Willy mematut dirinya di cermin sambil senyum-senyum membayangkan betapa lucu skenario hidup yang harus dilaluinya. Sejak istrinya meninggal, Willy sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Bahkan beberapa kolega bisnis dan sekretarisnya pun tidak bisa meubah keputusan Willy.
Tapi sekarang? Lihatlah, jalan takdir malah menuntun Willy untuk menikah dengan gadis remaja yang usianya di bawah anak bungsunya. Sebut saja dia egois. Willy tidak menampiknya. Sejauh ini, Willy tidak mau menikah lagi karena semua perempuan yang mencoba mendekatinya hanya melihat status Willy Subrata sebagai konglomerat di negeri ini. Jika menikah dengan Willy, secara otomatis meteri yang akan mereka terima pun berlimpah.
Setelah obrolannya dengan Herman beberapa hari lalu, Willy sengaja menyuruh Rendi, asisten pribadinya, untuk mencari tahu semua hal tentang Radha. Syukurlah, informasi yang diperoleh Rendi sangat memuaskan Willy.
Rendi mengatakan kalau Radha termasuk remaja yang sangat baik. Tidak pernah hura-hura atau sekedar bermain menghabiskan waktu untuk kumpul dengan teman-temannya. Radha pulang sekolah tepat waktu karena harus mengurus ibu dan kedua adiknya. Sejak ibunya sakit, Radha mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga.
Meski sibuk dengan urusan rumah, Radha tetap berprestasi di sekolah. Nilainya selalu masuk dalam jajaran tiga besar. Bahkan Rendi mendapat informasi kalau sebetulnya Radha diterima di salah satu perguruan tinggi negeri. Namun, biaya menjadi kendala utama hingga Radha harus mengubur mimpinya untuk bisa kuliah.
“Tolong kamu urus pendaftaran kuliahnya di universitas binaan kita. Pilih jurusan yang sesuai dengan minat anak itu. Aku tidak mau dia berhenti mengejar mimpinya hanya karena menikah denganku.” Willy memberikan perintah kepada Rendi.
Semua informasi yang diperoleh Rendi semakin membuat hati Willy mantap untuk menikahi Radha. Dalam benak Willy, Radha tidak haus harta seperti perempuan-perempuan lainnya. Dia mau menerima lamaran Willy karena dipaksa oleh keadaan. Harus membantu keluarganya.
Dan hari ini Willy meminta Radha untuk bisa bertemu dengannya empat mata. Ada banyak hal yang ingin Willy sampaikan kepada Radha sebelum mereka menikah. Sengaja Willy hanya ingin bicara berdua dengan Radha tanpa ada kehadiran orang lain termasuk Herman. Bagaimanapun, Willy tahu jika masa depan Radha masih sangat panjang. Dia tidak punya hak untuk mengatur hidup Radha. Willy ingin Radha tumbuh seperti gadis-gadis lainnya.
***
“Teteh jadi pergi ketemu Pak Willy?” Kepala Nanda menyembul di pintu kamarku.
“Jadi. Ini teteh lagi siap-siap.” Aku menjawab lirih. Sungguh, kalau boleh jujur, aku masih merasa keberatan dengan pernikahan ini. Tapi aku sudah tidak bisa mundur lagi. Aku tidak boleh mengecewakan dan membuat malu bapak.
“Perlu Nanda temani nggak Teh?” Kali ini Nanda sudah duduk di pinggir tempat tidur.
“Nggak usah Nan. Pak Willy minta Teteh datang ke sana sendiri. Bapak juga dilarang untuk ikut.”
“Terus Teteh ke sana sama siapa? Mau naik apa? Kan Bapak kerja. Masak Teteh mau naik ojol. Kan calon istri sultan.” Nanda mulai menggodaku.
“Apaan sih Nan. Siapa juga yang calon istri sultan. Teteh naik ojol aja nggak apa-apa. Lagian enak naik ojol. Nggak pusing dengan macet.” Aku menjawab sambil memasang kerudung.
