Gugup. Tentu saja. Siapa yang tidak ketar ditelisik sedetail itu. Menit kemudian, laki-laki yang dipanggil'Om Ganteng' oleh putriku itu tersenyum, dan mulai berdiri sejajar di sampingku. "Ayo, apit lenganku!" Otakku sempat tidak bisa mencerna dengan baik perintah Mas Bilal barusan. Namun, manik matanya tampak tidak main-main, hingga tanganku terpaksa melingkarkan ke lengan kirinya. "Jangan gugup! Santai saja, kita harus terlihat seperti pasangan kekasih kalau kamu tidak ingin datang kemari dengan sia-sia," pungkasnya setelah menyadari kalau tanganku sedikit bergetar. Hufft. Benar kata laki-laki ini. Seharusnya aku bersyukur dia mau menjadi partnerku memainkan peran ini. Baiklah, Naura. Kamu harus terlihat sempurna dan penuh percaya diri. Di sini banyak orang yang dulu menghina

