MENDAKI BERSAMA ARWAH

3619 Kata
Cerita ini di dedikasikan untuk Alm. Ahmad Nur Munir yang telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah kecelakaan kendaraan dalam perjalanan ke gunung Semeru. ..... ... Berawal dari sebuah rencana mendaki ke gunung Semeru. Awal cerita, waktu itu Farel dan 3 temannya, ada Yasir, Fatiq dan Nanda. Mereka berempat ini memiliki hobi yang sama yaitu hiking, beberapa gunung yang berada di jawa timur sudah pernah mereka jajaki kecuali 1, yaitu gunung Semeru, oleh karena itu kali ini mereka berempat ingin sekali mendaki ke gunung Semeru. Yaa karena kurang komplit aja kalau belum menginjakan kaki di tanah tertinggi jawa. Sehari sebelum hari keberangkatan mereka berkumpul di rumahnya Farel atau bisa dibilang basecamp untuk mereka berempat, untuk membahas pendakian yang akan dilakukan besok. Rumah Farel memang bebas untuk teman-temannya, sering kali mereka bertiga menginap disitu. Setelah cukup lama membahas rencana itu akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat pagi-pagi dengan tujuan untuk meminimalisir sesuatu yang mungkin akan menghambat perjalanan mereka nantinya. Dan titik kumpulnya adalah di rumah Farel. Sore itu mereka bubar dan pulang kerumahnya masing-masing, ke’esokan harinya jam 7 pagi, ketika Farel sedang sibuk mempacking peralatannya terlihat Yasir, Fatiq dan Nanda berbondong-bondong datang kerumahnya Farel. Farel yang pagi itu belum sempat mandi minta tolong pada teman-temannya untuk mempackingkan peralatannya, sementara itu dia mandi. Setelah selesai mandi dan segala macam persiapan Yasir tanya ke teman-temannya, “Eh kita mau sarapan dimana? Disini apa ntar aja di perjalanan?” Farel memberi saran agar nanti aja di perjalanan karena di daerah tempat tinggalnya itu Farel punya langganan warung makan yang enak. Setelah perisapan sudah matang mereka menggendong ranselnya masing-masing dan tidak lupa meminta ijin pada orang tuanya Farel yang waktu itu sedang sibuk masak makanan di dapur. Melihat mereka yang berangkat pagi-pagi ibunya Farel bertanya, “Mau ndaki kemana lagi? Kok tumben pagi-pagi gini? Gak nunggu sarapan dulu?” Farel menjelaskan pada ibunya kalau mereka akan pergi ke gunung Semeru. Berhubung jarak ke gunung Semeru itu cukup jauh mangkanya mereka sempetin berangkat pagi-pagi. Ibunya Farel memang sudah terbiasa menerima ijin dari Farel untuk pergi mendaki, mereka mencium tangan ibunya Farel satu persatu dan memohon restu agar di beri keselamatan sampai kembali pulang. Setelah ijin diberikan lekas mereka berangkat. Mereka berangkat jam 8 pagi dengan menggunakan motor. Farel di bonceng menggunakan motornya Yasir dan Fatiq berboncengan dengan Nanda. Di perjalanan mereka mampir di warung makan langganan Farel untuk sarapan. Disini mereka sangat have fun mengingat mereka kali ini akan mendaki ke gunung Semeru. Setelah perut sudah terisi mereka lanjut berkendara lagi. Singkat cerita, setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan sampailah mereka di daerah Tumpang, Malang. Sesampai disana mereka mampir di sebuah pasar untuk membeli logistik yang akan diperlukan untuk pendakiannya. Di pasar, mereka bertemu dengan 2 orang yang baru datang, sepertinya mereka juga akan mendaki ke Semeru karena terlihat dari penampilannya dan tas carier yang mereka bawa. Sementara yang lain sedang membeli logistik Farel menghampiri orang tersebut, sambil basa-basi dia bertanya, “Mau ndaki kemana mas?” Salah satu orang dari grup itu menjawab, “Kita mau ke Semeru