"Kalau begitu, aku juga menuntut tanggung jawabmu untuk menafkahiku secara batin, Mas." Entah dapat keberanian dari mana hingga aku mampu mengatakannya. Kulihat netra Mas Bejo yang membola sempurna saat mendengar ucapanku. Aku tidak tahu pasti apa yang ada dalam pikirannya. Yang pasti dia mungkin tidak menyangka aku bakal mengucapkannya. "Ehm ... kita harus sama-sama siap saat melakukannya." Suara Mas Bejo nyaris tak terdengar, tapi aku masih bisa mendengarnya. "Lupakan!" Aku sudah bertekad untuk tidak memaksanya saat melakukan itu. Kalau seperti ini kesannya seperti gadis m***m yang sedang mencari mangsa. Dan Mas Bejo selalu menjadi lelaki nggak peka. Aku segera berdiri dari dudukku dan bersiap meninggalkan Mas Bejo yang masih termenung. Aku berjalan menuju ke arah kamar karena tak m

