Ayna mengusap air matanya kasar dan langsung bergegas membereskan semua barang barangnya ke dalam koper. Dua koper full berisikan barang miliknya. Lantas, setelahnya Ayna beranjak ke kamar anak anaknya membawa dua koper.
"Kiano, Kiara, ayo masukkan semua barang barang penting kalian ke dalam koper ya!"
"Kita mau ke mana, Ma?" tanya Kiano.
"Kita pulang ke rumah Mbah Umik sekarang," jelas Ayna.
"Tapi kok bawa banyak barang sih, Ma?"
"Gak usah banyak tanya dulu ya, Sayang. Sekarang bereskan semua barang barang kalian, Mama bantu." Beruntung anak anaknya manut semua, jadi beres beresnya bisa cepat selesai.
Akhirnya semua beres juga, Ayna langsung membawa semua kopernya masuk ke dalam mobil. Sebelum menjalankan mobilnya, Ayna berkirim pesan lebih dulu pada Shaka.
"Mas, maafkan aku jika aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Hingga bisa membuat kamu berpaling ke lain hati. Aku tahu sebenarnya kamu bukan ada urusan dengan teman teman kantormu, melainkan dengan Alinka. Oh ternyata aku yang lupa, lupa kalau Alinka juga teman kantor kamu, Mas. Aku sadar kalian memang sulit untuk dipisahkan, makanya aku aja yang minta pisah. Nyatanya kamu memang tidak pernah ingin memperbaiki hubungan rumah tangga kita. Aku lelah berjuang sendiri, Mas. Hari ini aku putuskan untuk pamit pulang ke rumah orang tuaku bersama anak anak. Jaga diri kamu baik baik, Mas!" Setelahnya Ayna pun langsung menginjak pedal gasnya dengan ditemani air mata yang menganak sungai tentunya.
Di tempat lain, kini Shaka sedang asyik mengobrol dengan Alinka di sebuah gazebo cafe tengah sawah. Alinka menyenderkan kepalanya di bahu Shaka, sedangkan Shaka sendiri mengelus kepala Alinka.
"Mas, sehari saja aku tak bertemu denganmu, rasanya aku sudah mendekati gila," rengek manja Alinka.
"Aku juga, tapi mau gimana lagi, keadaannya saat ini begitu rumit." Alinka cemberut mendengarnya.
"Mas, kita ke tempat biasanya yuk, se-jam doang deh. Mumpung masih sore, Mas."
Shaka melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Okey, tapi beneran jangan lama lama ya!"
Alinka mengangguk. "Ayo Mas!" Alinka bersorak senang. Namun, tiba tiba dering notif chat aplikasi ijo terdengar. Shaka mengambil gawainya dan begitu sangat shok ketika membaca isi chat dari Ayna.
"Ada apa, Mas?" tanya Alinka ketika wajah Shaka terlihat nampak panik.
"Lin, aku harus pulang sekarang," ucap Shaka seraya meninggalkan Alinka yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Sepersekian detik kemudian Alinka mendengus kesal. Shaka semakin mempercepat laju mobilnya, dia ingin segera sampai rumah. Dia masih belum rela kalau harus ditinggalkan oleh anak serta istrinya. Buru buru Shaka berlari memastikan keadaan rumah, sampai mobilnya dia biarkan terparkir depan rumah karena saking inginya lebih cepat masuk rumah. Dan ternyata mereka sudah benar benar pergi. Shaka menjambak keras rambutnya sendiri.
"Ck ... Aku sudah terlambat," gumam Shaka bermonolog dan langsung membalas chat Ayna.
'Ma, aku sudah di rumah. Mari kita bicarakan semua baik baik. tolong jangan begini, jangan tinggalkan aku sendiri!'
***
"Mbak, setelah meletakkan semua barang barangnya, temui Abah di ruang keluarga ya!" pinta abah Rasyid.
"Oh enggeh, Bah," jawab Ayna.
Belum belum tubuh Ayna sudah bergetar. Sebenarnya Ayna sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh sang abah. Sehingga mau tidak mau nanti dia harus menceritakan kebenaran tentang Shaka pada abah.