mas, sampeyan juga mau ke semeru?” “Iya, ini lagi mampir beli logostik dulu”, jawab Farel. Disitu Farel ngobrol-ngobrol tuh sama grup itu, kalau dilihat dari cara berpakaiannya mereka sudah berpengalaman di dunia pendakian dan ternyata mereka orang daerah sini. Disini mereka sedang menunggu satu temannya yang belum datang. Sebut saja mereka berdua adalah mas Ali dan yang satunya Farel lupa namanya. Kebetulan nih, karena Farel dan teman-temannya ini belum ada pengalaman ke Semeru dia berencana untuk ikut gabung aja sama mas Ali. “Kebetulan mas, kita gabung ya saolnya saya dan teman2 belum pernah kesana sebelumnya”, ucap Farel. “Oh ya monggo gpp, makin banyak makin seru. Kalo gitu logistiknya dibanyakin”, jawab mas Ali dengan bercanda. Sepertinya mas Ali orangnya seru tapi tidak dengan teman yang satunya, dia lebih sering diam dan cuek. Disa’at mereka sedang terlibat obrolan yang cukup seru teman-temannya Farel sudah selesai membeli logistik, kemudian Farel memperkenalkan 2 orang itu pada teman-temannya, “Eh kita ada barengan nih kenalin” Mereka semua pun berkenalan dengan mas Ali dan temannya itu. Sambil menunggu satu temannya mas Ali yang belum datang mereka mempacking logistik yang di belinya tadi, beberapa saat kemudian terlihat tuh temannya mas Ali datang dengan menggunakan motor jadul, memakai jaket hitam dan memakai helm cetok. Belum sempat temannya mas Ali itu turun dari motor, mas Ali mengajak yang lain untuk lanjut berkendara. Jangankan menyapa temennya mas Ali, kenalan aja Farel belum sempet. “Tapi gpp lah nanti juga kenal sendiri”. Pikir Farel. Mereka lekas menaiki motornya masing-masing dan melanjutkan perjalanan, mereka berkendara di belakang grupnya mas Ali. Selang beberapa sa’at kemudian, “BRUUUKKKKK!!!”. Mobil truck menyerempet salah satu temannya mas Ali tepatnya di sebuah tikungan. Beberapa warga berdatangan untuk menepikan motor dan temannya mas Ali yang tergeletak di tengah jalan. Melihat itu mereka langsung menepi ke pinggir jalan dan berlari menghampiri mas Ali dan beberapa warga yang sedang sibuk memberi bantuan pada temannya. Terlihat, temannya mas Ali itu luka parah, helm cetok yang dipakainya itu lepas dari kepalanya hingga darah mengalir deras di bagian kepala dan sebagian badannya tergores aspal hingga beberapa batu kecil terselip dan sepertinya dia mengalami patah tulang. Melihat darah yang mengucur deras Farel lemas, karena dia memang orangnya takut sama yang namanya darah. Beberapa saat kemudian datanglah mobil ambulance. Farel dan yang lain ikut membantu mengangkat temannya mas Ali itu kedalam ambulance dan membawanya menuju ke puskesmas terdekat. Perjalanan mereka ke gunung Semeru terpaksa tertunda, Farel dan teman-temannya ikut membuntuti ambulance ke puskesmas, sesampai puskesmas temannya mas Ali langsung diberi pertolongan sementara Farel dan teman-temannya menunggu di ruang tunggu. Terlihat mas Ali sangat terpukul karena kejadian ini, mas Ali menghubungi pihak keluarganya dan memberitahukan pada Farel kalau temannya akan dirujuk ke rumah sakit terdekat. Terpaksa mas Ali membatalkan rencananya untuk pergi ke Semeru, dia mengucapkan terima kasih pada Farel karena sudah mau membantu membawa temannya kesini, lalu mas Ali mempersilahkan Farel dan teman-temannya untuk melanjutkan perjalanannya ke Semeru sementara dia akan tetap disini untuk menemani temannya itu. Sebenarnya tidak enak bagi Farel untuk melanjutkan perjalanan ini mengingat mas Ali sedang terkena musibah seperti ini tapi disisi lain Farel dan temannya juga tidak bisa terus disini, mereka harus tetap melanjutkan perjalanan ke gunung Semeru. Lagian pihak keluarga yang bersangkutan juga sudah datang waktu itu. Akhirnya dengan berat hati Farel pamit pada mas Ali untuk melanjutkan perjalanan gunung Semeru dan mas Ali berpesan untuk hati-hati di perjalanan. Setelah selesai bersalaman sama mas Ali mereka bergegas melanjutkan perjalanan lagi dan waktu itu sudah menunjukan jam 12 siang. Di perjalanan Farel masih terus terbayang-bayang darah yang mengalir dari kepala temannya mas Ali tadi. Setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan mereka sampai di pintu gerbang TNBS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) Sesampai disitu mereka minta ijin ke petugas dan sama petugas di persilahkan untuk lanjut jalan tanpa dikenakan biaya. Mereka pun lanjut berkendara lagi melewati jalan bebatuan yang cukup terjal, setelah itu mereka sampai di sebuah tempat yang sangat keren dengan pemandangan sebelah kiri pegunungan Tengger Bromo dan sebelah kanan sudah tampak jelas puncak Mahameru yang berdiri gagah. Melihat pemandangan yang sangat keren mereka berhenti untuk sedikit berdokumentasi dan menikmati pemandangan yang ada. Nah gak tau kenapa nih ya, melihat puncak Mahameru yang berdiri gagah itu Farel tiba-tiba mempunyai firasat gak enak, seakan-akan dalam hatinya mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi gak tau apa. Farel tidak memberitahu teman-temannya tentang itu, dia berusaha membuang pikiran negatif itu dan mengangap “Mungkin ini efek setelah melihat darah tadi”. Dia berusaha berfikir positir, “Bismillah, semua akan baik-baik aja”. Setelah cukup berdokumentasi mereka lanjut berkendara lagi menuju ke desa Ranupani. Sesampai disana mereka diminta memarkirkan kendara’an di tempat parkir yang letaknya ada di sebelah lapangan, setelah itu sama penjaga parkir ditunjukan letak pos pendaftaran yang jaraknya cukup jauh dari tempat parkir itu. Mereka berjalan menuju ke pos pendaftaran, sesampai disana terlihat tidak begitu banyak pendaki yang akan naik, hanya beberapa. Kemudian mereka segera meminta ijin pendakian ke pos dan di pos itu Farel bertanya pada petugas tentang estimasi perjalanan. (kalau dari sini ke Ranu kumbolo berapa jam dan kalau dari Ranu kumbolo ke Kalimati berapa jam) Menurut petugas, estimasi dari Ranupani ke Ranu kumbolo membutuhak waktu kurang lebih 4 jam begitupun dari Ranu kumbolo ke Kalimati, bisa lebih cepat dan bisa juga lebih lambat tergantung kemampuan masing-masing. Berhubung waktu itu masih jam 2 siang mereka berencana untuk langsung berangkat siang ini juga dengan harapan bisa sampai di Ranu kumbolo tidak terlalu malam. (Oh iya, di tahun 2014 itu masih belum diwajibkan booking online, mungkin masih belum begitu ramai atau gimana. Jadi pendaki kalau ingin mendaki bisa langsung berangkat setelah ijin) Setelah selesai mengisi form pendaftaran mereka istirahat sebentar di sebelah pos untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan tadi. Mereka istirahat sambil ngrokok dan membahas kejadian yang menimpa temannya mas Ali tadi, semoga dia lekas diberi kesembuhan. Kurang lebih 30 menit istirahat mereka segera memulai perjalanan dengan tujuan agar tidak terlalu malam untuk sampai di Ranu kumbolo dan bisa bermalam disana. Perjalanan dimulai pada pukul setengah 3 sore, selama perjalanan menuju ke Ranu kumbolo itu mereka sangat have fun dan tidak ada kendala sama sekali hingga sampai di Ranu kumbolo tepat pukul 