Oh, iya, ada apa, ya?" tanyaku dengan batin yang mulai tidak tenang. "Kalau ada waktu, aku ingin bertemu dan bicara empat mata dengan Mbak Naura," sahut Cantika dengan suara yang masih terdengar tenang. "Tapi, untuk apa?" tanyaku dengan perasaan bingung. "Ini mengenai Mas Erga." Deg. Kali ini aku benar-benar sudah tidak tenang. Namun, sebisa mungkin berusaha bersikap normal. "Mas Erga? Apa hubungannya denganku?" tanyaku tegas pada wanita di seberang telepon. Aku ingin membuktikan jika aku dan suaminya memang tidak terlibat apapun lagi selain soal anak. Apalagi perasaan, sudah lama kukubur dalam-dalam, hingga tidak ada sisa sedikitpun. Tida sedikitpun, selain rasa sakit yang kadang-kadang muncul. "Ada dan ini sangat penting. Kapan pun Mba Naura ada waktu untuk bertemu, tolong h