“Teh, kok masih kayak mimpi ya. Tiba-tiba aja Teteh udah mau nikah. Udah gitu, calon Teteh juga jauh lebih tua dari Teteh. Sama Bapak juga masih lebih muda Bapak. Perasaan Teteh gimana? Nyesel nggak Teh?” Nanda malah memberikan pertanyaan beruntun.
“Husss nggak usah ngebahas itu. Teteh ikhlas kok. Doakan aja semoga semuanya lancar. Masalah hutang Bapak sudah selesai. Biaya kuliah Teteh dan sekolah kalian juga sudah ada yang bersedia menanggungnya. Sekarang kamu tinggal belajar yang bener. Jangan sampai membuat Teteh menyesal mengambil keputusan ini.” Aku mencoba meyakinkan Nanda kalau semuanya akan baik-baik saja. Nanda nggak perlu tahu kalau sebenarnya aku juga belum siap dan masih merasa ragu untuk melanjutkan langkah.
“Udah ya. Teteh berangkat dulu. Itu tukang ojek juga udah nunggu di depan. Baik-baik di rumah. Kalau nanti Juna pulang, jangan lupa suruh dia makan.” Aku pamit dan meninggalkan Nanda yang sepertinya masih betah di kamarku.
Motor yang aku tumpangi berhenti di salah satu rumah makan mewah. Untunglah dulu saat ibu belum sakit, Bapak pernah mengajak kami makan di sini. Jadi aku tidak begitu canggung untuk masuk. Aku bertanya kepada resepsionis dan memastikan tempat duduk yang sudah diberitahu oleh Bapak. Ternyata Pak Willy sudah ada di sana.
“Maafkan Radha, Pak. Radha terlambat datang.” Aku menunduk. Tak berani menatap ke arahnya. Aku segan dan takut. Tentu saja karena selain umurnya yang lebih tua dari Bapak, Pak Willy juga merupakan atasan atau bosnya Bapak.
“Tidak apa-apa. Bapak juga baru datang kok. Ayo duduk. Pesan makanan apapun yang ingin kamu makan.” Pak Willy tersenyum ramah. Perlahan kegugupanku mulai sirna.
Aku melihat daftar menu. Perutku seketika mual saat membaca daftar harga yang tertera. Bagimana tidak, satu menu harganya sama dengan jumlah uang jajanku selama sebulan. Akhirnya aku memesan makanan dan minuman yang harganya paling murah. Dulu, waktu bapak mengajak kami makan di sini, ibu yang memilih menu sehingga kami tidak pernah tahu berapa rupiah yang harus bapak bayarkan.
“Begini Radha,” Pak Willy membuka suara. “Bapak tahu saat ini kamu pasti sedang bingung. Menikah dengan Bapak pasti menjadi keputusan yang terberat dalam hidupmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, selain statusmu sebagai istri, Bapak pastikan tidak akan ada yang berubah dari hidupmu. Kamu bisa melanjutkan kuliah bahkan memiliki karir sesuai impianmu. Hanya saja, mungkin kamu harus pintar membagi waktu karena kamu punya kewajiban sebagai istri.”
Sesaat Pak Willy menghela nafas sementara aku masih diam menyimak setiap ucapannya. Tak lama, Pak Willy pun melanjutkan ucapannya.
“Ada satu hal yang perlu Bapak perjelas. Setelah kita menikah nanti, kita tidak perlu tidur satu kamar. Bapak tidak akan meminta kamu melakukan kewajiban sebagai istri yang harus melayani suami di atas ranjang kalau kamu belum siap. Kamu cukup menemani Bapak sepulang kuliah dan menyiapkan kebutuhan sehari-hari Bapak.”
Aku terkejut. Benarkah Pak Willy tidak akan meminta haknya sebagai suami? Benarkah aku bisa tidur di kamar terpisah? Sepertinya kali ini aku benar-benar beruntung.
“Bapak, apa Bapak serius dengan perkataan Bapak barusan?” Aku bertanya ragu.
“Bapak serius. Bapak menikahi kamu bukan karena nafsu sebagai laki-laki. Bapak hanya ingin kita terikat secara sah baik di mata agama maupun negara supaya tidak perlu lagi mencari alasan ketika Bapak membantu keluargamu. Bapak juga ingin pensiun dari pekerjaan Bapak. Tentu saja Bapak akan merasa kesepian di rumah. Kalau ada Radha, Bapak pasti punya teman ngobrol. Meskipun ada Janu yang tinggal serumah dengan Bapak, kami tidak pernah bisa ngobrol santai. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.” Pak Willy terlihat menerawang.
“Anak Bapak bagaimana? Apakah mereka setuju?” Ada ketakutan lain dalam hatiku saat membayangkan reaksi anak-anak Pak Willy.
“Janu sudah setuju. Kedua adiknya akan datang dalam beberapa hari ke depan. Bapak berniat menikahimu sebulan lagi. Jadi kamu masih punya waktu untuk mengurus pendaftaran kuliahmu. Maafkan Bapak, tidak bisa mengijinkanmu kuliah di Yogya. Bapak tidak mau kita tinggal berjauhan.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya senang Bapak mengijinkan saya kuliah lagi dan mau membiayai kuliah saya dan sekolah adik-adik. Saya tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepada Bapak.”
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Temani saja Bapak di rumah, itu sudah cukup untuk Bapak.”
Setelah itu kami pun diam. Aku fokus pada makanan yang sudah aku pesan. Ada perasaan lega ketika mengetahui pernikahan yang akan aku jalani ini tidak serumit pemikiranku. Pak Willy sungguh sangat baik dengan membiarkanku menjalani kehidupanku sendiri. Sebelumnya, aku sempat merasa takut membayangkan aku harus hamil lalu melahirkan anak Pak Willy. Padahal usiaku belum genap 19 tahun.
Selesai makan, Pak Willy masih bertanya beberapa hal seputar diriku. Mulai dari sekolah hingga hobiku dan siapa saja teman-temanku. Setelah itu, Pak Willy mengantarkan aku pulang. Ternyata Pak Willy membawa mobil sendiri. Sedangkan bapak yang seharusnya mengantar kemanapun Pak Willy pergi, sudah diminta pulang oleh Pak Willy.
“Setelah Bapak pensiun, mungkin Bapakmu akan Bapak minta berhenti bekerja sebagai sopir Bapak.” Pak Willy bicara sambil fokus menyetir.
“Lalu bagaimana Bapak saya bisa mendapatkan biaya untuk keluarga kami sehari-hari?” Tentu saja aku mencemaskan bapak dan kedua adikku jika Pak Willy memecat bapak.
“Bapakmu nanti akan bertanggung jawab membawahi seluruh sopir ekspedisi di kantor Bapak. Memastikan semua distribusi produk berjalan dengan baik. Bapakmu juga bertanggung jawab penuh terhadap seluruh kondisi kendaraan kantor.”
Aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya pekerjaan bapak sudah jauh lebih baik karena jam kerjanya lebih pasti. Tidak seperti sekarang. Bapak mengikuti jadwal Pak Willy yang sangat tidak teratur.
Sisa waktu perjalanan kami diisi dengan kebisuan. Aku dan Pak Willy tenggelam dalam pikiran masing-masing. Meski begitu, aku kini sudah bisa lebih tenang menghadapi pernikahan dan status baruku kelak.
Aku sudah meminta kepada Pak Willy agar tidak mengundang satu pun teman-temanku. Aku tidak mau menjadi gunjingan teman-teman. Syukurlah Pak Willy setuju. Bahkan Pak Willy mengusulkan kalau pernikahan kami dilaksanakan secara sederhana saja. Hanya dihadiri keluarga inti. Tentu saja aku langsung menjawab iya.
***