6 sore. Melihat danau seluas itu mereka sangat senang, ya walaupun tidak begitu jelas karena waktu itu sudah cukup gelap. Terlihat dari ujung danau tersebut sudah banyak warna warni tenda pendaki lain yang sedang ngecamp. Mereka pun segera menuju kesana dan mendirikan tenda untuk bermalam. Dinginnya Ranu kumbolo malam itu membuat mereka tidak betah lama-lama berada di luar tenda, setelah 1 tenda berkapasitas 4 orang sudah didirikan mereka langsung masuk dan memasak di teras tenda setelah itu mereka langsung tidur. Ke’esokan harinya mereka dibuat kagum dengan indahnya pemandangan sunrise di Ranu kumbolo. Pagi itu mereka menikmati dinginnya Ranu Kumbolo ditemani segelas kopi. Setelah puas menikmati semua itu mereka memasak buat sarapan dan sesekali menyapa pendaki lain yang berada disekitarnya. Karena pagi itu suasana Ranu Kumbolo sangat sejuk, pagi itu mereka memutuskan untuk istirahat dulu di Ranu Kumbolo dan melanjutkan perjalanan nanti siang. Mereka santai-santai dulu sambil ngopi dan mengobrol dengan pendaki yang ada di sebelah tenda mereka. Mereka para pendaki itu tujuannya hanya di Ranu Kumbolo. Setelah cukup dengan istirahatnya, sekitar jam 11 siang mereka mengemasi tendanya dan akan melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati. Sebelum meninggalkan Ranu Kumbolo mereka berpamitan dengan pendaki yang ada disebelah mereka. Perjalanan dilanjutkan pada jam 11.30 siang. Mengingat hari itu masih siang mereka berjalan sangat santai hingga tidak terasa mereka menjumpai sebuah papan yang menunjukkan kalau mereka sudah sampai di area Cemoro Kandang. Di situ mereka melihat ada 1 orang yang sedang istirahat dan duduk seorang diri tepat di bawah papan penunjuk, kemudian mereka menghampirinya sekalian juga akan istirahat, lalu mereka menyapa 1 orang yang sedang duduk itu, "Sendirian aja Mas apa lagi nunggu temen?", tanya Farel pada pendaki itu Dan orang itu menjawab dengan ramah, "Iya saya sendirian, awalnya sih sama temen tapi mereka gak jadi naik". Disitu mereka terlibat obrolan yang cukup panjang. Nama pendaki itu adalah Munir, dia berasal dari Malang. Orangnya asik kalau diajak ngobrol dan humoris. Dia lebih tua dari Farel beberapa tahun, sepertinya Mas Munir ini adalah pendaki senior karena terlihat dari cara berpakaiannya. Mereka kemudian menawari Mas Munir untuk jalan bareng dan Mas Munir pun menerimanya. Setelah cukup Istirahat di Cemoro Kandang mereka lanjut berjalan lagi dengan mas Munir. Di sepanjang perjalanan Mas Munir banyak bercerita pada mereka tentang pendakian pendakiannya sebelumnya, menurut Mas Munir dia baru pertama kalinya mendaki ke Gunung Semeru. Mendengar itu mereka heran "kok bisa baru pertama kalinya mendaki ke Semeru? Padahal rumahnya Mas Munir letaknya tidak jauh dari gunung Semeru" Alasannya sederhana, justru karena dekat itu mas Munir kurang tertarik untuk mendaki ke Gunung Semeru. Kalau dipikir-pikir benar juga alasan yang diberikan Mas Munir itu, orang yang tinggal di dekat gunung lebih memilih untuk mendaki ke gunung lain daripada mendaki ke gunung yang dekat dengan tempat tinggalnya. Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka sampai di Kalimati, terlihat di Kalimati cukup banyak pendaki lain yang sedang ngecamp. Sesampai di situ Farel dan teman-temannya mendirikan tenda sementara Mas Munir Dia pamit untuk pergi ke suatu tempat. Setelah tidak didirikan mereka membuat kopi dan terlihat beberapa pendaki yang ada di Kalimati waktu itu berbondong-bondong untuk berjalan turun, sepertinya mereka sudah habis dari puncak. Sambil menikmati kopi mereka memperhatikan Puncak Mahameru yang sudah tampak jelas di hadapan mereka sambil berpikir, "ini beneran ya kita akan naik ke sana". Seakan-akan mereka tidak percaya kalau sekarang mereka sudah berada di sini. Perjalanan ke Puncak Mahameru memang sudah dekat tapi ini adalah bagian yang terberat dimana semua pendaki harus ekstra berhati-hati untuk mencapai puncak itu. Sore itu mereka berjalan keliling Kalimati untuk menyapa pendaki lain yang sedang ngecamp tapi sore itu mereka tidak bertemu dengan Mas Munir, entah dia ngecamp dimana. Mereka menganggap mungkin Mas Munir sudah berjalan keatas untuk ngecamp di Arcopodo karena setahu Farel di Arcopodo juga bisa digunakan untuk ngecamp tapi itu tidak disarankan karena bahaya, seringkali abu vulkanik dari kawah Gunung Semeru turun ke area Arcopodo. Setelah puas berkeliling mereka kembali ke tenda untuk memasak makanan, setelah itu mereka makan untuk mengisi tenaga yang tadi sempat terkuras habis, setelah selesai makan itu mereka berdiskusi tentang kelanjutan perjalanan menuju ke Puncak Mahameru. Menurut beberapa artikel yang sebelumnya dibaca Farel untuk sampai ke Puncak Mahameru bisa dilakukan mulai jam 11 malam dan malam itu mereka memutuskan untuk tidur dulu sebelum nanti jam 11. Ketika sedang berdiskusi tiba-tiba Yasir nyeletuk, “Eh kayaknya aku gak asing deh sama mas Munir tadi?” Farel bertanya, “Emang kamu pernah melihat mas Munir dimana?” Yasir kemudian menjelaskan, “Kalian inget gak dengan temannya mas Ali kemarin? Perasaan dia mirip banget” “Temennya mas Ali yang mana?”, tanya Farel. “Yang kecelakaan kemarin itu, emang kamu gak merhatiin kemarin?”, jelas Yasir. “Huss kamu jangan ngawur, orang dia sedang dirawat kok” “Lagian boro-boro mau ngeliat wajahnya, ngeliat darah aja aku udah keringat dingin kemarin”, lanjut Farel. Sebelumnya mereka memang tidak begitu memperhatikan wajah dari temannya Mas Ali, namanya pun mereka tidak tahu karena Mas Ali tidak sempat memperkenalkannya. Setelah berdiskusi mereka memutuskan untuk tidur biar nanti perjalanan ke puncak mereka bisa fit. Singkat cerita, ketika sedang tidur mereka terbangun oleh suara pendaki yang membangunkannya, "Mas.. Mas.. bangun mau summit nggak?". Farel yang bangun terlebih dahulu segera membangunkan teman-temannya setelah itu dia membuka pintu tenda dan ternyata yang membangunkan itu adalah Mas Munir, melihat itu Farel kaget karena Farel mengira Mas Munir tidak ngecamp di Kalimati tapi ternyata dia masih ada disini. "Loh mas Munir tak kirain enggak ngerti yang di Kalimati loh Mas", ucap Farel. lalu mas Munir menjawab, "Aku tadi ngecamp di ujung sana", ucap Mas Munir sambil menunjuk ke arah hutan. Setelah bangun itu Farel melihat jam sudah menunjukkan jam 11 malam, terlihat para pendaki lain sedang bersiap-siap dengan tujuan yang sama yaitu akan summit ke Puncak, mereka pun mempersiapkan diri dan perbekalan yang akan dibawa ke puncak. Setelah persiapan sudah matang mereka berdiri melingkar untuk berdoa dan perjalanan pun dimulai tepat pada pukul 11.30 malam dipimpin oleh Mas Munir. Singkat cerita matahari sudah terbit ketika mereka sampai di jalur Rock bebatuan. Melihat pemandangan samudra diatas awan mereka berhenti dan Farel sangat senang begitu juga dengan teman-temannya tapi tidak dengan mas Munir, dia tampak biasa saja bahkan terlihat murung, mungkin waktu itu dia sedang kecapean. Melihat puncak yang sedikit lagi sudah sampai mereka