"Aduh! Bangke!" Aku mengelus kepalaku yang terasa sakit karena jitakan seseorang. Tentu saja aku mendongak karena penasaran siapa yang berani-beraninya berlaku durjana pada seorang Alia. Aku mendengus kesal ketika tahu siapa orang itu, "Elo, Bo!" Si Bora hanya cengengesan. Dia kini sudah duduk di hadapanku disusul Helen. Eh! Helen?! "Lo udah baikan, Len?" Seminggu nggak ketemu dia rasanya seperti udah lama banget. Tak seperti Bora yang urakan, Helen hanya senyum malu-malu melihat Bora mengisengi kepalaku. "Udah, Al." Lagi-lagi dia tersenyum. Memang anak ini paling kalem di antara kami bertiga. Kulihat dia sudah baik-baik saja. Wajahnya sudah kembali ceria seperti sedia kala. "Syukur, deh!" kataku kemudian. Melihat Helen aku jadi lupa kemarahanku pada Bora. "Oh, iya. gue belum selesai

