkannya, lebih tepatnya mereka sholat sendiri sendiri. Usai sholat, Ayna menatap punggung sang suami, sungguh ia masih belum percaya jika suaminya yang dia tahu sangat mengerti agama telah dengan sengaja mengatakan mencintai wanita lain di hadapannya. Tak terasa mata Ayna berkaca kaca mengingat kejadian di malam itu.
Usai wiritan dan doa, Shaka memutar tubuhnya menghadap pada Ayna. “Ma,” panggilnya. Ayna pun langsung mendongakkan kepalanya dan netranya langsung bertemu dengan netra milik Shaka. “Maafkan aku, aku sudah menyakitimu!” ucap Shaka seraya mengambil tangan Ayna yang masih tertutup mukenah. “Pilihanku tetap kamu. Aku lebih memilih keluarga kita, Ma. Aku sadar bahwa yang aku lakukan selama ini hanya sebuah ego dan khilaf saja. Aku tidak mungkin melepas hubungan kita yang sudah bertahun tahun hanya dengan hubungan sesaat yang tidak pasti. Jadi aku mohon maafkan aku,” mohon Shaka pada Ayna seraya mencium kedua punggung tangan milik sang istri. Ciuman itu ia berikan sebagai bentuk terima kasih untuk Ayna yang selalu menghomatinya. Lantas Shaka beralih mencium kedua telapak tangan sang istri. Ciuman itu ia berikan sebagai bentuk terima kasih untuk Ayna yang selalu senantiasa melayaninya.
Tak kuasa air mata yang sedari tadi Ayna pendam akhirnya menetes. “Aku mungkin bisa memaafkan kamu, Mas. Tapi, kecewaku padamu tak kan pernah bisa aku enyahkan. Mungkin bisa, tapi pasti butuh waktu yang cukup lama,” tutur Ayna yang membuat Shaka langsung menundukkan kepalanya. “Dengan kejadian ini, jangan berharap kepercayaanku padamu akan utuh kembali seperti semula, dan jangan salahkan aku jika setiap gerik gerikmu selalu aku curigai,” tegas Ayna pada Shaka.
“Aku mengerti akan hal itu dan aku tidak keberatan. Aku akui, di sini yang salah memang aku. Sekali lagi maafkan aku dan aku mohon beri kesempatan lagi untukku, Ay!” aku dan mohon Shaka pada Ayna. “Em boleh aku memelukmu?” tanya Shaka kemudian. Namun, tak ada respon dari Ayna. Diamnya Ayna menurut Shaka adalah sebuah jawaban "ya", Shaka pun langsung membawa tubuh Ayna dalam pelukannya.
Ayna rancu dengan apa yang ia rasakan, entah kenapa pelukan yang Shaka berikan saar ini terasa berbeda. Jika awalnya pelukan itu hangat, kini terasa hambar. Mungkin karena saking kecewanya. Kedepannya Ayna akan merasa seolah berjalan di atas jembatan kaca, dipenuhi rasa takut, gelisah, over thinking, dan was was. Menurut Ayna, cobaan rumah tangga jika hanya kesulitan ekonomi masih bisa dicari, jika kesulitan memiliki anak masih bisa adopsi, jika kesulitan beradaptasi dengan orang tua mau pun mertua masih bisa pindah rumah. Masih ada solusinya, bukan? Tapi adanya penghianatan dan orang ketiga, usailah semuanya. Karena selingkuh itu bukan suatu takdir, melainkan sesuatu yang dilakukan secara sengaja. Kini mereka pun menjalani kegiatan seperti biasanya. Kendati, semua masih terasa canggung. Layaknya orang asing yang baru dipersatukan dalam satu rumah.
“Ma, berangkat kerja jam berapa?” tanya Shaka basa basi. Shaka bertanya begitu karena Ayna punya dua jadwal yang bebas Ayna pilih. Jika ia bekerja dari jam delapan, maka ia akan pulang jam empat sore atau jika ia bekerja dari jam sembilan maka ia akan pulang jam lima sore.
“Aku masuk kerja jam delapan, tapi aku masih mau mampir ke rumah ibu ada perlu sebentar, Mas."
"Oh ya sudah kalau gitu, aku berangkat duluan ya. Kamu hati hati nanti kalau berangkat kerja, pelan pelan juga bawa mobilnya," pesan Shaka pada Ayna sebelum berangkat kerja.
"Iya Mas, kamu juga hati hati ya, kalau sudah sampai di kantor kabari aku seperti biasa!" Ayna pun mengambil tangan Shaka, lantas menciumnya dengan takdim. Tak lupa Shaka mendaratkan satu kecupan di kening dan di puncak kepala Ayna. Ciuman yang mengisyaratkan agar sang istri terus ingat padanya serta membuat hati sang istri terus lemah lembut padanya.
Ayna pun mengantar sang suami sampai di ambang pintu. "Fii amanillah, Mas!" ucap Ayna sambil melambaikan tangannya ke arah Shaka.