lanjut berjalan lagi hingga sampai di puncak tepat jam 5.30 pagi. Sesampai di puncak Farel dan teman-temannya langsung bersujud syukur karena sudah bisa menginjakkan kakinya di tanah tertinggi Jawa, Puncak Mahameru. Di puncak itu mereka berfoto-foto untuk mendokumentasikannya. Ketika sedang asyik dokumentasi mereka melihat Mas Munir sedang duduk di sebelah batu sepertinya Mas Munir tidak begitu senang dengan semua ini. Farel meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk dokumentasi dia berjalan menghampiri Mas Munir. Sesampai di situ terlihat mas Munir ini pucat, sepertinya dia sedang tidak sehat. Farel bertanya, "Mas, sampeyan kenapa kok pucat gitu?" Lalu mas Munir menjawab, "Gpp, aku cuma mikir andai kemarin temen-temenku ikut, kita bisa berdiri bersama di sini" Farel menaruh prihatin sama mas Munir, dia berusaha menghiburnya, "Udah gpp mas, next kan masih bisa kesini lagi, lagian gunungnya gak bakal pindah" Mas Munir yang tadinya humoris sekarang jadi pendiam, sepertinya dia benar-benar menginginkan teman-temannya berdiri bersama di atas Puncak Mahameru. Lalu Farel coba mengajak Mas Munir untuk ikut berfoto-foto sama mereka tapi tidak mau, dia masih tetap murung tampak seperti sedang sakit. Karena memang tidak mau Farel meninggalkan Mas Munir dan kembali berfoto-foto sama temannya, setelah puas berfoto-foto Farel mencari Mas Munir yang waktu itu sudah tidak terlihat berada di Puncak. Melihat Mas Munir yang sudah tidak ada di puncak Farel bertanya pada teman-temannya, "Eh Mas Munir tadi ke mana ya?". Tapi teman-temannya Farel tidak ada yang tahu karena dari tadi mereka tidak begitu memperhatikan Mas Munir karena sedang asyik dokumentasi. Karena memang tidak melihat Mas Munir Farel menganggap mungkin Mas Munir sudah turun duluan dan mereka pun segera kembali turun. Singkat cerita, sampailah mereka kembali di Kalimati. Sesampai di situ mereka melepas lelah di depan tenda kemudian lanjut masak makanan untuk sarapan. Nah... Ketika sedang masak tiba-tiba Mas Munir datang sambil menggendong tas ransel, lalu dia bilang, "Rek. Makasih ya udah mau bareng sampai ke Puncak Mahameru" "Iya Mas sama-sama", jawab Farel. "Aku pamit dulu nggak bisa turun bareng kalian", lanjut mas Munir. "Loh nggak bareng aja Mas ini lagi kita masakin buat sarapan loh", ajak Farel. "Udah makasih Ih aku udah sarapan tadi di sana", jawab Mas Munir. "Klo gitu Ya udah Mas hati-hati ya", jawab Farel. Sebelum berjalan turun mas Munir meminta pada mereka, "Kalian nanti pulangnya lewat Tumpang toh? Mampir ke tempatku ya ke alamat ini" Mas Munir menyebutkan sebuah alamat dan meminta mereka untuk mampir ke sana. Farel mengiyakan permintaan Mas Munir itu dan menulis alamat yang disebutkan Mas Munir tadi di handphonenya agar tidak lupa. Setelah memberikan alamat itu mas Munir bilang lagi, "Aku tunggu lho ya, Awas kalau nggak mampir" Serentak mereka menjawab "Siap" Setelah itu mas Munir berjalan turun meninggalkan Farel dan rombongannya. Karena memang alamat yang diberikan Mas Nur itu satu arah dengan perjalanan pulang mereka sepakat untuk mampir dulu nanti kalau pulang, siapa tahu dapat makan gratis, kan lumayan. Setelah selesai masak dan makan mereka berkemas kemudian kembali berjalan turun. Singkat cerita, sampailah kembali mereka di Ranu Kumbolo pada pukul 12 siang. Sesampai di situ mereka istirahat sebentar dan di Ranu Kumbolo itu Yasir sempet bilang ke temen-temennya, "Eh, Mas Munir kok kalau turun cepet banget ya, masak ya nggak istirahat dulu