"Kamu tahu siapa laki-laki yang hendak dijodohkan sama kamu waktu itu?" tanya Mas Bilal yang sudah berdiri tepat di hadapanku. "Ti—tidak, Mas." "Laki-laki itu ada di sini sekarang." Deg! Aku mundur beberapa langkah hingga hampir saja tersandung andai Mas Bilal tidak cekatan menahan pinggangku. "Ti—dak mungkin, bagaimana bisa? Mas Bilal bercanda kan, aku tidak percaya ini, kita bahkan tidak pernah bertemu dan tidak saling kenal sebelumnya ...." "Hanya kamu yang tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu, Naura. Percaya tidak percaya, memang begitu kenyataannya," potongnya cepat. Pelan tapi tegas. Kedua lututku serasa lemah, hampir tidak mampu menopang tubuh. Laki-laki ini ... bagaimana otakku harus mencerna setiap kalimat yang baru keluar dari bibir merahnya yang berisi. "A—pa itu ..