Seperginya Shaka, Ayna pun bergegas menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. Hari ini dia hanya memasak capjay dan ayam koloke saja. Dengan cekatan Ayna memasukkan wadah bekalnya beserta botol minumnya ke dalam paper bag. Setelah itu dia mengambil tas di kamar dan langsung berangkat ke rumah orang tuanya. Di sana Ayna tak lama, sekedar menitipkan anak anaknya serta minta tolong adik laki lakinya untuk menjemput jika anak anaknya pulang sekolah nanti. Lantas Ayna pun melajukan mobilnya ke tempat kerja. Hanya butuh waktu dua puluh lima menit saja mobil Ayna sudah terparkir cantik di basement kantor.
"Selamat pagi, Mbak Ayna," sapa seorang CS kantor yang bernama Via.
"Pagi juga, Mbak Via," sapa balik Ayna dengan menampilkan senyum semanis gula.
Setelah menerapkan salam, senyum, sapa dengan beberapa karyawan lainnya, Ayna pun masuk ke dalam ruangannya. Hari ini sepertinya pekerjaannya lagi longgar, maklum masih awal bulan. Ayna jadi terpikirkan untuk berkirim pesan pada Alinka, wanita selingkuhan suaminya itu.
"Assalamu'alaikum, aku harap ini adalah peringatan terakhirku padamu, Alinka. Aku harap dengan pesan ini kamu bisa sadar bahwa yang kamu lakukan itu salah. Perlu kamu tahu, jika pada akhirnya Mas Shaka lebih memilihku, istrinya. Jadi ku harap, kamu mengerti dan jangan lagi dekati suamiku. Aku mohon untuk yang terakhir kalinya, tinggalkan suamiku! Sebagai sesama muslimah, aku yakin kamu juga tidak mau tersakiti oleh suamimu, begitu pun denganku. Jadi, kembalilah hidup bersama dengan suami serta anakmu, begitupun sebaliknya dengan mas Shaka, biarkan dia kembali pada kami, aku dan anak anaknya. Kamu juga memiliki anak perempuan, bukan? Jangan sampai anakmu merasakan karma dari apa yang kamu perbuat saat ini kepadaku. Jika kamu menghargai i'tikad baikku, tolong pesan ini cukup sampai di kamu saja. Simpan rapat rapat aib mu! Dan kamu harusnya bersyukur, sejauh ini Allah masih baik menyimpan semua aib mu. Ku harap setelah ini, tolong kamu dan mas Shaka jangan lagi berkomunikasi membahas apa pun yang di luar pekerjaan. Jika kalian bertemu di kantor, tolong bersikaplah dengan profesional layaknya wanita terhormat! Biarkan Mas Shaka hidup tenang dengan istri serta anak anaknya. Dan aku juga akan selalu mendoakan agar rumah tanggamu tenang dalam lindungan-Nya. Sekali lagi, aku memohon dengan sangat, jauhi dan tinggalkan suamiku! Terima kasih atas waktumu yang telah meluangkan membaca pesanku. Wassalam, Ayna (Istri Sah Mas Shaka)." Sengaja Ayna perjelas statusnya di akhir pesan, semoga saja itu mampu menyadarkan Alinka.
Di tempat lain, setelah membaca pesan dari Ayna, Alinka langsung menemui Shaka di ruangannya. Ia pun menunjukkan pesan yang baru saja ia terima dari Ayna. Keduanya adalah teman satu kantor di sebuah perusahaan perbankan.
"Jadi benar kamu lebih memilih dia dari pada aku, Mas?" tanya Alinka sinis.
"Kamu pasti tahu konsekuensi yang akan kita terima jika atasan tahu bahwa benar kita ada hubungan. Aku mencintaimu. Namun, kita juga harus memikirkan ke depannya," jelas Shaka. "Ayna itu wanita yang cerdas, dia bisa melakukan apa pun yang bahkan di luar nalar kita. Dia lebih bisa bermain cantik dari pada kita," imbuh Shaka.
"Terus sekarang kita harus bagaimana? Kamu benar benar menginginkan semua ini berakhir, kah?" tanya Alinka.
"Entahlah, aku juga bingung. Di sisi lain aku sudah terlanjur nyaman dengan kamu, aku gak bisa kalau harus jauh dari kamu. Tapi aku juga gak bisa kalau harus meninggalkan dia. Tidak ada masa depan yang kulihat dari hubungan ini, toh kamu juga tak ingin lepas dari suamimu, bukan?" Katakanlah Alinka egois, karena kebutuhan materi dia berharap banyak pada suaminya yang seorang pegawai BUMN. Namun, untuk kebutuhan fisiknya, dia berharap dari tubuh Shaka. Kesibukan suaminya yang sering dinas di luar kota membuatnya jarang dibelai.
“Kamu kurang berhati hati sih, Mas. Harusnya kamu bisa membaca gerak gerik istri kamu, jadi gak kecolongan kayak kemarin.” Alinka menyalahkan Shaka. “Pokoknya aku gak mau kalau kamu ninggalin aku ya, Mas!” ujar Alinka penuh penekanan.
“Untuk sementara tolong ngertiin aku, Lin! Kamu gak mau kan kalau misal hubungan kita diketahui semua karyawan, apalagi sampai bocor ke atasan? Bisa bisa nanti aku dipindah ke cabang lain, mau kamu?” Alinkan menggeleng pelan. “Makanya, untuk sementara waktu ngertiin aku sampai semua keadaan aman!" ulang Shaka memberi pengertian pada Alinka. Kini Shaka telah terbakar oleh api yang dibuatnya sendiri.