BAB 2 WILLY SUBRATA

1083 Kata
Willy Subrata, seorang pengusaha sukses yang sudah hampir tujuh tahun menyandang status duda. Istrinya meninggal dunia karena kecelakaan. Rumor mengatakan kalau istri Willy sengaja ditabrak oleh orang suruhan lawan bisnisnya. Namun, sampai saat ini belum ada bukti yang mampu menunjukan kalau kecelakaan itu disengaja. Selama tujuh tahun Willy mampu hidup sendiri tanpa kehadiran sang istri. Penampilan Willy masih tampak begitu segar di usianya yang hampir lima puluh lima tahun tentu saja sangat menggoda beberapa perempuan di sekitarnya. Namun tak satu pun dari perempuan itu yang mampu mengusik hati Willy. Bahkan Sawitri, sekretarisnya di kantor yang selalu menggodanya secara terang-terangan tak mampu membuatnya berpaling dari almarhumah istrinya. Setiap hari Willy menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mengalihkan perhatian. Pagi itu, Willy melihat wajah Herman, sopirnya, tampak sedih. Beberapa kali Herman seperti melamun dan tidak mengindahkan ucapan Willy. Beban berat tampak jelas dari tiap helaan nafas Herman. Meski Willy tahu Herman baru beberapa bulan lalu ditinggal pergi istrinya, namun Willy yakin, ada masalah lain yang menggayuti pikiran Herman. Bukan tentang istrinya. Maka selepas jam kerja, Willy memanggil Herman ke ruangannya. “Aku perhatikan dari pagi kenapa wajahmu selalu bersedih? Apa ada masalah?” Willy bertanya sambil memandang lekat Herman. “Tidak ada masalah Pak.” Herman menjawab pelan. “Aku kenal kamu bukan satu atau dua hari. Sudah hampir dua puluh tahun kamu bekerja padaku. Kalau ada yang berubah dari kamu, pasti aku tahu. Jangan berbohong padaku. Selama ini aku sangat menyukai kejujuranmu.” Willy terus saja menatap Herman yang kian menunduk. “Saya... Maafkan saya Pak...” “Lanjutkan Man. Jangan bertele-tele begitu.” “Sebetulnya saya sedang membutuhkan uang Pak.” “Kenapa tidak bilang dari tadi Man. Kamu butuh berapa?” “850 juta Pak.” “Apa?” Willy tersentak dari duduknya. “Untuk apa uang sebanyak itu?” “Maafkan saya Pak.” Suara Herman nyaris tidak terdengar. “Aku tidak butuh maaf kamu. Aku bertanya uang sebanyak itu untuk apa?” “Saya perlu uang itu untuk membayar hutang Pak.” “Coba kamu ceritakan sejelas-jelasnya. Kenapa kamu bisa punya hutang sebanyak itu? Bukankah uang yang kamu pinjam dariku untuk membantu istrimu sudah aku anggap lunas?” “Saya benar-benar minta maaf Pak. Saya meminjam uang dari rentenir yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya. Uang yang saya pinjam terus berbunga. Sudah seminggu ini saya terus-terusan didatangi rentenir itu. Kalau saya tidak segera membayarnya, dia akan mengambil anak saya Radha. Saya bingung sekali harus bagaimana lagi.” “Kali ini aku sangat kecewa padamu Man. Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu? Bukankah kamu masih bisa meminta bantuan padaku? Berani-beraninya kamu berurusan dengan rentenir.” Willy mengepalkan jemarinya menahan geram dan marah. “Saya khilaf Pak. Saya malu kalau terus menerus meminjam pada Bapak. Saya pikir bunganya tidak akan sebesar itu dan saya bisa membayarnya.” Herman semakin menundukkan kepalanya. “Apa bedanya dengan sekarang? Aku juga yang harus memikirkan semuanya. Ingat Man, kamu bekerja padaku. Aku tidak mau kamu seperti hari ini. Sama sekali tidak konsentrasi. Sudah, lebih baik kita pulang. Nanti aku pikirkan bagaimana caranya agar hutangmu itu bisa lunas.” Willy bangkit dan beranjak keluar dari ruangannya. Sementara Herman mengekor di belakang Willy. *** Malam itu, Willy merenungkan semuanya. Mudah saja bagi Willy untuk mengeluarkan sejumlah uang yang dibutuhkan Herman. Namun Willy tidak ingin Herman mendapatkannya begitu saja tanpa ada usaha. Bagi Herman, jumlah uang tersebut tentu sangatlah besar. Butuh waktu bertahun-tahun jika dia ingin mencicilnya. Tiba-tiba terlintas di benak Willy untuk menikahi anak perempuan Herman. Willy tahu tentang anak Herman yang biasa dipanggil Radha. Seingat Willy, gadis itu sekarang tentu sudah menamatkan sekolahnya. Entah kenapa, kini Willy menyadari kalau sebenarnya dia kesepian sejak istrinya meninggal. Anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Si sulung Janu Dewananda kini sedang gencar mengurusi beberapa perusahaan Willy. Anak kedua Willy yang bernama Narendra Bagaskara tinggal di Australia karena melanjutkan pendidikan S2 nya. Lalu si bungsu Aufari Samudera memilih kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Meski Janu tinggal satu atap dengan Willy, kenyataannya mereka hampir tidak pernah punya waktu untuk sekedar ngobrol berdua. Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Willy butuh teman. Ya, seseorang yang bisa menemaninya menghabiskan hari tuanya sekaligus mengurusi semua kebutuhan Willy. Selama ini Willy tidak berniat menikah lagi karena beberapa perempuan yang dekat dengannya hanya ingin mendapatkan hartanya saja. Belum ada seorang pun yang Willy lihat benar-benar tulus mencintainya. Tidak juga Wina. Sekretarisnya di kantor. Willy bukannya tidak tahu jika selama ini Wina mengejarnya. Willy mengabaikan perempuan itu karena Willy tahu bahwa Wina sebelumnya sudah memiliki tunangan. Lalu dia memutuskan tunangannya saat tahu Willy seorang duda. Wina tidak tahu kalau Willy membayar orang untuk menyelidiki kehidupan Wina sebelum Willy menerimanya sebagai sekretaris. Secara performa, Wina sangat memenuhi syarat untuk menjadi sekretaris Willy. Jadi akhirnya Willy pun mengabaikan kehidupan pribadi Wina. *** Pagi yang baru untuk Willy. Semalaman Willy berpikir tentang niatnya menikahi Radha. Tekadnya sudah bulat. Menikah dengan Radha adalah satu-satunya jalan menyelamatkan Herman dan mengisi hari-hari Willy yang sepi. Nantinya, ada seseorang yang bisa mengurusi Willy dan menemaninya sepanjang hari. Willy juga berharap, para penggemar yang mengejar kekayaannya akan pegi jika tahu Willy sudah beristri. Lebih jauh lagi, Willy mulai berpikir untuk pensiun dan menyerahkan perusahaan pada Juna. Maka, tatkala pagi itu dia melihat Janu sedang sarapan, Willy tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatakan niatnya menikah lagi. “Bang, bagaimana dengan perusahaan cabang yang Abang pegang? Ada masalah?” Willy memulai obrolan. “Tidak ada Yah. Semua baik-baik saja. Bahkan kami baru saja memenangkan tender baru.” Janu menjawab dengan sumringah. Sudah lama Janu tidak merasakan obrolan intim di hari seperti ini. “Ayah bangga pada Abang. Selalu saja bisa Ayah andalkan. Oh iya, ada yang ingin Ayah bicarakan. Seharusnya Naren dan Auf juga hadir di sini. Ayah butuh persetujuan kalian. Tapi untuk saat ini, Ayah pikir cukup Abang dulu yang tahu.” “Tentang apa Yah?” “Ayah berniat untuk menikah lagi. Apakah Abang setuju?” Willy menatap lekat anaknya. Janu menghentikan suapan. Dia duduk tegak dengan tangan yang bersedekap di atas meja. Sungguh, ini pembicaraan di luar dugaan Janu. Sejenak dia menatap wajah Willy. Ada gurat lelah yang tak mampu disembunyikan ayahnya. Sebagai lelaki dewasa yang sudah cukup umur untuk menikah, Janu bisa memahami kebutuhan ayahnya. Meskipun mereka tinggal serumah, tentu ada beberapa hal yang tidak bisa dipenuhi olehnya. Apalagi selama ini Janu memang sangat fokus pada pekerjaan. Sebagai anak pertama, Janu berpikir dia harus menjadi teladan bagi kedua adiknya. “Ayah serius? Apa Ayah sudah mengenal perempuan yang nantinya akan menjadi istri Ayah itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN