Ayna sudah benar benar spechless, gak tahu lagi bagaimana cara menghadapi dua orang di depannya. Akhirnya Ayna memutuskan untuk pergi meninggalkan keduanya tanpa sepatah kata pun lagi. Ayna mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Seolah semesta ikut bersedih dengan apa yang menimpanya, hujan dan petir datang bersamaan dengan air mata Ayna yang luruh begitu deras. Di sebuah tanah lapang di tengah perumahan, Ayna meluapkan gejolak di hatinya dengan berteriak sekencang mungkin.
"Ya Allah, aku lelah, aku muak diselingkuhi yang tak berkesudahan ini." Tangis Ayna semakin histeris.
Tubuhnya sudah basah kuyup karena derasnya air hujan. Namun, dingin yang tubuhnya rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Jujur, Ayna masih berharap rumah tangganya bisa dipertahankan, dia tak ingin jika anak anaknya menjadi korban broken home. Sepertinya Ayna harus menemui seseorang yang bisa membantu dirinya untuk menyadarkan Shaka. Ayna pun kembali menaiki sepeda motornya dengan kecepatan yang tak beraturan, hingga banyak pengendara lainnya yang mengklakson saking ogal ogalannya Ayna membawa motor. Andai Ayna tidak memikirkan kedua anaknya, mungkin dia akan lebih memilih menabrakkan diri saja. Namun, untungnya dia masih punya kewarasan untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Kurang lebih satu jam perjalanan, Ayna pun telah sampai di rumah yang menjadi tujuannya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ayna sambil mengetuk pintu rumah. Selang beberapa menit akhirnya pintu terbuka.
“Wa’alaikum salam. Loh, Mbak, kok hujan hujanan?” tanya wanita lansia si pemilik rumah seraya celingukan mencari seseorang. “Mbak sendiri? Shaka sama anak anak tidak ikut?” Ayna menggeleng. “Ayo masuk dulu, Mbak. Gantio baju sek kunu cek gak kademen! Yok opo seh kok udhan udhanan ngene,” omelnya pada Ayna.
Ayna pun langsung masuk ke dalam rumah dan mengganti baju. Beruntung Ayna masih menyimpan beberapa stel baju di rumah ini. Setelahnya Ayna menemui wanita lansia yang merupakan ibu dari Shaka.
“Bu,” panggil Ayna.
“Ada apa, Mbak? Kok sepertinya Mbak habis nangis?” tanya mertua Ayna.
“Mas Shaka, Bu. Mas Shaka kembali melakukan hal yang sama seperti sebulan sebelum pernikahan kami dulu, Bu.” Ayna kembali menumpahkan air matanya.
“Lah kok iso seh terjadi maneh, Mbak?” Ayna menggeleng pelan. “Sama perempuan yang sama atau berbeda?"
“Dengan orang yang berbeda, Bu.”
Mertua Ayna menghembuskan napas berat. “Kalau Shaka melakukan perselingkuhan berulang, mungkin samean seng gak iso ngerumat Shaka, mungkin samean seng gak iso jogo awak gawe nyenengno Shaka. Sudah introspeksi diri belum, Mbak?” Bagai kembali kejatuhan petir di hadapan mukanya ketika Ayna mendengar penuturan sang mertua. Orang yang ia yakini bisa membelanya dan bisa menyadarkan Shaka seperti beberapa tahun lalu, pada kenyataannya kini malah menyalahkan diri Ayna. Tubuh Ayna langsung lunglai tak bertenaga.
“Oh enggeh, Bu. Mungkin memang Mbak yang salah, tidak bisa merawat Mas Shaka, tidak bisa merawat diri supaya Mas Shaka tidak berpaling pada wanita lain. Iya, memang Mbak yang salah.” Sengaja Ayna menekan satu kata di belakang kalimatnya. “Ayna pamit, Bu. Assalamu’alaikum.” Ayna langsung melangkahkan kaki keluar rumah.
Ayna pun memutuskan untuk pulang. Tak ada gunanya ternyata dia ke mari, bukan malah memperbaiki keadaan, tapi malah sebaliknya. Ayna langsung pulang ke rumahnya sendiri, sedangkan anak anaknya dia biarkan menginap di rumah orang tuanya. Karna tak mungkin dia mendatangi rumah orang tuanya dengan keadaan dirinya yang kacau. Ayna hanya mengirimkan pesan pada adik laki lakinya untuk menitipkan kedua anaknya.
Semalaman Ayna tidak bisa tidur memikirkan apa yang harus ia lakukan ke depannya. Bertemankan tasbih dan Al-Qur’an ia bermunajat pada sang Ilahi Rabby. Bahkan, matanya sudah bengkak karena tak henti hentinya menangis. Ayna pun tak tahu ke mana perginya Shaka, sampai tengah malam Shaka belum pulang. Untuk menanyakan di mana posisi Shaka saat ini saja Ayna enggan.
Usai melakukan sholat subuh, Ayna membereskan mukenah serta sajadahnya. Beruntung hari ini week end, sehingga Ayna tidak perlu repot mempersiapkan apa pun. Ayna berencana masak makanan seadanya yang ada di kulkas saja. Lantas, Ayna mengeluarkan beberapa sayur sop dan daging ayam, dia akan memasak sop dan ayam goreng.
Ketika Ayna sedang memotong sayur sop, tiba tiba tangan kekar melingkar di perutnya.
“Masak apa, Ma?” tanya Shaka pas di telinga Ayna seolah tidak pernah terjadi apa apa sebelumnya.
Sejenak Ayna menghentikan kegiatan memotong wortelnya. Hatinya sakit diperlakukan seolah boneka yang bisa seenaknya Shaka mainkan. Lantas, beberapa detik kemudian kembali Ayna memotong wortel dengan cepat hingga telunjuk jari tangan kirinya ikut terpotong.
“Ma, tangan kamu berdarah,” ucap Shaka sambil mengambil tangan kiri Ayna. Namun, Ayna hempaskan tangannya dari cekalan tangan Shaka hingga terlepas.
Ayna memutar badan menghadap Shaka.“Kamu pikir aku ini apa, Mas? Setelah kemarin kamu mengatakan sudah bosan dan tak lagi ada feel, sekarang kamu tiba tiba datang yang entah semalam tidur di mana. Lalu, memeluk pinggangku dari belakang seolah tak terjadi apa apa di antara kita. Maksud kamu apa, Mas?” Seperti biasa, Shaka hanya terdiam bak patung. Tidak ada ketegasan sama sekali yang dia tunjukkan sebagai seorang suami. “Aku sangsi dengan kejadian kemarin. Aku takut ucapanmu adalah sebuah talak untukku, Mas,” ungkap Ayna. “Sebaiknya kita sendiri sendiri dulu, kalau memang sudah ada keputusan bagaimana ke depannya dengan rumah tangga ini, baru kita bicara. Tapi, kamu tidak usah khawatir, aku tetap akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri sebelum perpisahan itu benar benar terjadi,” lanjut Ayna. Lalu meninggalkan Shaka yang masih terpaku di tempatnya.
Ayna memilih masuk ke dalam kamar anak anaknya. Karena kamarnya pasti akan digunakan oleh sang suami. Ayna sudah benar benar lelah menghadapi suaminya, dia menumpahkan seluruh sakit hatinya dengan tangisnya yang sesenggukan. Ayna sadar dia bukan Ibunda Khadijah yang mampu membuat laki laki paling sempurna di muka bumi ini jatuh hati pada dirinya. Karena seorang ikhwan seperti Shaka saja gagal ia pertahankan untuk tetap menjadi nahkoda kapalnya, akan tetapi sejauh ini Ayna sudah berusaha meneladani sikap Ibunda Khadijah pada Rasulullah, walau tak sesempurna Ibunda Khadijah. Ayna pun merasa dia sudah memenuhi semua kebutuhan lahir dan batin Shaka. Tapi, nyatanya hati Shaka tak selunak hati Baginda Rasulullah.
Ada pepatah mengatakan bahwa semua laki laki pada dasarnya sama. Jika istri memenuhi segala kebutuhan lahir batinnya, maka suami akan mencintai istrinya lebih dari segalanya. Bahkan seorang suami tidak akan rela menduakan sang istri. Namun, sepertinya kata pepatah itu tidak berlaku di rumah tangga Ayna dan Shaka. Padahal, semua kebutuhan Shaka dari mandi, makan, berangkat kerja, sampai tidur, semua Ayna persiapkan dan layani dengan baik. Bahkan kebutuhan Shaka di ranjang pun telah Ayna layani dengan semaksimal mungkin. Apa yang masih kurang dari bakti Ayna sebagai seorang istri pada Shaka?
“Ya Allah, jika memang aku yang salah, aku penyebab Mas Shaka selingkuh, tolong berikan petunjuk padaku agar aku bisa memperbaikinya, Ya Allah!” Sungguh Ayna ingin tahu di mana letak kesalahan dirinya hingga suaminya bisa tega selingkuhi dia.
Tubuh Ayna kini sudah menyatu dengan dinginnya lantai. Lama kelamaan Ayna tertidur. Bangun bangun ternyata sudah memasuki waktu dzuhur. Ayna sedikit merasa tubuhnya sakit karena tidur di lantai. Tapi, masih lebih sakit hatinya. Ayna keluar kamar, dia tidak menemukan siapa pun. Mobil Shaka juga tidak ada di garasi. Ayna menarik napas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Lumayan bisa sedikit merilekskan pikirannya. Lalu, ia berendam dengan air hangat di bathup sekitar setengah jam lamanya. Ayna pun bergegas sholat dzuhur dan kembali bermunajat dengan Kekasih Yang Maha Kasih. Setelahnya Ayna pergi ke rumah orang tuanya untuk menjemput kedua anaknya.
"Mbak, wajahnya kok lusuh gitu, ada apa sih?" tanya sang ibu. "Umy ini yang melahirkan, Mbak. Meskipun Mbak ndak bilang ada masalah, Umy tetap bisa merasakannya, Mbak." Ayna pun langsung menghambur dalam pelukan sang ibu.
"Berbagi sama Umy, Mbak. Jangan ditanggung sendiri!" Tangis Ayna kembali pecah. Sedangkan Umy Laila terus mengelus punggung sang anak, bersabar menunggu tangis sang anak selesai. Karena menangis lebih efektif dan lebih powerfull untuk menghilangkan sedih dari sebuah masalah dari pada tertawa dan bercanda.
"Saat ini di hati Mas Shaka tak hanya ada Mbak, Umy," jelas Ayna setelah tenang.
"Maksudnya gimana, Mbak?"
"Mas Shaka ada main dengan perempuan lain," jelas Ayna lagi tanpa berani menatap umy Laila.
"Mbak tahu dari mana?" Umy Laila berusaha menanggapi dengan tenang di depan Ayna. Padahal sebenarnya dia marah besar karena anak sulungnya telah disakiti dan dikhianati.
"Mbak yang memergoki langsung, My."
"Sudah Mbak tanyakan kebenarannya pada Shaka?"
"Sudah, Umy. Dan dengan gamblang Mas Shaka mengakui jika mencintai wanita itu."
"Astagfirullah, ini cobaan untuk rumah tangga, Mbak. Mbak yang sabar, cari jalan keluar yang terbaik."
"Ini bukan kali pertama Mas Shaka berbuat seperti itu, Umy." Umy Laila mengerutkan keningnya. "Sebulan sebelum akad Mas Shaka juga pernah melakukan hal yang sama. Namun, pada saat itu setelah ditatar oleh Bapak dan Ibu mertua Mbak, Mas Shaka akhirnya tetap memilih Mbak dan meninggalkan selingkuhannya. Sedangkan isu kedekatan Mas Shaka dengan wanita ini sebelumnya juga pernah sampai di telinga Mbak, bahkan Mbak juga pernah memperingati wanita itu untuk menjauhi Mas Shaka." Akhirnya Ayna menceritakan apa yang pernah terjadi.
Selama ini Ayna memang tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya kepada kedua orang tuanya. Dia lebih memilih menceritakan pada kedua mertuanya. Karena orang tua akan lebih berpikir keras dan lebih sedih jika mengetahui anak perempuannya disakiti. Sedangkan mertua, setidaknya beliau bisa menasihati anaknya untuk meluruskan semua permasalahannya.