"Iya, Bah?" Kini Ayna sudah berdiri di depan sang abah.
"Duduk!" Ayna pun menurut.
"Ada apa dengan rumah tanggamu? Kenapa tiba tiba memutuskan untuk kembali pulang ke mari?" tanya abah.
"Maafkan Mbak, Bah. Mbak sudah tidak sanggup lagi menghadapi suami Mbak. Mbak memiliki suami tapi rasanya seperti tidak memiliki suami. Lalu apa gunanya Mbak pertahankan rumah tangga yang tidak sehat ini?” Ayna menjeda penjelasannya. “Abah tahu sendiri kan, selama ini yang mengurus rumah dan anak anak adalah Mbak sendiri. Walaupun anak anak sakit, Mas Shaka tidak pernah peduli. Bahkan yang antar Mbak ke rumah sakit kan abah. Waktu Mbak hamil besar dia juga tidak peduli, dia tetap biarkan Mbak berangkat kerja sendiri, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mbak berjuang sendiri dalam rumah tangga ini, Bah. Mbak capek kalau seumur hidup harus seperti ini terus." jelas Ayna.
Abah mengangguk paham. Memang selama ini kesibukan Shaka membuatnya lupa pada jika punya keluarga. Shaka membiarkan Ayna melakukan semua pekerjaan rumah sendiri termasuk mengurus anak anak. "Mbak, Abah ini hafal betul dengan semua sikap dan sifat kamu. Yakin alasan pulang ke mari hanya itu saja?" Ayna menunduk, dia masih ingin mempertahankan nama baik suaminya yang sudah berkhianat padanya. Cukuplah mereka tahu perbuatan yang bisa mereka lihat, tapi tidak dengan satu kasus itu.
"Kalau hanya karena sikap Shaka yang terlalu sibuk dan sering mengabaikan kalian, Abah rasa Mbak tidak akan sampai pergi dari rumah. Abah hanya ingin Mbak jujur sama Abah. Abah tidak akan menghalangi Mbak untuk kembali ke rumah ini. Ini rumah Mbak, rumah yang akan selalu terbuka lebar untuk menyambut kedatangan Mbak," imbuh abah.
"Maafkan Mbak, Abah, Mbak tidak jujur .... " Ucapan Ayna terpotong karena kedatangan sang umy yang membawa teh hangat.
"Minum dulu tehnya mumpung masih hangat, biar rilex!" Umy terlihat santai karena memang sudah mengetahui apa yang telah terjadi dalam rumah tangga Ayna.
"Lanjutkan, Mbak!" titah sang abah.
"Mbak tidak bisa mempertahankan orang yang sudah ndak memcintai Mbak lagi, Bah. Mas Shaka sudah ndak mencintai Mbak, bahkan dengan gamblang mengatakan jika telah mencintai wanita lain di hadapan Mbak." Tangis Ayna kembali pecah.
Abah sangat paham ke mana arah pembicaraan Ayna. Abah melepas kaca matanya perlahan, lantas mengusap air matanya. Hati ayah mana yang tidak sedih jika anak perempuannya diperlakukan seperti itu? Sebejat bejatnya seorang ayah, tidak akan terima jika anaknya disakiti.
"Lalu maunya Mbak sekarang apa?" tanya abah setelah tangis Ayna mereda..
"Untuk saat ini Mbak tidak mau bertemu dengan mas Shaka, Mbak mau nenangin diri di sini dulu, Bah. Untuk ke depannya gimana, Mbak masih belum tahu. Banyak yang Mbak pikirkan untuk mengambil keputusan. Anak anak menjadi alasan terberat untuk Mbak melangkah selanjutnya. Mbak harap dengan perginya Mbak saat ini, Mas Shaka bisa introspeksi diri dan kembali ke jalan yang benar. Mbak juga ingin introspeksi diri untuk belajar jadi lebih baik lagi," jelas Ayna.
"Bagaimana jika Shaka ke mari?"
"Mbak tidak mau menemuinya dulu, Bah. Semua demi kewarasan hati Mbak."
"Ya sudah kalau gitu, naiklah ke kamarmu dan istirahatlah!" Ayna pun mengangguk dan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Umy kok santai, seperti tidak kaget mendengar cerita Ayna?"
"Tadi pagi Ayna sudah cerita semua sama Umy tentang Shaka yang selingkuh."
"Umy kok gak cerita sama Abah?" protes abah Rasyid.
"Sama Ayna gak boleh cerita dulu, takut Abah banyak pikiran katanya." Mendengar penuturan sang istri, abah Rasyid langsung menghela napas berat.
Di kamar, Ayna sedang menata semua barang barangnya di lemari. Detik kemudia terdengar bunyi notif dari gawainya. Ayna pun mengambil benda pipi tersebut dari saku gamisnya. Lalu Ayna mengecek dari widget, setelah tahu bahwa notif chat tersebut dari Shaka dan tahu apa isinya, Ayna malas untuk membukanya apalagi membacanya. Ayna pun kembali membereskan barang barangnya.
Sedangkan Shaka kelimpungan sendiri di rumah, hatinya tak tenang ditinggalkan anak serta istrinya. Pesannya pada Ayna juga tidak terbalas. Sebenarnya Shaka ingin menyusul Ayna ke rumah mertuanya. Namun, dia malu untuk menampakkan batang hidungnya. Shaka yakin Ayna pasti sudah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
***
Shaka benar benar merasa kehilangan sosok Ayna, hidupnya yang biasa serba dilayani oleh Ayna kini berubah derastis. Terhitung sudah seminggu Ayna meninggalkannya. Baju kerja yang biasanya sudah rapi dan siap dipakai tergantung rapi, kini tak ada. Makanan yang biasanya tinggal makan pun tak ada. Rumah yang biasanya selalu bersih, kini jadi berantakan. Baru dia sadari bahwa Ayna sangat berpengaruh di hidupnya, tanpa Ayna hidupnya sengsara.
"Di mana letak kaos kaki yang warna silver itu sih?" ucap Shaka seraya mengobrak abrik lemarinya. Shaka uring uringan, dia lelah setelah menyetrika baju kerjanya ditambah kaos kaki yang dimaksud belum ketemu.
"Kalau begini terus, bisa bisa aku jadi stres ini," ucap Shaka bermonolog.
"Ay, kamu tidak bisa mendiamkan dan meninggalkan aku begini. Aku butuh kamu dan anak anak." Satu pesan terkirim untuk Ayna. Entah ini pesan yang keberapa yang Shaka kirim kepada Ayna. Namun, tidak pernah ada yang dibaca satu pun oleh Ayna.
"Sebaiknya aku pulang saja ke rumah ibu, di sana ada rewang ibu yang bisa membantu menyiapkan keperluanku, dari rumah ibu pun jaraknya lebih dekat dengan kantor." Kembali Shaka bermonolog.
Masih ada waktu untuknya bersiap, Shaka pun memasukkan semua baju bajunya ke dalam koper. Hanya beberapa saja, yang terpenting adalah baju kerjanya yang harus ia bawa.
"Mas, kamu kok lama banget sih?" Alinka menelfon Shaka. Mereka pagi ini janjian untuk berangkat kerja bareng sekalian untuk sarapan bubur ayam dekat kantor.
"Sabarlah, Lin! Aku lagi bebenah barang barang nih."
"Emang mau dibawa kemana?"
"Nanti aku ceritakan, tapi untuk sekarang tolong matikan dulu telfonnya." Mau tidak mau akhirnya Alinka mematikan sambungan telfonnya.
Dalam waktu 15 menit akhirnya Shaka selesai juga beres beresnya, Shaka pun berangkat kerja. Ketika melewati depan kantor Ayna, dia melihat Ayna turun dari mobilnya. Andaikan jam masuk kerja tidak mepet, sudah Shaka temui Ayna.
Alinka sudah menunggu kedatangan Shaka sedari tadi di depan gedung tempat mereka bekerja. “Lama banget sih, Mas?” protes Alinka ketika Shaka sampai di kantor.
“Kan sudah aku katakan tadi, kalau aku masih beres beres barang bawaanku,” jelas Shaka.
“Ya sudah,” jawab Alinka ketus dan meninggalkan Shaka.