disini?" Farel menjawab, "Buru-buru mungkin Sir, kalau nggak buru-buru dia enggak bakal turun duluan tadi" Setelah cukup Istirahat di Ranu Kumbolo Mereka lagi berjalan turun dan sampai kembali di Ranu Pani pukul 3 sore. Sesampai di situ mereka bersih-bersih badan dilanjut istirahat sebentar kemudian kembali ke parkiran untuk mengambil motor dan kembali pulang. Mengingat tadi mereka diminta Mas Munir untuk mampir ke tempatnya. Sesampai di area Tumpang mereka mencari alamat tersebut, setelah tanya ke beberapa penduduk setempat akhirnya alamat itu ditemukan.. Dan.. Alamat yang diberikan Mas Munir itu ternyata bukan rumah, basecamp atau semacamnya melainkan sebuah pemakaman. Melihat kalau itu adalah pemakaman mereka benar-benar kaget. Kenapa Mas Munir memberikan alamat pemakaman pada mereka? Tidak lama kemudian terlihat ada seseorang yang baru saja keluar dari pemakaman tersebut yang tidak lain dia adalah Mas Ali dengan penampilan seperti habis nyekar. Melihat keberada’an Mas Ali di situ mereka saling semakin kaget dan saling melihat, apa jangan-jangan? tapi semoga saja enggak. Lalu Farel berteriak memanggil Mas Ali, "Mas.. Mas Ali..." Mas Ali yang sudah kenal dengan mereka langsung menghampirinya, lalu Mas Ali bertanya, "Lho kalian pada ngapain di sini udah pulang dari Semeru?" Farel menjawab, "Udah Mas di Semeru tadi di kita ketemu seseorang dan memberi kami alamat, setelah kami datangi ternyata alamatnya adalah pemakaman dan nggak sengaja ketemu sama sampeyan" "Sampeyan sendiri Ngapain di sini. Siapa yang meninggal?", Lanjut Farel. "Temen yang kemarin nyawanya enggak bisa diselamatkan", jawab Mas Ali dengan raut wajah sedih. Mendengar itu mereka turut berduka cita lalu Mas Ali bertanya siapa yang memberikan alamat hingga mereka sampai kemari. Farel pun memberitahu kalau selama di Gunung Semeru tadi dia ketemu sama seseorang yang bernama Munir yang mendaki bareng dengan rombongannya dan dia juga yang memberi alamat hingga mereka sampai kemari. Mendengar penjelasan dari Farel, Mas Ali tampak gugup, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak disini. Kemudian Mas Ali mengajak Farel dan teman-temannya untuk pergi ke sebuah warung kopi. Sesampai di situ Mas Ali bertanya lebih jauh tentang ciri-ciri orang yang bernama Munir yang ikut mendaki bersama mereka. Farel pun menjelaskan cara detail tentang Munir kepada Mas Ali, lalu Mas Ali menunjukkan sebuah foto di handphonenya dan lanjut bertanya, "Apa orangnya seperti ini?" Melihat foto yang ada di dalam hp-nya Mas Ali mereka berdua benar-benar kaget karena ternyata Munir yang ikut mendaki bersama mereka di Gunung Semeru itu mirip banget dengan foto yang ada di dalam hp-nya Mas Ali. Farel pun bertanya apakah Mas Ali kenal dengan Munir? Lalu Mas Ali menjelaskan kalau orang yang bernama Munir itu adalah temannya yang kemarin kecelakaan ketika akan berangkat ke Gunung Semeru. Mendengar penjelasan dari Mas Ali mereka benar-benar syok, berarti Munir yang mendaki bersama mereka tadi sebenarnya sudah meninggal. Setelah itu Farel meminta Mas Ali untuk mengantarkan Iya dan teman-temannya ke makam Mas Munir untuk berziarah dan mendoakannya semoga beliau tenang di sisinya. Setelah berziarah itu mereka pamit sama sekali untuk kembali pulang karena mengingat waktu itu hari akan gelap. Setelah kejadian itu tali silaturahmi terjalin antara Farel dan teman-temannya dengan Mas Ali, pada kesempatan berikutnya mereka jadi sering mendaki bareng. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN