"Kalau saja Aku tidak sangat menginginkan Bayi itu tak mungkin Aku menuruti keinginan Emilia" Batinku sepanjang Lorong rumah sakit.
Memang kesalahanku sepenuhnya telah menghamili Emilia dan sekarang Aku harus bertanggung jawab.
Semua berawal dari Istriku Melisa setelah sebulan menikah denganku ternyata Dia mengidap Kanker Serviks stadium lanjut yang membuat Rahimnya harus diangkat, Dia sangat Sedih dan hampir Gila. Sebenarnya Melisa sudah tau di terkena Kanker Rahim tapi ngotot tidak mau operasi, Karena demi keselamatannya Aku memohon untuk dia melakukan Operasi.
Dia sangat menginginkan seorang Anak tapi tidak dengan cara Adopsi, Dia menganjurkan Aku untuk menikah untuk memiliki Anak tapi Aku menolak. Aku sangat mencinta Melisa, Aku tidak mau menyakitinya.
Kedua orangtua Kami tidak tau melisa tidak bisa melahirkan, Orangtua Melisa yang sakit keras berkeinginan Melihat Anak semata wayangnya mempunyai keturunan. Begitu pula kedua orangtuaku sangat ingin di beri cucu olehku.
Kami berdua sangat Stres dengan keinginan Orangtua kami.
Muncul ide gila dengan Melisa, Untuk Melisa pura-pura hamil dan Aku menghamili orang lain atau memcari Ibu pengganti.
Melisa sudah menyetujuinya dengan syarat Bayi itu jadi milik kita dan memberi sejumlah uang untuk Ibu pengganti.
Berhari-hari Aku berpikir dimana mendapat wanita yang bobot dan bebetnya Baik untuk melahirkan keturunanku, Sedangkan di Negara ini Ibu pengganti belum dilegalkan.
Jujur Aku sangat pemilih kepada wanita, Tidak semua wanita bisa memicu gairahku.
Tuhan begitu baik padaku, Setelah seminggu Aku mencari wanita untuk Jadi Ibu pengganti tiba-tiba Aku bertemu Emilia karyawan mutasi dari Bekasi.
Wajah yang hampir mirip Melisa menjadi Nilai lebih menjadikan Dia Ibu Pengganti.
Aku mencari informasi tentang Emilia yang memang wanita baik-baik dengan latar belakang keluarga yang baik juga.
Dengan Pendekatan yang sedikit Alot karena dia sedikit ragu akhirnya Aku bisa mengajaknya ke Bali dan berhasil menidurinya.Benar saja Dia masih Virgin saat pertama Kali aku setubuhi, Ada rasa bersalah karena merusak masa depannya hanya karena keegoisanku ingin memiliki keturunan.
Sekarang Dia hamil, Aku merasa senang dan sekaligus ragu karena Dia meminta pertanggungjawaban dan lebih gila lagi Dia meminta saham perusahaan dariku.
Memang wanita sama Aja, Semua Materialistis.
*****
Aku masuk ke Ruang Rawat inap Emilia, Ternyata dia sedang tidur dengan Infus di tangan kanannya.
Aku menatap wajahnya yang Pucat, Sepertinya dia sangat Menderita akibat kehamilan ini.
"Pak William.." Emilia terbangun dan membuyarkan lamunanku.
"Ya..Apa Kau ingin sesuatu?" Tanyaku padanya.
"Saya ingin minum Jus Jeruk?" Ucapnya.
"Baiklah Aku akan membelinya" Jawabku sambil mengambil kunci mobil di Meja.
Sambil berjalam menuju parkiran Aku menghubungi Istriku Melisa.
"Halo sayang..Bagaimana Kabarmu?" Tanyaku.
"Aku Baik sayang" Jawab istriku disebrang sana.
"Aku sudah berhasil menemukan Ibu pengganti Anak kita dan dia sekarang sudah Hamil" Ucapku antusias.
"Benarkah itu, Kapan kita mengumumkan kehamilanku kepada keluarga kita sayang" Melisa terdengar Antusias.
"Nanti setelah kamu pulang ke Indonesia" Jawabku
"Bolehkah Aku bertemu dengan wanita Ibu pengganti Anak kita?" Tanyanya lagi.
"Sepertinya Dia tidak mau bertemu sampai dia melahirkan" Jawabku bohong.
"Baiklah Aku akan sangat bahagia melihat Bayi kita nanti" Ucapnya antusias.
"Baik Aku tutup teleponnya, I love You Sayang" aku menutup telepon.
Setelah selesai membeli Jus dan Makanan Aku kembali ke kamar rawat Emilia, Ternyata dia sedang menghubungi Orang tuanya.
Aku dibalik pintu mendengarkan obrolannya di Telepon.
"Aku baik Ma..Hanya Kurang istirahat saja" Ucap Emilia.
"Kalau sembuh Aku akan pulang dengan seseorang, Aku malas di Jodoh-jodohkan sama Kenalan Mama dan Bosan di tanya kapan menikah. Sepertinya Aku akan menikah saja..Hahaha.."Emilia tampak bahagia berbicara dengan Ibunya.
"Baiklah Aku tutup dulu teleponnya, Dadah..Mama I love You.." Emilia menutup sambungan teleponny.
Saat Aku masuk Emilia sangat terkejut, Dia sedikit menyadari keberadaanku.
"Ini Jus Jerukmu" Ucap ku sambil memberi gelas plastik isi Jus.
"Setelah Kamu keluar dari Rumah sakit kita ke rumah orang tuamu untuk meminta ijin agar kita bisa menikah, Tapi sebelum itu Aku ingin kamu menandatangi surat perjanjian" Ucapku sambil menatapnya meminum Jus.
"Baiklah.." Ucapnya datar.
"Besok pagi pengacaraku akan membawa surat perjanjian tersebut, Isinya Kita menikah hanya sampe Usia Bayiku 40 hari setelah lahir dan Kamu akan menerima 25% Saham perusahaan saat Aku menerima Bayi itu. Kamu akan melahirkan tapi jangan harap bisa menyentuhnya" Ucapku tegas.
"Aku tidak menginginkan Bayi ini, Jika bisa Aku akan memberikannya sekarang" Jawab Emilia Ketus.
"Jangan Gila, Bayi itu baru 4 Minggu dan ingat bila kamu mencelakai Bayi itu maka Aku tak akan segan melukaimu juga" Ancamku.
"Ya..Ya..Aku akan menjaga Bayi ini demi 25% Saham yang bisa membuatku Kaya seumur hidup tanpa bekerja" Jawabnya Malas.
Aku tersenyum masam kepadanya, Sungguh Aku tidak menyangka Dia menjadi wanita materialistis. Tapi itu lebih baik dari pada harus mencari Ibu pengganti lain.
*****
Ke Esokan Harinya Emilia di ijinkan pulang dari Rumah sakit dan kami langsung ke Bandung untuk menemui Orang tua Emilia.
Saat sampai di Rumah Emilia, Ternyata Papa dan Mama nya Sudah menunggu.
"Hai Sayang..Mama kangen kamu" Ucap Mama nya Emilia yang ternyata sangat Mirip Emilia.
"Aku baik Ma..Pa.."Jawab Emilia sambil mencium punggung tangan Kedua Orang tuannya.
"Kenalkan Ma..Pa..Ini Pak William Darmawan" Aku mengangguk dan bersalaman dengan kedua Orang tuanya.
"Ayo..Masuk "Ajak Ibunya Emilia.
Setelah perkenalanku dengan orantuanya Emilia dan Aku duduk bersebelahan dengan Cangkir Teh dihadapanku.
"Maaf sebelumnya Bapak dan Ibu, Maksud kedatangan Saya yaitu ingin melamar Emilia" Ucapkan.
"Apa melamar??" Tanya Mamanya Emilia terkejut.
"Iya Ma..Kami ingin segera menikah" ucap Emilia sambil tersenyum.
Aku menatap Emilia dengan senyuman, seakan-akan Kami memang benar-benar saling mencintai.
"Baiklah..Kapan Kalian menikah?" Tanya Papa Nya Emilia.
"Bulan depan Pa..Aku hanya ingin menikah di hadiri oleh Keluarga inti" Ucap Emilia.
"Baiklah..Kalau begitu, mari kita mulai mempersiapkan pernikahan kalian" Ucap Papanya Emilia.
Kami sedikit berbincang dan tak lama Papa dan Mama pamit.
Ternyata Hari ini Papa dan Mama nya Emilia akan menghadiri Pernikahan kerabat jauh mereka dan akan kembali sore. Aku dan Emilia akan kembali besok Pagi ke jakarta jadi kami menginap hari ini.
Setelah Kedua Orang Emilia berangkat, Tinggalah kami berdua di Rumah. Sedikit canggung bagi kami berdua setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini.
Kami duduk di ruang Tv dengan beralaskan Karpet dan Beberara bantal..
Untunglah Emilia sudah membaik jadi Orangtuanya tidak curiga tentang kehamilan Emilia.
Kami saling diam menatap Layar TV yang menyala, Entah kenapa melihat Emilia membuat Aku ingin mencium bibirnya. Dengan sedikit keberanian Aku meraih tangannya yang terletak di Karpet
Emilia tampak kaget tapi dia menutupinya.
Aku merapatkan Duduk di sebelahnya, Aku meraih Tubuhnya Agar merapat ke Sebelahku, Dia masih terdiam sambil terus menatap Layar TV.
Melihat Dia tak bereaksi Aku mencium Pipi dan Lehernya bergantian.
"Ah.." Terdengar desahan Halus dari Emilia yang membuat Aku semakin bersemangat mencumbuinya.
Saat Aku mengeraih Bibirnya dengan Bibirku Aku terus memaksakan Lidahku menelusup ke rongga mulut Emilia.
Kami saling bertukar Saliva sambil tanganku memainkan Buah d**a yang mulai membesar seiring kehamilannya.
Aku menarik Kaos Emilia dan membuka Bra Hitam yang di Pakai Emilia hari ini..
Terlihat Buah d**a yang besar dan menggodaku untuk menyesap Ujung Buah d**a berwarna colkat kemerahan.
"Akh..Pak.." Emilia mulai menikmati permainanku di Buah Dadanya.
Aku membuka kancing dan resleting celana pendek Kain yang dia pakai.
Tinggal celana Dalam hitam menempel menutupi Inti tubuh Emilia.
Tanpa Aba-aba Aku menarik paksa Celana Dalam Emilia dan terlihat Bibir kemaluan Emila yang ditutupi bulu halus hitam.
Aku membuka Celana Jeans dan Boxerku, Dan terlihat Batang kejantanku yang sudah mulai mengeras. Aku menidurkan Emilia di Karpet dan mulai menuntun Kejantanku memasuki lubang Milik Emilia.
"Ah..Sa..kit.."Terdengar Emilia meringis kesakitan.
"Nanti akan terbiasa dan kau nikmati saja" Ucapku sambil terus memainkan buah dadanya.
Miliknya masih sempit karena baru kedua kalinya Aku memasuki lubang Milik Emilia. Hal ini sangat membuatku b*******h, Entahlah Aku selalu b*******h bila berdekatan dengan Emilia.
Aku terus menarik ulur kejantanku di Lubang milik Emilia, Aku melihat ekspresi wajah Emilia yang menutup mata dan menggigit Bibir bawahnya..Ah..Sangat seksi dengan bibir tebalnya.
Aku melakukan percintaan ini dengan pelan agar Janin di perut Emilia tidak terganggu.
Dengan tubuh sama-sama Polos dan Kaki yang terbuka lebar, Emilia seakan Pasrah mendapat serangan Rudal kejantananku dilubang Miliknya. Aku tahu Emilia menikmati percintaan ini.
Setelah beberapa saat Aku merasa Milikku akan mengeluarkan Benih cinta dan Ah..Benar saja..Kejantananku menyemburkan cairan yang membasahi Bibir kemaluan Emilia.
Kami berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri masing masing, Tak lama mobil Papa Emilia datang kami panik. Emilia memakai baju terburu-buru dan berlari ke Tempat kami bercinta.
Akupun panik dan segera mengambil celana di ruang TV dan kembali kekamar.
Emilia tampak sigap membersihkan sisa-sisa bekas bercinta kita di Ruang TV.
"Emil..Kenapa kamu tidak ajak Mas Willian jalan-jalan.."Tanya Mama nya Emilia.
"Aku malas Ma..Besok Aku harus pulang dan kembali bekerja"Jawab Emilia kudengar dalam kamar.
Astaga kenapa Kita berdua seperti ABG yang mencuri kesempatan bercinta.
TBC