Terkadang hinaan sedikit lebih baik daripada pujian.
.
Saat tiba di pintu utama, ternyata ruang tamu dalam keadaan kosong. Sementara suara orang-orang dewasa yang sedang mengobrol ringan terdengar samar dari ruang keluarga. Sesekali juga celotehan Kenzo dan Afra.
Sementara Kak Namira hendak menyusul mereka, aku beralasan mau ke kamar dulu untuk menyimpan belanjaan.
Hufft.
Lega rasanya, setelah berhasil lolos dari tamu kesayangan Papa, tanpa perlu bertatap muka.
Karena tidak mungkin turun sebelum tamu itu pulang, setelah berganti pakaian dengan pakaian rumahan dan menunaikan solat, aku merebahkan diri sebentar sambil memejamkan mata. Lelah juga setelah beberapa jam beraktivitas di luar.
.
Dari merebahkan diri sebentar, rupanya aku malah berakhir tertidur hingga jam tiga sore. Setelah memastikan nyawa terkumpul, aku segera melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Sebelum turun, aku sempat melongok dari jendela, memastikan mobil yang tadi terparkir di samping mobil Papa sudah pergi atau belum. Namun, jarak pandang dari jendela kamarku ternyata tidak terjangkau ke sana. Karena terhalang tembok.
"Ah, mana mungkin jam segini orangnya belum pulang."
Setelah mengambil ikat rambut dari dalam nakas, aku segera turun ke bawah untuk mencari Afra. Sambil mengikat rambut asal, aku sempat bernyanyi-nyanyi kecil.
Ruang tamu kosong, ruang tengah juga, aku perasaanku semakin lega sekarang. Ternyata Tuhan tidak mengabulkan doaku, dengan tidak mempertemukan aku lagi dengan Mas Bilal. Gara-gara kejadian konyol kemarin, harga diriku dipertaruhkan.
Tapi, yang lainnya ke mana, ya. Kenapa tidak ada siapapun di rumah.
Segera aku melangkah ke dapur untuk mencari Mama, namun, hanya Bi Lasmi yang kutemukan di sana.
"Bi, orang rumah pada ke mana, ya?"
"Oh, lagi di depan, Non. Soalnya Bapak lagi metik Mangga untuk Non Namira, buat dibawa pulang," jelas Bi Lasmi sembari membereskan cucian piringnya.
"Oh," aku manggut-manggut mendengar penjelasan Bi Lasmi, "memangnya, Kak Namira lagi hamil, ya, Bi?"
"Hehe. Enggak tahu, Bibi, Non. Tapi, tadi pas Nyonya minta plastik enggak ngomong masalah hamil sama Bibi."
Iya juga, sih, biasanya kalau soal begituan Mama paling heboh. Bukan hanya sama Bi Lasmi, sama Kang Rohim juga bakal dikasih tahu.
"Ada yang bisa Bibi bantu, Non?"
"Eh, enggak, Bik. Naura cuma mau bikin teh doang," jawabku sambil mengambil panci untuk memanaskan air.
"Ya sudah, kalau gitu, Bibi mau angkat jemuran dulu, Non."
"Iya, Bi."
.
Aku memilih bersantai di bangku panjang di halaman belakang, dengan secangkir teh yang asapnya masih mengepul. Sambil mencari inspirasi, kira-kira bisnis apa yang cocok kujalani nanti. Hinaan Ibu kemarin benar-benar memberiku semangat yang menggebu.
Memang terkadang hinaan lebih baik daripada pujian. Apalagi jika hinaan itu datang dari orang yang masih memiliki hubungan dekat dengan kita.
"Kira-kira apa, ya?" Aku bertanya pada diri sendiri.
Saat sedang sibuk berpikir, tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
"Sedang apa?" tanyanya yang kini sudah berdiri di ujung bangku.
"Oh, eh, lagi santai aja, sambil minum teh? Eum, Mas Bilal kok bisa di sini?" tanyaku kikuk.
"Oh, itu saya habis dari kamar mandi, terus nggak sengaja lihat kamu," jawabnya tenang.
Aku penasaran, apakah pembawaaannya tetap tenang meski dalam situasi genting sekalipun.
"Ooo."
"Boleh saya duduk?"
"Ya, silahkan."
Setelah mendapat persetujuan dariku, laki-laki yang tingginya kuperkirakan lebih 180 cm ini, mengambil tempat di bagian paling ujung.
Sementara aku mulai ketar ketir, karena tidak tahu ingin bertanya apalagi. Biar situasinya tidak canggung seperti sekarang.
"Eum ... Mas Bilal mau minum teh?"
"Boleh. Kalau enggak ngerepotin," jawabnya sembari tersenyum. Hingga lesung di kedua pipinya tercetak jelas.
Mungkin jika tidak disadarkan oleh status, aku sudah meleleh dari tadi.
"Enggak kok. Sebentar ya, saya buatkan."
Mas Bilal hanya tersenyum sebagai jawaban, sebelum aku meninggalkannya sendirian untuk membuatkan teh.
Hingga beberapa menit kemudian, aku kembali dengan secangkir teh yang kuberikan padanya.
"Ini, Mas. Hati-hati, masih panas soalnya," ujarku sebelum kembali duduk untuk menikmati tehku.
"Makasih," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
Apa Mas Bilal sengaja memamerkan lesung pipinya.
"Sama-sama."
Kami menikmati teh masing-masing dalam keheningan hingga beberapa saat. Sampai akhirnya, tamu yang kukira sudah pulang itu bersuara.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanyanya terdengar hati-hati.
Dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Om Abdul pernah bilang dulu kamu sempat dijodohkan dengan seseorang, tapi akhirnya batal karena kamu memilih menikah dengan pacar kamu. Lalu, kenapa sekarang kalian memilih berpisah?"
Hampir saja teh dalam mulutku tersembur keluar.
Jodoh?
Jadi, Mas Bilal juga tahu tentang perjodohan itu. Memangnya, sedekat apa keluargaku sama laki-laki ini, sampai hal seperti itu ikut diceritakan.
Meski sedikit risih dengan pertanyaan Mas Bilal, mungkin sebaiknya aku menjawab jujur, biar dia tidak sampai berpikir yang tidak-tidak tentang aku. Apalagi setelah dia tahu masalah yang menimpa rumah tanggaku.
"Oh itu, sebenarnya saya enggak tahu tentang perjodohan itu. Karena Papa enggak pernah ngomong langsung. Saya baru tahu beberapa hari belakangan, waktu Papa ngomong di depan mantan suami dan mertua saya.
Kalau soal kami memilih berpisah, mungkin memang jodohnya cuma sampai di sini. Sama halnya kematian, kita juga tidak pernah tau takdir jodoh kita akan seperti apa, berapa lama dan sama siapa."
"Kamu benar. Jodoh memang tidak ada yang tahu," sahut Mas Bilal setelah menyesap tehnya.
"Mas Bilal sendiri ... sudah menikah?"
Laki-laki dalam balutan kemeja warna hitam itu tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Belum," jawabnya sambil menatap ke arah lain.
"Ooo. Pasti orang seperti Mas Bilal terlalu sibuk ya, sampai tidak punya waktu memikirkan hal-hal seperti itu."
"Tidak juga. Saya menyibukkan diri sambil menunggu jodoh saya datang."
Dia menjawab dengan tenang, namun, sekilas kulihat raut wajahnya mulai berubah. Tatapannya kosong.
Hening.
Laki-laki itu membisu, sementara aku sibuk menerka-nerka apakah ada yang salah dengan ucapanku barusan.
"Afra, anaknya lucu, ya?" ujarnya tiba-tiba.
"Anak kecil memang seperti itu, Mas."
"Eum."
Mas Bilal sibuk memainkan ujung cangkirnya. Sementara aku sibuk memutar pikiran untuk mengusir sepi. Namun, otakku seperti buntu.
Apa, ya?
"Oh ya, Mas Bilal sering kemari, ya?"
"Lumayan. Kadang cuma main-main, kadang karena urusan pekerjaan dengan Om Abdul."
"Bukannya Papa enggak berkerja, ya, selain mengurus restoran, itupun dulu sebelum Mas Doni turun tangan."
"Untuk beberapa urusan perusahaan, Papa sering menyuruh saya untuk bertanya langsung sama Om Abdul. Dulu waktu masih lajang, mereka pernah kerja bareng hampir sepuluh tahun di perusahaan Kakek. Kata Papa, karena kinerjanya cukup baik dalam bekerja, Kakek menjadikan Om Abdul sebagai tangan kanannya. Makanya, Papa menyuruh saya mengorek isi kepala Om Abdul. Hehe."
Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan Mas Bilal. Juga rasa kagumku yang semakin bertambah untuk Papa. Laki-laki paruh baya itu, pokoknya aku harus bisa mengikuti sedikit jejak Papa. Aku akan berusaha untuk bisa seperti Papa.
Pada Mas Bilal aku bertanya sedikit banyak tentang dunia bisnis. Dia juga tidak keberatan menjelaskan panjang lebar tentang dunia yang digelutinya.
Yang kadang ada beberapa poin yang kurang kumengerti. Namun, Mas Bilal dengan sabar mengulanginya dengan lebih detail. Sampai akhirnya kami harus mengakhiri pembicaraan ini, karena cangkir kami sudah sama-sama kosong. Pun hari yang mulai gelap.
Terlepas dari hal memalukan kemarin, ternyata Mas Bilal orang yang asik diajak ngobrol. Menurutku.
.
Malam hari.
Saat sedang menidurkan Afra, tiba-tiba di ponselku masuk notifikasi pesan WA. Setelah membukanya, ternyata dari Halima, temanku sejak masa kuliah dulu. Meski sudah sama-sama berkeluarga, kami masih menyempatkan untuk bertemu kalau senggang.
Dan Halima lumayan banyak tahu tentang aku.
Setelah membuka pesan chat dari Halima, aku dibuat penasaran karena isi pesannya berupa foto. Dan setelah mengunduhnya, aku malah semakin bingung, karena itu foto sepasang mempelai yang baru saja selesai melangsungkan pernikahan.
Tapi, tunggu dulu, kenapa mempelai prianya sangat mirip Mas Romi, suami Kak Santi.
"Itu bukannya suami kakak ipar kamu?"
Pesan baru dari Halima.