Andai kutahu akhirnya akan seperti ini, tentu aku akan memilihmu tanpa perlu berpikir dua kali. Hati siapa yang tak perih bila tersakiti? Pun langit dadaku yang hingga kini masih terdapat gerimis darah. . Piring berisi makanan di tangan Mas Bilal mendarat di atas paving dan pecah berserakan. "Ya Tuhan, Mas," ucapku panik sembari menghampiriku laki-laki itu. "Siapa yang kamu sebut 'j*lang' barusan?" "Jelas-jelas kau yang mencoba menggodaku, dan sekarang kau menyebut wanita ini j*lang?" sambung Mas Bilal dengan suara tertahan. Tak perlu menunggu lama, sekarang kami sudah menjadi perhatian orang-orang. Mungkin karena suara piring yang jatuh barusan. Atau ucapan Mas Bilal yang ditujukan pada Kak Santi yang bergeming di tempatnya. Dari cara laki-laki yang lengannya sedang kuusap mena

