Kegep Lagi

1503 Kata
Sedangkan di tempat kerjanya, Ayna tersenyum sinis saat melihat pesannya hanya dibaca saja oleh wanita selingkuhan suaminya itu. Ayna harap semoga saja kali ini Alinka benar benar meninggalkan Shaka, semoga wanita itu tahu diri. Lalu, tiba tiba terdengar dering notif dari gawai Ayna. Ternyata setelah dilihat ada sebuah chat dari sahabatnya, Dinda. "Ay, are you okey?" tanya Dinda. "Yes, i'm okey." "Pulang kerja entar sore kita makan yuk!" ajak Dinda dalam chatnya. "I'm so sorry, Beybeh. Kini aktifitasku sudah kembali ke semula, aku harus pulang cepat untuk masak makan malam buat mas Shaka. So, i'm sorry!" Ayna membalas chat Dinda disertai emot dua tangan yang menyatu juga emot mata berkaca kaca. Dinda langsung menelfon Ayna. "Are you sure kamu sudah baikan lagi sama Shaka?" tanya Dinda penuh penekanan pada Ayna. "Yes, sure," jawab Ayna singkat. "Setelah pengkhianatan yang ia lakukan padamu, Ay?" "Aku memang kecewa, bahkan aku pun sakit karena telah ia khianati. Tapi aku lebih takut kehilangan dia, Din," aku Ayna. "Gila kamu, Ay," sentak Dinda. "Lelaki selingkuh kayak dia masih kamu pertahankan?" Ayna hanya bergeming, sambil memijat keningnya sendiri. "Sebagai seorang sahabat, aku hanya tidak ingin melihat kamu terus terusan terluka." "Mas Shaka selingkuh itu bukan hanya karena kesalahannya, ataupun pun salah perempuan itu. Tapi mungkin juga ada salahku yang belum bisa menjadi istri terbaik buat Mas Shaka," tutur Ayna yang semakin membuat Dinda geram. "Apa sih yang ada di otak kamu, Ay? Kamu itu tak hanya bucin, tapi kamu juga sudah bodoh dibuatnya," geram Dinda, lantas mematikan sambungan telfonnya. Ayna pun mengusap wajahnya kasar. "Kamu hanya tidak mengerti apa yang aku rasakan, Din. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang jadi milikku. Jika masih bisa dibenahi, kenapa tidak?" ucap Ayna bermonolog. Sore harinya sepulang kerja, Ayna langsung memasak untuk makan malam. Shaka tipe orang yang harus selalu makan masakan yang fresh, jadi setiap makan harus dengan menu yang berbeda. Tak ada yang istimewah dari masakan Ayna, dia hanya memasak kare ayam saja. Setelahnya Ayna mematikan kompor, lantas melihat notif di gawainya. "Ay, aku lihat Shaka ada di cafe depan taman stasiun, sama kamu kah?" Satu chat dari Lia, sahabatnya. Ayna termenung di tempatnya. "Bukannya tadi Mas Shaka bilang ada meeting?" batin Ayna bermonolog. "Ah iya, Li. Aku sama Mas Shaka mau dinner, ini aku baru mau berangkat ke TKP," balas Ayna berbohong. Ayna tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu, sebelum dia memastikan kebenarannya. Ayna mengambil gawai dari sakunya dan langsung menggulir kontak nomor untuk menghubungi seseorang. Lantas, dia menekan gambar gagang telfon pada kontak seseorang yang dimaksud. "Hallo, Ay," jawab seseorang di seberang. "Hallo, Rud. Kamu di mana?" tanya Ayna. "Di rumah, kenapa?" "Bukannya kalian meeting ya? Soalnya Mas Shaka bilang mau pulang telat karena ada meeting bareng kamu dan yang lain." "Awalnya begitu, Ay. Tapi banyak yang gak bisa, jadi ya sudah gak jadi meetingnya hari ini," jelas Rudy. "Kamu sama Mas Shaka gak?" "Enggak tuh, kan aku dah bilang aku sudah sampai di rumah." "Oh iya ya, sorry! Hehe ...." "Masih muda kok sudah pikun, Mbak Yu," protes Rudy. "Rud, kamu tahu gak Mas Shaka di mana?" "Emang belum sampai rumah dia? Setahuku tadi jam empat sore kita udah pisah di parkiran, Ay. Dia bilang mau cepet cepet pulang tadi." Penjelasan Rudy membuat pikiran Ayna semakin tak karuan. Padahal ini sudah hampir pukul enam sore, sudah hampir dua jam lamanya Shaka keluar dari kantor dan belum sampai rumah. "Oh ya sudah aku tunggu aja deh kalau gitu, mungkin masih kena macet kali ya," seloroh Ayna. "Hooh, mari gini paling nyampek, Ay." Mereka pun mengakhiri sambungan telfonnya. Setelahnya Ayna buru buru membereskan dapur dan langsung menyambar kerudung serta kunci sepeda motornya. Ayna pun meminta anak anaknya untuk segera bersiap. “Kiara, Kiano, Mama ada urusan sebentar. Jadi kalian di rumah Mbah Umik dulu ya.” “Mama mau ke mana?” tanya Kiano. “Mama ada perlu sebentar, Nak,” jelas Ayna. “Gimana kalau kita di rumah saja, Ma? Habis ini kan papa pulang,” tawar Kiano. Tanpa dia tahu kalau mamanya ingin mencari papanya yang belum pulang. “Kalian nurut sama Mama ya! Ayo sekarang kita ke rumah Mbah Umik,” mohon Ayna pada anak anaknya. Dengan terpaksa dan dengan wajah cemberut, akhirnya anak anak Ayna pun menurut. Sesampainya di rumah sang ibu, Ayna menitipkan kedua anaknya pada adik laki lakinya. Karena sang ibu ternyata masih ada acara di mushollah depan rumah. “Ami, titip Kiano dan Kiara ya. Mbak mau keluar, ada urusan yang mendesak,” cakap Ayna pada adik laki lakinya. “Oh iya Mbak, gak ngenteni umik disek tah?” “Gak usah wes, Dek. Salam ae egkok neng umik, Mbak selak kesusu,” jawab Ayna dan langsung tancap gas. Ayna ingin cepat sampai ke tempat yang diinfokan Lia tadi untuk memastikan keberadaan Shaka. Jika memang benar Shaka di sana, dia yakin Shaka ke café itu dengan selingkuhannya. Ayna pun melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, khawatir dia akan kehilangan jejak. Ketika sepeda motornya sudah berhenti di depan deretan café yang diinfo oleh Lia, Ayna menangkap sosok Shaka dan selingkuhannya baru saja keluar dari café dan mereka kini masuk ke dalam Indoapril. Ayna segera memarkirkan motornya dan langsung menuju Indoapril. Akan tetapi, Ayna tidak masuk, dia memilih menunggu di luar saja. “Jika kamu masih jalan dengannya, lalu apa maksud dari yang kamu ucapkan pagi tadi padaku, Mas?” batin Ayna terisak. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya, apalagi di depan sang suami dan selingkuhannya itu. Setelah seperkian menit menunggu, akhirnya Shaka keluar. Namun, perempuan ular itu malah pamit ke kamar mandi. Entah dia menghindar karena melihat kehadiran Ayna atau memang kebelet ingin ke kamar mandi, masa bodoh bagi Ayna. Shaka gelagapan melihat Ayna berdiri di depan Indoapril, lagi lagi dia kegep oleh Ayna. Melihat ekspresi wajah Shaka, Ayna tersenyum kecut. “Kenapa, Mas? Kaget lihat aku tiba tiba ada di sini?” Yang ditanya hanya diam membisu. “Ini apa lagi, Mas? Ini yang kamu maksud memilihku, memilih keluarga kita, iya?” Ayna menggeleng gelengkan kepala, sungguh dia tidak paham dengan suaminya. Kalau kata orang jawa mah Shaka itu, “Isuk Dele, Sore Tempe”, ucapannya tidak pernah bisa dipegang, berubah ubah. “Kenapa diam, Mas? Aku tanya loh, kamu ngapain di sini dengan dia?” Tetap saja tidak ada jawaban dari mulut Shaka. Lalu, menit kemudian Alinka keluar dari Indoapril. Ayna menunggu dengan kedua tangan terlipat di d**a, kira kira penjelasan apa yang akan Alinka utarakan padanya, tapi sepertinya dua orang di hadapannya sedang berlomba tutup mulut. Sampai Ayna bosan menunggu keduanya buka mulut. “Kalian ngapain di sini?” tanya Ayna lagi. “Kita habis makan,” sahut Alinka. Ayna mengangguk anggukkan kepalanya. “Makan ya? Emmm ... Perasaan aku tadi sudah kirim chat deh. Aku lupa sama isi chatku, kamu ingat gak isinya apa?” tanya Ayna pura pura lupa pada Alinka. Namun, Alinka tidak menjawab. “Ah sepertinya kamu juga lupa ya? Kebetulan nih sekarang aku sudah ingat. Tadi itu aku ada kirim chat yang isinya peringatan loh, peringatan untuk kamu ninggalin suamiku, tapi kenapa ya ini kalian masih bersama? Gak ngerti bahasa chatku atau bagaimana?" hardik Ayna. "Aku hanya menghibur Mas Shaka," jawab Alinka tak tau diri. "Oh menghibur? Eee ... Menghibur yang bagaimana ya ini maksudnya? Coba kasih paham aku!" Sebisa mungkin Ayna mengontrol emosinya untuk tetap tenang menghadapi wanita ular itu. "Yaaa ngehibur lah. Emang kamu pikir gampang ngelepas hubungan begitu saja? Kita butuh waktu," tegas Alinka. Ayna pun menunjukkan anggukan kepalanya, pertanda dia paham dengan apa yang disampaikan oleh Alinka. "Sekarang aku mau tau jawaban kamu, Mas. Apa yang kamu lakukan di sini? Minta penghiburan dari dia, iya?" hardik Ayna. "Iya, aku minta penghiburan dari dia. Puas kamu?" sentak Shaka kemudian dan sukses membuat hati Ayna kembali hancur sehancur hancurnya. "Harusnya kamu meminta penghiburan itu dari aku, Mas. Bukan dari dia!" Ayna tak kalah meninggikan suaranya. "Aku bosan sama kamu," ucap Shaka lirih. Namun, masih tetap terdengar jelas di telinga Ayna. Rasanya seperti ada petir yang menyambar di depan mukanya. Ayna auto menutup mulut tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya barusan. "Bosan katamu, Mas?" Air mata yang Ayna tahan sedari tadi akhirnya luruh. "Iya, aku bosan dan jujur aku sudah tidak ada feel lagi sama kamu," aku Shaka. Ayna menutup matanya, membiarkan seluruh air matanya tumpah. "Aku gak menyangka kamu bisa melakukan ini padaku, Mas. Harusnya jika kamu bosan, kamu mencari hal baru dengan tubuh yang sama, Mas, bukan memulai sesuatu yang baru dengan tubuh yang baru pula!" ucap Ayna dengan terisak. "Lalu maksud kamu tadi pagi itu apa, Mas? Kamu bilang lebih memilihku. Namun, belum satu kali 24 jam kamu mengatakan tak ada feel lagi denganku. Kamu pikir pernikahan ini adalah lelucun, Mas?" Shaka kembali diam. "Sudahlah Ayna, kamu terlalu lebay," sahut Alinka. "Lebay? Kamu bilang aku lebay?" Emosi Ayna semakin menjadi jadi. "Kamu tahu, yang bikin aku seperti ini, yang menurut kamu lebay itu, ya karena kamu penyebabnya," teriak Ayna dengan napas tak karuan. "Itu kamu sendiri yang buat, bisa bisanya kamu bilang kalau aku penyebabnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN