"Kenapa Mbak gak bilang sama Umy dan abah waktu itu? Kalau tahu begitu, kami tidak akan rela menikahkan Mbak dengan dia. Kata orang, selingkuh itu adalah penyakit. Akan ada lagi dan lagi dan setelahnya jikalau si laki laki itu tidak benar benar bertaubat."
"Mbak pikir itu kali pertama dan terakhir Mas Shaka melakukan hal itu. Tapi nyatanya kini terulang kembali. Terus Mbak harus gimana, My?"
"Mbak, Umy yakin Mbak bisa menghadapi semua ini. Semua pasti ada solusinya, karena Allah selalu menyediakan jalan keluar yang terbaik dari sebuah permasalahan. Umy tahu, Mbak bukan Sayyidah Khodijah yang begitu mulya di mata suaminya, Mbak bukan Sayyidah Aisyah yang mampu menahan rasa cemburu, dan Mbak bukan Asiyah yang bisa dengan sabar dan kuat menerima segala keburukan suaminya. Jadi, apa pun keputusan Mbak nanti ke depannya, Umy berharap itu yang terbaik untuk semuanya," ucap umy Laila seraya mengelus punggung Ayna.
"Umy jangan bilang ke abah ya, My!" mohon Ayna pada sang ibu. "Mbak tidak mau abah terbebani dengan masalah rumah tangga Mbak. Sudah banyak yang abah pikirkan akhir akhir ini, belum lagi pembangunan usaha mebel yang baru dirintis itu cukup menyita pikiran abah. Mbak ndak mau abah banyak pikiran, Umy."
"In syaa Allah," jawab umy Laila kemudian.
Setelah berbagi isi hatinya pada sang ibu, ternyata hati Ayna jadi lebih baik. Ia pun mengajak anak anaknya yang baru datang dari car free day bersama sang kakung untuk pulang.
"Kok buru buru, Mbak? Ini kan hari minggu, biar mereka seharian main di sini," pinta sang abah.
"Mas Shaka pengen main sama anak anak juga, Bah."
"Kenapa tadi gak ikut ke mari saja, kan enak bisa ngumpul bareng di sini," ujar abah Rasyid.
"Abah seperti lupa siapa Mas Shaka, seperti biasa kalau week end Mas Shaka akan lebih memilih istirahat di rumah dari pada keluar rumah."
"Mbok yo ojok ngunu wayahe, week end itu harusnya jalan jalan bareng keluarga, jangan di rumah terus. Healingnya kapan dong?" Ayna hanya menanggapi dengan nyengir kuda. Andai saja dia punya suami seperti sang abah, ah ... Alangkah indahnya hidupnya.
"Ya sudah, Bah, My, Mbak sama anak anak pamit dulu. Kasihan Mas Shaka sudah nunggu lama di rumah sendiri." Mereka pun akhirnya pulang.
Di perjalanan pulang ke rumah, Ayna membeli lauk yang sudah matang. Sudah tidak ada mood untuk masak, apalagi perutnya sudah meronta ronta untuk diisi. Pasalnya dia terakhir makan kemarin siang di kantor. Jadi kalau harus masak dulu gak keburu kayaknya.
Sesampainya di rumah, Ayna melihat mobil Shaka sudah terparkir canrik di garasi.
"Ay," sapa Shaka ketika Ayna sedang menyiapkan makan siang. "Aku sudah belikan kalian makan siang, tuh!" tunjuk Shaka pada kresek berisikan beberapa strofom.
"Makasih," jawab Ayna datar. Akan tetapi dalam hatinya terheran heran, tumben tumbenan Shaka belikan makan siang untuk dirinya serta anak anak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah rumah tangga mereka.
"Kalau perhatianmu ini hanya untuk menutupi rasa bersalahmu, sebaiknya tidak perlu, Mas," cakap Ayna kemudian.
"Maksud kamu apa, Ay? Aku tulus melakukan ini," sahut Shaka.
"Salah aku berpikir demikian? Kamu tahu tidak, ini pertama kali loh kamu belikan makan untuk kami, biasanya kamu terima beres saja, Mas."
"Terus mau kamu sekarang apa?"
"Kamu beneran tanya aku maunya apa? Aku mau kamu tinggalin pelakor itu, Mas!" Melihat Shaka melotot ke arahnya, kembali Ayna angkat bicara. "Gak terima kamu kalau aku bilang dia pelakor? Oh ... Aku lupa kalau kamu juga mencintainya, jadi bukan pelakor ya namanya. Wanita ular aja deh lebih tepatnya," ucap Ayna menjadi jadi.
"Dia bukan wanita ular," sanggah Shaka.
"Kata siapa? Bahkan bisa-nya ular itu tidak semenyakitkan perbuatan dia loh," murka Ayna pada sang suami. Sedangkan Shaka masih terlihat mengepalkan kedua tangannya saking tidak terimanya selingkuhannya dimaki oleh Ayna.
“Ma, Adek sudah lapar. Apa makanannya sudah siap?” tanya Kiara mengagetkan kedua orang tuanya yang sedang berselisih paham.
“Ah ini baru mau Mama siapin, Nak. Oh iya, papa juga ada belikan makan loh katanya, coba Kiara buka!” pinta Ayna pada anak gadisnya seraya menunjukkan kresek makanan yang dibelikan oleh Shaka.
“Wahhh … lalapan ayam bakar, Ma,” ucap Kiara girang. Karena ayam bakar memang makanan kesukaannya.
“Ya sudah terserah Adek mau makan yang mana. Sekalian Mama minta tolong panggilkan kakak dong, kita makan bareng!”
“Siap Ma.” Kiara pun meninggalkan ruang makan dan menuju kamar sang kakak.
Mereka semua kini sudah berkumpul di meja makan untuk makan siang. Seperti biasa, Ayna akan menyiapkan semua kebutuhan suami serta anak anaknya.
“Ayam bakarnya enak loh, Pa. Papa beli di mana?” tanya Kiara.
“Beli dilangganan Papa, Nak,” jelas Shaka.
“Langganan?” ulang Kiara dan diangguki oleh Shaka. “Tapi kita kok baru dibelikan sekarang, Pa?” selidik Kiara. Sedangkan Ayna hanya melirik ke arah keduanya, terutama ke arah Shaka. Ayna ingin tahu ekspresi wajah Shaka ketika menanggapi pertanyaan Kiara.
“Kan selama ini Mama masak di rumah, jadi kalau masih beli makanan di luar kan kasihan masakan Mama gak ke makan, Dek.” Ini bukan penjelasan Shaka, melainkan Ayna. Sengaja Ayna yang menjelaskan, karena sudah menjadi kebiasaan Shaka jika tidak bisa menjawab dia akan diam mematung, sedangkan Kiara masih setia menunggu jawaban sang papa.
“Oh gitu ….” respon Kiara singkat. Beruntung saja Kiara tidak bertanya apa apa lagi. Dia lebih asyik melahap lalapan ayam bakarnya.
***
“Mas, kita gak jadi ketemuan hari ini? Katanya kamu mau ajak aku ke suatu tempat?” rengek Alinka di telpon.
“Nanti aku kabarin ya,” jawab Shaka gantung.
“Masak sih kamu gak bisa, Mas? Aku baru beli lingeri baru loh, kamu gak penasaran aku pakai itu?” Alinka berusaha membujuk Shaka.
“Aku gak bisa, Lin. Rumah tanggaku sedang dalam suasana panas ini.“
“Biarin lah, kan kamu juga udah bosan sama dia, udah gak cinta juga malahan, kan?” ujar Alinka mengingatkan Shaka.
“Tapi aku masih butuh dia untuk melayaniku,” ungkap Shaka.
“Kan ada aku, Mas?”
“Kamu gak bisa terus terusan bareng aku, Lin.”
“Kita seharian bareng terus loh di kantor kalau kamu lupa, Mas.”
“Ya beda, meski seharian bareng kan kamu gak bisa nyiapin semua kebutuhanku, Lin?” Alinka langsung bungkam seketika. “Jangan egois dan tolong mengerti aku!”
“Okey deh, gak apa apa kalau kamu gak bisa. Tapi aku tetap butuh ketemu kamu, Mas. Aku kangen banget loh. Kita ketemuan bentar aja yuk, ngafe gitu?” Alinka masih berusaha bernegoisasi dengan Shaka.
“Gak bisa, Lin,” tolak Shaka.
“Bentaran doang, Mas!” mohon Alinka pantang menyerah.
Shaka menghembuskan napas berat. “Okey deh, sebentar doang ya!”
“Iya janji, Mas. Hehe ….” Akhirnya bujukan Alinka membuahkan hasil juga.
Tanpa Shaka tahu bahwa Ayna mendengar semua obrolan telfonnya dengan Alinka. Satu fakta lagi yang ia tahu, ternyata Shaka mempertahankannya hanya untuk mendapat pelayanan dari Ayna. Sungguh miris sekali diri Ayna. Pacaran lima tahun dan menikah sepuluh tahun ternyata tidak ada apa apanya bagi Shaka, padahal pernikahan mereka penuh perjuangan. Tapi rupanya kini perjuangan itu terbuang sia sia oleh kehadiran orang ketiga di antara keduanya. Ayna meremas dadanya, sakit yang benar benar sakit Ayna rasakan di hatinya. Ayna tadi tidak berniat menguping, dia hanya ingin mengambil minum. Namun, ketika akan menuju dapur, Ayna mendengar suara Shaka sedang mengobrol dengan seseorang di dalam gudang. Awalnya Ayna hanya ingin mengetahui siapa lawan bicara sang suami, dan ternyata Allah Maha Baik malah memberi tahu satu fakta lagi tentang kebusukan Shaka.
Usai menutup telfon, Shaka bergegas menuju kamar dan mengganti pakaian dengan baju casual, semerbak wangi juga menyeruak hingga tercium oleh hidung Ayna yang kini sudah bersantai di sofa depan kamar.
“Aku keluar dulu!” pamit Shaka pada Ayna.
“Mau ke mana?”
“Ada urusan sebentar.”
“Di mana?”
“Daerah kantor.”
“Sama siapa?”
“Sama anak anak kantor.”
“Oh … terus pulang jam berapa?"
"Belum tahu. Kenapa sampai sedetail itu nanyanya?"
"Aku ini istrimu, Mas. Aku berhak posesifin kamu sesuka hati aku."
“Ya sudah, aku jalan sekarang ya.” Ayna mengangguk dan tetap menyalami tangan suaminya dengan takdim, kendati hatinya masih dongkol. Namun, Ayna tidak pernah melupakan jika dia masih sah menjadi istri Shaka.
“Mungkin aku pulang agak malam, jadi kalian makan malamnya gak usah nungguin aku ya!” Ayna kembali mengangguk dan kembali duduk di sofa. Tak ada keinginan untuk mengantar Shaka ke depan. Karena Ayna tahu kepergian Shaka kali ini untuk berzina. Berzina tak harus melakukan hubungan suami istri, memandang lawan jenis dengan perasaan senang saja itu sudah bisa dikatakan berzina. Apalagi Shaka akan menemui Alinka yang jelas jelas ada rasa cinta.
Ketika Shaka turun ke lantai bawah, Ayna berjalan ke arah jendela kaca yang langsung menghadap ke halaman depan. Ayna memperhatikan mobil Shaka yang keluar dari pekarangan rumah.
"Aku sudah lelah, keberadaanku di sini bukan lagi sebagai nyonya rumah atau pun nyonya di hatimu, Mas. Saat ini kamu tak lagi menginginkan aku lagi, kecuali hanya sebagai pelayan. Terima kasih sudah menemaniku sejauh ini, Mas. Aku pamit, Mas," ucap Ayna bermonolog sambil mengusap figura foto pernikahan mereka yang berada pas di hadapannya. Tangisnya pun sudah menganak sungai.